Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 115. Bertemu Bunda Nadine


__ADS_3

Tak masalah jika semuanya berjalan lambat.


Selama tidak hanya diam di tempat, semuanya akan baik-baik saja.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Satu per satu unggahan foto-foto Aydin dan Risa menjadi ramai di berbagai media.


Aydin akhirnya memutuskan mengunci akun sosial medianya, juga menonaktifkan kolom komentar, setelah notifikasi dari aplikasi media sosial membanjiri ponselnya.


Benar dugaan Risa, setelah satu foto kebersamaan mereka di pesta perusahaan milik Eijaz terungkap ke media, beragam


foto dan komentar mulai bermunculan.


Status Aydin yang seorang duda menjadi topik hangat. Berbagai media mulai mencari latar belakang pengusaha muda yang namanya cukup diperhitungkan dalam dunia bisnis.


Hanya dalam sehari, kehebohan terjadi di kantor agensi milik Risa.


Hal yang sama juga terjadi di perusahaan kakeknya, Ortiva Construction yang kini dipimpin oleh Amora.


Banyak wartawan yang ingin mencari infromasi dari wanita yang dulunya dikenal sebagai manajer Risa saat masih aktif berkarir di Korea Selatan.


Membahas karir di Korea, pihak agensi yang menjadi perwakilan Risa di sana, sudah memberikan klarifikasinya lebih dulu mengenai kebenaran berita yang tersebar.


Sementara di perusahaan Aydin, mereka sudah bersiap lebih dulu, sehingga bisa menanganinya dengan sangat baik.


Tak ada klarifikasi yang melibatkan media, Aydin dan Risa memutuskan untuk membuat sebuah video berdurasi pendek, lalu mengklarifikasi kebenaran hubungan keduanya dan juga rencana pernikahan yang akan terlaksana dalam kurun waktu kurang dari sebulan.


“Yang, kamu baik-baik saja kan?” ucap Aydin saat menghubungi Risa via panggilan video.


Perasaannya jadi tak tenang, seharusnya Ia sudah memperhitungkan hal ini, sehingga ketika berita menjadi ramai seperti sekarang mereka harusnya berada di tempat yang sama.


“Aku baik-baik saja Ay. Disini Ada Esme dan Echa bersamaku.” Jawab Risa menenangkan calon suaminya.


“Aku malah cemas pada Dafha,” sambungnya.


“Jangan khawatir, aku sudah mengirim beberapa orang untuk mengamankan rumah Mama dan Papa.” Ujar Aydin.


“Mereka saat ini dalam perjalanan ke Bandung, mereka akan disana hingga keadaan lebih tenang.”


Terdengar suara helaan napas Risa, “Aku pasti akan sangat merindukan Dafha.”


“Bertahanlah sayang, 3 hari saja dan ku usahakan semua akan kembali seperti biasanya.” Ucap Aydin menenangkan Risa.


Panggilan mereka akhirnya berakhir.


Aydin, Chandra, dan tim hukum yang disewa Aydin akan mulai menekan para media untuk berhenti meyebarkan berita tanpa seizin Aydin dan Risa.


Saat melewati meja Sesil, Aydin sempat memberi peringatan pada wanita yang menjadi sekertarisnya.


“Sil, kamu ingat apa tugasmu yang paling penting sebagai sekertarisku?" tanya Aydin.


“Pastikan apapun yang pernah terjadi, entah yang kamu dengar langsung atau tidak dan apapun yang pernah kau saksikan secara langsung atau tidak, hal itu harus tetap mejadi rahasia yang harus kau jaga.”


“Pilihan ada padamu, jangan menghancurkan karir yang sudah susah payah kau bangun.” Peringat Aydin.


Sesil menelan salivanya.


“Bagaimana bisa bosnya tau jika dia salah satu warga net yang meninggalkan komentar pada salah satu unggahan foto Aydin?” Batin Sesil cemas.


“Hati-hati dengan Si Bos, meski sudah mengganti nama akunmu, dia tetap akan tahu,” bisik Chandra menakut-nakuti Sesil yang kini bergidik ngeri.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Ponsel Risa berdering, segera Ia jawab setelah tahu jika yang menghubunginya adalah Dokter Hendra, dokter yang bertanggung jawab atas pengobatan kejiwaan adik tirinya, Anggun.


