
Untuk aku yang percaya pada kata hati,
terkadang aku selalu terbayangi akan firasatku.
Kegelisahan dan ketakutan terkadang sangat mengganggu bahkan teramat menyakitkan.
Namun aku lebih yakin jika Tuhan akan selalu lebih tahu apa yang terbaik untuk kita,
Dan firasat hanyalah perasaan semata dan tak selalu nyata adanya.
Dan tak akan ada yang sia-sia, selama air mata yang tumpah itu tulus karena doa.
Yakin, Tuhan akan selalu memberi yang terbaik.
⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘
“Jika waktuku tak cukup untuk bisa
merebut hati Brisa, maka sebelum aku pergi dari dunia ini akan kupastikan menemukan pria lain yang lebih pantas mendampinginya selain kau dan aku.”
Peringatan dari Eijaz beberapa hari
yang lalu terus membayangi Aydin, “Bagaimana jika akan ada orang baru lagi
diantara aku dan Risa?” gumamnya.
Sejauh ini permasalahan hubungannya sebab Eijaz, sudah sangat menghancurkan dirinya. Bukan hanya dirinya, tapi orang-orang di sekitarnya. Rasanya Ia belum siap jika harus dihadapkan lagi dengan permasalahan baru.
“Semoga orang itu pantas untuk Risa, dan pastinya dia tak boleh seorang pria pengecut," celetuk seorang wanita menjawab pertanyaan Aydin.
Franda, sebenarnya wanita itu sudah sejak tadi berada tak jauh dari Aydin, tapi kehadirannya tak disadari oleh pria galau itu. Bahkan Franda mendengar semua curahan hati Aydin, yang entah sedang dia ceritakan pada siapa.
Aydin terkejut, tak mengira ditempat
segelap ini ada seorang wanita yang bisa menyahuti ucapannya.
Aydin segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan ragu-ragu.
Ia baru bisa tenang ketika netranya mengenali sosok wanita yang dengan beraninya menyahuti ucapannya.
“Hei, kau itu sahabatku atau bukan sih? harusnya kau mendukungku,” balas Aydin tak terima jika Franda mendukung Risa bersama pria lain.
Franda duduk di samping Aydin, disebuah bukit yang berlokasi dibelakang kampus mereka dulu.
“Nda… Dari mana kau tahu aku di sini?
Dan siapa yang memintamu kemari?” tanya Aydin.
“Eijaz,” jawabnya singkat.
“Cih, setelah mengancamku kini dia hendak
berperan menjadi sahabat yang baik dan peduli padaku? Huh... Aku tak semudah itu tersentuh," Kesalnya.
“Tapi menurutku dia tak sedang mengancammu, dia epertinya serius dengan ucapannya,” ujar Franda.
“Maksudmu?” Aydin mengeryitkan keningnya.
“Kulihat dia sedang mempersiapkan keberangkatannya keluar negeri. Dugaanku mungkin ke Negara Eropa? Atau Amerika? Yang pasti negara yang membutuhkan VISA,” Jelas Franda.
Aydin menghela napasnya, “Apa tujuanmu memberitahuku hal ini?”
Franda tertawa, “Kau memang sangat mengenali aktingku yang luar biasa ini," ucapnya, “Eijaz ingin memberitahumu jika Risa kini tinggal bersama kedua orang tua angkatnya di Amsterdam,” lanjutnya.
“Dasar Eijaz bodoh!” ucap Aydin dengan senyum smirknya.
“Dia tak khawatir jika aku menyusul
Risa ke sana?” lanjutnya.
Franda hanya mengedikkan bahunya, “Sesungguhnya aku merasa sangat tak nyaman dengan keadaan seperti sekarang,” ucap Franda.
“Jika bisa aku ingin berdiri di pihak Risa. Kupikir ini adalah keputusan terbaik yang dia ambil, untuk melindungi hatinya, melindungi dirinya sendiri, memang lebih baik jika tak memilih diantara kalian berdua,” lanjut Franda.
