Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 108. Aku tak berbakat jadi CEO


__ADS_3

Tak akan ada kebenaran yang selalu terlihat benar. Semuanya tergantung pada siapa, kapan, dan bagaimana situasinya.


♡♡♡♡♡


Setelah kembali dari liburannya di Bali, hari ini semuanya sudah harus kembali pada kehidupan nyata mereka.


Terlihat Risa Membolak-balik tumpukan map yang ada di meja kerjanya, Ia bingung harus memulai semua dari mana.


Kepalanya Ia tumpukkan dengan kedua tangan sebagai bantala di atas meja kerjanya.


“Arrgghhh, lebih baik aku diminta photo shoot seharian dari pada harus membaca semua berkas-berkas ini.” Gerutunya.


Muti, sekertarisnya masuk ke dalam ruangan Risa, dilihatnya jika sang atasan sepertinya sedang memikirkan masalah yang serius.


“Permisi Miss Risa,” ucapnya ragu, sehingga Ia menahan langkahnya dan tetap berdiri di ambang pintu.


“Hemm Muti, masuklah.”


Risa memutar bola matanya saat melihat tumpukan map yang ada dalam pelukan Muti.


“Apa berkas itu juga untukku?” selanya.


Jika Muti menjawab Ya, maka Risa sudah bersiap mengibarkan bendera putih dan melambaikan kedua tangannya pada kamera tanda Ia menyerah.


Pekerjaan sebagai CEO tidak cocok untuk dirinya.


Pengecualian saat Ia sedang menggantikan Ferdinand memulihkan perusahaan sang kakek.


Saat itu Ia dibantu oleh tim manajemen handal dari perusahaan Gio, juga Gio, Amora, Esme, serta Echa turut serta membantunya.


“Miss... Miss.... Miss Risa,” panggil Muti membawa kembali Risa dari lamunannya.


“Ya, ada apa?” tanya Risa.


Muti menggeleng. Ia jadi khawatir pada atasannya ini, seharusnya pulang dari liburan, apalagi baru saja dilamar kekasih harusnya dia tersenyum bahagia.


Kenyataannya berbeda, Risa malah terlihat kacau hari ini.


“Mengenai yang Miss Risa tanyakan soal berkas ini, tenang saja Miss, ini bukan untuk Miss Risa," jelas Muti.


Risa meghembuskan napasnya lega, "Syukurlah."


Muti ikut tersenyum melihat senyuman pertama Risa. Bos yang juga adalah idolanya.


Yah benar, Muti adalah seseorang yang menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia modelling dan photography.


Namun Ia tak berani bermimpi untuk menjadi model seperti wanita dihadapannya. Dianugerahi tubuh yang mungil, dan serba pas-pasan sudah cukup untuk membuatnya tidak nekat.


“Lantas, apa ada hal lain yang bisa kubantu?” tanya Risa dengan lembut pada Muti.


Risa sudah menganggap Muti seperti adiknya. Gadis polos yang tidak berani bermimpi, sangat mirip dengan dirinya belasan tahun yang lalu.


“Miss, saya ada beberapa catatan selama Anda cuti.”


“Pertama, Agensi Anda dari Korea menghubungi jika brand yang akan habis kontrak dengan Anda ingin memperpanjang, mereka akan menyerahkan semua keputusan pada Anda Miss,” Jelas Muti.


“Kirimkan pengajuan kerjasama pada Amora.” Pinta Risa.


“Jangan kirimkan ke sekertarisnya, kirimkan langsung ke email pribadinya.” Lanjutnya memberikan ide licik agar permintaannya bisa memotong antrian berkas yang harus dipelajari Amora sebagai COO pada perusahaan kakeknya.


“Yang Kedua, perusahaan dengan brand yang kontraknya akan berakhir sebelum waktunya telah mengirimkan nominal jumlah pinalty yang harus Anda bayarkan." Jelas Muti memberikan selembar kertas yang berhias angka-angka.


