Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 99. Wait for me to come home


__ADS_3

"Kamu harus berani mengambil risiko apa pun ketika kamu memutuskan untuk jatuh cinta."


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Suatu hubungan akan dimulai tanpa petunjuk mana yang benar dan mana yang salah. Karena semua masih nampak abu-abu, belum jelas ujung dari semuanya.


Pasangan paling bahagia di dunia ini tidak pernah memiliki sifat yang sama. Mereka hanya saling memahami dengan baik tentang perbedaan yang mereka miliki.


Kebersamaan, segala suka dan duka yang dilewati bersama, maka dari situlah wanita akan memahami prianya, sama halnya dengan pria yang akan belajar memahami wanitanya.


Logika mulai bertanya pada hati, apa saat ini hati mencintai karena butuh?


Namun tanpa perlu waktu berpikir sang hati menjawab , jika Ia yang membutuhkan, karena Ia yang mencintai.


Sadar jika segala bentuk duniawi yang dicari tak ada artinya jika tidak ada dirinya di sisi.


Bukankah segala hal di dunia ini selalu diterima dengan konsekuensi?


Tidak ada kesulitan yang berdiri sendiri. Kesulitan selalu seiring dengan kebahagiaan.


Kata orang, cinta itu ibarat penyakit, lantas apakah Ia mau jadi penyembuh sakitku?


Apakah Ia mau jika namanya yang terukir di hati?


Untuk melangkah bersama ke masa depan, bukan perkara siapa cepat dia dapat tapi, siapa siap, dia cepat dapat.


Apakah sudah siap?


♡♡♡♡♡♡


Setelah mendapat bocoran dari Gio, jika setelah makan siang dirinya mengantar Risa dan Dafha menuju kantor agensi model milik Risa.


Aydin bergegas menyusul kedua orang yang Ia sayangi itu.


Saat sampai di tujuannya, dengan langkah lebar Aydin segera menuju ke ruangan di mana Risa berada.


Dafha yang menyadari kehadiran Daddynya segera menyapa sang Ayah, “Daddy,” panggilnya.


Ayah satu anak itu hanya bisa menggeleng saat melihat putranya kini tengah tertawa-tawa dengan wajah merona di antara banyak gadis-gadis cantik yang Aydin duga akan mengikuti audisi.


“Di mana Mama?” tanya Aydin.


Dafha menunjuk ke arah satu ruangan tertutup sebagai jawabannya.


“Daddy mau ketemu mama dulu, kamu mau ikut atau,”


“NO, Aku di sini aja.” Sela Dafha.


Aydin akhirnya meninggalkan Dafha yang kembali menebar pesonanya di antara gadis-gadis.


Tok tok tok


Aydin mengetuk pintu ruangan yang tadi ditunjuk Dafha.


Seorang wanita membuka pintu.


“Eh, Pak Aydin.” Sapanya.


“Risa ada?”


“Ada Pak, silahkan masuk.” Wanita yang bernama Muti mempersilahkan Aydin masuk.


Muti adalah sekertatis Risa di kantor agensi modelnya.


Muti berjalan lebih dulu, Ia menghampiri Risa yang duduk berjejeran bersama beberapa orang lainnya untuk menilai para gadis yang tengah berjuang meraih mimpi mereka menjadi model.


Tak lama Aydin melihat Risa menatap ke arahnya yang segera Aydin sambut dengan senyum manisnya.


Namun sayang, Risa tak membalas senyumannya. Hanya wajah datar dan dingin yang wanita itu tunjukkan.


Tak lama Risa berpamitan pada rekannya kemudian mengajak Aydin untuk ke ruangannya.


Baru saja masuk, Aydin segera menyerang Risa dengan pelukan yang erat.


“Sayang, maafkan aku. Kumohon.” Pinta Aydin.


“Kamu salah apa?” tanya Risa.


“Aku salah karena tidak mendengar penjelasanmu dulu. Harusnya aku harus dengar penjelasan versi kamu dulu.” Jawab Aydin.


Risa yang masih dalam pelukan Aydin akhirnya tersenyum.


“Good.” Balasnya Singkat.


Tak ingin kehilangan kesempatan, Aydin segera menyatukan kedua bibir mereka.


Tak ada penolakan dari Risa, ciuman Aydin selalu terasa memabukkan baginya.


