Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 33 . Tentang Risa ( Part 1 )


__ADS_3

Aydin sesekali mengamati Risa yang nampak diam sejak mereka meninggalkan rumah orang tua Aydin .


" Ris ... Risa ... kamu marah ? Apa aku melakukan kesalahan ? " tanya Aydin lembut .


Risa mengacuhkan Aydin . Ia sengaja menyibukkan diri dengan ponselnya .


Aydin menepikan mobilnya .


Memegang kedua bahu Risa , membuat wanita itu kini menghadap padanya .


" Katakan apa kesalahanku ? " tanya Aydin sekali lagi , menatap lurus pada dua bola mata Risa .


Risa balas menatap Aydin , namun masih bungkam .


Aydin mencoba tenang , walau sebenarnya dia mulai kesal pada Risa yang kembali sibuk dengan ponselnya .


" Risa .... aku mana tahu bagaimana perasaanmu saat ini kalau kamu tidak bicara. Kamu marah ? Apa yang membuatmu marah ? " tanya Aydin dengan meninggikan sedikit suaranya .


" Jika orang dewasa sepertimu bahkan tidak bisa mengerti perasaan orang lain , bagaimana dengan Dafha . Anak kecil berusia 5 tahun yang kamu bentak hanya karena tidak menuruti perintahmu . " ujar Risa .


" Oh  jadi masih soal Dafha . Jangan terlalu memanjakannya , dia anak laki laki , aku ingin dia bisa kuat dan mandiri . " balas Aydin .


" Cihhh.... syukurlah kalau kamu masih mengakui jika dia anak laki laki . Masih anak anak . " ujar Risa dengan sarkas .


" Ris ... gak perlu kita bertengkar soal Dafha . Begitulah caraku mendidiknya . Dafha memang harus bisa mendengar pada satu orang , jadi tidak boleh semua orang memanjakannya . Dan itu tugasku sebagai ayahnya . " jelas Aydin .


" Sejauh ini aku melihat Dafha adalah anak yang penurut . Kamu saja yang sepertinya tidak sabaran dalam menghadapi anak kecil . Tugasmu itu mendidiknya , bukan membuatnya takut padamu dan berakhir mengikuti semua keinginanmu . " Ujar Risa menantang Aydin .


Aydin terpancing emosi dengan ucapan Risa barusan . Baru kali ini ada orang yang berani mengomentari caranya mendidik Dafha , sekalipun itu Kirani istrinya dulu tidak pernah .


" Tahu apa kamu soal Dafha ? Kamu baru sehari ini bersama dengannya . Harusnya kamu cari tahu dulu bagaimana Dafha setiap harinya sebelum kamu mengomentari caraku mendidiknya . Tidak sabar katamu ? Menurutmu mudah menjadi ayah sekaligus Ibu ? " balas Aydin tak kalah menantang .


Risa memasukkan ponselnya ke dalam tas  .


" Aku memang tidak tahu bagaimana Dafha setiap harinya . Tapi aku coba mengerti perasaannya kini seperti apa . Kamu pikir mudah bagi Dafha yang baru berusia 5 tahun harus kehilangan ibunya ? Aku saja yang kehilangan ibuku saat usia 15 tahun tetap terasa  sangat berat  . " Ujar Risa .


" Harusnya kamu bertanya pada dirimu mengapa Dafha selalu bertingkah . Apa yang dia butuhkan darimu ? " sambungnya .


" Dafha  tidak pernah memintamu menjadi sosok Ibunya . Dafha perlu kamu sebagai Ayahnya yang membantunya menerima semua keadaan ini . " Ujar Risa .


" Seandainya bukan karena Dafha , aku juga tidak akan mau ada di posisi ini . " gumam Risa lirih namun masih bisa di dengar Aydin .


Risa lalu membuka pintu mobil dan berjalan menjauh meninggalkan Aydin .


Aydin yang berlari mengejar Risa , berhasil mencegahnya .


" Risa .. Risa ... berhenti . Jelaskan padaku apa maksud ucapanmu barusan ? "


Aydin terus berteriak mengundang perhatian orang lain .


" Lepas kan ... " Risa meronta agar Aydin melepaskan cengkraman tangannya .


" Tidak akan sebelum kamu menjelaskan semuanya . Apa maksud ucapanmu karena Dafha ? " tanyanya .