Mata Risa membelalak, “Apa?”


Dengan ponsel pintarnya Ia segera mengonversi nilai yang tertera menjadi rupiah.


“Gila!” Pekiknya.


“Totalnya sebesar ini, sepertinya aku benar-benar akan menunda pernikahanku.” Tuturnya.

__ADS_1


“Mengapa ditunda?”


“Kau tiba-tiba tak yakin? Atau Aydin berbuat salah lagi padamu?” cecar Esme yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk ataupun memberi salam.


“Eonni, biasakanlah mengetuk pintuku lebih dulu sebelum masuk,” keluhnya.


“Maaf, maaf. Aku memang lebih banyak lupanya.” Sesal Esme namun tetap saja terdengar bagai gurauan.


“Tapi, apa maksudmu menunda pernikahan? Sebulan lagi loh, jangan macam-macam.” Peringat Esme.


Kini Esme sedang dalam mode bijak layaknya seorang kakak.


Risa memberikan kertas yang mampu membuat tulang-tulangnya seakan lepas dari persendiannya.


“Ada 5 perusahaan dengan total 55M.” Ucap Esme menyimpulkan apa yang telah Ia baca.


Esme tertawa ketika menyadari persamaan dari semua perusahaan yang akan dibatalkan kontraknya oleh Aydin.


“Selain sama-sama tidak memperkenankan adanya pernikahan selama masa kontrak, ada persamaan lain yang ku duga menjadi pemicu utama Aydin bersikeras menghentikannya sepihak.” Ucap Esme dengan gaya sok detektif gadungannya.


“Kamu tidak menjadi model tunggal untuk semua brand ini, kamu memiliki model pria sebagai pasangan di setiap iklan dan photo shoot.” Jelas Esme sambil tertawa.


Risa yang baru mengerti juga ikut tertawa, ternyata prianya itu cemburu. Pantas saja dia tidak peduli saat Risa membahas mengenai biaya pinalty yang besar.


Drrrrttttt...... Dddrrrrtttt.....


Ponsel Risa bergetar, foto Aydin nampak pada layarnya.


Risa menerima pangilan video Aydin setelah meminta Muti untuk melanjutkan pekerjaan lain lebih dulu.


Sementara Risa bermesraan meski hanya lewat panggilan video, Esme memanfaatkan waktu dengan membaca lalu menandatagani berkas pemberian Muti.


“Halo Yang,”


“Iya Ay,”


“Kamu lagi ngapain Yang?”


“Eh, jangan cepat putus asa gitu dong Yang. Aku janji akan bantuin kamu, pelan-pelan kita akan sama-sama belajar yah,” bujuk Aydin.


Jangan sampai Risa batal pensiun dari dunia modelling, Ia tak akan sanggup melihat istrinya berlenggak lenggok di atas catwalk dan dipuji-puji oleh banyak pria.


“Ay, mengenai pinalty yang sempat kita bahas kemarin. Nominalnya sudah ada, dan seperti kataku itu sangat besar.


Aku akan coba bernegosiasi lagi dengan mereka dulu.” Ucap Risa.


“Eh, jangan sayaang. Jangan kamu yang menghubungi mereka lebih dulu. Terima saja, buat mereka percaya jika kamu menyetujui keinginan mereka.”


“Loh, tapi ini sangat besar Ay.” Ucap Risa.


“Iya aku mengerti, maksudku disini mereka sengaja memberikan jumlah pinalty yang sebesar-besarnya. Bukan untuk meraup keuntungan, tapi untuk mempertahankan kontrak kalian.”


“Jika kamu seolah menerima, maka mereka yang akan was-was. Dan sudah pasti tawaran lain akan mereka berikan untuk memperbarui kontrak.” Jelas Aydin.


Risa hanya mengangguk, dengan raut wajah yang sedang berpikir keras. Menyelaraskan pikirannya dengan penjelasan yang diberikan Aydin.


“Wah Ay, kamu sungguh pandai. Aku


sangat bangga padamu.” Pujinya.


Aydin semakin gemas melihat Risa yang bertepuk tangan dengan seyum merekah diwajahnya.


“Menggemaskan,”lirihnya.


“Ya sudah, silahkan lanjutkan pekerjaanmu sayang. Ingat malam nanti kita akan makan malam dirumah Mama Indira.”


Risa mengangguk, lalu panggilan video tersebut akhirnya berakhir.


Berakhir dengan tidak mudah tentunya, karena sebelum itu tetap ada drama “Kamu yang tutup duluan” ala Risa dan Aydin yang akhirnya terus saja menjadi bahan ledekan untuk Esme.

__ADS_1


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Braakk.


“Apa ini Eonni?” tanya Risa masih tak paham dengan setumpuk map yang di letakkan Esme di mejanya.


Setelah tadi terjadi balas membalas ledekan antara keduanya, Esme tidak langsung kembali keruangannya.


Ia berpindah tempat ke sofa yang masih di ruangan Risa lalu lanjut membaca dan menandatangani berkas pemberian Muti tadi.


“Berkas untukmu.” Jawab Esme acuh.


“Beberapa adalah proposal pengajuan event yang akan dibuat oleh Agensi. Aku menyetujui semuanya, ku pikir semakin banyak event maka agensi ini akan semakin terkenal.” Jelas Esme.


Jika dalam mode serius seperti ini, wanita yang sangat senang bercanda itu terlihat cukup menyeramkan.


Risa mengangguk setuju.


“Lalu kenapa Eonni berikan padaku?” tanya Risa.


“Karena setelah persetujuan dariku, kamulah pemutus akhirnya adikku tersayang.” Ucap Esme kesal.


Risa segera menekan intercom yang ada di mejanya.


“Mut, kemari sebentar.”


Tak butuh waktu lama, Muti muncul.


“Ada apa Miss?”


“Berkas ini sudah selesai dari Esme. Apa masih harus kembali kuperiksa?” tanya Risa.


Muti mengangguk.


“Tapi tadi katamu berkas ini untuk Esme."


Risa masih mencari celah agar Ia tak harus berurusan dengan berkas-berkas baru lagi.


“Tadi ucapanku masih koma Miss, belum titik.” Elaknya.


“Mutiiiiiiiiiiiii,” Pekik Risa.


Sementara gadis itu sudah berlari keluar dari ruangan Risa untuk menghindari kemarahan bosnya.


“Sudah, tidak perlu kesal begitu.”


“Aku ada berita bagus untukmu.” Ucap Esme.


“Hasil sidang Anggun sudah keluar, Ia tidak akan di tahan melainkan akan menjalani rehabilitasi.” Ucap Esme


membaca pesan yang baru dikirimkan sang kekasih.


“Syukurlah. Aku cukup senang mendengarnya. Bayinya tak harus mengenal lingkungan jeruji besi.” Ucap Risa.


Pikiran Risa seperti tertarik ke masa-masa dirinya dan Anggun sering bertengkar.


Saat bertengkar dengan adik tirinya itu, Risa selalu memilih untuk berlari ke rumah pohon dan menenangkan dirinya di sana.


Ia tak ingin jika emosinya lepas kendali dan dia menyakiti fisik Anggun, adik tirinya.


“Mengingat rumah pohon aku jadi kangen ingin kesana.” Gumamnya.


“Kamu ingin menemaniku Eonni?”


“Maaf, aku sibuk sayang. Lain kali aku akan pergi bersamamu.”


“Aku saja, ayo aku akan menemani kemanapun kamu mau pergi.” Ucap seorang pria yang berdiri di ambang pintu membuat senyum indah terukir dengan jelas di wajah wanita cantik itu.


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡

__ADS_1


"Janji orang yg baru pacaran: Aku bakalan terus sama kamu.(Padahal ada lanjutannya: syarat dan ketentuan berlaku.)"- Raditya Dika


__ADS_2