
Segala kesulitan dan cobaan yang terjadi hari ini, seberat apa pun itu, sebagaimana menyiksanya, tetap bukan suatu pertanda jika besok adalah kiamat untukmu.
Esok, matahari akan tetap terbit. Cahayanya tak akan pernah berhenti, tak peduli seandainya ada awan yang sudah siap untuk menghalangi sinarnya.
Seperti matahari, kuyakini kau akan mampu tetap bersinar, meski segala duniamu kini menjadi kelam.
⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘
Meski sudah berulang kali Ia yakinkan dirinya jika kesulitan yang kini dihadapi adalah bagian dari proses pendewasaan, namun tetap saja rasanya sulit bagi Risa untuk menerima kenyataan jika kini dirinya harus rela diuji.
Rasanya ingin sekali Risa hidup dengan seenaknya saja tanpa memikirkan apa akibat dari perbuatannya. Tapi mengingat kontrak hidup yang telah Ia setujui, bahkan jauh sebelum Ia terlahir ke dunia yang tak Ia duga akan sekejam ini padanya.
Dalam dekapan Eomma Martha, seorang wanita berhati malaikat yang menyayangi Risa seperti Ia menyayangi putri yang lahir dari rahimnya sendiri.
Risa terus saja menangis, menangisi ujian yang harus Ia lalui.
Sempat menyesali mengapa Ia dulu menyanggupi hidup seperti ini pada Tuhan ketika ditawarkan sebuah kehidupan. Sekiranya, penawaran menggiurkan apa yang menunggu dirinya kelak, hingga Ia setuju untuk melalui ini semua dan berakhir di dunia ini.
“Eomma, jika segala ujian adalah sebuah pembelajaran, maka bisakah aku belajar dalam semua kegelapan ini?” tanya Risa.
Pertanyaan itu bagai sebuah keluhan yang ingin Ia sampaikan dalam doanya.
Jika Risa kini dibebaskan untuk mengeluh, Ia dibebaskan untuk menangis, berbeda dengan Eomma Martha, Appa Kim, dan Anggun, yang harus bersusah payah menahan air mata yang terus menumpuk di pelupuk mata mereka.
Jika mereka juga rapuh, maka siapa yang akan berdiri kokoh untuk menopang Risa kini?
Ceklek
Pintu ruang perawatan Risa terbuka, App kim menoleh dan mendapati dua sosok pria yang Ia kenal sebagai sahabat putrinya sewaktu masih kecil, dia adalah Eijaz dan asistennya Romi.
Lewat tatapannya Appa Kim menyiratkan agar Eijaz diam, biarkan dulu Risa kini menangis, meraung-raung meratapi nasibnya.
Sementara Eijaz terpaku dengan ucapan Risa jika kini wanita itu tak bisa lagi melihat dunia, “Apa maksudnya?” batin Eijaz.
Sebuah tangan lembut memegang lengannya, “Ayo, aku jelaskan semuanya. Tapi tidak di sini,” lirih Anggun.
Anggun berjalan dengan langkah berat yang terlihat gontai dimata Eijaz, semakin membuat dirinya tak kuasa menahan rasa ingin tahunya. “Apa yang terjadi pada Brisa, hingga semua orang seperti hendak menghadapi kiamat,” batinnya.
Anggun berhenti di sebuah taman yang tak jauh dari ruang rawat Risa.
__ADS_1
Taman dengan banyak bunga yang mestinya bisa menenangkan dengan aromanya.
Anggun menangkupkan wajahnya dengan keduan tangannya.
Wanita itu menangis, tak kalah menyedihkannya dengan tangisan Risa.
“Tapi apa yang terjadi? Ada apa dengan Brisa?” batinnya.
Eijaz dan Romi merasa sudah cukup lama keduanya memberi waktu bagi Anggun untuk menangis, “Anggun, bisakah kau berbagi pada kami, apa yang terjadi? Ada apa dengan Brisa?”
Eijaz mengernyitkan keningnya tatkala Anggun semakin terisak. Terlebih kini beberapa pasang mata pengunjung Rumah Sakit yang lain menatap mereka bertiga.
“Anggun!” seru Eijaz.
“Aku tak mengikutimu kemari untuk terus-terusan melihatmu menangis, aku butuh penjelasan,” lanjutnya.
Anggun akhirnya mengangkat wajahnya, sedikit menengadah karena kini Eijaz dalam posisi berdiri di hadapannya.
“Kak... Kak.... Kak Brisa kini tak dapat melihat lagi Kak,” ucap Anggun.
Eijaz kembali mematung, rasanya kini seperti jantungnya berhenti berdetak.
“Jangan coba membohongiku Anggun, tak mungkin jika Brisa kini bu.... Bu...., ****!”
