
Ada rindu yang ingin sekali dituntaskan lewat pertemuan.
Namun jika pertemuan itu tak dapat terwujud, maka hanya nama yang akan terucap dalam setiap doa yang diam-diam ku panjatkan untukmu.
♡♡♡♡♡
¤¤¤¤《FLASHBACK ON》¤¤¤¤
Duduk berdua di atas rumah pohon membawa ingatan Aydin kembali pada malam saat Ia menemui Risa, yang kala itu berstatus sebagai wanita pujaan Eijaz.
Batinnya menolak untuk menyebut jika saat itu, Risa adalah kekasih Eijaz, karena Ia juga tak pernah tahu kebenaran status keduanya saat itu.
Yang Ia tahu, sahabatnya tiba-tiba saja berubah sikapnya karena telah merasakan cinta.
Aydin yang kala itu telah menambatkan hatinya pada Franda juga tak pernah sekalipun melirik pada wanita lain.
Meski banyak dari wanita di kampusnya yang ingin mendekatinya.
Hingga malam itu, malam Ia menerima permintaan Eijaz yang secara tiba-tiba pindah ke Amerika dengan alasan menemani Ibunya yang sakit.
Ada paket yang harus Ia antarkan pada wanita pujaan Eijaz, wanita yang akhirnya Ia beri nama kontak ‘titipan paket’ pada ponselnya.
Di tempat ini, malam itu Aydin pertama kali terpesona oleh kecantikan Risa remaja.
Oleh mata teduh yang kala itu jujur dan meronta ingin meminta pertolongan, namun sang empunya keras hati dan bersikap seolah semua baik-baik saja.
Sejak saat itu, Aydin menetapkan standar wanitanya bukan lagi wanita pintar yang bisa membantunya mewujudkan perusahaan impiannya, tapi wanita dengan tatapan teduh yang jujur dan butuh perlindungan.
Karena tatapan teduh Risa jugalah, yang membawa Aydin hingga bisa mencintai sosok mantan istrinya.
Wanita yang juga memiliki tatapan yang mirip seperti tatapan Risa. Wanita yang juga selalu menyembunyikan kesulitannya, selalu menampakkan ketegaran yang luar biasa.
Aydin tersentak dari lamunannya ketika kepala Risa bersandar di bahunya.
“Ay, bagaimana yah nanti setelah kita menikah? Apa aku bisa menjadi istri dan ibu yang baik?”
“Tentu saja bisa.” Jawab Aydin yakin.
“Tapi rumah tangga yang harusnya menjadi panutanku, malah hancur berantakan.”
“Maka rumah tangga kita harus bertahan utuh, penuh cinta dan kasih, agar kelak bisa menjadi contoh bagi Dafha dan anak-anak kita.”
“Ay aku penasaran, menikah rasanya seperti apa yah?”
Aydin tak menjawab, muncul ide licik dibenaknya. Ingatlah jika kesempatan ada untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Pria itu membenarkan posisi duduknya dan juga Risa. Lalu Ia mengecup bibir Risa, kembali tanpa aba-aba.
“Bagaimana rasanya?”
Risa bungkam, Ia masih selalu terkejut dengan ciuman tiba-tiba Aydin.
Tak hanya sampai disitu, Aydin kembali maju hendak menyatukan bibir mereka, namun Risa beringsut mundur hingga tubuhnya bersandar di batang pohon yang besar dan kokoh.
Aydin menyeringai, lalu penyatuan kedua bibir itu kembali terjadi.
Namun kini keduanya sudah terbuai dengan gelora yang tertahan dari dalam diri masing-masing.
Yang Aydin suka, hanya dengan lenguhan tertahan dari bibir Risa mampu membuat semangat Aydin menjadi berlipat-lipat kali lebih banyak.
Pertarungan lidah, pertukaran saliva, tak terelakkan lagi.
Mereka sepertinya lupa jika siapa saja bisa melihat apa yang terjadi di atas sini.
Yang awalnya hanya melibatkan dua bibir, kini jejak jejak tanda cinta Aydin sudah bertebaran di ceruk leher dan juga dada Risa.