Tidak hanya sebuah kecupan, permainan keduanya semakin intens dan menuntut.


Aydin akui dirinya selalu sulit menahan gejolak dalam dirinya jika Ia sudah memulai permainannya.


Tangan nakal miliknya saat ini sedang menjelajahi punggung Risa, mengelus lembut dari atas hingga sampai pada dua bongkahan yang menggoda imannnya.


Lenguhan terdengar dari bibir Risa, saat Aydin tengah memberi jejak di leher putihnya bersamaan dengan salah satu tangannya yang menyapa bagian sensitif Risa di dadanya.


Ketukan di pintu menghentikan aksi keduanya. Risa merapikan pakaiannya sedang Aydin bergegas ke toilet.


“Masuk,” Ucap Risa dengan sedikit meninggikan suaranya.


Muti masuk dengan nampan yang berisi 2 cangkir kopi.


“Loh, Pak Aydin sudah pergi Miss?” tanyanya.

__ADS_1


“Belum, dia lagi di toilet.” Jawab Risa.


Muti akhirnya mengerti apa yang baru saja terjadi saat sekilas Ia melihat ada jejak kemerahan di leher bosnya.


“Mut, bagaimana pencarian suster untuk jagain Dafha?" tanya Risa .


"Masih sementara saya usahakan yang terbaik Miss, Saya gak ingin asal pilih Miss."


"Benar, tolong lebih cepat yah. Tolong juga kamu cek Dafha gak main ke tempat yang jauh dari ruangan saya yah." Pintanya.


Muti mengangguk kemudian berlalu meninggalkan ruangan Risa.


"Miss Risa calon Ibu sambung yang baik banget. Padahal masih calon tapi udah perhatian banget sama calon anak sambungnya." Batin Muti.


♡♡♡♡♡


Setelah selesai dengan ritualnya, Aydin kembali duduk di sofa. Menyesap kopi miliknya.


“Yang, minggu ini kamu sibuk gak?” tanya Aydin saat Risa sudah kembali duduk di sisinya.


“Lumayan, memangnya kenapa?”


“Aku ingin mengajakmu liburan ke Bali. Mau gak Yang?” tanya Aydin .


Ia berusaha terlihat santai meski dalam hatinya terus berdoa agar Risa tidak menolak.


“Mau dong Ay,” jawab Risa bersemangat.


“Kapan kita berangkat?”


“Jumat sore yah sayang,” jawab Aydin dengan lembut.


Dalam hatinya Aydin bersorak gembira. Akhirnya, sebentar lagi, “Nyonya Aydin is coming.” Batinnya.


“Ay, kalau gitu temenin ke Mall yuk.” Pinta Risa.


“Mall? Untuk?”


“Belanja dong Ay, aku mau beli baju yang cocok untuk ke pantai.” Jawab Risa.


Mendengar penuturan Risa, otak Aydin sudah lebih dulu travelling membayangkan penampilan Risa yang sangat hot saat menggunakan bikini.


“Ayo sayang, nanti aku bantu pilihin.” Ucapnya bersemangat membuat Risa mengernyitkan alisnya karena


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Sementara Aydin disibukkan dengan persiapan rencana ‘Nyonya Aydin to be’ .


Di negara lain, seorang pria terlihat baru saja keluar dari sebuah rumah sakit.


Tangannya meremas kuat kertas yang kini ada dalam genggamannya.


“Bagaimana Eijaz, apa kata dokter Nak?” tanya sang bunda saat Ia baru saja tiba di mansionnya.


Seperti hari-hari sebelumnya, Eijaz kini tengah duduk di balik piano yang selama ini menemaninya.


Netranya memandangi danau buatan yang ada di halaman belakang mansionnya.


Perasaan rindu yang sangat besar pada seorang gadis yang telah Ia puja sejak lama membuatnya tidak sabar untuk segera menemui pujaanya.


Ia raih ponselnya, lalu kembali membuka aplikasi sosial media milik wanita pujaannya. Melihat foto-foto wanita yang kini berprofesi sebagai model.


“Kau memang sangat cantik Bri, sejak dulu kau sudah cantik.” Batinnya.


“Apa aku pantas untukmu Bri?” gumamnya.


Eijaz tidak bisa berbohong, jika terkadang perasaan insecure membuatnya ragu untuk menemui sosok Brisa yang kini menjelma menjadi sosok wanita cantik dan terkenal.


