Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 159. Hilang jejak


__ADS_3

Tinggalkanlah segala kegelapan yang selama ini menahanmu.


Raihlah cahaya yang akan menuntunmu kembali pulang pada rumahmu yang sebenarnya.


Tempatmu bisa bersandar dan Kembali merasakan kebahagiaan.


Pulanglah, hentikan petualanganmu.


Ada hati yang menantimu.


Berjanjilah untuk melihat hal-hal yang indah.


Berjanjilah untuk menagisi hal yang membuatmu bahagia.


Berjanjilah untuk tidak tersakiti, jadilah kuat.


Bahagialah, biarkan aku juga melihatmu bahagia.


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


Kembali ke Tanah Air, sekitar 11 bulan yang lalu, saat itu Aydin adalah seorang ayah berharap jika putranya akan kembali merasakan bahagianya memiliki keluarga yang lengkap.


Namun semuanya tinggal harapan.


Dan kini Aydin kembali dibuat mematung mendengar perdebatan Dafha bersama temannya.


“Berita itu bohong! Mama Risa hanya sedang pergi bekerja. Jika pekerjaannya selesai, Mamaku akan segera kembali,” tegas Dafha.


Entah apa yang dikatakan teman-temannya hingga anak itu sampai harus berbohong.


Yang Aydin tahu, ini semua sebagian besar adalah salahnya.


Aydin tahu jika Risa bahkan sempat berpamitan pada Dafha dan kedua orang tuanya sebelum Ia pergi, jadi tentu saja anak itu kini sedang berbohong.


Yang menyedihkan bagi Aydin sebab sepertinya kekhawatirannya kini akan benar-benar terjadi. Sepertinya jalan baginya untuk kembali pada Risa telah tertutup.


“Lalu bagaimana dengan Dafha? Apakah Ia akan memaafkanku setelah mengetahui jika aku telah menyia-nyiakan wanita yang Ia sayangi?” batin Aydin.


“Ekheemm ... “ Aydin berdeham untuk menghentikan perdebatan putranya.


“Ayo pulang boy,” ajak Aydin ketika putranya menoleh.


Dafha hanya menatapnya sekilas sebelum akhirnya berlalu mengacuhkannya.


Yah, hubungannya dengan Dafha saat ini sedang renggang.


Dan lagi- lagi itu karena kesalahannya.


Berawal sekitar 6 atau 7 bulan lalu, saat Ayana tak sengaja membeberkan fakta jika Eijaz menyusul Risa.


Meski tahu hal itu pasti akan terjadi, dan memang hal itu juga yang Ia harapkan. Sampai-sampai Ia memilih mundur dan merelakan cintanya.


Aydin ingin sahabatnya, Eijaz memiliki waktu yang berharga bersama Risa, wanita yang dicintainya di sisa waktunya yang tak lama lagi.

__ADS_1


Aydin memilih untuk sakit sekarang, dibanding nantinya Ia akan menyesal saat tak bisa melakukan apa pun untuk Eijaz saat pria itu telah tiada.


Meski tahu dengan jelas jika hal ini pasti akan terjadi, tapi membayangkan jika Eijaz dan Risa bersama-sama, menghabiskan waktu bersama, tertawa bersama, rasanya Ia tak rela.


Dengan rasa cemburu di hatinya, entah pada siapa ingin Ia buktikan, yang pasti Aydin dengan impulsifnya pria itu menyambut seorang wanita yang memang tertarik padanya.


Saat itu Aydin tak menyangka jika perbuatan nya sampai diketahui oleh Dafha, dan berakhir dengan Dafha yang salah paham dan hingga saat ini hubungan keduanya tak sehangat dulu lagi.


🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸


“Pa ... Aydin mohon Pa ...”


“Papa, aku hanya perlu tahu Risa sekarang baik-baik saja atau tidak,” pinta Aydin.


“Untuk apa? Kamu tahu ataupun tidak, semuanya sudah terlambat Aydin.”


“Selama ini Papa tak pernah mencampuri urusan pribadimu. Tapi baru kali ini Papa sadari jika ternyata kamu benar-benar bodoh.” Ujar Papa Dimas.


“Sekarang Kamu silahkan pergi, Papa masih banyak pekerjaan,” sambungnya.


Dengan terpaksa Aydin harus meninggalkan kantor Ayahnya.


Sebuah yayasan sosial yang didirikan Risa. Sama-sama memiliki jiwa sosial yang tinggi, Risa mempercayakan yayasannya pada Papa Dimas yang kala itu masih berstatus sebagai calon ayah mertuanya.