Eijaz menggeram, mengumpat, dan meninjukan telapak tangannya yang terkepal ke udara. Ia bahkan tak bisa menyelesaikan ucapannya.
“BUTA! Ya, Kak Brisa sekarang tidak bisa lagi melihat, kegelapan kini tidak hanya menyelimuti hatinya yang terus terluka selama ini, tapi kini tak akan ada lagi cahaya di hidupnya,” ujar Anggun.
Eijaz tak bisa lagi menopang berat tubuhnya, Ia biarkan saja dirinya kini bersimpuh. Tangisannya kian menjadi ketika Anggun kembali memberitahu satu lagi kenyataan pahit yang harus dialami Brisa.
“Kak Brisa juga untuk sementara tak bisa berjalan. Kakinya yang cedera harus menjalani operasi secepatnya,” lanjut Anggun menceritakan.
Eijaz tak bisa menghentikan air matanya, penderitaan Brisa bagai sebuah belati yang menyayat hatinya dalam bentuk penyesalan dan rasa bersalah
“Semuanya salahku.... Semuanya salahku,” lirihnya.
⚘⚘⚘
Eomma Martha, membelai lembut surai Risa yang kini berbaring kembali setelah terpaksa dokter harus menyuntikkan obat penenang padanya.
__ADS_1
“Sayangku, tidurlah Nak. Eomma akan selalu menjadi cahayamu, menuntunmu dalam kegelapan. Memastikan kamu akan aman dalam setiap langkahmu. Jika hal itu masih belum bisa memberimu ketenangan dalam hidupmu, maka mari bertukar Nak, biarkan Eomma di kegelapan itu, sedang kau teruslah melangkah dan teruslah melihat indahnya masa depanmu,” batin Eomma Martha.
Sementara Risa, setelah tubuhnya disuntikkan cairan penenang, rasanya semua tenaganya terkuras.
Lemah, Ia lemah. Hati dan pikirannya lelah dengan semua ujian kehidupan yang harus dilaluinya.
“Mengapa sabar dan ikhlas yang sering kali terucap, saat ini sangat sulit untuk melakukannya,” batin Risa.
Sejak kembali tersadar setelah sebulan lebih terbaring dalam keadaan koma, kini Ia merasa sudah lelah mengeluh.
Mengeluh karena sejak berada dalam hidup tanpa cahaya, tak ada lagi yang terasa adil baginya.
“Aku lelah Tuhan, maaf jika aku mengadukannya padamu, namun sungguh aku sudah lelah dengan berusaha sabar hingga membuatku muak.” Batin Risa.
Dalam posisi masih terbaring lemah karena suntikan dokter, batin Risa terus saja berperang. Sangat aneh baginya sebab meski matanya belum bisa Ia pejamkan, tapi tak ada lagi cahaya yang bisa Ia lihat meski hanya seberkas saja.
“Kini aku menyesal meninggalkan dunia semu yang selama aku koma menjadi tempat tinggalku. Meski hanya terus mengulang kejadian yang sama terus menerus, kurasa akan lebih baik karena tidak segelap saat ini,” batinku.
Perlahan-lahan, mata Risa terasa berat. Ada senyum yang tersirat ketika Ia akan terpejam kembali, “Kumohon biarkan aku kembali ke dunia semu itu Tuhan, kumohon,” pintanya.
Namun sedetik sebelum Ia benar-benar terpejam, terasa belaian penuh kasih sayang dikepalanya.
“Tapi...... Apa Eomma akan kembali bersedih jika aku tak bangun lagi?” batinnya ragu.
Belum ada jawaban namun sayang Risa sudah kembali terlelap. Entah ke mana alam bawah sadarnya kini akan membawanya.
⚘⚘⚘
Sejak Risa kembali tertidur dengan menggenggam tangan Eomma Martha, tak sedetik pun wanita paruh baya itu berpindah dari tempatnya.
Tak jauh berbeda dengan istrinya, Appa Kim juga tak pernah lelah mengawasi setiap gerakan yang dibuat oleh putri angkatnya meski sedang terlelap.
Sementara itu, setelah bisa mengendalikan dirinya, Eijaz, Romi, beserta Anggun kembali ke ruang perawatan Risa.
Berjalan perlahan ke arah brankar Risa, Eijaz bisa melihat betapa beratnya beban yang kini harus dihadapi wanita itu.
“Kita harus memberitahu Aydin, hanya dia yang bisa membahagiakan Risa. Meski dunianya tak ada cahaya, kuyakini batinnya akan bahagia bersama Aydin,” ungkap Eijaz.
Tak ada tanggapan dari yang lainnya, hanya saling pandang seolah tak yakin dengan usulan Eijaz.
__ADS_1
⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