Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 86. Berhenti membohongi perasaan


__ADS_3

“Hidupku mulai kembali ku tata, meski tak sempurna namun terkadang aku sudah bisa terlelap tanpa harus memikirkanmu lebih dulu lalu berakhir akan dengan air mata."


Brisa Elzavira


♡♡♡♡♡♡♡


“Maaf Franda, apa kau menemuiku untuk mencari pekerjaan? Jika Iya, aku akan sangat senang. Ku tau kau orang yang sangat berkompeten.” Ucap Risa.


Ia berharap jika maksudnya untuk menyampaikan pendapat sarkasmenya berhasil.


Pasalnya sungguh Ia tidak peduli apa yang terjadi dengan wanita dihadapannya kini.


Dari beratus-ratus menit yang Ia lewati bersama Franda pagi ini baru satu hal yang Ia sadari dan itu cukup membuatnya muak.


“Bukan seperti itu maksudku Risa, aku hanya ingin kau tau kalau Aydin hari itu tidak melakukan kesalahan apapun. Dia tidak bersalah.” Tekan Franda sekali lagi.


Risa menghela napasnya, “ Ya aku paham, dan aku juga akhirnya tau jika Aydin dengan sengaja tidak mengungkap kebenarannya, bahkan Ia membohongiku hanya agar aku menjauh dari kehidupannya. Dan parahnya lagi, kau, juga keluarganya mengetahui hal ini. Tapi kalian semua diam seolah akulah yang bodoh dalam kasus ini. Benarkan?” Ucapku mulai terpancing emosi.


“Aku sungguh menyesal menemuimu dan memberitahumu fakta ini Risa, jika kau malah jadi semakin salah paham.” Sesal Franda.


“Kau tau, Aydin merelakan egonya. Saat itu Ia kembali menemuiku, memintaku kembali ke perusahaan hanya untuk satu alasan Risa. Ia ingin menjadi pihak yang salah dalam permasalahan kalian. Ia ingin semua orang melimpahkan kesalahan padanya. Itulah mengapa dia tidak pernah mencari pembenaran atas dirinya Risa.” Jelas Franda dengan penekanan diakhir kalimatnya.


“Untuk apa pembenaran?” tanya Risa.


“Sekalipun kebenarannya terungkap, lalu apa yang berubah?” tanya Risa.


“Jawab aku Franda.... Jawab.” Bentaknya.


Air mata mengalir dari netra Risa. Segala perasaan yang Ia pendam seperti tengah menekannya untuk segera di tumpahkan.


“Apa jika aku tau kebenarannya dia akan datang padaku lalu memohon cintaku? Memohon kami kembali bersama dan cerita ini akan berakhir happy ending?” Cecar Risa.


“Apa itu maksudmu menemuiku?” tanyanya lagi.


“Franda, pria itu telah mengikat diri dengan masa lalunya.” Ucap Risa.


“Itulah aku kemari Risa, aku ingin memintamu membantunya terlepas dari itu semua. Jika kau lihat betapa kacaunya dia saat ini, kau akan melihat seorang Aydin berada di titik terendah hidupnya. Terbelunggu oleh janji dengan seseorang yang telah tiada. “ pinta Franda.


Dari wajah Franda bisa Risa lihat kesungguhan. Tak ada lagi wajah Franda yang selalu ingin bersaing dengannya.


Tak ada wajah Franda yang muak padanya. Yang ada kini hanya sosok Franda yang memelas, meminta pertolongan demi pria yang Ia cintai agar bisa bahagia.


“Maaf Franda, ku tau kau melakukan ini karena cintamu pada Aydin dan membuatmu tak tega melihat pria itu bersedih.” Ucap Risa.


“Tapi tolong, sesama wanita pikirkanlah juga perasaanku. Aku sudah pernah menggantung harapanku padanya, seperti yang kau katakan untuk bersabar dan membantunya keluar dari masa lalunya."


“Namun yang ku terima pada akhirnya hanya penolakan Franda.” Ucap Risa.