Bahkan setelah Risa dan Aydin berpisah lalu Risa pindah ke Belanda, Papa Dimas masih tetap yang dipercayakan oleh Risa untuk memimpin Yayasan.


Namun 3 hari yang lalu Aydin baru mengetahui jika sejak 6 bulan yang lalu, Yayasan itu sudah berganti pemilik menjadi milik Ayahnya.


Semua sosial media milik model itu juga sudah tak dapat ditemukan lagi, sepertinya akun pribadi maupun akun dari perusahaannya sudah dihapus.


Aydin menjadi makin kacau, tak karuan memikirkan di mana Risa, apakah wanitanya itu kini telah benar-benar melupakan dirinya dan berpaling pada Eijaz.


Terlebih Eijaz juga sangat sulit dihubungi sejak pertemuan terakhir mereka.


Meja kerja yang biasanya rapi kini sudah dipenuhi dengan kertas yang berserakan.


Ruangan kerja pria itu pun sudah tak nampak layaknya ruangan seorang CEO.


Bahkan Aydin tak menyadari jika sejak tadi Chandra mengamati semua gerak geriknya.


Tok ... Tok ... Tok ...


Chandra terpaksa mengetuk meja kerja tempat Aydin menelungkupkan kepalanya.


“Permisi Pak Bos ...” ujar Chandra.


Aydin hanya mengangkat sedikit kepalanya, melirik sekilas pada Chandra dan kembali ke posisi awalnya.


“Ada apa?” tanya Aydin namun terdengar seperti gumaman.


“Saya sudah mendapatkan informasi mengenai perusahaan- perusahaan milik Nona Risa,” ujar Chandra.


Mendengar nama Risa, Aydin segera memperbaiki posisi duduknya.

__ADS_1


“Lalu informasi apa yang kamu dapatkan?” tanyanya.


Chandra memberi map coklat yang menampilkan semua informasi yang bosnya ingin tahu.


Aydin tercekat rasanya, tak percaya setelah membaca dengan cermat, bahkan Ia mengulang membaca sekali lagi dokumen yang diberikan oleh Chandra.


“Kamu yakin?”


“Apa informasi ini valid?”


Aydin harus kecewa saat Chandra membenarkan semua pertanyaannya.


Jadi tidak hanya yayasan, faktanya jika agensi model milik Risa yang sebelumnya dipimpin oleh Esme, kini sudah menjadi anak perusahaan dari Stars Academy.


Begitu juga dengan perusahaan konstruksi milik Risa yang sebelumnya dipimpin oleh Amora, kini perusahaan itu telah merger dengan perusahaan milik Gio.


“Lalu di mana mereka?”


“Informasi dari Albert, jika kini Pak Gio dan Nona Amora mereka tinggal bersama di Korea Selatan,” jawab Chandra.


“Sedang Nona Esme dan Pak Echa, keberadaan mereka belum bisa dipastikan oleh orang suruhan Saya,” jelas Chandra.


Kepala Aydin rasanya hampir pecah. Ia tak menyangka jika belum cukup 1 tahun dan Risa benar-benar menghilang dari jangkauannya.


“Bagaimana dengan Eijaz?”


“Orang saya sempat mendapatkan data Pak Eijaz yang masuk ke Indonesia 6 bulan lalu, dan setelah itu tak pernah lagi ada penerbangan, hingga 2 bulan yang lalu ...”


Chandra menjeda ucapannya, menimbang bagaimana reaksi bosnya. Sedangkan beritanya pun belum bisa Ia pastikan.


“Lalu apa?” desak Aydin.


“ Lalu 2 bulan yang lalu data Pak Eijaz di dapati melakukan penerbangan kembali ke Belanda, tapi dengan pesawat pribadi milik salah satu rumah sakit di Amsterdam,” jelas Chandra.


“Maksudmu? Singkat saja, aku sedang banyak pikiran!”


“Pak Eijaz berangkat ke Amsterdam tidak dalam kondisi sehat, tapi sebagai pasien,” ungkap Chandra.


Hening.


Suasana seketika hening.


“Dan kondisi Pak Eijaz saat ini belum bisa kami konfirmasi lagi.”


Aydin bungkam.


Bagaimana harus Ia menyikapi ini semua.


Sebenarnya hal ini yang paling Ia takuti, benaknya harus bergejolak, saling bertentangan antara lega dan tak rela.


“Aturkan penerbanganku ke Amsterdam. Secepatnya!” titah Aydin lirih.


🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌼🌸🌼🌸

__ADS_1


__ADS_2