Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 61 . Cukup batin yang sakit


__ADS_3

Risa merasakan getaran pada tubuhnya saat pesawat mulai untuk lepas landas .


Mendengar  suara pilot  yang memberitahu jika mereka sudah berada di ketinggian yang sesuai dan sabuk pengaman sudah boleh di lepaskan .


Tatapannya terpaku pada langit cerah di balik jendela pesawat  .


Melihat pemandangan di luar sana , berbagai macam hal kini berputar dalam benaknya . 


" Andaikan aku bisa seperti awan , apakah aku juga akan bisa bebas ? "


" Kebebasan yang ku inginkan tak lain adalah kebebasanku untuk melakukan apapun dengan kesadaran dan tanpa kepentingan , aku ingin orang lain merasakan ketulusanku . "


" Aku ingin bebas melakukan apapun tanpa penilaian, Tak ingin ada asumsi sehingga tak ada pamrih  yang diharapkan  , "


" Aku ingin bebas melakukan apapun dan memasrahkan semua hasilnya pada Tuhan YME , "


Begitulah pandangan awan bagi Risa  yang sukses membuatnya cemburu .


Kebebasan awan membuatnya kagum . Awan  tak pernah menuntut siapapun untuk memujinya, untuk mengakui jika dia sebenarnya indah . Tak ada keuntungan apapun yang di dapatkan awan . Indahnya karena memang Ia indah .


Pergerakaannya yang bebas adalah caranya mengungkapkan keindahan .


" Langit saja sedang cerah-cerahnya , dia tidak mendukungku kali ini . " Batin Risa .


Risa mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, saat awal pertengkaran dengan Aydin . Saat itu langit gelap karena awan mendung , petir tak henti-henti bergemuruh  , air hujan turun dengan derasnya hingga tak ada satupun yang menyadari jika saat itu air mata Risa juga mengambil bagian  dalam genangan air  yang jatuh ke bumi .


" Harusnya jika langit mendung seperti dulu lebih  baik  , jadi aku tidak perlu merasa jika hanya aku sendirian yang menyedihkan , jikapun aku menangis orang lain  juga tak akan tahu , " gumam Risa .


" Kenapa Ris ? Maaf aku tak bisa mendengar apa yang kau katakan , " ucap Gio tiba - tiba membuyarkan lamunan Risa .


" Tidak , aku hanya sedang mengagumi langit . " Jawab Risa asal .


Risa hampir melupakan fakta jika saat ini ada orang lain yang bersamanya  , dia Gio .


Pria yang tak lain adalah pemilik Sky High Apartemen , proyek dimana Risa menjadi investor dan juga sebagai brand ambasadornya .


" Sebenarnya apa yang terjadi padamu ? Jangan kira aku tak tau jika kamu kesana bersama Aydin dan keluarganya , " tanya Gio .


"  Hanya kesalah pahaman kecil . Alasan yang lebih pasti karena tiba-tiba aku ada pekerjaan ."


Tidak mungkin Risa bercerita pada Gio mengenai apa yang terjadi , sama saja Ia menceritakan aib Aydin dan Franda . Walaupun membenci , Risa tak akan melakukan hal sepicik itu .


" Risa, aku tau kalian berdua menjalin hubungan. Aku dan Aydin telah cukup lama mengenal . Kami kenal sejak perusahaannya mulai berkembang . " Gio bercerita tanpa Risa minta .


" Sebenarnya aku adalah salah satu saksi bagaimana kisah cinta Aydin dan istrinya dulu . "


Ucap Gio .


Risa akhirnya mau menoleh pada Gio .


" Yah.... Kisah cinta yang lumayan sederhana , ringkas . Hubungan pacaran yang hanya sebentar, dan juga  pernikahan yang cukup singkat . " 


" Melihat  bagaimana mereka  berdua saling mencintai , aku bahkan berdoa andaikan bisa agar istri Aydin kembali . " Ujar  Gio .