“Iya Dokter Hendra,” ucap Risa menjawab panggilan di ponselnya.


"........................"


“Apa?” pekiknya.


"........................"

__ADS_1


“Baiklah kirimkan alamat rumah sakitnya, aku segera kesana. Tolong jaga adikku, aku akan segera sampai.” Ucap Risa panik.


Dengan tangan bergetar, Risa memasukkan barang pribadi miliknya ke dalam tas.


“Ada apa?” tanya Esme yang ikut cemas.


“Anggun, dia jatuh di tangga saat kembali ke kamarnya dari taman. Ada saksi mata yang mengatakan jika saat itu Anggun memang terlihat berjalan degan terburu-buru.” Jelas Risa.


“Tolong antar aku kesana,” pintanya.


Echa dan Esme memilih melewati jalan darurat yang disediakan oleh gedung tempat kantor mereka berada.


Selama perjalanan, Risa terus merapalkan doa-doa untuk keselamatan Anggun.


Risa sudah memaafkan semua kesalahan adik tirinya itu. Dia sudah menerima Anggun dan bayinya nanti dalam kehidupannya.


Air mata Risa berkumpul di pelupuk mata meski tak ada undangan dari pemiliknya.


“Hubungi Aydin, kau pasti membutuhkannya saat ini.” Saran Esme.


Risa mengangguk dan segera menghubungi calon suaminya itu.


Benar kata Esme, Ia memang membutuhkan Aydin untuk menenangkannya.


“Semoga tak terjadi apa-apa. Tuhan, kumohon selamatkan Anggun dan bayinya.” Gumam Risa.


Selama 20 menit perjalanan, doa itu yang terus Risa gumamkan.


Tak ada yang lebih Ia inginkan saat ini selain keselamatan keduanya.


Ketika tiba di rumah sakit, Risa dan Esme berlari menuju ruang pemeriksaan khusus untuk Ibu hamil.


“Dokter Hendra, dimana Anggun?” tanya Risa saat Ia menemukan sosok pria muda yang tadi menghubunginya.


“Anggun masih ditangani oleh dokter kandungan. Semoga semuanya baik-baik saja.” Jawabnya menenangkan Risa.


Risa mengangguk, wajahnya yang putih kini semakin putih karena pucat. Bahkan kedua telapak tangannya sangat dingin.


“Ibu dan bayi yang masih dalam kandungannya, selamat.”


“Tak ada sesuatu yang patut dikhawatirkan, hanya saja sebaiknya pasien dirawat beberapa hari di rumah sakit untuk memantau pergerakan janinnya.” Saran dokter yang langsung disetujui oleh Risa.


Setelah melihat keadaan Anggun yang masih terlelap karena pengaruh obat, Risa berniat menemui Dokter Hendra untuk mencari tahu kejadian sebenarnya.


“Sebaiknya aku mencari tau lebih dulu, sebelum Aydin yang menemui Dokter Hendra.” Batin Risa.


Wanita itu tak ingin jika Aydin memperpanjang masalah. Sebab tadi saat di telepon, Aydin terdengar marah.


Ia menduga rumah sakit telah lalai saat menjaga pasien.


Risa mencari Dokter Hendra seorang diri, karena Esme dan Echa sedang mengurus ruangan VIP untuk Anggun.


Risa menolong seorang Ibu yang hampir saja terjatuh jika Ia tidak memegangnya.


“Nyonya, apa Anda baik-baik saja?” tanyanya Ramah.


Wanita paruh baya itu mengusap sisa air mata yang masih berbekas di wajahnya, sepertinya Ia baru saja menangis, pikir Risa.


“Terimakasih Nak, aku sudah baik-baik saja.”


Risa menawarkan untuk mengantar Ibu itu memeriksakan diri ke dokter, namun ditolaknya.


Ibu itu beralasan, Ia harus menjaga putranya yang sedang dirawat.


Risa ingin sekali meninggalkan wanita paruh baya itu dan lanjut mencari dokter Hendra, tapi hati kecilnya tidak tega.


Wajah wanita paruh baya itu nampak pucat, dengan sisa-sisa air mata yang masih terlihat jelas.


