
Katakan Aydin sudah kehilangan kewarasannya. Yang Ia tahu , wanita didekapannya ini telah mengganggu pikirannya sejak semalam .
Dan kini dia sendiri yang datang pada Aydin .
" Baiklah Kim Risa , ayo kita cari tahu apa yang terjadi padaku . "
Batin Aydin lalu mulai mendekatkan wajahnya pada wajah cantik di hadapannya kini .
Risa mematung tatkala benda kenyal milik Aydin bertemu dengan miliknya yang hanya berlapiskan liptint rasa strawberry .
Aydin awalnya hanya menempelkan bibirnya saja . Tidak ada pergerakan yang Ia lakukan .
Ia memeriksa bagaimana perasaannya . Tidak ada sedikitpun perintah untuk berhenti .
Tak ada penolakan dari Risa . Sekilas Aydin melihat Risa memejamkan matanya , membuat Aydin semakin berani melanjutkan aksinya .
Salah satu tangannya kini beralih menahan tengkuk Risa agar wanita itu tidak bisa berubah pikiran lagi . Setelah itu Aydin mulai melancarkan aksinya . Peraduan tak terhindarkan lagi , suara cecapan benda kenyal yang beradu bagaikan lantunan melodi yang memabukkan keduanya .
Kepala keduanya bergantian ke kiri dan kanan , mencari posisi pas saat masing masing sibuk saling membelit dan mengabsen benda benda di dalam rongga mulut masing masing .
Hawa panas menjalar di tubuh Aydin . Sudah cukup lama namun tak ada tanda tanda Aydin akan menyudahi kegiatannya . Kaki Risa mulai terasa seperti jelly , tak membuat Aydin berniat berhenti .
Rasa strawberry sungguh membuatnya lupa diri . Aydin mendorong tubuh Risa perlahan hingga bersandar di dinding tanpa melepas tautan keduanya .
Aydin baru melepaskan tautan mereka saat dirasa keduanya butuh tambahan oksigen . Wajah risa merona , Aydin bisa melihat itu . Aydin menempelkan kening mereka . Keduanya bisa merasakan hembusan napas masing masing yang semakin berat .
" Sepertinya kau tak mengingat apa yang ku katakan soal pria jika melihat yang seperti ini . " Bisik Adit dengan suara serak sambil tangannya yang tadi ditengkuk Risa kini menjelajahi lembut leher dan pundak terbuka Risa .
Risa memejamkan kembali matanya . Sungguh luar biasa sensasi yang Ia rasakan . Tangannya kini mulai bermain di dada bidang Aydin dari luar kemejanya .
Apalagi saat Aydin mulai beralih ke leher jenjang Risa, mengecup beberapa kali , bermain disana , hingga menggigit pelan .
Anehnya bukan rasa sakit yang Risa rasakan . Risa kesulitan menahan perasaan yang membuncah akibat perbuatan Aydin .
" Aaaahhh.... " beberapa kali suara aneh keluar tanpa diperintah oleh Risa tatkala Aydin mengabsen tiap inci dari leher hingga ke pundak Risa .
Aydin menghentikan aksinya . Ada sesuatu yang ingin Ia tahu sebelum Ia kembali melanjutkan aksinya .
" Semalam kamu dimana ? " tanyanya .
" Hah ? Maksudmu ? " Risa mengumpulkan dulu kesadarannya .
" Ku tanya , semalam apa kamu makan malam di apartemen ? " tanya Aydin sekali lagi .
" Hemm .. semalam aku makan malam di luar bersama teman . " jawab Risa jujur .
Aydin menjauhkan satu tangannya yang tadi menangkup pipi Risa lalu mengepalkannya kuat.
" Apa dia Pria ? Giovanni Ezra ? " Aydin memastikan .
" Kamu mengenalnya ? " Risa bertanya balik .
Pertanyaan Risa sudah cukup memberi jawaban bagi Aydin .
Pria itu melepaskan rengkuhannya pada pinggang Risa lalu mundur , menjauhi Risa .
" Shiiiit.... " Teriaknya sambil mengayunkan tinjunya ke udara .
Risa menatap Aydin tak mengerti .
" Apa kamu baru saja mengumpat padaku ? " tanya Risa .
Aydin kembali merapatkan tubuhnya pada Risa . Dia bahkan tak tahu perasaan apa yang Ia rasakan saat tahu jika wanita semalam memang Risa sesuai dugaannya .
Matanya menatap tajam Risa , ingin sekali Ia marah pada wanita ini . Namun matanya melirik ke arah leher dan pundak Risa , ada beberapa jejak yang Ia buat .
Aydin membuka jasnya lalu memakaikannya pada Risa .
" Harus berapa jasku yang kamu pakai baru kamu akan berhenti membuat pria lain mengagumi tubuhmu . " Ujar Aydin .
Setelah berkata itu , Aydin keluar dari ruang pribadinya . Ia mengambil sebotol air mineral dari minibar yang ada di ruangannya . Meneguknya sampai habis .
Jika tadi darahnya terbakar karena hasrat , kini rasanya darahnya mendidih saat tahu Risa bersama Gio semalam .