Jika bukan karena suara riuh klakson dan deru mesin mobil yang lewat di jalan depan gang tempat rumah pohon ini berada, maka permainan Aydin tak kan usai.
Setelah Ia membantu Risa merapikan pakaian dan tatanan rambutnya, tanpa beban Aydin bertanya, “Bagaimana rasanya?”
Wajah Risa sontak saja merona.
Bagaimana bisa pria itu bertanya mengenai rasa yang memabukkan bagi Risa. Hingga tak ada kata yang bisa Ia ungkap untuk menggambarkan bagaimana nikmatnya.
“Jika kita telah berumah tangga, kita bebas melakukan hal yang seperti tadi kapanpun, sebanyak dan selama apapun, bahkan kita akan mendaki menuju puncak bersama-sama sayang.” Jelasnya.
__ADS_1
Risa memutar bola matanya malas.
“Yang seperti itu juga aku tau, kamu tak perlu menjelaskannya. Aku tau kamu hanya ingin mengambil kesempatan dari pertanyaanku.” Ketus Risa.
Aydin tertawa, “Sepertinya aku ketahuan."
Sebagai permohonan maafku, ayo ku ajak kamu makan siang dulu.
Setelah makan, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kita akan bertemu sahabatku.
♡♡♡♡♡
Jam makan siang membuat jalanan Ibu Kota sangat padat. Kemacetan tak terelakkan, bahkan tak peduli dengan keadaan perut yang sesekali terdengar orasi dari para cacing yang tengah berdemo.
“Huh.. untuk makanpun kita sepertinya harus melewati jalan yang macet, apa tak masalah?” tanya Aydin.
“Bagaimana jika kita makan di restauran yang ada di sekitar kawasan ini saja.” Usul Risa.
“Boleh juga sayang, tapi aku tak tahu restauran mana yang menyajikan hidangan yang lezat.”
“Aku tau, akan kutunjukkan padamu.”
Risa segera mengarahkan ke Aydin menuju restauran yang tak jauh dari toko buku milik Eijaz.
Bahkan dari tempatnya duduk kini di dalam restauran, Risa bisa dengan jelas mengamati restaurant Eijaz yang kini nampak sudah lebih baik setelah dibenahi di beberapa bagian.
“Apa mungkin sudah terjual yah?” gumamnya lirih.
Aydin yang tak sengaja mendengar gumaman Risa , Ia lalu mengikuti arah pandang kekasihnya.
Cemburu, hatinya kembali memanas menyadari kemana arah pandang Risa.
“Apa dia sengaja memilih tempat ini untuk makan siang, karena hendak melihat ke toko buku itu?” batin Aydin kembali menerka-nerka.
Keputusannya sudah bulat, setelah ini Ia yang akan mendatangi Eijaz.
Menemui sahabatnya.
Tak ada kesalahan yang Ia perbuat sehingga harus bersembunyi atau menghindari sahabatnya itu.
Apalagi memilih pada siapa Ia akan jatuh cinta, tentu saja tak bisa. Semua adalah jalan Tuhan.
“Bukannya di awal pertemuanku dengan Risa, aku bahkan belum tau jika dia adalah wanita pujaan Eijaz dulu.”
“Jadi bukan salahku jika hatiku memilihnya.” Monolog Aydin dalam hatinya.
Makan siang kali ini terasa lebih cepat, entah karena Risa dan Aydin terus mengobrol mengenai persiapan pernikahan mereka.
Keduanya menuturkan beberapa konsep andalan masing-masing.
Hingga makanan keduanya tandas, dan mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
“Ay, apa kamu mendengar seseorang memanggil-manggil namamu?” tanya Risa saat mobil Aydin mulai melaju.
Aydin menggeleng.
Namun netranya mengamati keadaan sekelilingnya.
Hanya terlihat 2 orang pria yang sedang mengobrol jauh dibelakang mereka.
“Kita akan kemana, Ay?”
“Aku ingin mengajakmu bertemu sahabatku.”
“Sahabatku semasa kuliah dulu, dia juga mengenal Franda.”