Namun dari kejauhan Ia melihat Aydin yang sudah tiba, dengan terpaksa Ia harus berpamitan.


“Ay,” panggilnya.


Segera Ia berlari menghampiri Aydin, Ia membalas pelukan yang diberikan Aydin.

__ADS_1


Beberapa ciuman mendarat di puncak kepalanya, dan rasanya sungguh menenangkan.


“Esme benar, aku memang membutuhkan pria ini. Hanya berada dalam dekapannya saja, rasanya aku bisa menghilangkan segala kekhawatiranku.” Batin Risa.


♡♡♡♡♡♡♡♡


Untuk kedua kalinya Risa bertemu dengan wanita paruh baya yang tadi sempat Ia tolong.


Sore itu, mereka berdua kembali bertemu di sebuah coffe shop yang ada di hall rumah sakit.


Risa yang hendak membayar kopi yang Ia beli untuk dirinya dan juga Aydin, di hentikan oleh seorang wanita paruh baya.


“Biar Aku yang membayar, aku ingin berterimakasih padamu.”


Risa tak bisa menolak, karena kasir telah menerima wanita itu. Wanita paruh baya yang tadi ditolongnya.


“Ibu ....” Risa lupa jika Ia belum menanyakan namanya.


“Nadine. Teman anakku sering memanggilku Bunda Nadine.” Ucapnya dengan tangan terulur.


Segera Risa menyambut tangan yang masih sangat halus dan lembut.


"Risa," ucapnya singkat.


Dari penampilan dan tutur bahasanya yang lembut, Risa membayangkan jika Bunda Nadine adalah seorang nyonya di keluarga kalangan menengah atas.


“Bagaimana keadaan adikmu?” tanya Bunda Nadine sembari menunggu kopi yang dipesannya.


“Syukurlah, keadaanya sudah lebih baik. Hanya saja dia perlu dirawat untuk memantau keadaan bayi di kandungannya.” Jelas Risa.


Bunda Nadine bisa melihat kesedihan di wajah Risa.


“Bagaimana dengan kondisi putra anda?”


“Dia juga sudah lebih baik. Dia lupa jika tubuhnya tidak boleh kelelahan,” Jawab Bunda Nadine apa adanya.


Risa merasa bersalah karena Bunda Nadine menjadi sedih saat membahas kondisi putranya.


“Anak-anak memang suka lupa waktu jika sudah bermain, putraku juga seperti itu.” Ucap Risa hendak menghibur wanita yang baru dikenalnya hari ini.


“Ternyata kamu sudah memiliki putra, kupikir kamu masih lajang.” Ucap Bunda Nadine.


Risa hanya membalas dengan tersenyum, meski senyum manisnya terhalang oleh masker.


“Sayang,” Aydin yang merasa Risa sudah pergi terlalu lama, akhirnya menyusul calon istrinya.


Risa harus pamit pada Bunda Nadine sebab Aydin sudah mencarinya. Tak lupa Ia kembali mengucapkan terimakasih sekali lagi.


♡♡♡♡♡♡♡


“Ay, kamu menyusulku.” Ucap Risa sambil bergelayut manja di lengan calon suaminya.


“Aku mencemaskanmu. Kamu pergi terlalu lama.”


“Lain kali jangan mengobrol dengan orang asing, apa lagi sekarang banyak wartawan yang sedang mencari berita.” Peringat Aydin.


Risa terkekeh mendengar Aydin menyebut kata orang asing.


Ia ingat, dulu dirinya juga dicap sebagai orang asing oleh Aydin.


“Ay, aku jadi rindu pada Dafha. Anak dari Ibu itu sepertinya sakit parah. Ibu itu sangat sedih, putranya harus dirawat karena kelelahan.” Ujar Risa.


“Aku akan mengurangi waktu bermain Dafha. Dia juga harus punya waktu istirahat yang cukup.” Sambungnya.


Aydin mengecup punggung tangan Risa, “Terimakasih sayang sudah mengkhawatirkan Dafha.”


“Jangan berterimakasih. Semua Ibu akan seperti itu.” Balas Risa.


♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡


Ibu membuatku percaya pada cinta pandangan pertama.


Bagaimana aku jatuh cinta padanya, tepat ketika pertama kali aku membuka mata.

__ADS_1


__ADS_2