\------- Flashback beberapa saat yang lalu ----------
__ADS_1
Tanpa mereka tahu , Franda yang tadinya sudah kembali ke ruang meeting merasa gelisah .
" Apa yang mungkin mereka lakukan berdua didalam ? Walaupun ada Dafha , tapi sepertinya bocah itu sedang tidur . " Batin Franda .
" Bu Franda ... bukankah yang bersama Pak Aydin tadi adalah Kim Risa ? Model dari Korea . " tanya salah satu karyawan di ruang meeting .
" Kim Risa ? " ulang Franda .
" Iya Bu . Dari berita , model itu sedang ada kerja sama dengan stars academy . " jelas yang lain .
Franda akhirnya membubarkan meeting lalu masuk kembali ke ruangan Aydin .
Dengan ragu dan mengendap ngendap , Franda mencoba mendorong pintu ruang pribadi Aydin yang ternyata tidak di kunci . Pintu baru sedikit terbuka dan yang terdengar adalah suarah dari seorang wanita yang sedang merasakan kenikmatan dunia .
Air mara menetes membasahi wajah Franda .
" Mengapa setelah bertahun tahun akhirnya aku punya kesempatan , tapi mengapa ada saja yang menghalangi . "
Batin Franda .
Tak kuat mendengar \*\*\*\*\*\*\* yang menyakitkan , Franda berlari keluar dari ruang kerja Aydin . Bersamaan dengan Chandra yang akan membuka pintu .
Franda tak menjawab hanya mengangguk . Chandra bisa melihat ada bulir air mata di mata Franda.
Chandra membuka pintu namun tak ada siapapun di sana . Matanya tertuju pada pintu ruang pribadi bosnya .
" Apa mungkin ? " Chandra membayangkan yang iya iya mungkin sedang terjadi antara bosnya dan model itu .
Lamunan Chandra terhenti karena ada suara yang memanggil manggil namanya .
" Hei.... hello ... hei .... hello ... "
" Pak.. Pak.. Pak Chandra ... "
Esme sampai harus menaikkan volume suaranya untuk menyadarkan sekertaris Aydin .
" Jadi dimana Risa ? Apa mereka ada di dalam ? " tanya Esme .
Chandra mengangguk . " Tapi sepertinya mereka membahas sesuatu yang penting . "
__ADS_1
" Sebaiknya kita menunggu di ruanganku saja . " Ajaknya sambil mendorong tubuh Esme keluar menuju ruangannya .
\-------- Flashback Off ---------
" Pria aneh .... enak saja sudah ku tolong putranya tapi masih bersikap seenaknya saja ." Batin Risa .
" Apa apaan dia meninggalkanku setelah apa yang terjadi . " gerutu Risa .
Apalagi Ia melirik pundaknya yang terdapat beberapa jejak Aydin disana .
Setelah merapikan jas Aydin yang Ia pakai , Risa keluar menyusul Aydin .
Ia duduk di Sofa dengan kasar .
Aydin mengernyit melihat tingkah menggemaskan Risa .
" Jadi apa tadi yang kamu tanyakan ? Aku lupa . " tanya Risa .
Aydin mengulang pertanyaannya pada Risa mengenai Dafha yang bersamanya .
Risa akhirnya menceritakan pada Aydin skenario yang sudah Ia buat bersama Esme dan Dafha .
Aydin tak bertanya lagi , sepertinya dia percaya .
" Lalu , apa yang kamu lakukan bersama Gio semalam ? " tanya Aydin selanjutnya .
" Dinner . " jawabnya singkat .
Aydin mengepalkan tangannya . " Sedekat apa hubunganmu dengannya hingga dinner berdua ? "
" Hemm ... hubungan pertemanan yang berawal dari rekan bisnis . " ujar Risa .
" Cihhh...... " Aydin berdecih . Entah hatinya semakin mendidih melihat Risa santai menjawab semua pertanyaannya tentang Gio .
Risa merasa aneh dengan sikap Aydin . Ia berdiri dan memilih berkeliling ruangan Aydin .
Ia berdiri menghadap dinding kaca dan menatap lurus ke depan . Ternyata Esme bernar , jika perusahaan Aydin berhadapan tepat dengan apartemennya .
Setelah itu , Risa beralih ke sebuah dinding yang terpajang banyak penghargaan . Dari banyaknya penghargaan di sana , tatapannya terkunci pada sebuah gambar sketsa yang terbingkai .
" Aydin .... " panggilnya .
Aydin mendekat. " Hemm ...? "
" Gambar itu , dari mana kamu mendapatkannya ? " tanya Risa .
" Kenapa ? Baguskan gambarnya . Aku suka arti kata Ohana yang tertulis di sana . " ujar Aydin .
" Keluarga . " ujarnya bersamaan .
Kedua mata itu seketika saling pandang . Mata Risa yang berkaca - kaca dan Mata Aydin yang penuh tanda tanya .
.
.
.
.
.
"Bahkan perasaan paling hebat pun berhenti ketika diabaikan dan diterima begitu saja."
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue