
"Jangan takut; nasib kita tidak bisa diambil dari kita; itu adalah hadiah." - Dante Alighieri.
♡♡♡♡♡♡♡♡
Takut berarti merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana.
Takut juga bisa berarti tidak berani (berbuat, menempuh, menderita, dan sebagainya).
Namun yang pas bagi seorang Aydin kini adalah takut yang juga bermakna gelisah, khawatir.
Yah, mungkin kini inilah yang dirasakan seorang Aydin. Kini Ia dalam kondisi sedang gugup, gelisah, dan khawatir.
“Tak perlu malu Aydin, rasa takut itu manusiawi kok.”
Itulah kalimat yang terus Aydin ucapkan di dalam hatinya selama 25 menit menempuh perjalanan dari rumah orang tuanya menuju apartemen Risa, kekasihnya.
Mobilnya kini telah terparkir sempurna sejak 5 menit yang lalu. Namun tak ada tanda-tanda Aydin akan keluar. Hingga getaran ponselnya membuat senyum pertamanya hari ini bisa terbit juga.
“Halo Yang,” jawabnya.
“................”
“Aku sudah di parkiran. Aku naik sekarang yah Yang.” Ucapnya.
“Sayang, jangan lupakan janjimu untuk tetap bertahan bersamaku apapun keputusan orang tuamu.” Lanjutnya membuat seseorang di seberang telepon tersenyum membayangkan bagaimana gugupnya Aydin kini.
♡♡♡♡♡
“Keraguan diri datang karena adanya imajinasi,” batin Aydin.
Sekali lagi Aydin terus menyemangati dirinya sendiri agar tak ada lagi keraguan saat Ia melangkahkan kakinya untuk bertemu dengan keluarga Risa.
“Cukup berjalan dengan tekad dan bukan nekat,” lanjutnya membatin.
Dengan tekad kuat untuk membina hubungan yang lebih serius dengan tambatan hatinya Aydin melangkahkan kakinya memasuki gedung apartemen yang sudah tak asing baginya, memasuki lift dan menekan angka 17.
“Bukannya setiap hari Ia sudah sering menggunakan lift?” Batinnya.
Ia mempertanyakan dirinya sendiri. Mengapa rasanya begitu menegangkan saat melihat angka diatas pintu lift berganti satu per satu dari angka 1 hingga kini telah mencapai angka 17 dan akhirnya pintu terbuka.
Langkahnya semakin lama semakin berat, bahkan saat berada di depan apartemen Risa, tangannya serasa keluh untuk meraih tombol bel.
Lalu terdengar suara pria yang menyapanya dari belakang, dia Echa.
“Aydin, baru tiba yah? Syukurlah, ku pikir aku sudah terlambat.” Ucap Echa tanpa menunggu jawaban dari apa yang Ia tanyakan.
Dengan santai Echa menekan angka yang menjadi kata sandi pintu apartemen Risa, angka yang juga sebenarnya Aydin hapal.
“Ayo masuk,” ajak Echa sembari merangkul pundak Aydin.
Jika tak mengingat kalau Echa adalah orang yang memberitahu keberadaan Risa terakhir kalinya, mungkin Aydin sudah melancarkan kalimat kalimat pedasnya pada Echa karena telah menyeretnya masuk dengan persiapan mental yang belum selesai.
Sungguh aneh, padahal 6 tahun lalu saat Ia hendak melamar Kirani, Ia tak segugup ini.
__ADS_1
“Pagi,” sapa Echa bersemangat membuat semua orang yang sedang berada di ruang utama kini memusatkan perhatian pada keduanya.
“Ay,” pekik Risa dengan senyum manis yang merekah.
Ingin rasanya Aydin segera meraih tubuh kekasihnya itu dan memeluknya berharap kecemasannya sedikit berkurang.
Namun secepat kilat Aydin menghapus kata-kata yang Ia ucapkan dalam hatinya barusan, ketika Ia menyadari tatapan mengintimidasi kedua orang tua angkat Risa juga Amora saat wanita kesayangan mereka berhambur memeluk seorang pria yang pernah menyakiti perasaan wanita itu.
“Sayang, sepertinya semua orang menatap kita,” cicitnya.
Risa mengerti dan segera melepas pelukannya.
Dengan menggandeng tangan Aydin, Risa mengenalkan Aydin pada ayah angkatnya, Kim Baek Ahn yang biasa dipanggil Appa Kim.
Sementara untuk Martha, Ibu angkatnya yang sudah lebih mengenal Aydin lebih dulu nampak lebih santai saat menyapa Aydin.
Senyum tak pernah hilang dari wajah cantik Risa. Kebahagiaan terpancar jelas dari netranya.
Appa Kim tertarik dengan pandangan Aydin dalam berbisnis. Mereka mengobrol banyak hal soal bisnis.
Hingga akhirnya Eomma memanggil untuk sarapan bersama.
Di tengah-tengah menikmati sarapan, akhirnya Aydin mulai membahas hubungannya bersama Risa.
Namun respon mengejutkan dia dapatkan dari Ayah Risa yang Ia pikir telah menerimanya.
“Aku menyambut baik hubungan kalian yang sekarang sudah baik-baik saja, tapi maaf sebagai Ayah aku masih tak bisa menerimamu untuk menjalin hubungan kasih dengan putriku jika kamu belum bisa meyakinkanku dengan ketulusanmu.”
DEG !
