
Risa merasakan getaran pada tubuhnya saat pesawat mulai untuk lepas landas .
Mendengar suara pilot yang memberitahu jika mereka sudah berada di ketinggian yang sesuai dan sabuk pengaman sudah boleh di lepaskan .
Tatapannya terpaku pada langit cerah di balik jendela pesawat .
Melihat pemandangan di luar sana , berbagai macam hal kini berputar dalam benaknya .
" Andaikan aku bisa seperti awan , apakah aku juga akan bisa bebas ? "
" Kebebasan yang ku inginkan tak lain adalah kebebasanku untuk melakukan apapun dengan kesadaran dan tanpa kepentingan , aku ingin orang lain merasakan ketulusanku . "
" Aku ingin bebas melakukan apapun tanpa penilaian, Tak ingin ada asumsi sehingga tak ada pamrih yang diharapkan , "
" Aku ingin bebas melakukan apapun dan memasrahkan semua hasilnya pada Tuhan YME , "
Begitulah pandangan awan bagi Risa yang sukses membuatnya cemburu .
Kebebasan awan membuatnya kagum . Awan tak pernah menuntut siapapun untuk memujinya, untuk mengakui jika dia sebenarnya indah . Tak ada keuntungan apapun yang di dapatkan awan . Indahnya karena memang Ia indah .
Pergerakaannya yang bebas adalah caranya mengungkapkan keindahan .
" Langit saja sedang cerah-cerahnya , dia tidak mendukungku kali ini . " Batin Risa .
Risa mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, saat awal pertengkaran dengan Aydin . Saat itu langit gelap karena awan mendung , petir tak henti-henti bergemuruh , air hujan turun dengan derasnya hingga tak ada satupun yang menyadari jika saat itu air mata Risa juga mengambil bagian dalam genangan air yang jatuh ke bumi .
" Harusnya jika langit mendung seperti dulu lebih baik , jadi aku tidak perlu merasa jika hanya aku sendirian yang menyedihkan , jikapun aku menangis orang lain juga tak akan tahu , " gumam Risa .
" Kenapa Ris ? Maaf aku tak bisa mendengar apa yang kau katakan , " ucap Gio tiba - tiba membuyarkan lamunan Risa .
" Tidak , aku hanya sedang mengagumi langit . " Jawab Risa asal .
Risa hampir melupakan fakta jika saat ini ada orang lain yang bersamanya , dia Gio .
Pria yang tak lain adalah pemilik Sky High Apartemen , proyek dimana Risa menjadi investor dan juga sebagai brand ambasadornya .
" Sebenarnya apa yang terjadi padamu ? Jangan kira aku tak tau jika kamu kesana bersama Aydin dan keluarganya , " tanya Gio .
" Hanya kesalah pahaman kecil . Alasan yang lebih pasti karena tiba-tiba aku ada pekerjaan ."
Tidak mungkin Risa bercerita pada Gio mengenai apa yang terjadi , sama saja Ia menceritakan aib Aydin dan Franda . Walaupun membenci , Risa tak akan melakukan hal sepicik itu .
" Risa, aku tau kalian berdua menjalin hubungan. Aku dan Aydin telah cukup lama mengenal . Kami kenal sejak perusahaannya mulai berkembang . " Gio bercerita tanpa Risa minta .
" Sebenarnya aku adalah salah satu saksi bagaimana kisah cinta Aydin dan istrinya dulu . "
Ucap Gio .
Risa akhirnya mau menoleh pada Gio .
" Yah.... Kisah cinta yang lumayan sederhana , ringkas . Hubungan pacaran yang hanya sebentar, dan juga pernikahan yang cukup singkat . "
" Melihat bagaimana mereka berdua saling mencintai , aku bahkan berdoa andaikan bisa agar istri Aydin kembali . " Ujar Gio .
Risa tersenyum setengah . Bukan karena tersinggung pada ucapan Gio . Tapi dia tak mengerti alasan Gio bercerita padanya .
" Mengapa kau memberitahuku hal itu ? " tanya Risa .
" Itu karena aku tak ingin kamu kecewa terlalu jauh . Sulit untuk menyentuh hati yang sudah pernah tertaut pada hati yang lain , " jawab Gio .
" Kau harusnya bisa melihat hati lain yang belum pernah dimiliki yang juga tertarik padamu . Aku yakin ada banyak di luaran sana . "
" Bahkan disini juga ada . " lirihnya .
Risa sebenarnya mendengar ucapan lirih Gio , hanya dia tak ingin membahasnya lebih jauh .
Risa taksir masih sekitar 5 jam dia akan bersama Gio , dan Risa tak ingin jika keadaan berubah menjadi canggung .
Gio berdiri dari tempatnya duduk , Ia menghirup napas dalam - dalam lalu menghembuskannya.
" Sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan padamu . Sesuatu yang penting , tapi melihat kondisimu sekarang , sebaiknya nanti saja . "
Ujar Gio lalu mengulurkan tangannya pada Risa
" Ayo , ku antar kau beristirahat , " ajaknya .
__ADS_1
Entahlah , tapi Risa memang kini sungguh lelah . Jiwa dan raganya bekerja terlalu keras akhir-akhir ini .
Risa menyambut uluran tangan Gio , lalu mengikuti langkah Gio ke ruangan di balik pintu yang ternyata adalah sebuah kamar .
" Istirahatlah , penerbangan kita masih sekitar 3 jam lagi . "
Gio membantu Risa berbaring dan memasangkan selimut . Risa sebenarnya sedikit canggung dengan sikap perhatian Gio .
" Tidurlah , kamu butuh istirahat . Aku tidak ingin kamu sakit , " pinta Gio .
