Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 163. Kembalilah


__ADS_3

Ketika namamu terus kusebut dalam setiap doaku, berharap Tuhan tak menutup mata atas setiap permintaanku mengenai dirimu.


Namun lama-kelamaan mengapa ragamu semakin jauh, semakin sulit untuk kusentuh.


Mengapa hatimu semakin sulit untuk kugapai, rasanya aku semakin sulit untuk merasakan hangatnya dekapmu.


Apakah kita masih bisa bersatu kembali?


Apakah kita masih bisa berdamai setelah mengalahkan ego?


Apakah kita sudah bisa mengakhiri masa perenungan yang memisahkan kita?


🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼


Hening ......


Entah siapa yang akan memulai pembicaraan lebih dulu.


Jauh di lubuk hati terdalamnya, Risa ingin sekali berhambur memeluk Aydin.


Ia ingin kembali merasakan dekapan hangat Aydin yang menenangkan, yang selalu ia rindukan mana kala dunianya sempat gelap.


Sementara Aydin, rasanya apa yang ada di dirinya ia rasa tak pantas untuk ia berikan pada wanita yang sudah sering terluka karenanya.


Beberapa menit dalam keheningan, sebelum beberapa kata terucap dari bibir Aydin.


“Maafkan aku,” ucapnya lirih.


Dengan bulir air mata yang akhir-akhir ini mudah sekali menetes dari pelupuk matanya, Aydin mendekati Risa.


Dengan berani ia genggam erat tangan wanita yang ia cintai, sama seperti beberapa saat lalu ketika dokter hendak membuka perbannya.


Penolakan dari Risa, sudah pasti.


Wanita itu berusaha melepaskan kedua tangannya dari genggaman Aydin. Pria pengecut yang sayangnya sampai saat ini masih menjadi pemilik hatinya.


“Risa ... maafkan aku ... kumohon sayang maafkan aku,” pinta Aydin dengan kepala yang ia telungkupkan di kedua tangan Risa yang ia genggam.


Ingin sekali Risa berlari, pergi sejauh mungkin dari Aydin. Ia sadar jika hatinya terlalu lemah jika sudah berurusan dengan pria ini.


Risa, sejak remaja sudah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, mental dan fisiknya sudah beberapa kali di hancurkan namun selalu masih bisa ia satukan lagi, sudah berhadapan dengan maut beberapa kali namun tetap saja dunia belum mengizinkannya pergi.


Tapi mengapa, jika berurusan dengan pria berstatus duda di hadapannya kini, pria yang tak lain adalah mantan suami sahabatnya, pria pengecut yang sudah menyia-nyiakan cintanya berkali-kali, mengapa Risa selalu selemah ini.


“Aku sudah memaafkanmu, pergilah.”


Bagai tersayat belati, hati Aydin perih mendengar ucapan Risa baru saja.


Terakhir kali, masih Aydin ingat kebodohannya saat ia meminta Risa pergi dengan dalih sebuah pengorbanan.

__ADS_1


Ternyata rasanya sesakit ini, pasti jauh lebih sakit saat aku yang memintanya pergi, batin Aydin.


Aydin menggeleng, “Tidak sayang, aku tak akan ke mana pun. Tidak kali ini dan seterusnya, aku akan bertahan di sisimu. Meski itu artinya aku harus merasakan sakitnya menghadapi penolakan darimu,” balas Aydin tanpa ragu.


“Cih,” Risa berdecih.


Wanita itu lantas membuang arah pandangannya, ia menatap awan yang tiba-tiba saja berubah mendung, seperti langit bisa membaca suasana hatinya saat ini.


“Jangan kira aku sudah melupakan semua janjimu Aydin, janji yang tidak kamu tepati,” sambungnya.


Aydin lalu mengalihkan pandangannya yang semula menunduk, kini dengan mantap ia menatap kedua manik mata Risa.


Air matanya kembali luruh, menatap netra Risa membuatnya mengingat sahabatnya yang baru saja ia antarkan ke peristirahatan terakhir.


