
Aydin sesekali mengamati Risa yang nampak diam sejak mereka meninggalkan rumah orang tua Aydin .
" Ris ... Risa ... kamu marah ? Apa aku melakukan kesalahan ? " tanya Aydin lembut .
Risa mengacuhkan Aydin . Ia sengaja menyibukkan diri dengan ponselnya .
Aydin menepikan mobilnya .
Memegang kedua bahu Risa , membuat wanita itu kini menghadap padanya .
" Katakan apa kesalahanku ? " tanya Aydin sekali lagi , menatap lurus pada dua bola mata Risa .
Risa balas menatap Aydin , namun masih bungkam .
Aydin mencoba tenang , walau sebenarnya dia mulai kesal pada Risa yang kembali sibuk dengan ponselnya .
" Risa .... aku mana tahu bagaimana perasaanmu saat ini kalau kamu tidak bicara. Kamu marah ? Apa yang membuatmu marah ? " tanya Aydin dengan meninggikan sedikit suaranya .
" Jika orang dewasa sepertimu bahkan tidak bisa mengerti perasaan orang lain , bagaimana dengan Dafha . Anak kecil berusia 5 tahun yang kamu bentak hanya karena tidak menuruti perintahmu . " ujar Risa .
" Oh jadi masih soal Dafha . Jangan terlalu memanjakannya , dia anak laki laki , aku ingin dia bisa kuat dan mandiri . " balas Aydin .
" Cihhh.... syukurlah kalau kamu masih mengakui jika dia anak laki laki . Masih anak anak . " ujar Risa dengan sarkas .
" Ris ... gak perlu kita bertengkar soal Dafha . Begitulah caraku mendidiknya . Dafha memang harus bisa mendengar pada satu orang , jadi tidak boleh semua orang memanjakannya . Dan itu tugasku sebagai ayahnya . " jelas Aydin .
" Sejauh ini aku melihat Dafha adalah anak yang penurut . Kamu saja yang sepertinya tidak sabaran dalam menghadapi anak kecil . Tugasmu itu mendidiknya , bukan membuatnya takut padamu dan berakhir mengikuti semua keinginanmu . " Ujar Risa menantang Aydin .
Aydin terpancing emosi dengan ucapan Risa barusan . Baru kali ini ada orang yang berani mengomentari caranya mendidik Dafha , sekalipun itu Kirani istrinya dulu tidak pernah .
" Tahu apa kamu soal Dafha ? Kamu baru sehari ini bersama dengannya . Harusnya kamu cari tahu dulu bagaimana Dafha setiap harinya sebelum kamu mengomentari caraku mendidiknya . Tidak sabar katamu ? Menurutmu mudah menjadi ayah sekaligus Ibu ? " balas Aydin tak kalah menantang .
Risa memasukkan ponselnya ke dalam tas .
" Aku memang tidak tahu bagaimana Dafha setiap harinya . Tapi aku coba mengerti perasaannya kini seperti apa . Kamu pikir mudah bagi Dafha yang baru berusia 5 tahun harus kehilangan ibunya ? Aku saja yang kehilangan ibuku saat usia 15 tahun tetap terasa sangat berat . " Ujar Risa .
" Harusnya kamu bertanya pada dirimu mengapa Dafha selalu bertingkah . Apa yang dia butuhkan darimu ? " sambungnya .
" Dafha tidak pernah memintamu menjadi sosok Ibunya . Dafha perlu kamu sebagai Ayahnya yang membantunya menerima semua keadaan ini . " Ujar Risa .
" Seandainya bukan karena Dafha , aku juga tidak akan mau ada di posisi ini . " gumam Risa lirih namun masih bisa di dengar Aydin .
Risa lalu membuka pintu mobil dan berjalan menjauh meninggalkan Aydin .
Aydin yang berlari mengejar Risa , berhasil mencegahnya .
" Risa .. Risa ... berhenti . Jelaskan padaku apa maksud ucapanmu barusan ? "
Aydin terus berteriak mengundang perhatian orang lain .
" Lepas kan ... " Risa meronta agar Aydin melepaskan cengkraman tangannya .
" Tidak akan sebelum kamu menjelaskan semuanya . Apa maksud ucapanmu karena Dafha ? " tanyanya .
Risa tiba tiba merutuki kecerobohannya . " Bagaimana ini , apa yang harus Ia katakan . " Batinnya .
" Baiklah aku akan jujur . Alasan utamaku mau menerima penawaranmu tadi siang untuk berjalan di hubungan yang tanpa status ini karena apa ? Sebagian besar alasannya karena Dafha . Karena aku tak ingin Dafha merasakan apa yang pernah ku rasakan 10 tahun lalu . " Ujar Risa .
" Wanita mana yang mau di ajak bertahan di hubungan tanpa status ? Kamu pikir mudah bagiku menepis pikiran jika aku hanya pelarianmu saja ? Tapi aku enyahkan semua pikiran burukku , saat mengingat bagaimana Dafha bocah 5 tahun meringkuk menunggu Daddynya yang tidak kunjung menjemputnya . "
Sambungnya .
" Jangan pernah temui aku lagi sebelum kamu bisa memahami perasaan Dafha . " ujar Risa lalu keluar daiti mobil menjauhi Aydin .
Risa kembali melangkahkan kakiknya menjauhi Aydin . Aydin juga ikut kembali mengejar Risa .
" Risa , please jangan seperti ini . Kembalilah , aku akan mengantarmu . Aku minta maaf jika aku salah . " Ujar Aydin berusaha mengesampingkan egonya .
" Memangnya ada apa denganku ? Sudah ku katakan aku tak mau bertemu denganmu jika kamu belum bisa mengerti perasaan Dafha . "
Ujar Risa mengulangi ucapannya .
" Jangan minta maaf padaku . Sana minta maaflah pada Dafha . " sambungnya .
" Kim Risa . " bentak Aydin .
" Berhenti keras kepala . Ayo kembali ke mobil , aku antar kamu pulang . Kamu tidak malu orang orang memperhatikan kita . " Ujar Aydin .
" Aku sudah biasa menjadi pusat perhatian . " balas Risa sambil mengedarkan pandangan ke sekitarnya .
" Semoga aku tidak akan melihat sikap seorang Ayah yang dulu biasa ku lihat ada pada dirimu kelak . " Lanjut Risa .
Aydin mengernyit tak mengerti ucapan Risa .
__ADS_1
" Sebenarnya apa maksud wanita ini ? Apa yang dia permasalahkan sekarang ? " batin Aydin .
Tanpa Ia sadari , Risa sudah menghentikan laju sebuah taksi yang melintas . Lalu wanita itu meninggalkan Aydin yang kebingungan dari pertengkaran mereka barusan .
Aydin memilih kembali pulang ke rumah orang tuanya .
" Ada apa dengan Risa sebenarnya ? Mengapa dia sangat marah hanya karena aku menegur Dafha ? " batin Aydin .
Aydin sadar jika memang kadang dia bersikap berlebihan dalam menghadapi Dafha . Tapi sungguh itu bukan karena dia tak menyayanginya . Terkadang sebagai seorang manusia biasa, Aydin juga merasa lelah . Sehingga tanpa sadar Ia melampiaskannya pada putra kecilnya .
Aydin masih tak mengerti apa yang menyebabkan kemarahan Risa yang berapi api .
Mengapa hal kecil yang harusnya mereka bisa bahas baik baik malah ditanggapi Risa dengan emosi yang berlebihan . Aydin merasa seperti dirinya telah melakukan sesuatu yang sangat jahat pada putranya sehingga Risa menjadi semarah itu .
Mobil Aydin memasuki halaman rumah orang tuanya kembali .
Dilihatnya disana sudah tidak ada mobil Franda .
" Loh Aydin , kok sudah pulang ? " Tanya Mama Indira .
Aydin tak menjawab . Ia berlalu melewati mamanya menuju kamar putranya .
Hatinya menghangat tatkala melihat putranya yang kini tertidur dengan lelap di balik selimutnya .
" Dafha ... sepertinya Aunty Risa sangat menyayangimu . Baru sekali bertemu denganmu , tapi dia bahkan berani meninggalkan daddy hanya karena tadi daddy menegurmu . " ujar Aydin lirih .
Aydin tersenyum saat melihat Dafha tersenyum dalam tidurnya seolah anak itu mendengar apa yang Ia ucapkan .
