
“Saudara Aydin Syauqi bin Dimas Syauqi, Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Brisa Elzavira Ferdinand yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan Anda, dengan mas kawin satu setel perhiasan emas, uang tunai sebesar 66.000 EUR, dan seperangkat alat shalat dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Brisa Elzavira binti Ferdinand dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
...****************...
Deg
Deg
Deg
Deg
Apakah ada orang lain yang bisa mendengar degupan jantungku saat ini?
Beberapa saat yang lalu, Aku masih sempat melirik ke kiri, netraku menangkap Mama, Papa, Ayana dan juga Chandra ada di sana dan tengah tersenyum padaku dengan maksud memberikan dukungan semangat dari sana.
Lalu aku melirik ke kanan, ada sebuah kursi yang masih tak bertuan di sisiku.
Sejenak ada rasa cemas menghampiri ku, bagaimana jika lagi-lagi ada masalah yang terjadi.
Mengingat bagaimana rumitnya perjalanan cinta kami hingga bisa sampai di hari ini.
Namun satu yang pasti, semua ujian yang telah kami lalui, hal itu juga yang telah menjadikan ikatan cinta kami lebih kuat.
Pintu terbuka, disusul dengan suara lantunan melodi dari piano dan juga biola yang berkolaborasi hingga menciptakan nada-nada yang begitu romantis.
Lantunan melodi yang begitu indah, mengiringi langkah kaki sepasang paruh baya yang tengah mengapit seorang wanita... lebih tepatnya seorang malaikat tak bersayap.
Akhh.... aku bukan seorang pujangga jadi jangan mengira jika ucapanku barusan adalah bagian dari salah satu bait puisiku.
Bagiku, tak berlebihan jika aku menganggap wanita secantik dan sebaik Risa sebagai malaikat tak bersayap, yang sengaja di kirim Tuhan untukku. Semoga ia bisa mendampingiku hingga akhir hayat.
Entah mengapa, langkah Risa dan iring-iringannya terasa begitu lambat.
Apa aku yang sudah tak sabar, atau memang benar jika saat ini detik demi detik terasa berlalu lebih lambat dari biasanya.
Mengamati setiap langkah Risa yang berjalan menghampiriku, membuatku kembali berpikir jika siapa yang akan mengira akhirnya akan seperti ini.
Saat bertemu dengannya pertama kali, aku akhirnya mengerti dan belajar jika cinta itu adalah salah satu bentuk kepedulian.
Luka yang berusaha Risa tutupi saat itu, tampak sangat jelas dari pandangan matanya.
Dan tanpa tahu siapa dia, timbul tekad yang kuat dalam diriku.
Aku ingin melindunginya, aku ingin menolongnya, aku ingin merengkuhnya. Batinku kala itu.
Namun semuanya tak terjadi sesuai dengan harapanku.
Mungkin dia bukan takdirku. Pikirku pada masa itu.
Tanpa pernah ada yang tahu, rupanya semesta sudah menyiapkan kisah lain untuk kami.
Lewat malaikat tak bersayap lainnya, Rani dan Eijaz... kini babak baru kehidupan kami akan segera di mulai.
Tentunya bersama malaikat kecil yang kini sedang berjalan bersama Risa. Satu tangannya tak pernah lepas dari tangan wanita yang ia panggil Mama.
Dia adalah Dafha, putraku... putra kami.
“Aydin...” suara Appa Kim membuat aku yang sempat melamun sedikit tersentak.
Kapan mereka tiba di hadapanku? pikirku.
Apa aku lagi-lagi terbius oleh pesonamu, sayang?
“Ya Appa,” jawabku segera.
Suaraku bergetar?
__ADS_1
Sudah pasti jawabannya ya, aku mengakuinya.
Meski ini adalah kali kedua aku berada dalam situasi seperti ini, tapi tak tahu mengapa aku begitu gugup dan cemas.
Jika boleh aku ingin segera sampai di saat semua orang-orang meneriakkan kata sah bersamaan.
Lalu aku akhirnya bisa kembali bernapas lebih lega, seperti sedia kala.
“Aku titipkan padamu, salah satu harta paling berharga dalam hidupku,” ucap Appa Kim dengan suara yang tak kalah bergetar dariku.
Tak kuduga, jika akhirnya aku mendengar suara pria yang selalu tampak tegas dan dingin ini bergetar hebat.
Dan itu terjadi ketika dia akan menyerahkan tanggung jawabnya padaku. Tanggung jawabnya pada seorang putri yang sejatinya tak memiliki darah dan dagingnya.
Tapi putri itu berhasil mengisi salah satu ruang di hatinya, putri itu berhasil memiliki cinta tulus dari seorang ayah yang sudah lama tak ia dapatkan.
Tampak Risa kini sudah merangkul sang ayah angkat, dan satu tangan lainnya yang terus berada dalam genggaman Appa Kim.
“Aku mohon jaga dia, berikan cinta dan kasihmu padanya. Selama ini kebahagiaan yang kami berikan padanya, kuakui masih kurang,” ucap Appa Kim diakhiri dengan helaan napasnya yang berat.
Kini Appa berbalik hingga ia dan Risa saling berhadapan.
“Putriku, bertemu denganmu adalah sebuah anugerah dalam kehidupan kami,” ucapnya.
“Tak pernah kuduga jika Tuhan mengirimkan kamu sebagai pelengkap hingga keluarga kita lebih bahagia setelah kehadiranmu.”
“Sampai kapan pun kamu adalah putri kecil kami dan sampai maut menjemput, Appa tak akan pernah berhenti untuk melindungimu... sesuai dengan janji Appa saat pertama kali kita bertemu.” Air mata menggenangi pelupuk mata Appa Kim.
“Kini, Appa menyerahkan amanat pada Aydin untuk menggantikan tugas Appa. Menjagamu, melindungimu, memberimu cinta dan kasih, dan juga memastikan kebahagiaanmu,” ucapnya dengan menyatukan dua tangan kami.
“Appa akan tetap mengawasimu, jadi jangan pernah takut melangkah putriku. Raih kebahagiaanmu bersama pria yang kamu cintai.”
“Dan suatu saat jika akhirnya dia tak mampu dan menyerah, minta dia untuk mengantarmu pulang pada Appa. Minta dia untuk membawamu kembali pada kami. Selama napas kami masih berembus, Eomma dan Appa akan selalu siap membahagiakanmu lagi.”
Ucapan Appa Kim diakhiri dengan sebuah pelukan hangat pada putrinya yang sebentar lagi akan menjadi istriku.
Eomma Martha pun tak luput dalam suasana haru itu. Ketiganya berpelukan membuat banyak orang merasa iri pada Risa yang menerima begitu banyak cinta dari kedua paruh baya itu.
Kebahagiaan keluarga mereka, cinta dan kasih yang jelas terasa dari ketiganya membuatku semakin gugup.
Bukankah beberapa waktu terakhir aku lah penyebab luka di hati wanita cantik ini?
Lantas apa aku mampu membahagiakannya? Memberinya cinta dan kasih lebih dari yang ia terima saat ini?
Namun senyuman di wajah Risa, juga didukung oleh senyuman bahagia pada wajah Dafha putraku, membuatku bertekad jika aku harus mampu.
Aku harus mampu membahagiakan keduanya karena aku mencintai keduanya.
Karena tak sabar, terpaksa aku harus menginterupsi adegan keluarga bahagia yang sempat menghipnotisku.
Keluarga yang saling mencintai itu juga membuat para tamu yang berada dalam ballroom dia atas kapal pesiar ini merasa kagum.
“Appa, Eomma, maaf menyela,” ucapku ragu.
“Bolehkah aku meminta izin kalian, meminta restu kalian, untuk menjadikan Risa sebagai pelengkap dalam hidupku dan Dafha?”
“Aku mungkin tak akan bisa membahagiakannya sebaik kalian membahagiakannya.”
“Tapi aku berjanji padamu, akan selalu berusaha menjadi dan memberi yang terbaik padanya. Apakah kalian mengizinkanku?” tanyaku tanpa basa-basi lagi.
“Apakah kamu bersedia sayang?” Tanyaku tak sabar, kini beralih pada Risa.
Akkhh, lucunya batin ini. Banyak teka-teki, banyak perasaan yang bisa timbul begitu saja.
