
Malam ini Risa kembali berdiri di tempat yang sama , tempat Aydin pernah berdiri saat menatap keluar jendela kamarnya kala itu .
Keheningan kini menjadi teman Risa dalam kesunyian malam ini.
Netranya silih berganti menatap bulan yang menerangi malam dan juga neon sign besar yang betuliskan ' Ohana Tech ' pada sebuah gedung yang menjulang tinggi .
Keduanya memiliki persamaan menurut Risa .
Dengan cahayanya bulan mengusir sepi untuk langit malam , sedang neon sign itu mengusir sepi di hati Risa karena kerinduannya pada seseorang .
" Setidaknya saat ini aku dan dia masih berpijak di atas bumi yang sama , " gumamnya .
Namun air mata yang menetes saat mengingat pria itu membuat Risa merutuki dirinya sendiri . " Apakah aku masih mengharapkannya ? "
Sebuah pertanyaan yang setiap detik menghantui Risa ,
" Mengapa aku bisa mencintainya ? "
Namun sayang sekuat apapun Ia berusaha mencari jawabannya tapi tidak pernah sekalipun Ia menemukan satu alasan apapun .
" Jika aku tak memiliki alasan bagaimana cinta sebesar ini bisa hadir untuknya , maka harusnya aku juga bisa menerima jika kisah cinta ini juga harus berakhir tanpa sebuah alasan , " batin Risa .
Sinar hangat dan cahaya dari sang mentari dengan perlahan kini mulai menyapa .
Sinarnya seperti berusaha menembus netra Risa yang masih terpejam , memaksanya untuk segera terjaga .
Risa meregangkan tubuhnya yang terasa sakit di beberapa bagian .
" Ternyata separah ini dampak patah hati . Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya tidur dengan benar , " gumam Risa saat menyadari jika semalam Ia tidur dengan meringkuk di sudut sofa .
Segera Ia beranjak menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya , Ia teringat akan jadwalnya yang sangat padat hari ini .
Semalam , setelah Echa mengungkap fakta baru akhirnya semua setuju jika Risa harus kembali menjadi Brisa Elzavira .
Dengan semua warisan peninggalan almarhum kakeknya , menjadi Brisa Elzavira akan lebih menguntungkan baginya .
Memoles makeup tipis di wajahnya , dengan perona pipi berwarna soft pink , bibirnya yang di poles dengan warna merah semakin memancarkan aura kecantikan dari wanita yang berprofesi sebagai model .
Dalam balutan dress hitam tanpa lengan , Risa berjalan dengan anggun menuju meja makan .
" Waauuwww... pagi ini meja makan terlihat sangat berbeda , " celetuknya .
" Apakah kau sedang membicarakan aku ? " seorang pria yang sudah duduk manis di salah satu kursi menyahuti ucapan Risa .
" Hemmm , ya . Kamu juga termasuk salah satunya , " balas Risa .
" Lagian kenapa kamu harus ikut sarapan di sini ? " kini Esme yang menanyakan alasan kehadiran pria itu di apartemen mereka sepagi ini .
" Aku kesepian jika harus sarapan sendirian , makanya kuputuskan untuk sarapan di sini saja . " Jawab Echa .
Yah , pria itu adalah Reza Anggoro atau Echa .
Tetangga yang kini juga bertindak sebagai pengacara Risa .
" Ku rasa kau sudah lama tinggal sendiri . Kenapa baru hari ini kau merasa kesepian ? " tanya Esme .
" Itu salahmu . Karena kamu terus saja menghantui pikiran dan hatiku jika kau tak ada dalam pandanganku , " jawab Echa sambil menunjuk ke arah Esme .
__ADS_1
Esme kesal mengira Echa tengah meledeknya .
" Apa katamu ? kamu memang minta dihaj.... "
" Sudah - sudah , masih pagi dan kalian sudah bertengkar , " potong Amora .
" Biarlah Echa ikut sarapan bersama kita . Setidaknya dengan adanya Echa kita bisa menikmati kopi yang nikmat buatannya . " Ujar Amora .
Amora meletakkan hidangan terakhir yang Ia siapkan untuk sarapan pertamanya di Indonesia.
Risa berdecak kagum, " akhirnya menu sarapanku kembali lagi . "
" Yah makanlah , supaya tenaga mu kembali pulih . Banyak yang harus kita kerjakan hari ini , " ucap Amora .
Amora dan Risa terlihat sangat menikmati sarapan mereka , tapi tidak dengan Esme dan Echa . Menu sarapan sehat seperti ini bukan selera keduanya .
Keduanya saling menatap seolah saling memberi dukungan , lalu mulai menyuapkan sedikit demi sedikit makanan ke dalam mulutnya .
Setelah sarapan , mereka berpisah untuk menyelesaikan urusan masing-masing sesuai rencana .
Sesuai rencana mereka semalam , hari ini Risa akan mengurus kembali data-data pribadi dirinya sebagai Brisa Elzavira .
Menurut Echa, Risa telah di laporkan hilang oleh keluarga Ferdinand dan akhirnya di nyatakan meninggal dunia karema hingga batas akhir waktu pencarian sosoknya tidak juga di temukan .
Itulah yang akhirnya memuluskan rencana Ferdinand menguasai perusahaan milik almarhum kakek Risa.
Risa akan pergi bersama Esme dan Echa .
