Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 151. Cahaya untuk Risa


__ADS_3

Antara cahaya dan kegelapan adalah dua sisi yang tak bisa dipisahkan.


Sama halnya kehidupan manusia yang selalu memiliki dua sisi yang berbeda namun selalu saling berkaitan.


Tak ada salahnya jika merasakan takut dalam kegelapan, tapi jika memilih menyerah dan tak melewati kegelapan itu, maka jangan berharap untuk pernah menemukan cahaya yang kau cari.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


# Risa POV #


“Aku dimana?” Pertanyaan pertama yang jawabannya sangat ingin ku ketahui saat ini.


“Apa aku di Rumah sakit?” Batinku kembali bertanya.


Yang kuingat terakhir kali, saat itu aku hendak pulang ke tempat penyewaan sepeda, namun tiba-tiba.......


“Astaga,” pekikku.


“Yah aku ingat sekarang, aku mengalami kecelakaan,” gumamku.


“Lantas sekarang aku ada di mana?” batinku kembali bertanya-tanya.


Gelap dan hening, aku bahkan tak bisa melihat seberkas cahaya apapun.


“Brisa, kenapa melamun Nak?” tanya seorang wanita, mengejutkanku.


“Bunda? Benarkah itu Bunda?” tanyaku kembali.


Aku bertanya sebab di sini sangat gelap aku tak melihat sosok Bunda berada di mana, namun jelas sekali ku dengar suara tak asing itu.


“Bunda di sini sayang,” jawabnya.


Aku bisa merasakan tangan hangat Bunda yang membelai pipiku.


“Bunda, kenapa disini gelap sekali? aku ingin melihat Bunda, Aku rindu.” Ucapku sudah mulai terisak.


Tapi... Tapi.... Ada satu hal yang baru kusadari.


Suaraku? Mengapa suaraku seperti suara anak kecil? Seperti suara Brisa kecil.


Belum sempat pikiranku usai mengenai suaraku yang berubah, Bunda mengejutkanku dengan mendekapku erat.


“Memangnya apa yang salah dengan gelap? Kamu tahu Bri, untuk melihat tak selamanya hanya dengan mata. Melihat juga bisa kau lakukan dengan telinga dan hatimu. Kadang sesuatu yang bisa terlihat oleh hatimu , adalah sesuatu yang lebih tulus yang tak bisa dilihat oleh matamu.”


Ucapan Bunda baru saja, sungguh menyentuh hatiku. Benar kata Bunda, akupun seperti merasakannya.


⚘⚘


Belum cukup waktuku untuk memikirkan ucapan Bunda, samar-samar terdengar suara seorang pria yang berteriak dengan kasar memanggil namaku,


“Brisa.... Hei anak bodoh mengapa diam saja?” bentaknya.


Tak perlu aku melihatnya, dari suaranya saja aku tahu jika dia adalah ayahku, Ferdinand.


Kupalingkan wajahku, tak ingin menatap dirinya. Meski tanpa berpalingpun aku tak akan bisa melihatnya di tengah-tengah kegelapan seperti saat ini.


Lalu tiba-tiba saja, Ayah mencengkram pipiku hingga aku meringis menahan sakit.


“Hei anak pembawa sial, jangan pikir kau sudah menang melawanku hah.... Anak durhaka, berani-beraninya memenjarakanku. Sekarang lihat, inilah akibatnya jika kau menentang ayahmu. Sekarang nikmatilah kegelapan dalam hidupmu,” ucap Ayah diikuti dengan gelak tawanya yang menggelegar.


Air mataku sudah tak terbendung lagi.

__ADS_1


Rasa panas di netraku tak tertahankan lagi.


Aku, aku akhirnya menangis, menahan sakit cengkraman ayah di pipiku, dan juga sakit di hatiku mendengar sumpah serapah seorang ayah kandung teruntuk putri kandungnya.


⚘⚘


Masih di tengah-tengah isakanku, tiba-tiba saja ada lengan kekar yang menarikku ke dalam dekapan hangatnya.


“Sayang, mengapa menangis?” tanyanya lembut.


Segera kuhapus air mataku, “Aydin? Benarkah itu kamu Ay?”


Tanpa menjawab, kurasakan sebuah kecupan mendarat dikeningku. Dan setelah sekian lama bertahan dalam kegelapan ini, barulah saat ini aku merasa tak nyaman.