" Apa senyummu itu artinya pikiran kita sama jika dia adalah wanita yang tepat ? "
Entah Aydin kini sedang bertanya pada siapa .
" Kamu pasti senang sekarang , setelah mommy mu pergi ke surga . Kini malaikat lain datang untuk melindungimu . " Ujar Aydin sambil mengelus lembut pucuk kepala putranya .
Setelah itu Aydin keluar dari kamar Dafha menuju kamarnya .
Tanpa Ia tahu , sejak tadi Mama Indira mendengar apa yang Ia ucapkan . Sekurangnya kini Ia sudah cukup mengerti apa yang meneyebabkan putranya pulang dalam keadaan tak senang , berbeda saat akan pergi tadi .
Di waktu bersamaan juga , Dafha yang sebenarnya belum tidur akhirnya membuka matanya saat Daddynya sudah pergi .
Anak itu tersenyum senang .
" Terimakasih Mommy sudah menepati janji Mommy untuk mengirimkan malaikat yang akan mejagaku . " Ucapnya sebelum Ia memejamkan matanya .
Setelah mencari tahu ke beberapa orang , akhirnya Ia berhasil mendapatkan nomor ponsel Esme .
Tuuut.... tuuttt....tuuutt.....
" Halo ... " Sapa Esme saat menjawab panggilan telepon .
" Esme , maaf mengganggu waktumu . Ini dengan Aydin . Aku hanya ingin bertanya , apa Risa sudah sampai di apartemen kalian ? " tanya Aydin tanpa basa basi .
Esme mengernyitkan keningnya mendapat pertanyaan itu . Harusnya Ia yang bertanya pada Aydin dimana Risa saat ini .
" Bukankah harusnya aku yang bertanya padamu ? Kalian sejak tadi bersama . " Jawab Esme .
" Yah kami bersama sejak siang tadi . Hingga beberapa jam yang lalu terjadi salah paham dan Risa pergi dengan taksi . Ku harap dia langsung pulang ke apartemen . "
" Apa ? Jadi Risa sekarang sendirian ? Kenapa baru menghubungiku sekarang ? "
Kini Esme ikut panik . Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Risa . Sudah pasti Ia akan menjadi mayat akibat dibunuh oleh saudara kembarnya sendiri .
__ADS_1
" Aku baru berhasil mendapatkan nomor ponselmu dari Albert, asisten Gio . " jelas Aydin .
" Awas aja yah kalau sampai terjadi sesuatu , harusnya kamu mencegahnya pergi sendiri . Aku sudah mempercayakan dia padamu . Astaga... Aydin .... seandainya aku tahu akan ........... "
Ucapan Esme terhenti saat mendapati Risa masuk ke apartemen dengan wajah ditekuk .
Risa tidak menyapa Esme seperti biasanya dan langsung berlalu memasuki kamarnya .
" Sudahlah..... Risa baru saja tiba . "
Esme melanjutkan ucapannya yang tadi terhenti.
Esme bisa mendengar Aydin bernapas lega dan mengucapkan kata syukur .
" Sebenarnya apa yang membuat kalian salah paham ? Mungkin aku bisa sedikit membantu . " Lanjutnya bertanya pada Aydin .
" Hemm .. sepertinya Risa marah padaku karena tadi aku sempat belebihan saat menegur putraku . " jawab Aydin dengan ragu .
" Pantas saja . " Gumam Esme .
" Pantas saja ? Maksudmu ? " tanya Aydin .
" Besok jika ada waktu temui aku . Jika kamu memang serius ingin lebih dekat dengannya . "
Tawar Esme .
" Baik . Kabari aku dimana dan jam berapa aku bisa menemuimu . Aku pasti akan datang . "
Balas Aydin sebelum mengakhiri pembicaraannya di telepon bersama Esme .
Bagi Aydin sudah cukup banyak hal yang Risa tahu mengenai dirinya dan kehidupannya .
Kini sudah saatnya Ia yang mencari tahu tentang Risa dan bagaimana kehidupan wanita yang Ia harap nanti bisa melengkapi hari harinya.
.
.
.
.
.
" *Ada hal yang tak harus dikatakan, tapi harus dimengerti. Yang memahami belum tentu mengerti, dan yang mengerti belum tentu memahami. Memahami dan mengerti adalah salah satu perasaan yang akan mendewasakan*."
.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1