Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 3 . Kakak penolong


__ADS_3

Apa yang lebih menyakitkan , ketika ayah kandungmu tidak lagi peduli padamu atau luka fisik yang disebabkan oleh ibu tirimu .


Mungkin butuh waktu bagi orang lain  untuk memikirkan hal itu . Tapi tidak untuk seorang Brisa Elzavira . Karena gadis itu harus merasakan keduanya .  Ayah kandung mencampakannya , tidak peduli pada hidupnya , menutup mata atas perlakuan keji ibu tirinya , bahkan ayahnya pula yang merencanakan pembunuhan terhadap ibu kandungnya .


Dua minggu sudah Brisa tinggal di Jakarta bersama Ayah , Ibu tiri , dan Adik tirinya . Tapi mereka tidak pernah menganggap keberadaan Brisa .


Brisa dibiarkan tidur di kamar untuk pembantu . Tidak diperbolehkan masuk ke rumah utama tanpa izin , tidak diberikan makanan , ataupun uang saku .


Selama dua minggu Brisa bisa bertahan hidup dari uang yang sempat diberikan oleh Mbok Min.


Brisa mengingat dengan jelas , malam itu Mbok Min hanya memiliki sisa uang 490.000 . Lalu yang Mbok Min selipkan di sakunya sebesar 400.000 . Brisa selalu memikirkan bagaimana Mbok Min bisa sampai di kampungnya dengan uang hanya 90.000 .


" Huuuffttt... uangku tersisa 200.000 lagi . Jika begini terus , berarti hidupku hanya sekitar 2 minggu lagi . " Gumam Brisa sambil menatap dua lembar uang pecahan 100.000 di tangannya.


" Kamu kenapa neng ? Kusut amat . " tegur Bi Yum , ART dirumah ini .


" Bi ...  dua minggu lagi kalau aku udah gak ada di dunia ini Bi Yum jangan sedih yah... " Brisa malah menanggapinya dengan bercanda .


" Ucapan itu doa loh neng . Emang ada masalah apa ? Cerita aja , Bi Yum mungkin bisa bantu . " 


" Bi .. cari kerja di Jakarta susah gak ? " tanya Brisa .


" Kerja ? Susah Neng ...  apalagi untuk anak seusia Neng Brisa , soalnya kan ada aturan tenaga kerja juga Neng . " Jelas Bi Yum .


Brisa setuju dengan apa yang dikatakan Bi Yum. Raut wajahnya kembali sedih . Tak lama Bi Yum mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya .


" Nih untuk Neng cantik . Gak usah sedih yah . Makan yang banyak , cepat gede' dan bisa lepas dari mereka . " Ucap Bi Yum .


Brisa tersenyum melihat 2 bungkus mie instan pemberian Bi Yum . " Aku gak boleh nyerah . Masih banyak kok orang baik di dunia ini . Aku harus bertahan , dan saatnya tiba aku akan membalas semua perbuatan kalian . " Batin Brisa .




Hari ini Brisa pergi untuk mencari pekerjaan . Pekerjaan apa saja , yang penting halal dan bisa mencukupi untuk memenuhi kebutuhan perutnya .



Sudah berjalan sekitar 4 jam  ,keluar masuk puluhan toko dan rumah makan namun belum ada satupun yang mau memberinya pekerjaan.



Alasannya semua sama , karena usia Brisa yang saat itu baru akan menginjak 16 tahun .



Brisa menghentikan langkahnya di depan Sekolah Menengan Atas , dengan wajah sendu Ia menatapi para murid disana .



" Seandainya aku lanjut bersekolah , maka saat ini aku akan seperti mereka . " Batinnya .



Lalu Brisa melihat di ujung jalan ini ada tempat pencucian motor dan mobil , lalu di seberangnya ada toko buku .



Brisa awalnya berniat untuk masuk ke toko buku menanyakan pekerjaan , tapi penolakan sebelumnya membuatnya ragu . Lalu pandangannya mengarah ke tempat pencucian kendaraan , di sana terlihat seorang remaja pria yang sedang asik mencuci motor pelanggannya.