Aku merindukannya, aku ingin menatap wajah tampannya, dan aku, aku, aku tak ingin berada jauh darinya lagi.


“Ay, bagaimana bisa kamu tahu aku di sini? Apa kamu mencariku? Atau kamu selama ini mengikutiku?” tanyaku.


Satu hal yang akhirnya baru kusadari, suaraku sudah kembali lagi. Tak ada lagi suara Brisa kecil.


“Aku hanya mengikuti kemana hatiku menuntunku. Meski kita terpisah raga, aku yakin hatimu tahu, hatimu bisa melihat betapa aku mencintaimu, dan akan selalu berada di sini,” ucapnya sambil meletakkan telapak tanganku tepat di dadaku.


Aku memejamkan mataku, mencoba mencari kebenaran ucapan Aydin. Dan ternyata pria itu benar, meski tak melihatnya namun aku bisa menemukan rasa cintaku yang teramat besar untuknya.


Segera kubuka kembali netraku, saat merasa dekapan tangan Aydin perlahan-lahan mengendur, dan berakhir dengan sebuah kecupan di pipi kanan dan juga keningku.


Aku menunduk merona, lalu sebuah kecupan di pipi kiriku membuatku kembali duduk dengan tegap.


“I love you Mama Risa. “


Dafha, itu suara dan kecupan dari Dafha.


Aku kembali mengutuk kegelapan ini, “Ay Dafha kalian masih di sini?”


“Apa kalian berdua juga akhirnya akan pergi?” lirihku


“Apa hanya aku yang akan bertahan di tempat gelap ini? Sendiri?” lanjutku berusaha terus menahan air mata yang ingin tumpah.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


# Author POV #


Sebulan telah berlalu sejak kejadian naas hari itu.


Seorang wanita cantik, yang masih setia memejamkan matanya selama satu bulan terakhir ini, sungguh membuat hati siapapun yang menyanyanginya menjadi pilu.


Brisa Elzavira, atau yang dunia kenal dengan nama Kim Risa.


Siapa yang menyangka, jika pelariannya yang sangat jauh untuk menenangkan diri kini benar-benar terwujud.


Risa benar-benar terlihat tenang dan damai dalam tidur panjangnya setelah mengalami kecelakaan satu bulan yang lalu.


Tepat di hari yang seharusnya menjadi hari terbahagia di hidupnya, namun yang terjadi dia malah menjadi korban tabrakan dengan sebuah mobil.


Dan tepat di hari itu pula adalah hari terakhir bagi Eomma Martha dan Appa Kim melihat senyumnya yang selalu Ia paksakan.


Kenyataan pahit yang harus diterima oleh pasangan paruh baya yang menjadi orang tua angkatnya adalah jika akibat kecelakaan yang cukup parah, Risa mengalami benturan di kepalanya yang membuatnya masih koma hingga saat ini.


Satu lagi kenyataan buruk yang harus keluarganya hadapi, jika kemungkinan saat sadar nanti Risa akan kesulitan untuk berjalan sebab cedera pada kakinya.


Eomma Martha menangis sejadi-jadinya, Ia menyalahkan dirinya yang tak bisa menjaga wanita malang itu.

__ADS_1


“Tuhan jika boleh, ku mohon izinkan aku menggantikan wanita malang itu. Aku sungguh tak sanggup melihatnya terus bersedih saat nanti Ia kembali membuka matanya,” batinnya berdoa.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


“Kak Risa, apakah tidurmu senyaman itu?” ucap Anggun yang saat ini sedang membersihkan tubuh kakak tirinya dengan kain yang sudah Ia basahi dengan air hangat.


“Katamu, kau rindu ingin melihat Rian? Sekarang Rian sudah datang untuk menemui aunty cantiknya. Jadi bangunlah Kak, buka matamu..... Aku mohon,” ucapan Anggun terdengar sangat pilu dan penuh pengharapan.


Sebulan yang lalu, saat berita kecelakaan Risa sampai di keluarga yang berada di Indonesia, saat itu juga Amora, Gio, Esme, Echa, Anggun serta putranya Rian, segera bertandang ke Amsterdam.