“Yang pasti aku juga pantas bahagia. Tuhan sudah terlalu banyak memberiku kesedihan, harusnya sekarang dia bermurah hati memberiku sedikit saja kebahagiaan.” Ucapnya meyakinkan dirinya sendiri.


Saat asik melihat foto-foto Brisa, akun sosial media milik sahabatnya ternyata baru saja memposting sebuah unggahan baru.



Eijaz tersenyum, “Akhirnya dia bisa menemukan wanita lain untuk menggantikan Kirani.”


“Seru juga kali yah kalau nantinya kami berdua bisa double date.” Lanjutnya.


Eijaz meletakkan kembali ponselnya, lalu jemarinya mulai menekan tuts tuts pada piano.


Alunan nada-nada indah mulai mengalun, menggema pada ruangan besar yang kosong.


Melodinya sungguh bisa menyampaikan perasaan rindu teramat besar yang ingin diungkapkan oleh pemainnya.


Suara merdu pria itu, melantunkan bait demi bait lagu yang berjudul Photograph milik Ed Sheraan, dan sungguh berhasil menguras air mata bagi siapa saja yang mendengarnya.


Loving can hurt, loving can hurt sometimes


(Mencintai bisa menyakitkan, mencintai terkadang bisa menyakitkan)


But it's the only thing that I know


(Tapi itulah satu-satunya yang kutahu)


When it gets hard, you know it can get hard sometimes


(Saat keadaan terasa sulit, kau tahu kadang keadaan bisa sulit)


It is the only thing that makes us feel alive


(Inilah satu-satunya yang membuat kita merasa hidup)


We keep this love in a photograph

__ADS_1


(Kita simpan cinta ini di dalam foto)


We made these memories for ourselves


(Kita buat kenangan ini untuk diri kita sendiri)


Where our eyes are never closing


(Dimana mata kita tak pernah terpejam)


Our hearts are never broken


(Hati kita tak pernah patah)


And time's forever frozen, still


(Dan waktu selamanya beku, diam)


So you can keep me


(Hingga kau bisa menyimpanku)


Inside the pocket of your ripped jeans


(Di dalam saku celana robekmu)


Holding me close until our eyes meet


(Mendekapku erat hingga mata kita bertemu)


You won't ever be alone, wait for me to come home


(Kau takkan pernah sendiri, tunggulah aku pulang)


Loving can heal, loving can mend your soul


(Mencintai bisa menyembuhkan, mencintai bisa merajut jiwamu)


And it's the only thing that I know, know


(Dan itulah satu-satunya yang kutahu, kutahu)


I swear it will get easier, remember that with every piece of ya


(Aku bersumpan semua ini kan kian mudah, ingat itu dengan tiap kepingan dirimu)


And it's the only thing we take with us when we die


(Dan itulah satu-satunya hal yang kita bawa saat kita mati)


You won't ever be alone


(Kau takkan pernah sendiri)


And if you hurt me


(Dan jika kau menyakitiku)


That's okay baby, only words bleed


(Tak mengapa kasih, hanya kata-kata berdarah)


Inside these pages you just hold me


(Di dalam halaman ini kau hanya mendekapku)


And I won't ever let you go


(Dan aku takkan pernah melepasmu)


Wait for me to come home


(Tunggulah aku pulang)


♡♡♡


Dari kejauhan air mata sang bunda terus saja berlinang. Bukannya Ia tak tahu apa yang terjadi hari ini pada putranya.


Ia hanya tak ingin mengecewakan sang putra. “Jika wanita itu adalah satu-satunya yang bisa membuatmu tersenyum, maka Bunda akan mendukungmu.” Batin Nadine, Ibunda Eijaz.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


“Ma... Mama....”


“Dad... Daddy....”


“Dafha juga mau berenang.”


Suara teriakan Dafha dari tepi kolam renang mengejutkan dua insan yang tengah memberikan kehangatan dalam dinginnya air kolam.


“Ya, tunggu sebentar yah.” Teriak Risa agar Dafha tidak berjalan mendekat.


“Katamu Dafha sudah lelap tidurnya?” Gerutu Aydin ketika kegiatannya dihentikan.


“Mana ku tau jika dia akan bangun


secepat itu.” Jawab Risa.


♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡


A day is incomplete without thinking about our memories.


We only part to meet again

__ADS_1


__ADS_2