Risa tersenyum setengah . Bukan karena tersinggung pada ucapan Gio . Tapi dia tak mengerti alasan Gio bercerita padanya .


" Mengapa kau memberitahuku hal itu ? " tanya Risa .


" Itu karena aku tak ingin kamu kecewa terlalu jauh . Sulit untuk menyentuh hati yang sudah pernah tertaut  pada hati yang lain , " jawab Gio .


" Kau harusnya bisa melihat hati lain yang belum pernah dimiliki yang juga tertarik padamu . Aku yakin ada banyak di luaran sana . "


" Bahkan disini juga ada . " lirihnya .


Risa sebenarnya mendengar ucapan lirih Gio , hanya dia tak ingin membahasnya lebih jauh .


Risa taksir masih sekitar 5 jam dia akan bersama Gio  , dan Risa tak  ingin jika keadaan berubah menjadi canggung .


Gio berdiri dari tempatnya duduk ,  Ia menghirup napas dalam - dalam  lalu menghembuskannya.


" Sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan padamu . Sesuatu yang penting , tapi melihat kondisimu sekarang , sebaiknya nanti saja . "


Ujar Gio  lalu mengulurkan tangannya pada Risa


" Ayo , ku antar kau beristirahat , " ajaknya .

__ADS_1


Entahlah , tapi Risa memang kini sungguh lelah . Jiwa dan raganya bekerja terlalu keras akhir-akhir ini .


Risa menyambut uluran tangan Gio , lalu mengikuti langkah Gio ke ruangan di balik pintu yang ternyata adalah sebuah kamar .


" Istirahatlah , penerbangan kita masih sekitar 3 jam lagi . "


Gio membantu Risa berbaring dan memasangkan selimut .  Risa sebenarnya sedikit canggung dengan sikap perhatian Gio .


" Tidurlah , kamu butuh istirahat . Aku tidak ingin kamu sakit , " pinta Gio .


" Ehmmm ... Gio maaf jika tidak sopan . Ku tahu ini kamarmu , tapi aku tak bisa tidur jika kamu masih di sini , " ucap Risa dengan ragu .


Gio berdiri , dan berjalan keluar .


" Sekali lagi , ku mohon tidurlah . Jangan pikirkan hal lain . Aku ada di tempat yang tadi jika kau butuh aku . " Ujarnya lalu menutup pintu.


Risa perlahan memejamkan matanya , hingga kelelahan membawanya ke alam mimpi .


Di luar bilik para pramugari tercengang , baru kali ini Gio keluar dari bilik itu sangat cepat .


" Apa seorang Gio baru saja di tolak ? " tanya salah satu pramugari pada rekannya .


" Hei ... kalian berhentilah tertawa . Wanita di dalam sana bukan wanita biasa .  "  Tegur Gio saat tak sengaja mendengar pramugari itu cekikikan .


" Beruntung Risa ada disini , jika tidak sudah ku pastikan kalian akan habis . " Gumamnya .


Salah seorang pramugari yang memang sering bermain dengan Gio menawarkan dirinya  , " Jika memang ingin , saya bersedia kok pak . "


" Cihh... Awas saja kalau karena kalian Risa berpikiran buruk padaku . "  Peringat Gio .



Sangat di sayangkan , keindahan yang memanjakan mata dari peinemo berbanding terbalik dengan keadaan di sebuah homestay .



Perjalan tour yang harusnya dilanjutkan lagi hari ini  ke empat tempat mempesona lainnya harus batal karena sudah tidak ada lagi yang bersemangat dengan liburan kali ini .




Wisata ke *Pasir* *timbul* juga akhirnya mereka harus relakan , padahal wisata ke pasir timbul hanya dapat di lakukan saat air surut . Dan secara kebetulan saat itu air tengah surut .



Namun sayang , kecanggungan dan ketegangan di homestay sepertinya tidak akan surut  dalam waktu dekat .