" Sepertinya dia seumuran denganku . Apa aku juga bisa bekerja di sana . " gumam Brisa .



" Permisi ... " sapa Brisa .



Remaja pria tadi menoleh menatap Brisa . 


" Mau cuci mobil atau motor ? " tanyanya .



" Enggak . Aku mau melamar pekerjaan . " jawab Brisa .



Dia menghentikan kegiatannya . " Pekerjaan untuk Lu ? Memangnya Lu bisa mencuci kendaraan ? "



" Aku bisa belajar . " Brisa menjawab dengan semangat .



" Gimana yah , tapi disini kerjanya berat. Kasian kalau cewek cantik kaya Lu harus kerja ginian . " ucapnya sambil tersenyum .



Brisa kembali di tolak . Hampir 5 jam berjalan , tanpa sempat sarapan dan hanya membawa botol air mineral tapi belum ada hasil sama sekali .



Brisa baru saja akan pergi saat seorang pria menghentikannya .



" Hei ....  kenalin gue  Eijaz , sorry tadi gue gak sengaja dengar kau lu butuh kerjaan yah . " ucap pria itu .


__ADS_1


Pria itu adalah Eijaz Humesh . Mahasiswa semester 4 jurusan sastra sekaligus pemilik toko buku Pluto .



" Iya aku lagi butuh banget kerjaan . Kerja apa saja gak masalah . " jawab Brisa bersemangat .



" Berarti pas banget Lu ketemu gue . Gue bisa bantu Lu. Tapi bisa gak kita ngomongnya di cafe  saja . Gue lapar banget nih . Gimana ? " ajaknya .



Brisa diam berpikir sejanak . Ia ingat pesan Ibu dan Mbok Min untuk tidak mudah percaya dengan orang asing .



" Yee dia malah diam . Gak usah takut , gue gak niat jahat kok . Lagian ini masih siang , di cafe juga ramai , gue gak akan bisa macam macam . "  ujar Eijaz .



Brisa masih diam , tapi tangannya langsung di tarik oleh Eijaz membuatnya harus berlari kecil untuk menyamakan langkahnya .



Dan disinilah mereka , di cafe menunggu makanan yang di pesan Eijaz untuk mereka berdua .



" Jadi nama Lu siapa ? " tanya Eijaz .



"  Nama ku Brisa . "



" Namanya secantik orangnya . " batin Eijaz .



" Lu kenapa nyari kerjaan ? " tanya Eijaz . Menurutnya jika di lihat dari penampilan dan pakaiannya , Brisa tidak seperti orang yang kurang mampu .



" Untuk nyari uang . Uangnya untuk beli makan . Makannya untuk.....hemmm untuk bertahan hidup . " Jawab Brisa jujur .



Eijaz tertawa . Polos sekali gadis ini  , pikirnya .



" Memangnya lu sendirian di Jakarta ? Lu sekolah dimana ? " 



Brisa menjawab sambil memaksakan senyumnya untuk menyembunyikan kesedihannya .



Namun  Eijaz bisa menangkap kesedihan dari tatapan Brisa . Menurutnya Brisa pasti sedang dalam masalah , tapi Ia masih ragu untuk menanyakannya .



Wajah teduh Brisa , menyentuh hati Eijaz . Entah dorongan dari mana  , tekadnya sudah bulat untuk membantu gadis ini .



" Oke . Lu gue terima kerja . " ucap Eijaz membuat Brisa membulatkan matanya .



" Jadi Bri... gue tuh pemilik toko buku di ujung jalan ini . Bukan toko besar sih dan baru berjalan kurang dari setahun . Tapi jadwal kuliah gue akhir akhir ini lagi padat padatnya makanya toko buku sering gue tutup . " jelas Eijaz .