Risa tiba tiba merutuki kecerobohannya . "  Bagaimana ini , apa yang harus Ia katakan . " Batinnya .


" Baiklah aku akan jujur . Alasan utamaku mau menerima penawaranmu tadi siang untuk berjalan di hubungan yang tanpa status ini karena apa ? Sebagian besar alasannya karena Dafha . Karena aku tak ingin Dafha merasakan apa yang pernah ku rasakan 10 tahun lalu . " Ujar Risa .


" Wanita mana yang mau di ajak bertahan di hubungan tanpa status ? Kamu pikir mudah bagiku menepis pikiran jika aku hanya pelarianmu saja ? Tapi aku enyahkan semua pikiran burukku , saat mengingat bagaimana Dafha bocah 5 tahun meringkuk menunggu Daddynya yang tidak kunjung menjemputnya . "


Sambungnya .


" Jangan pernah temui aku lagi sebelum kamu bisa memahami perasaan Dafha . "  ujar Risa lalu keluar daiti mobil menjauhi Aydin .


Risa kembali melangkahkan kakiknya menjauhi Aydin . Aydin juga ikut kembali mengejar Risa .


" Risa , please jangan seperti ini . Kembalilah , aku akan mengantarmu . Aku minta maaf jika aku salah . " Ujar Aydin berusaha mengesampingkan egonya .


" Memangnya ada apa denganku  ? Sudah ku katakan aku tak mau bertemu denganmu jika kamu belum bisa mengerti perasaan Dafha . "


Ujar Risa mengulangi ucapannya .


" Jangan minta maaf padaku . Sana minta maaflah pada Dafha . " sambungnya .


" Kim Risa . " bentak Aydin .


" Berhenti keras kepala . Ayo kembali ke mobil , aku antar kamu pulang . Kamu tidak malu orang orang memperhatikan kita . " Ujar Aydin .


" Aku sudah biasa menjadi pusat perhatian . " balas Risa sambil mengedarkan pandangan ke sekitarnya .


" Semoga aku tidak akan melihat sikap seorang Ayah yang dulu biasa ku lihat ada pada dirimu kelak . " Lanjut Risa .


Aydin mengernyit tak mengerti ucapan Risa .

__ADS_1


" Sebenarnya apa maksud wanita ini ? Apa yang dia permasalahkan sekarang ? " batin Aydin .


Tanpa Ia sadari , Risa sudah menghentikan laju sebuah taksi yang melintas . Lalu wanita itu meninggalkan Aydin yang kebingungan dari pertengkaran mereka barusan .


Aydin memilih kembali pulang ke rumah orang tuanya .


" Ada apa dengan Risa sebenarnya ? Mengapa dia sangat marah hanya karena aku menegur Dafha ? " batin Aydin .


Aydin sadar jika memang kadang dia bersikap berlebihan dalam menghadapi Dafha . Tapi sungguh itu bukan karena dia tak menyayanginya . Terkadang sebagai seorang manusia biasa, Aydin juga merasa lelah . Sehingga tanpa sadar Ia melampiaskannya pada putra kecilnya .


Aydin masih tak mengerti apa yang menyebabkan kemarahan Risa yang berapi api .


Mengapa hal kecil yang harusnya mereka bisa bahas baik baik malah ditanggapi Risa dengan emosi yang berlebihan . Aydin merasa seperti dirinya telah melakukan sesuatu yang sangat jahat pada putranya sehingga Risa menjadi semarah itu .


Mobil Aydin memasuki halaman rumah orang tuanya kembali .


Dilihatnya disana sudah tidak ada mobil Franda .


" Loh Aydin , kok sudah pulang ? " Tanya Mama Indira .


Aydin tak menjawab . Ia berlalu melewati mamanya menuju kamar putranya .


Hatinya menghangat tatkala melihat putranya yang kini tertidur dengan lelap di balik selimutnya .


" Dafha ... sepertinya Aunty Risa sangat menyayangimu . Baru sekali bertemu denganmu , tapi dia bahkan berani meninggalkan daddy hanya karena tadi daddy menegurmu . " ujar Aydin lirih .


Aydin tersenyum saat melihat Dafha tersenyum dalam tidurnya seolah anak itu mendengar apa yang Ia ucapkan .


" Apa senyummu itu artinya pikiran kita sama jika dia adalah wanita yang tepat ? "


Entah Aydin kini sedang bertanya pada siapa .