Sedangkan Amora menuju ke perusahaan Gio untuk melanjutkan proyek kerjasama apartement Gio dan Risa . Proyek ini harus terus berjalan untuk menarik perhatian Ferdinand agar Ia tidak curiga .
Amora yang memang sangat cakap dalam dunia bisnis , akan mewakili dari pihak managemen Kim Risa .
Tujuan pertama Echa, Risa , dan Esme adalah rumah sakit . Mereka akan lakukan beberapa tes yang bisa membuktikan jika Kim Risa tak lain adalah Brisa Elzavira .
Termasuk juga Risa akan melakukan tes DNA sebagai bukti jika dia benar anak kandung dari Ferdinand .
" Bagaimana ? Apa sudah ada kabar dari Amora atau Gio ? " tanya Risa .
Echa dan Esme menggeleng , " belum ada . "
Ketiganya kini hanya bisa menunggu, sambil berdoa agar Amora dan Gio berhasil dalam misinya .
Tak lama seorang pria paruh baya menghampiri Echa , " maaf apa anda Bapak Reza Anggoro ? "
" Iya , " jawab Echa .
Pria paruh baya itu lantas memberikan sebuah amplop yang katanya titipan dari Gio .
Ketiganya tersenyum lalu bersorak saat melihat di dalamnya ada beberapa helai rambut .
Echa segera memberi helaian rambut itu pada rekan dokternya .
" Yes , tahap pertama selesai . Sekarang waktunya kita ke kantorku dulu yah . Ada beberapa berkas yang harus Risa tanda tangani di sana . " Ucap Echa .
Echa melajukan mobilnya menuju ke kantor salah satu firma hukum yang terkenal .
Sementara di perusahaan Gio , Amora dan beberapa perusahaan lainnya kini tengah meeting .
" Maaf Pak Gio , tapi kemana perusahaan Ohana Tech ? " tanya Ferdinand .
" Ohana Technology tidak akan ikut serta dalam proyek kali ini . Sebagai gantinya kami akan segera menerima penawaran kerjasama lagi dari perusahaan lain . " Jawab Albert menggantikan bosnya yang saat ini kini tengah terpaku menatap seseorang .
Yah , Gio kini sedang menatap kagum pada sosok wanita yang duduk di hadapannya .
" Baru kali ini aku melihat wanita secerdas dia , " batin Gio memuji wanita itu .
__ADS_1
" Caranya menjawab setiap pertanyaan, caranya mematahkan setiap kritik yang Ia terima ,sungguh terlihat sangat anggun . " Lanjutnya memuji orang yang sama .
Hingga akhirnya meeting selesai , Gio tetap tidak beranjak dari keterpakuannya terhadap pesona wanita itu yang sangat memukau .
" Pak Gio ... pak .. pak ... "
Amora memanggil - manggil nama Gio tapi pria itu masih tak bergeming .
Amora lalu mendekat ke arah Gio dan menepuk lembut lengan Gio , membuat pria itu terperanjat .
Dan semakin salah tingkah saat menyadari jika wanita yang membuatnya tidak fokus sejak tadi kini berdiri di hadapannya .
" Pak Gio , apa anda baik - baik saja ? " tanya Amora .
" I..i..iya , saya baik - baik saja kok , " jawab Gio gugup .
" Loh kemana semua orang ? " tanya Gio bingung .
" Meeting baru saja selesai Pak , semuanya sudah pergi . " Jawab Amora .
Sungguh Amora tak menyangka jika pengusaha muda yang terkenal jenius itu bisa juga bersikap tidak profesional dengan melamun saat meeting.
" Astaga.... maafkan aku . Aku sedang memikirkan masalah lain , " sesalnya .
" Tak Apa Pak , masih ada kesempatan lain ." Jawab Amora lembut .
Gio makin merasa bersalah.
Tak lama Albert kembali ke ruangan dengan wajah berbinar .
" Dari mana saja ? Harusnya tadi kau mengingatkanku rencana kita, " ucap Gio pada Albert .
" Maaf Pak Bos , saya mengambil ini Pak , "
Albert menunjukkan 3 helai rambut di tangannya .
" Ini rambut Pak Ferdinand , " lanjutnya .
" Wahh... Pak Albert kamu berhasil . Hebat... hebat.... , " sorak Amora .
Amora senang karena rencana hari ini berhasil dan waktunya tidak terbuang percuma .
" Saya juga sudah membuat janji makan malam dengannya . " Lanjut Albert yang segera mendapat acungan jempol dari Amora .
Gio mendengus sebal melihat Albert tersenyum saat dipuji oleh Amora .
" Sekarang lebih baik kita langsung ke resto saja , yang lainnya juga sudah menuju kesana . " Ucap Amora lalu berjalan lebih dulu keluar dari ruangan meeting .
" Albert , jangan coba-coba mendekati Amora . Dia juga termasuk targetku . " Peringat Gio .
Albert mengernyitkan keningnya . " Dasar playboy . Penyakitnya memang susah disembuhkan . Kemarin saja dia bersumpah-sumpah tidak lagi bermain wanita , sekarang malah sudah ada wanita lain lagi , hhuuuffftt . " batin Albert .
.
.
.
.
" Sebaik apapun kita, yang benci tetaplah benci. Seburuk apapun kita, yang cinta tetaplah cinta. Tak perlu menjelaskan kebaikan kita karena yang menyukai kita tidak memerlukannya. Dan yang membenci kita tak akan mempercayainya."
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue