
Detik ini, aku hanya ingin menyapamu dengan sebuah doa. Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan cinta-Nya di hatimu.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Semalam Aydin menghabiskan waktu dengan menunggu ucapan selamat ulang tahun dari sang kekasih.
Menunggu sejak pukul 00.00 hingga kini sudah pukul 06.00 belum ada ucapan dari seseorang yang sangat Ia harapkan.
“Aku harus berpikiran positif dan mengerti Risa. Dia bisa saja belum tau jika hari ini aku berulang tahun,” batinnya kembali mengeluh tanpa Ia sadari.
“Selamat ulang tahun untukku,” gumam Aydin saat Ia memastikan kembali tampilannya di depan cermin.
“Hari ini jangan salahkan jika aku akan egois, aku akan memusatkan perhatian pada diriku sendiri. Aku akan melakukan semua hal menyenangkan." Monolognya.
"Tuhan, terimakasih atas segala kebaikan yang telah engkau berikan selama 33 tahun hidupku, semoga untuk waktu-waktu yang akan kulalui di sisa hidupku Engkau masih akan terus memberikan keridha-anMu.” Batin Aydin memanjatkan doa untuk dirinya sendiri.
Sama seperti hari-hari sebelumnya Aydin akan menjadi peserta terakhir yang bergabung untuk menikmati sarapan.
Yang berbeda kali ini karena selain hidangan makanan untuk sarapan, meja makan juga dihiasi dengan kue ulang tahun berwarna cokelat yang di atasnya dipenuhi banyak lilin yang sudah menyala.
“Happy birthday Daddy... Happy birthday Daddy... Happy birthday.. Happy birthday..Happy birthday Daddy,” suara nyanyian Dafha mengiringi langkah Aydin menuju meja makan.
“Syukurlah aku masih memiliki mereka,” batin Aydin.
Aydin disambut dengan pelukan dan ciuman dari putra semata wayangnya, “Happy birtdhay Daddy, I love you.” Ucap Dafha.
Dilanjutkan dengan pelukan dari satu-satunya adik yang Ia miliki, “Happy birthday Bang. Cepetan nikah gih, sebelum Kak Risa sadar kalau dia itu rugi banyak berpacaran dengan Abang,” ucap Ayana memberi selamat tapi tetap masih disertai dengan candaannya.
Aydin lalu mennyalami tangan kedua orang tuanya secara bergantian, Ia menicum punggung tangan keduanya lalu memeluk mereka erat.
Sungguh Aydin bersyukur 33 tahun Ia hidup di dunia ini dan dia masih diberi kesempatan untuk didampingi oleh dua manusia luar biasa seperti Papa dan Mamanya.
“Terimakasih Ma, Pa, selama ini sudah banyak membantu Aydin. Mohon doa Papa dan Mama agar Aydin bisa mendapatkan keridhaan Tuhan atas semua yang Aydin ingin lakukan.” Ucap Aydin meminta doa restu orang tuanya.
Setelah meniup lilin yang hanya tinggal setengahnya saja, sarapanpun dimulai.
“Hari ini Mama yang akan menemani Dafha untuk acara sekolahnya ke Puncak Bogor,” ujar Mama Indira.
“Iya Ma, tolong yah. Soalnya Risa hari ini sibuk banget.” Ucap Aydin.
“Tapi ngucapin selamat ulang tahun udah kan yah? Masa iya udah gak jomblo lagi tapi masih gak dapat ucapan dari kekasih, ckckckckck.” Ucap Ayana dengan sengaja menyindir Abangnya.
Nampak wajah Aydin mulai kesal, ” Hubungan Abang dan Risa itu bukan hubungan yang sepertimu bocil. Kita berdua sama-sama udah dewasa, hal kecil seperti ini bukan masalah,” balas Aydin membela diri.
Walaupun Ia berusaha tenang dan baik-baik saja, tapi raut wajah kecewa Aydin tetap tidak bisa disembunyikan.
Ia sungguh tidak berharap banyak hal. Cukup dengan ucapan dan doa dari wanita spesial di hari spesialnya ini. Itu saja.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
__ADS_1
Sejak tadi ponsel Aydin tidak berhenti berdering. Banyak pesan dan telepon dari rekan, klien, kerabat, dan juga keluarga yang memberi ucapan selamat.
Halaman sosial medianya berupa foto saat Ia dan Dafha meniup llilin kue ulang tahun pagi tadi juga dipenuhi dengan komentar ucapan selamat dari warga net, baik yang Aydin kenal maupun tidak.
Namun sayang, ucapan yang Ia tunggu-tunggu sejak pukul 00.01 bahkan hingga kini pukul 11.00 belum ada sama sekali.
“Berhenti kekanak-kanakan Aydin, aku yakin dia hanya sedang sibuk saja.” Batin Aydin.
Namun belum lama sejak Ia mencoba untuk berpikiran positf, pintu ruangan Aydin diketuk.
“Masuk,” teriak Aydin dari dalam ruangannya.
Lalu masuklah sosok wanita yang sangat Ia tunggu-tunggu.
“Risa, sayang," sapa Aydin dengan senyum mengembang. Ia yakin Risa tida mengirimkan ucapan karena ingin menyampaikan secara langsung.
“Ay, apa aku mengganggumu?” Tanya Risa masih dengan kegugupan yang Ia rasa saat sedang bersama Aydin.
“Tentu saja tidak, kemarilah sayang.” Pinta Aydin.
Risa dengan patuh berjalan ke arah Aydin, “Bukannya hari ini jadwalmu penuh?” tanya Aydin.
“Tidak, ternyata hari ini aku tidak ada jadwal. Esme salah saat membaca jadwalnya.” Ujar Risa.
“Sayang sekali yah, padahal bisa saja kamu yang menemani Dafha ke puncak,Bogor.” Balas Aydin.
Dalam hati Risa tertawa, tanpa perlu Ia pancing tapi Aydin sendiri yang menautkan dirinya ke kail.
“Iya, bener juga kamu Ay. Bagaimana jika kita susulin Dafha.“ Bujuk Risa.
Risa cemberut, sungguh tak mudah mengajak Aydin untuk ke puncak.
Dengan menghentakkan kakinya, Risa menjauhi Aydin dan menjatuhkan dirinya di sofa.
“Sayang, please kamu ngerti yah,” pinta Aydin.
“Kirimin aja alamat tempat Dafha disana, aku akan kesana sendiri saja Ay.” Rajuknya.
“Jauh sayang, lagian kamu pasti gak tau jalan kesananya.” Tolak Aydin.
Suasana kembali hening. Risa tidak lagi membahas untuk menyusul Dafha.
Risa hanya duduk sambil bermain ponselnya di sofa, sementara Aydin sibuk dengan pekerjaannya.
“Ay, aku Bosan.” Ucap Risa tiba-tiba.
Aydin menghela napasnya.
Sungguh sikap kekasihnya itu sangat berbeda hari ini, pikirnya.
“Bosan?” ulang Aydin.
__ADS_1
“Iya Ay, aku bosan. Dari tadi aku di sini tapi kamu malah gak peduliin aku.” Keluh Risa.
“Kan aku lagi kerja Yang.” Ucap Aydin berharap Risa bisa mengerti.
Namun sayang, Risa seakan tak mau mengerti. Bahkan kekasihnya itu menuduhnya yang tidak benar.
Hal itu tentu saja mengundang emosi Aydin.
“Kamu yah Ay, aku sibuk kamu bilang aku gak ada waktu. Sekarang aku disini, kamu malah gak peduli. Memangnya kamu lagi berkirim pesan pada siapa? Pasti pada wanita lain.” Ucap Risa yang sengaja ingin membuat Aydin marah.
Terkutuklah rencana receh Ayana, karena sepertinya kini pria itu benar-benar marah, pikir Risa.
Braakk....
Aydin menggebrak meja di hadapannya dengan keras membuat Risa terperanjat.
Batin Risa terus mengutuk Ayana dengan rencana receh kekanakannya.
“Risa!” bentak Aydin.
“Kamu kalau kemari hanya untuk mengajak bertengkar sebaiknya kamu pergi.” Usirnya.
Sungguh diluar dugaan Risa, jika Aydin malah mengusirnya.
Ia sudah menduga jika Aydin akan marah, tapi tak pernah Ia duga jika dirinya sampai diusir.
“Bagaimana jika Aydin benar-benar marah dan tak mau terima jika ini hanya bercanda?” batin Risa menjerit.
“Aku akan pergi sesuai inginmu. Jangan pernah mencari atau menemuiku lagi.” Tantang Risa.
Wanita itu meraih tasnya yang Ia letakkan di sofa, netranya dan Aydin tidak ada yang ingin mengalah.
“Please cegah aku Ay, masa kamu biarin aku pergi gini aja sih. Awas saja yah Ayana,” racau Risa dalam hatinya.
Aydin tak bergeming, Ia hanya menatap setiap gerakan Risa yang hendak pergi.
“Si*l kenapa aku bisa terpancing emosi. Ku akui jika aku kesal karena wanita ini bahkan tidak peka jika hari ini adalah hari ulang tahunku bahkan sejak tadi dia bersikap menjengkelkan. Tapi apa aku rela jika kami bertengkar hanya karena hal seperti ini? Sepertinya aku juga sudah keterlaluan padanya sampai membentak dan mengursirnya.” Batin Aydin kini berkecamuk.
“Aku akan pergi, jangan menemuiku lagi.”
Kalimat yang Aydin takutkan akhirnya keluar dari bibir kekasihnya.
Aydin mematung di tempat duduknya, “Kau bodoh Aydin. Dengan mudahnya kau terpancing emosi dan mengusir wanita yang begitu sulit kau raih.” Rutuknya pada dirinya.
Kesadaran Aydin kembali saat terdengar suara pintu yang di buka lalu kemudian ditutup kembali dengan kasar.
Braaakkk....
Suara pintu yang dibanting Risa.
“Sh*t.....” umpat Aydin.
__ADS_1
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
"Salah satu hal yang mudah memicu perselisihan adalah kurang bisa menempatkan kapan saatnya untuk bercanda dan kapan untuk serius."