" Ehmmm ... Gio maaf jika tidak sopan . Ku tahu ini kamarmu , tapi aku tak bisa tidur jika kamu masih di sini , " ucap Risa dengan ragu .
Gio berdiri , dan berjalan keluar .
" Sekali lagi , ku mohon tidurlah . Jangan pikirkan hal lain . Aku ada di tempat yang tadi jika kau butuh aku . " Ujarnya lalu menutup pintu.
Risa perlahan memejamkan matanya , hingga kelelahan membawanya ke alam mimpi .
Di luar bilik para pramugari tercengang , baru kali ini Gio keluar dari bilik itu sangat cepat .
" Apa seorang Gio baru saja di tolak ? " tanya salah satu pramugari pada rekannya .
" Hei ... kalian berhentilah tertawa . Wanita di dalam sana bukan wanita biasa . " Tegur Gio saat tak sengaja mendengar pramugari itu cekikikan .
" Beruntung Risa ada disini , jika tidak sudah ku pastikan kalian akan habis . " Gumamnya .
Salah seorang pramugari yang memang sering bermain dengan Gio menawarkan dirinya , " Jika memang ingin , saya bersedia kok pak . "
" Cihh... Awas saja kalau karena kalian Risa berpikiran buruk padaku . " Peringat Gio .
Sangat di sayangkan , keindahan yang memanjakan mata dari peinemo berbanding terbalik dengan keadaan di sebuah homestay .
Perjalan tour yang harusnya dilanjutkan lagi hari ini ke empat tempat mempesona lainnya harus batal karena sudah tidak ada lagi yang bersemangat dengan liburan kali ini .
Wisata ke *Pasir* *timbul* juga akhirnya mereka harus relakan , padahal wisata ke pasir timbul hanya dapat di lakukan saat air surut . Dan secara kebetulan saat itu air tengah surut .
Namun sayang , kecanggungan dan ketegangan di homestay sepertinya tidak akan surut dalam waktu dekat .
Mama Indira terkejut saat melihat kamar Aydin yang sudah seperti kapal pecah . Pria itu dikuasai emosi karena Risa berani meninggalkannya bahkan saat mereka berada jauh dari rumah .
Pecahan dari cermin meja rias berceceran di lantai .
Sedangkan pria yang melakukan hal ini sedang menikmati sebatang rokok .
Frustasi sungguh terlihat dari wajahnya yang gusar dan sendu secara bersamaan .
" Aydin , " panggil Mama Indira .
Aydin tak menjawab , Ia melirik ke arah Mamanya .
" Bagaimana Ma ? Apa ini juga termasuk ide Mama saat mengajak Franda , " cecarnya .
" Jangan bicara sembarang Aydin , " tegur Mama Indira .
" Apa sekarang kau menuduh semua ini rekayasa ? Dan Mama ikut merencanakannya ? "
__ADS_1
" Sungguh terlalu kau . " Sambung Mama Indira .
" Asal kamu tau Mama juga sedih Risa harus pergi seperti ini . Mama juga gak tega mendiamkan Risa . Tapi sekarang mama semakin yakin , Risa memang lebih baik tidak bersamamu . Dia harus mendapatkan yang lebih baik darimu . " ucap Mama Aydin .
Setelah selesai dengan satu batang rokoknya , Aydin pergi begitu saja tanpa menoleh pada Mamanya .
Aydin keluar untuk mencari Steve . Dia melihat Steve yang sedang mengobrol dengan Chandra .
" Kau yakin jika yang memesan speedboat untuk Nona Kim bernama Albert ? " tanya Chandra memastikan .
" Iya , katanya ini atas permintaan Risa sendri . " Ujar Steve .
" Jika memang yang dimaksud Steve adalah Albert asistennya Gio , berarti kini Risa sedang bersama Gio . " tangan Aydin mengepal kuat , membayangkan Gio dan Risa beduaan sepertinya kepalanya sebentar lagi akan pecah karena cemburu .
Di saat yang bersamaan namun di tempat yang berbeda , Gio masuk kembali ke dalam bilik tempat Risa masih tertidur dengan lelapnya .
Di salah satu tangannya Ia sedang memegang gelas berisi jeruk peras .
Risa yang merasa tidurnya sudah lebih dari cukup , dengan perlahan membuka matanya .
Pandangannya pertama kali adalah Gio yang tengah menatap lekat dirinya .
Risa segera bangun , posisinya kini duduk berhadapan dengan Gio .
" Kamu tidur lelap sekali , 30 menit lagi kita akan landing , " ucap Gio .
" Hemmm ... aku lelah sekali akhir-akhir ini , pekerjaanku sangat banyak dan menyita waktu . " Jelas Risa .
" Minumlah , biar kamu lebih segar . " Gio memberikan gelas yang sejak tadi Ia bawa .
Risa terlihat ragu untuk menerima gelas pemberian Gio .
" Kenapa Ris ? Jangan -jangan kamu hawatir jika minuman ini sudah ku campur dengan obat yang aneh-aneh seperti yang biasa terjadi di novel . "
Risa tertawa , " kamu juga suka baca novel ? " tanyanya tak percaya .
" Tapi bukan itu alasannya , aku sebenarnya punya riwayat penyakit lambung . Aku hawatir lambungku sakit kalau minum jeruk peras dalam keadaan perut kosong . "Jelasnya .
" Astaga Risa , jadi kamu belum makan ? " Gio sontak keluar dan meminta menyiapkan makanan untuk Risa .
" Risa ... Risa ... patah hati boleh aja , tapi cukup batin aja yang sakit , tidak harus sampai menyiksa raga juga . " gumam Gio .
.
.
.
.
"Saat kata-kata jujur tak lagi punya arti, biarkan Tuhan yang membuat manusia mempercayai dan meyakini kebenarannya."
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue