
"Terkadang Tuhan menggunakan rasa sakit untuk mengingatkan, mengoreksi, mengarahkan, dan menyempurnakan hidup kita."
♡♡♡♡
Mobil berwarna merah itu sudah cukup lama berputar-putar di jalan, dan sudah tsrseret jauh dari tempat yang menjadi awal kejadian naas pagi ini.
Kejadian ini bermula saat mobil merah yang melaju dengan kecepatan tinggi, berusaha menghindari sebuah mobil box yang tiba-tiba mengubah jalur dari arah yang berlawanan.
Ckiiiitttttt..........
Suara decitan ban mobil yang tengah beradu dengan permukaan jalan yang licin karena hujan yang tak kunjung henti sejak semalam.
Hingga,
Bbbbbrrraaaaakkkkkkk.......
Pada akhirnya, kecelakaan tak dapat dihindari lagi. Mobil tersebut menabrak pohon besar berusia puluhan tahun di tepi jalan.
Dari kap mobil, asap hitam sudah mulai mengepul.
Lalu,
Biiiiiiiiiiiiipppppppppp.....
Pengemudi yang sudah tak sadarkannl diri setelah kepalanua terbentur kemudi, dan kini menekan klakson mobil hingga bunyinya memecah keheningan pagi itu.
Di tengah derasnya air hujan yang masih enggan untuk berhenti membasahi bumi, masyarakat sekitar yang awalnya enggan keluar dari tempatnya bernaung, akhirnya satu per satu mulai berdatangan.
“Sungguh malang nasib wanita pengemudi mobil ini. Disaat terjadi kecelakaan, airbag mengalami kerusakan sehingga kepala sang pengemudi mengalami cedera sebab terbentur kerasnya kemudi.” Komentar salah seorang saksi yang ada di TKP.
“Beruntung dia mengenakan seatbelt, sehingga resiko cedera yang lebih parah bisa dihindari.” Imbuh salah seorang saksi lainnya.
Disaat TKP sudah ramai oleh polisi yang mulai mengamankan, mobil ambulans juga sudah terparkir tak jauh dari mobil merah.
Aydin dan Chandra yang harusnya kini tengah mengudara menuju kota Makassar, namun karena cuaca buruk penerbangannya harus ditunda.
Akhirnya Aydin mengubah tujuannya menjadi tempat yang beberapa bulan ini belum lagi Ia kunjungi.
Hujan deras yang tak kunjung reda membuat tingkat resiko kecelakaan meningkat.
Seperti saat ini, jalan yang mereka lalui mulai padat merayap karena terjadi kecelakaan mobil yang menabrak sebuah pohon besar.
Jiwa ingin tahu Chandra membuat pria itu nekat membuka kaca mobil, lalu bertanya pada salah satu orang dikerumunan.
“Bang, kok macet, ada kecelakaan yah?” tanyanya.
Lebih tepatnya Ia berteriak karena suara derasnya hujan lebih mendominasi.
“Ada kecelakaan, korbannya seorang artis.” Ujar pria yang sudah basah kuyup.
“Banyak gak korbannya?” tanya Chandra lagi.
“Cuma 1, Bang.” Jawabnya.
Meski sudah melewati TKP, tapi genangan air karena hujan membuat jalanan menjadi macet.
Di tengah suasana hatinya yang buruk, ponsel Aydin menerima panggilan masuk dari nomor yang tidak dia kenalinya.
“Pagi Pak,” Ucap pria di seberang telepon dengan formal.
“Pagi,” Jawab Aydin tak kalah formalnya.
“Kami dari unit laka lantas polres XX, ingin menanyakan apa Anda mengenal pengemudi mobil dengan plat kendaraan B 9xxxx GX? Atas nama Nona Brisa Elzavira?”
Aydin bungkam.
“Ya, dia calon istri saya. Ada apa?” tanya Aydin dengan bibir yang berat sekali untuk terbuka.
