Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 111. Semuanya menyimpan rahasia


__ADS_3

Berbeda.


Entah dirimu yang telah berubah.


Atau keadaan yang membuatmu tak lagi sama dimataku.


Hanya dimataku, sebab hatiku masih milikmu seutuhnya.


♡♡♡♡♡♡♡


Eijaz POV


“Salahkah aku jika mengharapkan sebuah pertemuan yang sempurna dengannya?” batin Eijaz.


“Seperti pertemuan pertama kita. Pertemuan yang tanpa sengaja, sangat manis, sangat berkesan, meninggalkan bayangan senyummu yang terus mengisi hariku hingga kini, membawa perasaan yang lama-kelamaan kutafsirkan sebagai cinta hanya untukmu.”


“Tapi sekali lagi, semua hanyalah harapku.”


“Pertemuan kita kembali, terasa seperti aku tengah melemparkan diriku kedalam kobaran api yang melahap tubuh ini tanpa belas kasih.”


“Menyaksikanmu berada dalam dekapan pria lain, menikmati hangatnya gelora, lewat ciuman yang hanya bisa ku jadikan impian."


"Bermimpi jika suatu saat hal itu mungkin saja bisa terjadi padaku, pada kita."


“Namun semua itu kini nyata di hadapanku, netraku merekam semuanya, semua yang terjadi antara dirimu, wanita yang kucintai, dan sahabatku yang ada hampir di separuh dari seluruh kehidupanku.”


“Bagaimana denganku?”


“Apa ini saatnya aku merelakanmu?"


"Sebab akupun tak memiliki kuasa atas dirimu. Tak ada hak bagiku untuk menghakimi semua yang terjadi.”


"Ku yakin kau akan bahagia bersamanya, tak sedikitpun keraguanku akan hal itu.”


“Apakah kita perlu bertemu sekali lagi untuk mengucap selamat tinggal?”


“Untuk yang terkahir kalinya, sebelum aku benar-benar pergi dari hidupmu. Pergi dari hidup kalian. Pergi dari kehidupan ini.”


♡♡♡♡♡♡


Pintu ruangan kerja Aydin dibuka.


Jika biasanya yang berani mengganggu waktu berdua Risa dan Aydin adalah Dafha, putranya.


Namun kini mata Aydin terbelalak saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.


“Upppsss, maaf aku tak tau jika.....” ucapan pria itu terhenti ketika wanita dalam pelukan Aydin berbalik ke arahnya.


“Bri........ Sa,” lirihnya.


“Kak Eijaz,” gumam Risa tak kalah lirihnya.


Hati Aydin memanas, terbakar cemburu merasa Ia tak dianggap oleh dua pasang netra yang kini saling menatap, saling berpandangan.


Pandangan yang menyiratkan banyak pertanyaan.


Pandangan yang penuh kerinduan.


Juga pandangan penuh cinta milik Eijaz.


Yah, hanya netra Eijaz yang memancarkan cinta pada wanita yang masih berada dalam dekapan tunangannya.


Sementara Risa, entah bagaimana Aydin bisa menyimpulkan jika kini wanitanya sedang gugup.


“Apa yang dikhawatirkan olehmu sayang? Apa kamu mengkhawatirkan perasaanku? atau kamu khawatir melukai perasaan pria yang telah lama tak kamu temui?” Batin Aydin.


Ingin sekali Ia memint jawaban akan pertanyaannya itu langsung pada Risa.


Namun bayangan pernikahan impiannya yang sudah di depan mata tak ingin Ia kacaukan.

__ADS_1


“Sebisa mungkin aku akan bertahan dengan ketidaktahuanku.” Tekadnya dalam hati.


“Ekhheemm,” Aydin berdeham.


Memutus pandangan yang tadi saling mengunci.


“Eijaz, kapan kau datang?” tanya Aydin berbasa-basi.


Sebelum Ia menghampir Eijaz yang masih mematung di ambang pintu, pria itu dengan sengaja memberikan kecupan di kening Risa dan berbisik, “sebentar kita lanjutkan lagi yah sayang.”


Aydin melangkah meninggalkan Risa yang juga berdiri mematung di tepi meja kerja Aydin.


Aydin membuka pintu lebih lebar, menyambut Eijaz dengan sebuah pelukan, lalu mempersilakan Eijaz masuk ke ruang kerjanya.


“Masuklah, bertahun-tahun tak pulang ke Indonesia ku pikir kau sudah melupakan rumah orang tuaku.” Canda Aydin.


“Mana bisa aku melupakan rumah sahabatku sejak kecil. Bahkan rumahmu bersama Kirani, istrimu, masih jelas dalam ingatanku.” Balas Eijaz.


Sengaja Eijaz menekankan nama Kirani dan status Kirani pada hidup Aydin. Ia ingin melihat reaksi Risa, apa wanita itu telah tahu semuanya atau tidak. Dan yang bisa Eijaz simpulkan jika Risa tahu, namun Ia menyembunyikan sesuatu.


Sangat terlihat dari kegugupannya kala Eijaz menyebut nama Kirani.


Sejak langkah pertamanya masuk ke ruang kerja Aydin, tatapan Eijaz terus mengarah pada Risa yang berdiri bak patung dengan kepala menunduk.


Semuanya terjadi dengan sangat tiba-tiba, pikir Risa. Bagaimana jika rahasia soal hubugannya dan Kirani terungkap sekarang, apa lagi Risa mendengar Eijaz dengan sengaja membahas Kirani.


Sementara Aydin salah menanggapi maksud ucapan Eijaz. Ia pikir Eijaz sengaja ingin memperjelas statusnya pada Risa. Lalu Risa yang menunduk, membuat Aydin berpikir jika Ia tak nyaman dengan ucapan Eijaz yang membahas mantan istrinya.