Terlihat jelas jika Risa begitu tersakiti, meski kini Ia tertawa. Tawa yang terdengar menyedihkan.

__ADS_1


“Aku sudah pernah menempatkannya sebagai prioritas utama dihidupku Franda. Tapi ternyata aku telah salah memilih dirinya.“


“Aku memilihnya sebagai prioritas utamaku ketika baginya aku hanya sebuah cadangan. Dan itu sungguh menyakitiku Franda.” Jelas Risa dengan menekan setiap kata yang terucap dari bibirnya.


“Aku sudah selesai, aku permisi.” Lanjutnya.


Risa bahkan tak mencicipi sedikit saja Iced Americano dihadapannya.


Hatinya sudah teramat sakit. Ia tidak ingin terasa semakin menyedihkan dengan rasa pahit dari Iced Americano.


“Jika tau akan berakhir dengan menangis, aku tak akan mengusulkan untuk bicara di kedai kopi. Sekalian saja ku ajak dia ke kedai es krim, setidaknya ada yang bisa mendinginkan hatiku.” Gerutu Risa dalam hati.


Langkah kakinya semakin cepat, semula Ia jalan kini Ia berlari untuk sampai di teras lobbi yang sudah terlihat di netranya.


“Akan lebih baik jika kini turun hujan deras seketika. Biarkan air hujan luruh membawa air mataku.” Keluhnya.


Dan siapa sangka, ketika tinggal beberapa langkah lagi Risa sampai di teras lobby apartemennya, titik demi setitik air hujan turun dari langit yang cerah.


Langkah kaki Risa terhenti, wajahnya menengadah menantang langit. Dapat Ia rasakan tetes tetes air hujan yang semula pelan membasahi wajahnya kini mulai deras.


Risa tertawa, air matanya semakin deras mengalir dari netra yang menyimpan begitu banyak kesedihan.


Kakinya tak kuat lagi menopang tubuhnya untuk berdiri. Ia kini berjongkok sambil terus menangisi takdirnya, mengapa Cinta begitu kejam padanya.


Orang-orang sekitar yang berteduh begitu miris, mereka seperti sedang menonton adegan akhir sebuah drama sedih.


Risa menengadah mencari tau siapa pemilik sosok kaki di hadapannya, “Eomma?” lirihnya.


“Bangun. Kau bahkan sudah pernah hampir kehilangan nyawamu dan kau tak semenyedihkan ini. Kau Kim Risa, Brisa Elzavira, dan Eomma selama ini mengajarkanmu untuk selalu kuat. Hidup tidak akan melunak padamu hanya karena melihatmu menangis.” Tegas Martha sambil membawa putrinya masuk ke dalam apartement.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Jika Risa telah selesai dengan dramanya bersama hujan, seorang pria yang sebenarnya berada tak jauh darinya kini tengah diuji dengan amarah yang siap meledak.


Kedatangan seseorang yang malah makin memperburuk harinya sungguh tengah menguji kesabarannya.


“Echa, sebaiknya kau pergi jika hanya ingin membuatku semakin emosi saja.” Ucap Aydin tak ramah pada Echa.


“Hei rilex bro. Aku kesini dengan damai. Aku mendengar jika perusahaanmu kini sedang goyah. Ku dengar banyak perusahaan yang memberimu somasi karena proyek mereka terhambat oleh CEO yang sedang patah hati.” Sindir Echa.


“Aku kesini untuk menawarkan jasaku sebagai pengacara. Aku bersedia menjadi kuasa hukummu jika perusahaan-perusahaan itu menuntutmu.” Lanjutnya yang makin memicu emosi seorang Aydin.


Aydin akui, beberapa bulan terkahir ini Ia terlalu sibuk dengan masalah hatinya.


Membohongi hati tidak semudah yang Ia pikirkan. Semakin Ia mencoba melupakan Risa, semakin sesak dadanya, batinnya tersiksa, dan berakhir dengan dirinya yang menjadi penguntit. Mengikuti Risa diam-diam.