“Mohon maaf Pak, kami ingin menyampaikan jika yang namamya disebutkan telah mengalami kecelakaan di ruans jalan XX, saat ini proses evakuasi masih berlangsung untuk membawa korban ke rumah sakit terdekat." Jelas petugas.
Ponsel Aydin lepas dari genggamannya.
__ADS_1
Wajahnya mendadak pucat, putih bagai tak ada darah yang mengalir hingga kesana.
Aydin segera turun dari mobil, dan berlari kembali ke tempat kejadian.
Tanpa peduli derasnya hujan, serta umpatan dari pengemudi mobil yang terganggu dengan aksinya.
Umpatan dari pengguna jalan yang lain, sama sekali tak menghentikan Aydin yang berlari.
“Permisi, permisi,” Ucap Aydin menerobos ke kerumunan.
Langkahnya ditahan oleh seorang petugas kepolisian.
“Maaf Pak, Anda tidak boleh melewati garis polisi.” Tegasnya.
“Minggir, wanita itu adalah calon istriku.” Pekik Aydin tak lagi peduli pada siapa saja Ia bicara.
Yang Ia tahu, saat ini Ia harus segera menemui Risa.
Apalagi Ia melihat petugas medis membawa tandu menjauh dari mobil yang kerusakannya lumayan parah.
Ia ingin segera memastikan, jika masih ada napas yang dihembuskan oleh wanitanya. Hanya itu.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
¤¤¤¤¤《Flashback On》¤¤¤¤¤
Gemuruh petir pagi ini membuat seorang wanita cantik harus terjaga dari tidur lelapnya.
Jika sebagian orang bisa saja menggerutu jika tidur terganggu, tapi berbeda dengannya.
Terimakasih, adalah kata pertama yang terucap sebagai wujud syukurnya.
“Terimakasih, hari ini aku masih bisa bangun dari tidurku.” Batinnya.
Dia, Brisa Elzavira. Wanita yang 15 hari lagi akan mengubah statusnya menjadi istri, sekaligus Ibu dari seorang putra.
Tangannya meraih ponsel yang Ia letakkan di atas nakas, benda pipih itu bergetar menandakan ada panggilan yang masuk.
“Pagi sayang,” sapanya bersemangat.
“Pagi juga,” balas Risa.
“Bukankah hari ini kamu harus ke kota Makassar?” tanya Risa.
“Ya, aku akan segera berangkat ke bandara.”
“Hari ini apa kegiatanmu?” lanjutnya bertanya.
“Hanya ke agensi, setelah itu aku berencana mengajak Dafha berbelanja.” Jawab Risa.
“Ingat, jangan terlalu memanjakannya.”
“Ssssttt.... jangan melarangku menyenangkan putraku.” Balas Risa.
“Baiklah, tapi selalulah berhati-hati. Aku harus berangkat sekarang. Aku mencintaimu.” Ucap Aydin menutup
sambungan panggilan video dengan calon istrinya.
“Aku juga mencintaimu, sangat.” Balas Risa.
“Sebaiknya aku pergi sekarang, aku sudah lama tak mengunjunginya.” Gumam Risa lirih.
Sebelum menuju kamar mandi, Risa melirik pada wanita yang sudah 2 malam merengek tidur bersamanya.
Pandangan matanya teralihkan pada perut buncit yang mulai terlihat.
“Morning ponakan kesayangan Aunty, apa kau sudah bangun? Jika Iya, tetaplah tenang di dalam sana, biarkan Mommymu meneruskan tidurnya dengan tenang. Aunty menyayangimu, jadilah anak yang penurut seperti kakakmu, Dafha.” Bisik Risa tepat di depan perut buncit Anggun.
Tak lupa, Ia tinggalkan satu kecupan di sana sebelum berlari menuju kamar mandi.
Saat pintu kamar mandi tertutup, Anggun yang sebenarnya sudah bangun, membuka matanya.