" Nah sekarang gue nerima lu kerja untuk jagain  toko buku gue . Gimana mau gak ? "



Brisa mengangguk . " Iya Kak .. mau . Saya mau . " Brisa kini memanggil Eijaz dengan sebutan kakak setelah mengetahui jika Eijaz seorang mahasiswa .



" Tapi ada syaratnya kalau lu beneran serius . "



" Syaratnya apa Kak ? "



" Gue mau lu lanjutin sekolah . Gue gak mau masa depan lu tertahan di toko buku gue . Lu harus sekolah biar nanti lu punya  masa depan yang lebih baik . " jelas Eijaz .



Brisa menunduk kecewa . " Ada syarat yang lain gak kak ? Aku gak bisa sekolah  karena gak punya biayanya . Sumpah , aku nyari kerja memang agar aku  bisa makan aja udah cukup kok untuk sekarang . "



Eijaz menatap dalam mata Brisa . Tak ada kebohongan disana .


__ADS_1


" Gini aja , gue akan bantu lu untuk lanjutin sekolah . Gaji lu akan gue potong tiap bulan , tapi tenang aja sisanya masih cukup kok untuk biaya hidup kamu . Gimana ? "



Mata Brisa berkaca kaca menahan tangis . " Iya kak . Aku mau . Terimakasih udah mau bantuin aku .  "



Keduanya lalu menghabiskan makanan yang mereka pesan . Setelah itu Eijaz mengajak Brisa untuk mendaftar ke sekolah yang tadi sempat Ia lewati . Lokasinya bisa di tempuh dengan berjalan kaki dari toko buku tempatnya nanti bekerja .



Selesai dengan pendaftaran sekolah , Eijaz mengajak Brisa ke toko bukunya .  Sedikit sedikit Eijaz menjelaskan tentang tugas Brisa  nanti .



Tak lama Eijaz mengajak Brisa untuk pergi membeli seragam sekolah dan perlengkapan lainnya .



Brisa awalnya menolak karena Eijaz sudah banyak membantunya padahal mereka baru saja kenal . Tapi Eijaz meyakinkan Brisa jika gadis itu bisa menggantinya nanti .



Tak terasa sekarang sudah pukul 8 malam . Semua keperluan Brisa sudah lengkap .


Eijaz berniat mengantar gadis itu pulang .


" Alamat lu dimana ? Gue anterin . " ucapnya.



Brisa lalu menunjukkan secarik kertas berisi  alamat yang dituliskan Bi Yum .



Dan  benar seperti dugaan Eijaz . Alamat  Brisa adalah komplek perumahan yang tergolong mewah .



Mobil Eijaz berhenti di sebuah rumah yang cukup mewah .


" Benar ini alamat  lu ? " tanyanya .



Brisa mengangguk .



" Ya udah lu istirahat gih . Besok ke sekolah jangan telat . Pulangnya lu bisa langsung ke toko yah , ingat kunci pintu toko di jaga baik baik . " pesan Eijaz sebelum Brisa turun .



" Kak , terimakasih yah . Aku bersyukur dipertemukan dengan orang baik seperti kakak . "  ucap Brisa .



"  Kita sesama manusia memang harus saling tolong menolong . Jadi tidak perlu sungkan . "



Brisa mengangguk . Ia akan membuka pintu mobil saat Eijaz mencegahnya .



" Bri , gue bisa nebak kalau lu sekarang dalam masalah . Mungkin belum sekarang , tapi kapapun   lu siap untuk cerita gue akan dengerin . "



Brisa mengangguk menahan tangisannya lalu Ia turun dan masuk kerumah .



Eijaz memastikan Brisa masuk ke rumah dengan aman kemudian Ia mulai melajukan mobilnya .



" Terimakasih tuhan sudah pertemukan aku dengan Kak Eijaz  , kakak penolongku . " batin Brisa .



.


.


.


.


.


"*Orang baik seperti lilin; mereka membakar diri untuk memberi cahaya kepada orang lain*."


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2