Aydin segera beranjak dari tempatnya duduk selama 3 jam terakhir.
__ADS_1
“Hei, kau mau kemana?” Tanya Franda.
“Aku ingin pergi ke suatu tempat untuk mengobati kerinduanku padanya,” jawab Aydin.
“Bolehkah aku ikut?”
“Maaf Franda mungkin lain kali, malam ini aku hanya ingin berduaan dengannya,” tolak Aydin.
Pria itu butuh waktu sendiri, Aydin butuh waktu untuk melewati beratnya bebannya hari ini. Hari yang seharusnya menjadi hari membahagiakan di hidupnya, namun kenyataannya Ia lalui seorang diri di tempat pertama kali Ia mengambil resiko untuk membuka hatinya pada sosok seorang Risa.
⚘ ⚘ ⚘
Sementara di Amsterdam, Eomma Martha mulai
gelisah sebab Risa tak kunjung kembali ke rumah.
Secara perlahan-lahan matahari
mulai meninggalkan singgasananya, sedang tak ada tanda-tanda jika Risa akan segera pulang.
Eomma sudah meghubungi Appa Kim, memintanya untuk mengerahkan semua karyawannya agar bisa menelusuri jalan yang banyak menyewakan sepeda untuk mencari Risa.
Hal itu beliau simpulkan sebab Risa
terakhir kali mengirimkan foto dirinya yang sudah siap untuk bersepeda.
Appa memperingatkan istrinya untuk
tidak memberitahu kejadian ini pada putri kembar mereka di Indonesia. Appa hanya tak ingin putri kembarnya menjadi panik lalu bertindak impulsive.
“Kim Risa, di mana kau Nak? Semoga
kamu selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa,” batin Eomma.
Berbagai macam doa telah dipanjatkan oleh wanita paruh baya yang memiliki tatapan yang sungguh menenangkan.
Entah sudah berapa lama Ia menanti kepulangan putri bungsunya di halaman rumah, hingga Ia merasa kini bibirnya mulai keluh dengan ujung-ujung jarinya mulai terasa kaku.
“Sebaiknya aku kedalam dulu mengenakan
Karena suhu dingin yang mulai menembus
ke tulangnya, dengan terburu-buru Eomma Martha masuk ke dalam rumah hingga Ia melupakan ponselnya yang Ia letakkan di meja teras.
Beberapa kali terlihat cahaya yang memendar dari layar ponsel Eomma Martha yang disusul dengan getaran.
Sang empunya ponsel bahkan belum menyadari jika benda pipih yang terus dibawanya sejak tadi kini berada jauh darinya.
Sekitar 15 menit berlalu, barulah Ia menyadari hal itu.
Segera Ia berlari ke teras rumahnya, dan begitu lega ketika melihat ponselnya masih ada di sana.
”15 Missed Call”
“Siapa yang menghubungiku sampai sebanyak
ini?” gumamnya.
Semua panggilan tersebut dari nomor
yang tak Ia kenali.
Hal apa yang sangat penting hingga pemilik
nomor terus saja menghubunginya berkali-kali, menjadi tanda tanya besar bagi Eomma.
“Dengan ragu Ia menghubungi nomor tersebut bersamaan dengan mobil suaminya yang memasuki garasi.”
Panggilan pertama belum ada jawaban,
namun Eomma kembai mencoba, hingga dipanggilan ketiga bersamaan dengan suaminya yang dudah tiba di teras rumah.
“Halo,”
“Maaf, sebelumnya nomor ponsel Anda
__ADS_1
menghubungi saya beberapa kali. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya eomma.
“Maaf Madam, tapi tadi saya ingin
mengabarkan jika putri Anda mengalami kecelakaan. Sepeda yang dikendarainya
ditabrak oleh sebuah mobil yang melaju dalam kecepatan tinggi,” jelas seorang
wanita di seberang telepon.