“Bukan istri, mantan istri. Kirani sudah tenang di sana, tak perlu kita membahasnya lagi dengan segala urusan yang menyangkut dunia.” Tegas Aydin.


Suasana menjadi hening setelah ucapan Aydin.


“Tapi beruntung kau tak kesana. Rumah itu sudah terjual, dan berubah bentuk menjadi deposito atas nama Dafha, putraku.” Ucap Aydin jujur diikuti kekehannya.


Tak bisa Aydin pungkiri, Eijaz masih sahabatnya sejak mereka masih remaja.


Dan Aydin akan selalu nyaman menceritakan apapun padanya.


“Sayang, kemarilah.” Panggil Aydin.


Dengan langkah berat Risa mendekat, duduk disamping Aydin, berhadapan langsung dengan Eijaz.


Tangan Aydin melingkari pinggang tunangannya, “Apa kamu baik-baik saja sayang?” tanya Aydin saat menyadari wajah Risa yang memucat, bahkan telapak tangan wanitanya terasa dingin.


Risa mengangguk, tersenyum sangat manis pada Aydin. Senyum yang Eijaz harap akan menyambutnya saat mereka bertemu kembali.


"Brisa," sapa Eijaz lirih.


Risa menatap Eijaz yang menyebut namanya, namun tak ada jawaban sama sekali yang terucap dari bibir Risa.


“Apa kau mengenal Risaku?” tanya Aydin pada Eijaz, namun pertanyaannya diabaikan oleh Eijaz.


“Apa kau mengenal tunanganku?” tanya Aydin sekali lagi.


Namun tetap tak ada tanggapan dari Eijaz.


“Sayang, apa kamu mengenal Eijaz?”


“Apa kalian saling mengenal?”


Pertanyaan itu kini Aydin lontarkan berurutan secara tak sabar.


“Tidak.” Satu kata ini terucap dari bibir Risa.


“Aku tidak mengenalnya.” Sambungnya memperjelas semuanya.


Aydin cukup kecewa dengan jawaban Risa.


“Kali ini apa yang ingin kamu sembunyikan sayang?” batinnya.

__ADS_1


“Lalu dari mana kau tahu nama tunanganku Brisa?” cecar Aydin pada Eijaz.


Eijaz akhirnya mengalihkan tatapannya dari Risa ke Aydin.


“Bukankah dia adalah model terkenal. Aku mengetahui namanya dari berita yang ku tonton di TV.” Elak Eijaz.


Meski jawabannya tidak sepenuhnya bohong.


Aydin tidak lagi membahas masalah ini.


Sudah cukup baginya, kedua orang ini menutupi kebenarannya.


Dafha langsung saja masuk ke ruangan Daddynya tanpa mengetuk lagi karena pintu itu tidak lagi tertutup seperti biasa,


“Daddy, Mama, Oma meminta kalian turun untuk makan malam.” Ucapnya.


“Oke Boy. Daddy akan segera turun.”


“Kalian turunlah lebih dulu, aku ingin mengganti pakaian Dafha.” Ucap Risa dan segera menyusul Dafha yang sudah berjalan keluar lebih dulu.


“Permisi.” Ucapnya sebelum meninggalkan ruangan.


Aydin dan Eijaz hanya mengangguk membalas ucapan Risa.


Aydin menyadari jika tatapan Eijaz mengikuti kemana arah kaki Risa melangkah.


“Entah apa alasan kalian menutupi kebenarannya. Yang jelas kini bukan hanya aku yang menutupi sebuah kebenaran.” Batin Aydin.


♡♡♡♡♡♡♡♡


Makan malam kali ini sedikit berbeda.


Eijaz juga ikut makan malam bersama.


Risa tanpa canggug dan sangat telaten menyiapkan makanan di piring Aydin, dilanjutkan dengan makanan untuk Dafha.


Eijaz berusaha bersikap seperti biasa, meski hatinya sedang tersayat-sayat belati saat melihat kemesraan pasangan dihadapannya.


Eijaz sesekali menggoda Ayana yang kini sudah semakin dewasa.


“Yana, apa abangmu masih sering marah jika ada pria yang mendekatimu?” tanya Eijaz untuk mengusir rasa canggungnya.


“Bang Ijaz memang selalu tau soal Bang Aydin. Itulah mengapa meski aku cantik, aku tetap jomblo.” Keluh Ayana yang disambut tawa oleh Eijaz, juga Mama Indira dan Papa Dimas.


“Jangan memfitnah Abang, kamu dekat dengan Daffin tapi abang tak melarangmu.” Ucap Aydin menimpali obrolan Eijaz dan Ayana.


“Benar Yana, kamu dekat dengan Nak Daffin?” tanya Papa Dimas.


Sementara Ayana tidak menjawab, hanya wajahnya saja yang merona.


“Sudah... Sudah, berhenti menggoda adikmu. Sebaiknya kita membahas pernikahan kalian saja.” Ucap Mama Indira menengahi.


“Sudah sampai di mana persiapannya?”


“Apa masih perlu menambah WO lagi?”


Cecar Mama Indira.


“Eijaz kamu sudah taukan, jika sahabatmu ini akan menikah sebulan lagi?” Kini pertanyaan mengejutkan itu ditujukan pada Eijaz.


Pria itu hanya menggeleng dan terus mengunyah makanannya.


“Yang benar itu kurang dari sebulan.” Koreksi Aydin semakin mengejutkan Eijaz.


♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡


Meski apapun penjelasan dan alasannya, kehilangan akan selalu terasa begitu menyakitkan.


Meski hati belum siap atau mungkin tak akan pernah siap untuk merelakan.

__ADS_1


Namun kenyataan dengan kejam telah mengganti segala kenangan.


__ADS_2