“Tapi kali ini aku akan benar-benar menepati janjiku. Percayalah sayang,” pinta Aydin masih dengan air mata yang terus mengalir tanpa bisa ia hentikan.


“Untuk alasan apa lagi aku harus percaya padamu? Dafha? Kirani?” Tanya Risa, “Kamu tahu Aydin, aku sudah lelah ... aku hanya ingin hidupku tenang.”


Saat ini, Risa benar-benar menyayangkan dirinya yang belum bisa kembali berjalan dengan baik. Ingin sekali ia kini berlari pergi menjauh, meninggalkan Aydin sebab air mata pria itu yang bisa saja meluluhkannya.


Aku lemah, aku tak sanggup melihatmu bersedih hingga harus menangis, batin Risa.


“Risa, sayang, aku menyadari semua kesalahanku, aku memang bodoh sayang. Aku salah sebab tak bisa mengambil keputusan yang terbaik, aku salah sebab egois mementingkan kebahagiaan diriku sendiri, aku pengecut sebab mengorbankan perasaanmu hanya karena kekhawatiranku yang berlebihan,” ungkap Aydin.


“Tapi sayang, aku bersumpah selama ini hatiku tak pernah ragu mencintaimu begitu dalam. Jujur saja, aku juga sangat tersiksa berpisah denganmu,” lanjut Aydin.


Dengan berani, Aydin membelai lembut pipi Risa. Dengan perlahan ia arahkan kembali wajah cantik itu agar bisa menatapnya.


“Risa, aku mohon tatap aku. Apa diriku masih memiliki arti bagimu? Kita sudah melalui banyak hal sayang, kita sudah meninggalkan, mencampakan, melukai,” ucap Aydin.


“Terlepas dari itu semua, terlepas dari kenangan buruk itu, apakah aku masih tetap ada di hatimu? Jika hari esok tak akan ada lagi, maukah kamu mengakui jika aku masih berarti untukmu?” cecar Aydin.


Risa tak bergeming. Wanita itu memejamkan kedua matanya, bukan sebab tak ingin menatap Aydin, hanya saja ia ingin meresapi setiap pertanyaan Aydin.


Jika ia menjawab dengan menatap wajah tampan pria yang sejak tadi memanggilnya ‘sayang’ dengan begitu mesra, maka sudah pasti dengan mudah Risa akan membenarkan semua pertanyaan pria itu.


Kamu, hanya dirimu yang selalu ada di hati ini dan sangat berarti bagiku, batin Risa.


Melihat Risa yang tak menjawab sepatah kata pun, Aydin mulai khawatir.


Bagaimana jika aku salah? Bagaimana jika Risa benar-benar sudah tak mencintaiku lagi? Batin Aydin


Di tengah-tengah kegelisahannya, ia genggam tangan Risa dengan erat. Sesekali Aydin mengecup lembut punggung tangan Risa yang tampak pucat.


“Sayang, kita berdua sudah pernah saling membohongi tapi kita berdua mampu untuk kembali saling percaya, bukan?”


“Sayang, kita berdua sudah berkali-kali saling menyakiti tapi kita berdua mampu untuk saling memaafkan, bukan?”


“Sayang, kita berdua sudah saling mematahkan hati tapi kita masih bisa kembali saling mencintai, bukan?”

__ADS_1


Aydin terus memberondong Risa dengan pertanyaan yang ia harap mampu meruntuhkan tembok yang sengaja Risa bangun di antara keduanya.


Aydin ingin masuk kembali ke hati Risa, dan meyakinkan wanitanya jika kali ini dia benar-benar tak akan mengecewakan Risa lagi.


“Sayang, aku mohon ... berjuanglah untuk hubungan kita sekali lagi, bukankah kita sudah melalui masa di mana kita tersiksa untuk melepaskan?”


“Sayang, aku mohon ... bertahanlah selama aku berusaha untuk memperjuangkanmu kembali.”


“Sayang, aku mohon ... izinkan aku kembali menjadi tempat teraman bagimu, izinkan aku meyakinkanmu jika hanya aku satu-satunya pria yang bisa bersemayam di hatimu,” ucap Aydin.