Mengapa hal ini harus terjadi lagi, keduanya berharap jika keluarga Risa akan mendukung mereka namun ternyata sama saja.
Memang tak ada penolakan terhadap Aydin, tapi sepertinya harapan untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius masih memerlukan usaha ekstra untuk meyakinkan 2 keluarga.
Yah 2 keluarga, karena ternyata keluarga Aydin juga belum memberikan restu jika Aydin belum membuktikan jika dia memang sudah lepas dari bayangan masa lalunya.
♡♡♡♡♡
¤¤¤¤¤ FLASHBACK ON ¤¤¤¤¤¤
Kedatangan Risa disambut sangat baik oleh keluarga Aydin, terutama Dafha. Anak laki-laki itu sangat bahagia ketika Risa dan Daddynya kini terlihat baik-baik saja.
“Jadi apa sekarang Mama Risa tidak akan pergi lagi?” tanya Dafha saat Risa tengah menemaninya untuk tidur.
“Tidak akan sayang. Jadi Dafha sekarang tidur yah, supaya besok pagi tidak telat ke sekolah.”
Setelah memastikan Dafha tertidur, Risa menyusul Aydin kembali ke ruang keluarga.
Samar-samar Ia mendengar pembicaraan Aydin dan orang tuanya.
“Tidak, pokoknya Mama tidak setuju jika kau dan Risa kembali menjalin hubungan. Mama sangat menyayangi Risa. Mama tidak ingin kau menyakiti hati wanita baik itu lagi.” Tegas Mama Indira.
“Tapi kali ini aku serius Ma, Aku bahkan sudah mengajak Risa untuk mengunjungi Kirani. Aku juga sudah mengambil Sebagian barangku dari rumah yang sekarang, rencananya akan kujual rumah itu. Aku akan meninggalkan semua kenanganku Ma, aku akan membuka lembaran baru bersama Risa dan Dafha.” Jelas Aydin.
__ADS_1
Pria itu tidak bisa menerima jika Orang tuanya kini malah tidak merestui hubungannya dengan Risa.
“Papa tidak akan memaksa atau melarangmu Nak, kamu sudah dewasa dan berhak menentukan pilihanmu sendiri. Namun Papa juga tidak akan senang jika akhirnya kau akan melukai hati wanita sebaik Risa. Wanita tulus yang menerimamu apa adanya. Wanita penyayang yang bisa menyayangi putramu seperti putranya sendiri. Jadi lebih baik buktikanlah dulu ucapanmu Aydin. Yakinkan kami jika kali ini kau benar-benar akan menerima Risa tanpa ada bayang-bayang masa lalumu lagi.” Ujar Papa Dimas.
Tanpa bisa Ia cegah, air mata berlinang dari sepasang netra indah Risa. Ia tak menyangka jika orang tua Aydin tidak akan semudah itu merestui hubungan keduanya.
Risa yang hendak kembali ke kamar Dafha dikejutkan oleh kehadiran Ayana.
“Kak Risa, kenapa menangis?” tanyanya.
“Aku tidak apa-apa,”Elak Risa.
Ayana melihat di ruang keluarga ada Abang dan kedua orang tuanya yang sedang berbicara dengan serius.
“Astaga,” pekiknya.
“Maaf Kak, aku lupa memberitahumu jika ini semua hanyalah sandiwara.” Jelas Ayana.
"Hah, sandiwara?" ulang Risa.
“Ya, kami berencana untuk memberikan pesta kejutan ulang tahun pada Abang itulah mengapa Mama sengaja tidak memberi restu untuk hubungan kalian berdua lagi. Bang Aydin lagi kena prank.” Lanjut Ayana sambil terkikik.
Risa sebenarnya masih bingung, yang Ia pahami sekarang jika Mama Indira dan Papa Dimas tidak bersungguh-sungguh menolak hubungan keduanya.
Dan hal itu sudah cukup membuat hati Risa tenang.
¤¤¤¤¤ FLASH BACK OFF ¤¤¤¤¤
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Aku tidak boleh mengeluh, Risa pasti belum tau jika hari ini aku berulang tahun," batin Aydin mencoba tetap berpikir positif.
Yah, hari ini pria itu berulang tahun yang ke 33 tahun.
Jika tahun sebelumnya, ulang tahunnya menjadi ulang tahun terburuk karena Ia harus rela kehilangan sosok istrinya.
Namun kini Aydin sungguh berharap jika ulang tahunnya tahun ini bisa menjadi lebih baik.
Namun harapan tidak semuanya bisa sesuai dengan kenyataan.
Menunggu ucapan selamat dari sang kekasih sejak pukul 00.00 hingga kini sudah pukul 06.00, namun belum ada tanda-tanda ucapan dari seseorang yang sangat Ia harapkan.
“Aku harus berpikiran positif dan mengerti Risa. Dia pasti belum tau jika hari ini aku berulang tahun,” batinnya kembali mengeluh tanpa Ia sadari.
Sungguh jatuh cinta membuat seorang Aydin kembali seperti remaja.
Mengharapkan ada kejutan ulang tahun untuknya, namun jangankan untuk kejutan bahkan sebaris ucapan selamatpun tak kunjung Ia terima.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Seburuk apa pun masa lalumu, jika kamu berusaha keras, selalu ada kesempatan untuk berubah lebih baik."
“Hatimu harus tetap kuat, dan percayalah kesempatan selalu datang kepada orang yang niat."
__ADS_1
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