“ Kecelakaan? Putriku ditabrak mobil
saat bersepeda?” Eomma mengulang semua informasi yang baru saja Ia terima.
Air matanya ternyata lebih cepat
bereaksi dari otaknya, meski akalnya terus berusaha menyangkal berita yang baru
saja Ia dengar, namun ketakutan jika hal itu memang benar terjadi membuat dadanya terasa sesak, dan air mata terus berlinang dari kedua pelupuk matanya.
Jemarinya seperti kehilangan kemampuannya untuk menggenggam, hingga hampir saja ponsel yang Ia pegang terjatuh jika Appa tak segera datang dan menangkapnya.
Begitupun dengan kaki Eomma yang
tiba-tiba saja terasa lemah. Seperti tak memiliki kekuatan untuk menumpu berat tubuhnya. Eomma sudah terduduk kembali di kursi terasnya, dengan linangan air mata yang tak bisa dihentikan.
Sementara Appa megambil alih ponsel untuk mendapatkan informasi tambahan yang sekiranya bisa membantu mereka menemukan keberadaan Risa saat ini.
Setelah dirasa cukup informasi yang
diperlukannya, dengan tangan yang juga ikut bergetar, Appa segera memeluk Eomma untuk saling menguatkan.
“Jangan sampai kami kehilangan dirinya Tuhan. Namun jika ada nyawa yang harus dikorbankan, ku mohon biarkan nyawaku saja. Berilah keselamatan pada putri kami, berikan Ia kesempatan untuk mencicipi kebahagiaan, ku mohon Ya Tuhan, Ku mohon… Selamatkan putriku, Risa,” batin Appa Kim.
⚘ ⚘ ⚘
Di Jakarta, kini waktu sudah sangat larut malam ketika Aydin masih tetap bertahan di dalam mobilnya yang terparkir di halaman sebuah rumah yang harusnya menjadi tempat baginya, Risa, dan Dafha membangun masa depan.
Ya, inilah rumah yang dipermasalahkan
oleh Si Kembar Amora dan Esme. Entah alasannya apa, hingga keduanya ingin rumah
ini dikeluarkan dari daftar asset yang dimiliki Risa.
“Haruskah aku masuk?” batinnya ragu.
“Bukan takut karena rumah ini sudah
kosong semenjak Ia dan Risa berpisah, namun di dalam sana terdapat banyak ranjau yang bisa menghancurkan hatinya berkeping-keping,” batin Aydin.
Terlalu banyak kenangan yang Risa
torehkan di rumah ini. Setiap sudutnya sangat mencerminkan bagaimana pribadi seorang Risa, dan Aydin takut tak sanggup jika semua bayangan kenangan mereka malam ini akan menari-nari di kepalanya.
Namun selagi logikanya menolak dengan alasan melindungi hatinya, justru hati kecil Aydin menuntun langkah sang duda untuk memasuki ke tempat penuh kenangan bagi keduanya.
Rindu, alasannya karena kerinduan
yang teramat besar membutuhkan sesuatu sebagai pelampiasan.
Dan disinilah Aydin kini berdiri, di depan
foto prewedding keduanya yang sengaja di pajang Risa di salah satu dinding pada ruangan yang rencananya akan menjadi ruang keluarga.
“Kamu memang sangat cantik sayang,
tak salah jika Eijaz sangat yakin akan dengan mudah menemukan orang lain yang pantas untuk mendampingimu selain diriku si pengecut ini.”
Aydin berbalik, hendak melangkah pergi namun tiba-tiba saja….
Praaaaanngggggg
Foto yang sejak tadi dipandanginya jatuh hingga membuat kaca framenya pecah dan berserakan.
Perasaan Aydin tiba-tiba saja merasa tak tenang dan gelisah, “Ada apa ini? Apa sebuah firasat?”
__ADS_1
⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