“Oh, jadi sahabatmu ini adalah saksi dari romantisnya hubunganmu bersama Franda.” Ucap Risa sarkas.
Aydin menggeleng dengan kekehan, lucu sekali melihat Risa yang cemburu namun wanita itu berusaha tutupi dengan ucapan sinisnya.
“Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya ingin menjelaskan dari sekarang, agar jika sahabatku ini menyinggung soal Franda kamu jangan salah paham yah sayang. Karena Ia juga mengenalnya.”
Risa mengangguk mengerti.
Ternyata Aydin juga sama sepertinya, memiliki seorang sahabat yang baru Ia ketahui.
__ADS_1
Selama ini, hanya Chandra yang selalu menemaninya kemanapun sebelum ada Risa.
Tak butuh waktu lama, hingga mobil Aydin berhenti di depan sebuah gedung perusahaan.
Dari yang Risa amati, nama perusahaannya adalah PT. HMSH yang bergerak dibidang pertambangan.
“Ay, aku ke toilet dulu. Kamu temuilah resepsionisnya lebih dulu.”
AYdin mengangguk.
Sayang, ketika Aydin yang hendak menemui Eijaz mereka belum ditakdirkan untuk bertemu.
Eijaz tidak berada di perusahaannya.
Sedikit kecewa karena saat hatinya telah mantap, takdir malah menentukan hal lainnya.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya terdalam, ada kelegaan yang Ia rasakan. Mungkin ini belum saat yang tepat.
¤¤¤¤《FLASHBACK OFF 》 ¤¤¤¤
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Dafha yang tertidur sejak sore hari, memberikan waktu bagi Aydin dan Risa untuk mengerjakan pekerjaan kantor Risa yang sengaja Aydin bawa pulang.
Yah, pria itu akan membantunya.
Dengan penuh kesabaran, Aydin membantu Risa mempelajari setiap kontrak kerjasama yang ditawarkan oleh beberapa perusahaan.
Pria itu memberikan masukan mengenai bagaimana pandangannya tentang penawaran yang ada.
Hingga tak terasa semua selesai tepat sebelum jam makan malam tiba.
Risa yang hendak keluar untuk melihat Dafha dikamarnya, segera dihentikan oleh Aydin.
“Eeiiittsss, mau kemana kamu?”
“Aku ingin melihat keadaan Dafha, apa Ia sudah bangun atau belum.” Jawab Risa jujur.
“Jangan coba-coba menghindar sayang, aku tak kan melepasmu sebelum kau membayarku.” Canda Aydin.
Pria itu sudah membawa Risa ke dalam dekapannya. Memberikan ciuman yang bertubi-tubi ke puncak kepala wanitanya.
Membelai lembut surai panjang Risa yang tergerai.
Sengaja Aydin membawa semua rambut Risa ke salah satu pundaknya. Hingga leher jenjang Risa sebelah kiri menampakkan dengan jelas jejak cinta yang tadi Ia buat di rumah pohon.
Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, penyatuan bibir keduanya kembali terjadi.
Namun kini penyatuan itu begitu lembut, tidak terburu-buru.
Hingga ............
Ceklek.
Pintu ruangan kerja Aydin dibuka.
Jika biasanya yang berenai mengganggu waktu berdua Risa dan Aydin adalah Dafha, putranya.
Namun kini mata Aydin terbelalak saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.
“Upppsss, maaf aku tak tau jika.....” ucapan pria itu terhenti ketika wanita dalam pelukan Aydin berbalik ke arahnya.
“Bri........ Sa,” lirihnya.
“Kak Eijaz,” gumam Risa.
Hati Aydin memanas, terbakar cemburu merasa Ia tak dianggap oleh dua pasang netra yang saling menatap.
“Ekhheemm,” Aydin berdeham.
♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡
Dan pertemuan ini akhirnya menyakitiku.
Jika harapanku padamu tak ada artinya lagi, maka biarlah pertemuan ini jadi awal untuk menyiapkan sebuah perpisahan.
__ADS_1
Biarlah pertemuan ini adalah isyarat untuk mengucapkan selamat tinggal yang dulu belum sempat terucap.