__ADS_1
“Entah terbuat dari apa hati wanita itu. Tak ada dendam yang menodai hatinya yang bersih. Semoga kebahagiaan akan senantiasa menyertai kehidupannya.” Batin Anggun.
♡♡♡♡♡♡♡♡
“Haruskah kau tetap pergi? Lihatlah hujan diluar, sangat deras.” Cegah Amora.
Wanita itu terkapar tak berdaya di ranjangnya, setelah terserang Flu berat.
Ia memperingatkan Risa yang keras kepala, memaksa mengemudi mobil seorang diri menuju ke tempat pemakaman Kirani.
“Eonni, tak perlu khawatir. Jika tidak pergi sekarang, maka aku akan terlambat untuk menjemput Dafha.” Ujar Risa.
“Maka urungkanlah niatmu ke makam Kirani.”
“Eonni, hari ini bertepatan dengan tanggal 4, dan Aydin sedang keluar kota. Ini waktu yang sangat tepat.” Ucap Risa.
Tak ada lagi yang bisa Amora ucapkan untuk mencegah Risa. Entah mengapa perasaannya tak tenang jika Risa pergi dalam cuaca yang buruk seperti sekarang.
“Berhati-hatilah. Jangan mengebut, gunakan sabuk pengamanmu, dan ingat jangan pernah melamun.”
“Siap Eonni. Aku menyayangimu.”
Amora dan Anggun hanya bisa menatap punggung Risa yang berjalan menjauh hingga tak nampak lagi setelah pintu tertutup.
“Semoga perasaan burukku ini karena aku sedang tak sehat.” Batin Amora.
♡♡♡♡♡♡♡
“Apa sekarang sudah masuk musim hujan?” gumam Risa sambil menatap ke langit yang tertutup awan mendung dari dalam mobil.
“Siapa yang menyangka jika di balik awan gelap itu ada matahari yang tetap bersinar?” lirihnya.
Ia bahkan terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Jalanan cukup padat dengan kendaraan roda empat, Risa menjadi risau jika perjalanannya memakan waktu lebih lama dan telat menjemput Dafha.
“Semoga ini adalah jalan terakhir yang padat seperti ini.” Gumamnya.
Setelah 40 menit berkendara, akhirnya doa Risa terkabul.
Jalanan mulai legang, Risapun mulai memacu laju mobil lebih cepat.
Ia semakin menaikkan laju kendaraannya saat dirasa aman, satu hal yang Ia lupakan, jika jalan yang Ia lalui kini adalah jalan dengan dua arah jalur kendaraan yang berlawanan.
Sampai ada sebuah mobil box, dari arah berlawanan tiba-tiba oleng dan mengubah arah ke jalur yang Risa lalui.
Sebisa mungkin Risa menghindari tabrakan dengan mobil box. Namun sayang, nasib naas harus menimpanya.
Mobil tetap hilang kendali meski Risa telah menginjak rem.
Dari dalam mobil, Ia bisa mendengar suara bannya yang berdecit.
Hingga kepalanya terasa pusing, pandangannya kabur dan,
Bbbbbrrraaaaakkkkkkk.......
Pada Akhirnya mobil merah yang Ia kemudikan, tidak dapat menghindar untuk tidak menabrak sebuah pohon besar di tepi jalan.
Dari kap mobil, asap hitam sudah mulai mengepul.
Sebelum matanya benar-benar terpejam, di kejauhan Risa bisa melihat bayangan Ibunya yang tersenyum padanya.
“Ibu, aku pulang.”
Lalu semuanya menjadi gelap.
¤¤¤¤¤ 《Flashback Off》¤¤¤¤¤
♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡
Ketika takdir membawamu ke ujungnya, tak ada jalan lain, dan tak ada pilihan kembali.
__ADS_1
Dua hal yang harus kau percaya, Tuhan akan menangkapmu, atau Ia akan membuatmu belajar terbang.