Anggun dan putranya yang belum beusia 1 tahun, akhirnya memilih tetap tinggal untuk membantu merawat dan menunggui Risa.


Sedang yang lainnya harus kembali ke Indonesia setelah 1 minggu berada di Amsterdam, berharap ada kemajuan dari kondisi Risa yang sayangnya ada tanda-tanda akan segera terwujud.


⚘⚘⚘⚘⚘


Sementara di Indonesia, setelah hampir 3 minggu menunggu, semua pengurusan dokumen untuk keberangkatan Eijaz akhirnya selesai.


Aydin dan Eijaz juga kini sudah berdamai atas bantuan Franda. Meski sikap keduanya belum kembali seperti semula, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, kedua pria ini sangat saling menyayangi.


Di sebuah lounge, keduanya kini duduk berhadapan didampingi oleh masing-masing asisten mereka, Romi dan Chandra.


“Besok aku akan berangkat ke Amsterdam,” ucap Eijaz.


Ia meletakkan tiket dan juga paspornya ke atas meja.


Aydin hanya melirik lalu tersenyum, “Kau ingin pamer?”


“Aku pria yang memegang janjiku Eijaz, kau tahu itu,” balas Aydin.


“Janji pada siapa? Bundaku maksudmu?” tanya Eijaz.


Pria itu tertawa, tertawa terbahak-bahak.


“Jangan kira aku akan kagum padamu, atau terharu karena pengorbananmu,” ujarnya.


“Kau tahu Aydin, bersama atau tidak bersama Brisa, baik aku ataupun kau akan tetap meninggalkan dunia ini pada akhirnya,”


“Tuhan berlaku adil padaku, memberiku usia yang singkat namun Ia pula memberiku kebahagiaan karena bisa mencintai Brisa,”


“Aku bahagia Aydin, hanya dengan mencintainya aku bahagia,” ulang Eijaz sekali lagi. Berharap Aydin mengerti tujuannya.


“Dan kurang baik apa lagi Tuhan padaku, Ia semakin membuatku bersyukur atas hidupku yang singkat. Dengan waktu yang terbatas, aku merasa lebih hidup, aku bahagia dan bebas mencintai Brisa. Sedang kau, lihat dirimu sendiri, kau memiliki kesempatan yang lebih banyak dariku, tapi kau tak menghargai kesempatan itu, kau menyiksa dirimu sendiri dengan berpura-pura sebagai pahlawan, kau sakiti orang-orang yang menyanyangimu demi tindan impulsif seorang Ibu ,” lanjut Eijaz.


“Stop Eijaz, meski kau adalah sahabat yang sudah kuanggap saudaraku, tapi kau tak berhak mengomentari hidupku,”ucap Aydin.


“Kau tak pernah berada di posisiku. Kau tak pernah merasa menyesal karena kehilangan orang yang kau sayangi, aku paham perasaan Bunda Nadine hingga Ia melakukan hal yang kau sebut impulsif, itu karena kau tak tahu rasanya,” lanjut Aydin.


Sementara Eijaz kini malah tersenyum, “Kau bodoh Aydin, kau sungguh bodoh,” ujarnya.


“Entah apa kehebatanmu hingga kau berpikir jika kepergiaan seseorang dari dunia ini adalah kesalahanmu. Kau bodoh Aydin, menyesali sesuatu yang sudah dipastikan akan terjadi bahkan sebelum kau terlahir di dunia ini,”


“Kau tahu bagaimana sakitnya kehilangan, tapi kau tetap saja melakukan hal yang sama, kau biarkan dirimu sekali lagi kehilangan orang yang kau cintai,” lanjutnya.


Aydin tak membalas lagi, Ia pun berpikir hal yang sama dengan Eijaz. Namun dirinya masih memiliki ikatan dengan penyesalan di masa lalu yang belum benar-benar terlepas. Pria itu kembali memalingkan wajahnya ke arah lain, tak ingin Eijaz menangkap keraguan di netranya.


Eijaz kembali meletakkan sebuah amplop putih ke atas meja, “Itu adalah tiket dan VISA milikmu Aydin, tujuannya sama- sama ke Amsterdam,” ujarnya.


Aydin mengernyitkan keningnya.


“Pilihlah, kau atau aku yang akan pergi?” lanjutnya.

__ADS_1


⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘


__ADS_2