Memandangi dari kejauhan sosok wanita yang memiliki hatinya. Tapi kenyataan itu selalu Ia tepis dengan janji pada istrinya yang telah tiada.


Hal itu berdampak buruk pada kehidupan Aydin. Perusahaan terbengkalai. Hingga Franda dan Chandra memutuskan untuk berbicara dengan Risa, Echa dan Gio.

__ADS_1


Jika usaha Franda sepertinya gagal, sepertinya usaha Chandra juga akan gagal. Aydin seolah menulikan dirinya dari semua sindirian Echa.


“Pak, benar yang dikatakan Pak Reza. Mulai sekarang Bapak harus mulai memikirkan kemungkinan terburuknya.” Ujar Chandra.


“Ada ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan ini Pak, “ lanjutnya.


“Jangan khawatir Chandra, aku siap kok mengakusisi perusahaan ini. Kau dan karyawan lainnya akan aman.” Ucap Gio yang tiba-tiba saja datang tanpa ada yang mengundangnya.


“Cih....dosa apa aku semalam. Pagi ini aku kedatangan 2 makhluk aneh ini.”


Gumam Aydin yang masih bisa di dengar jelas oleh Gio dan Echa.


Gio mengitari ruangan Aydin, dan berdiri di depan satu gambar yang menarik perhatiannya.


“Jadi berapa yang kamu inginkan untuk aku mengakusisi perusahaanmu?” Tanya Gio meremehkan.


Aydin mengepalkan tangannya.


“Pergilah aku tak butuh bantuan kalian,” usirnya.


“Kau yakin? Aku masih ada janji untuk makan siang bersama kekasihku, Amora.” Ucap Gio.


“Amora? Kekasihmu?” tanya Aydin.


“Entah kau bodoh atau apa Aydin. Bukankah saat kita bertemu di apartemen ketika Risa sakit disitu sudah jelas jika aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Risa? Bukankah kau selalu mengikuti Risa hingga perusahaanmu terancam bangkrut?”


“Apa kau masih berpikir Risa kekasihku saat aku lebih dekat bersama Amora?” tanya Gio.


Aydin memalingkan wajahnya. Ia merasa sangat bodoh, “Itu karena perhatianku selalu terfokus ke Risa, bukan ke yang lainnya,” elak Aydin.


Gio tertawa, “Jadi sekarang kau mengakui jika kau memang masih mengikuti Risa. Kau masih peduli padanya. Kau benar-benar mencintainya.”


Aydin tak bergeming, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Kau tau alasan aku lebih sukses darimu? Itu karena aku tidak hanya melihat dengan hatiku. Aku juga memakai logikaku, tidak mungkin aku berhasil mendapatkan cinta Risa ketika hatinya sudah dimiliki oleh orang lain. Tidak ada kesempatan untukku.” Ujar Gio.


“Sedang kau, kau memilih menjadi pengecut dengan bersembunyi di balik janji pada orang yang telah tiada. Saat kau menikah kau tidak hanya berjanji pada manusia, kau bahkan berjanji pada Tuhan untuk setia hingga maut memisahkan. Dan janjimu Pada Tuhan itu berakhir ketika maut memisahkan.” Lanjutnya.


“Lalu mengapa kau masih sibuk menyiksa dirimu sendiri. Bertahanlah degan Egomu hingga kau benar-benar kehilangannya.” Ucap Gio sebelum pergi meninggalkan ruangan Aydin dan disusul oleh Echa.


“AAAAARRRRRGGGGGHHHHHH......”


Suara teriakan Aydin bahkan terdengar hingga di luar ruangannya membuat Franda dan Chandra saling menatap.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


"Tuhan selalu menguji kita dengan sesuatu yang sangat kita cintai, jadi janganlah berlebihan saat mencintai sesuatu jika tak ingin sakit yang berlebihan saat kehilangannya."


♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2