" Kamu pasti senang sekarang , setelah mommy mu pergi ke surga . Kini malaikat lain datang untuk melindungimu . " Ujar Aydin sambil mengelus lembut pucuk kepala putranya .


Setelah itu Aydin keluar dari kamar Dafha menuju kamarnya .


Tanpa Ia tahu , sejak tadi Mama Indira mendengar apa yang Ia ucapkan . Sekurangnya kini Ia sudah cukup mengerti apa yang meneyebabkan putranya pulang dalam keadaan tak senang , berbeda saat akan pergi tadi .


Di waktu bersamaan juga , Dafha yang sebenarnya belum tidur akhirnya membuka matanya saat Daddynya sudah pergi .


Anak itu tersenyum senang .


" Terimakasih Mommy sudah menepati janji Mommy untuk mengirimkan malaikat yang akan mejagaku .  "  Ucapnya sebelum Ia memejamkan matanya .





Setelah mencari tahu ke beberapa orang , akhirnya Ia berhasil mendapatkan nomor ponsel Esme .



Tuuut.... tuuttt....tuuutt.....



" Halo ... " Sapa Esme saat menjawab panggilan telepon .



" Esme , maaf mengganggu waktumu . Ini dengan Aydin . Aku hanya ingin bertanya , apa Risa sudah sampai di apartemen kalian ? " tanya Aydin tanpa basa basi .



Esme mengernyitkan keningnya mendapat pertanyaan itu . Harusnya Ia yang bertanya pada Aydin dimana Risa saat ini .



" Bukankah harusnya aku yang bertanya padamu ? Kalian sejak tadi bersama . " Jawab Esme .



" Yah kami bersama sejak siang tadi . Hingga beberapa jam yang lalu terjadi salah paham dan Risa pergi dengan taksi . Ku harap dia langsung pulang ke apartemen . "



" Apa ? Jadi Risa sekarang sendirian ? Kenapa baru menghubungiku sekarang ? "



Kini Esme ikut panik . Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Risa . Sudah pasti Ia akan menjadi mayat akibat dibunuh oleh saudara kembarnya sendiri .

__ADS_1



" Aku baru berhasil mendapatkan nomor ponselmu dari Albert, asisten Gio . " jelas Aydin .



" Awas aja yah kalau sampai terjadi sesuatu , harusnya kamu mencegahnya pergi sendiri . Aku sudah mempercayakan dia padamu . Astaga... Aydin .... seandainya aku tahu akan ........... "


Ucapan Esme terhenti saat mendapati Risa masuk ke apartemen dengan wajah ditekuk .



Risa tidak menyapa Esme seperti biasanya dan langsung berlalu memasuki kamarnya .



" Sudahlah..... Risa baru saja tiba . "


Esme melanjutkan ucapannya yang tadi terhenti.



Esme bisa mendengar Aydin  bernapas lega dan mengucapkan kata syukur .



" Sebenarnya apa yang membuat  kalian salah paham ? Mungkin aku bisa sedikit membantu . " Lanjutnya bertanya pada Aydin .



" Hemm .. sepertinya Risa marah padaku karena tadi aku sempat belebihan saat menegur putraku . " jawab Aydin dengan ragu .



" Pantas saja . " Gumam Esme .



" Pantas saja ? Maksudmu ? " tanya Aydin .



" Besok jika ada waktu temui aku . Jika kamu memang serius ingin lebih dekat dengannya . "


Tawar Esme .



" Baik . Kabari aku dimana dan jam berapa aku bisa menemuimu . Aku pasti akan datang . "


Balas Aydin sebelum mengakhiri pembicaraannya di telepon bersama Esme .



Bagi Aydin sudah cukup banyak hal yang Risa tahu mengenai dirinya dan kehidupannya .


Kini sudah saatnya Ia yang mencari tahu tentang Risa dan bagaimana kehidupan wanita yang Ia harap nanti bisa melengkapi hari harinya.



.


.


.


.


.


" *Ada hal yang tak harus dikatakan, tapi harus dimengerti. Yang memahami belum tentu mengerti, dan yang mengerti belum tentu memahami. Memahami dan mengerti adalah salah satu perasaan yang akan mendewasakan*."


.


.


.


.


.


To be continue

__ADS_1


__ADS_2