“Jikalau kamu butuh kepastian, kamu tahu sayang sejak dulu aku sudah siap, bukan hanya aku tapi kita sudah siap sayang.”


“Jikalau kamu meminta aku menunggu, percayalah akan kulakukan selama yang kamu minta, sebab selamanya aku tak akan sanggup untuk menyatakan jika aku menyerah atau aku sudah lelah.”


“Aku menyadari diriku bahkan tak punya waktu untuk merindukan orang lain selain kamu. Aku yang tak pernah menemukan kenyamanan, melebihi rasa nyaman saat berada dalam dekapmu. Aku bahkan sudah banyak mematahkan hati yang lain, sebab aku tak memiliki hati lagi yang bisa kutawarkan. Semuanya sudah kamu miliki sayang,” ungkapnya.


“Hanya kamu sayang, aku mencintaimu sejak lama, saat ini pun masih mencintaimu, dan sampai kapan pun aku masih tetap akan mencintaimu.”


“Bagaimana? Maukah kamu kembali bersama denganku? Meski sulit dan kutahu tak akan mudah untuk sama seperti dulu lagi,” tanya Aydin.


Setelah mengungkapkan banyak hal, mengatakan semua isi hatinya, Aydin sangat berharap jika Risa berbesar hati untuk menyambut kembali cintanya.


Risa menggeleng, tanpa ada satu kata pun terucap dari bibir pucatnya.


Namun Aydin belum ingin menyerah, “Jika belum bisa yakin sekarang, cukup izinkan aku tinggal di sisimu. Beri aku waktu untuk membuktikan semua ucapanku,” pinta Aydin dengan memelas.


Sekali lagi Risa menggeleng. “Akan butuh waktu yang lama untuk meyakinkanku kembali Ay, aku tak ingin kamu mengacaukan hidupmu hanya untuk wanita cacat sepertiku,” balas Risa.


“Ingatlah ada Dafha yang membutuhkan perhatianmu, ada ratusan karyawan yang bergantung pada perusahaanmu,” sambungnya.


“Sayang, Dafha juga membutuhkanmu. Dia butuh mama Risa-nya. Perusahaan ada Chandra dan Franda yang akan membantuku,” jelas Aydin.


Tak ingin berlama-lama lagi menunggu, tak ingin semua ucapannya sia-sia.


“Aku sudah memutuskan untuk tetap tinggal meski kamu mengusirku. Aku sudah memutuskan untuk mendapatkan hatimu kembali,” putus Aydin pada akhirnya.


Dengan sisa-sisa keberanian yang ia punya, perlahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah Risa, dan ketika kedua netra mereka bertemu Aydin akhirnya mengecup bibir pucat wanitanya.


Lama kedua benda kenyal itu menempel, sebelum akhirnya Aydin lepaskan tautannya sebab tak mendapat respon dari lawannya.


Pria itu lalu menggantinya dengan sebuah pelukan hangat. Dekapan penuh kerinduan, dekapan penuh harap.


Lama hingga akhirnya Aydin mendengar suara isakan tangis wanita yang kini ada dalam dekapnya. Punggungnya yang bergetar pun bisa Aydin rasakan. Pria ini tahu jika Risa juga masih memiliki perasaan yang sama, hanya saja ia butuh diyakinkan.


Dengan lembut, Aydin terus mendekap Risa. Sesekali ia membelai surai lembut juga punggung milik wanitanya, agar Risa merasa lebih tenang.


Dalam diamnya, Aydin telah bertekad.


Aku berjanji akan menjadi pemimpin dalam hidupmu, dan akan kumulai dari hari ini. Aku mengambil keputusan untuk tetap tinggal dan meyakinkanmu, jika kita berdua memang sudah ditakdirkan untuk bersama. Dengan atau tanpa adanya amanat dari Kirani maupun Eijaz, batin Aydin sambil terus mengeratkan pelukannya yang tak berbalas.

__ADS_1


🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌸🌼🌸🌼


__ADS_2