Jika biasanya aku akan turut sedih saat melihat bulir seperti kristal mengalir dari kedua netra indah Risa, tapi kali ini entah mengapa hatiku menghangat melihatnya.
Kuanggap bulir kristal itu sebagai perwujudan kata iya yang tak bisa terucap dari bibirnya.
Sebenarnya, semua adegan barusan tak masuk dalam rencana atau susunan acara hari ini.
__ADS_1
Namun apalah artinya sebuah pesta pernikahan tanpa sebuah drama, dalam hati aku terkekeh memikirkan hal itu.
Lalu tiba-tiba, tawaku dalam hati itu lenyap begitu saja.
Jantungku kembali berdegup dengan tak normal, bahkan aku kesulitan untuk meraup oksigen untuk bernapas.
Aku gugup.
Ingin rasanya aku berteriak mengakui hal itu, saat MC atau pemandu acara menyilakan kami untuk segera duduk di hadapan penghulu yang juga bertindak sebagai wali hakim dan para saksi.
Kini aku tak lagi duduk sendiri seperti beberapa saat yang lalu. Ada sosok wanita cantik yang akan segera kupersunting, kini tengah duduk dengan anggunnya di sana.
Pak Penghulu telah mengulurkan tangannya meminta untuk segera kusambut.
Bisa kurasakan tanganku bergetar ketika momen ini akhirnya tiba.
“Bagaimana, apa saudara sudah siap?” tanyanya ketika kedua tangan kami sudah saling menjabat.
“Ya saya siap.” Jawabku berusaha tegas.
Riuh para tamu terdengar, namun segera dihentikan oleh MC sebab aku, Risa, dan keluarga yang lain mengharapkan prosesi Ijab Qabul ini berjalan khusyuk dan penuh khidmat.
Begitu suasana kembali tenang, Pak Penghulu mulai melaksanakan tugasnya.
“Saudara Aydin Syauqi bin Dimas Syauqi. Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Brisa Elzavira binti Ferdinand, yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan Anda, dengan mas kawin satu setel perhiasan emas, uang tunai sebesar 66.000 EUR, dan seperangkat alat Shalat dibayar tunai.”
Sentakan pelan diberikan oleh Pak Penghulu pada kedua tangan kami yang masih betah berjabat.
Kutahu jika sentakan itu adalah pertanda jika kini saat bagiku untuk membalas ucapan Ijab tadi.
“Saya terima nikah dan kawinnya Brisa Elzavira binti Ferdinand dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
Apa sudah benar?
Apa ada yang salah?
Mengapa tiba-tiba semua orang terdiam?
Kumohon beritahu aku jika aku melakukan kesalahan?
Batinku menjerit kan pertanyaan-pertanyaan itu.
“Bagaimana para saksi?” tanya Pak Penghulu.
Dua orang yang menjadi saksi tampak saling melempar pandangan, kemudian bersamaan mengatakan, “Sah.”
Rasanya detik itu juga, waktu di sekelilingku seakan berhenti.
Aku ingin merekam betapa bahagianya hati ini, betapa bersyukurnya hati ini, betapa luar biasanya perasaanku saat ini.
Setiap detik dari momen ini akan kurekam dalam memori dan batinku, hingga tak akan pernah kulupakan bagaimana besarnya cintaku padanya, cinta pada istriku.
“SAH.”
Riuh para tamu yang hadir bersahut-sahutan. Terdengar lucu sebab beberapa tamu di antaranya mengatakan satu kata itu dengan aksen Belanda yang kental.
Setelah semua prosesi administrasi selesai, kugenggam kedua tangan Risa.
Kutatap dalam netranya yang selalu sukses membiusku.
Kuberikan satu kecupan lama di keningnya hingga air mataku akhirnya luruh juga.
Akh, aku pria biasa... hatiku tak sekuat baja, jadi menangis... apalagi ini adalah tangisan bahagia bukanlah suatu masalah. Batinku membela diri.
“Betapa bersyukurnya aku hari ini akhirnya tiba, sayang,” ungkapku.
“Terima kasih telah bersedia menerimaku."
"Terima kasih telah bersedia menjadi istriku dan ibu dari Dafha.”
__ADS_1
“Aku mencintaimu, istriku."
...****************...