Mama Indira terkejut saat melihat kamar Aydin yang sudah seperti kapal pecah . Pria itu dikuasai emosi karena Risa berani meninggalkannya bahkan saat mereka berada jauh dari rumah .



Pecahan dari cermin meja rias berceceran di lantai .


Sedangkan pria yang melakukan hal ini sedang menikmati sebatang rokok .


Frustasi sungguh terlihat dari wajahnya yang gusar dan sendu secara bersamaan .



" Aydin , " panggil Mama Indira .



Aydin tak menjawab , Ia melirik ke arah Mamanya .


" Bagaimana Ma ? Apa ini juga termasuk ide Mama saat mengajak Franda , "  cecarnya .



" Jangan bicara sembarang Aydin , " tegur Mama Indira .


" Apa sekarang kau menuduh semua ini rekayasa ? Dan Mama ikut merencanakannya ? "

__ADS_1



" Sungguh terlalu kau . " Sambung Mama Indira .



" Asal kamu tau Mama juga sedih Risa harus pergi seperti ini . Mama juga gak tega mendiamkan Risa . Tapi sekarang mama semakin yakin , Risa memang lebih baik tidak bersamamu . Dia harus mendapatkan yang lebih baik darimu  . " ucap Mama Aydin .



Setelah selesai dengan satu batang rokoknya , Aydin pergi begitu saja tanpa menoleh pada Mamanya .



Aydin keluar untuk mencari  Steve . Dia melihat Steve yang sedang mengobrol dengan Chandra .



" Kau yakin jika yang memesan speedboat untuk Nona Kim bernama Albert ? "  tanya Chandra memastikan .



" Iya , katanya ini atas permintaan Risa sendri . " Ujar Steve .



" Jika memang yang dimaksud Steve adalah Albert  asistennya Gio , berarti kini Risa sedang bersama Gio . " tangan Aydin mengepal kuat , membayangkan Gio dan Risa beduaan sepertinya kepalanya sebentar lagi akan pecah karena cemburu .



Di saat yang bersamaan namun di tempat yang berbeda , Gio masuk kembali ke dalam bilik tempat Risa masih tertidur dengan lelapnya .


Di salah satu tangannya Ia sedang memegang gelas berisi jeruk peras  .


Risa yang merasa tidurnya sudah lebih dari cukup , dengan  perlahan membuka matanya .


Pandangannya pertama kali adalah Gio yang tengah menatap lekat dirinya .


Risa segera bangun , posisinya kini duduk berhadapan dengan Gio .


" Kamu tidur lelap sekali , 30 menit lagi kita akan landing , " ucap  Gio .


" Hemmm ... aku lelah sekali  akhir-akhir ini , pekerjaanku sangat banyak dan menyita waktu . " Jelas Risa .


"  Minumlah ,  biar kamu lebih segar . " Gio memberikan gelas yang sejak tadi Ia bawa .


Risa terlihat ragu untuk menerima gelas pemberian Gio .


" Kenapa Ris ? Jangan -jangan kamu hawatir jika minuman ini sudah ku campur dengan obat yang aneh-aneh seperti yang biasa terjadi di novel . "


Risa tertawa , " kamu juga suka baca novel ? " tanyanya tak percaya .


" Tapi bukan itu alasannya , aku sebenarnya punya riwayat penyakit lambung . Aku hawatir lambungku sakit kalau minum jeruk peras dalam keadaan perut kosong . "Jelasnya .


" Astaga Risa , jadi kamu belum makan ? " Gio sontak keluar dan meminta menyiapkan makanan untuk Risa  .


" Risa ... Risa ... patah hati boleh aja , tapi cukup batin aja yang sakit , tidak harus sampai menyiksa raga juga . " gumam Gio .


.


.


.


.


"Saat kata-kata jujur tak lagi punya arti, biarkan Tuhan yang membuat manusia mempercayai dan meyakini kebenarannya."


.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2