
Apakah akhirnya kamu puas dengan keputusanmu?
Keputusan kejam yang sudah mengadu perasaanku dengan waktu.
Haruskah ku percaya jika semuanya hanya karena kamu berusaha meyakinkan dirimu?
Atau ini hanya caramu untuk menjadi terbiasa tanpaku?
Hingga saat mentalmu siap, saat itulah yang akan kamu jadikan waktu yang tepat untuk berpisah.
Tanpa peduli bagaimana perasaanku tersiksa oleh waktu saat berharap kamu akan kembali.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
"Aku mohon maafkan aku, karena ketulusan itu yang masih membuatku ragu. Aku minta maaf.” Ucap Aydin.
Dan tangisan itupun pecah sekali lagi. “Apa ini akhirnya?” meski tak ingin menanyakan hal ini, tapi pertanyaan itu terlontar begitu saja.
“Entahlah, kupikir kita butuh waktu untuk memikirkan ini semua sekali lagi.”
“Istirahatlah, aku pergi dulu.”
Risa hanya bisa menatap Aydin yang selangkah demi selangkah menjauh darinya.
Hingga pria yang telah memiliki seluruh rasa cinta miliknya, akhirnya hilang di balik pintu.
Perdebatan sepasang kekasih tak terelakkan lagi.
Kali ini sepertinya ego sedang berpesta merayakan kemenangannya.
Yah, ego menang telak.
Ego berhasil mengaburkan rasa cinta yang ada di hati Aydin dan Risa.
Ego berhasil mengendalikan logika keduanya, yang sama-sama ingin melindungi diri dari perasaan terluka.
Terdengar jelas tangisan Risa yang pecah, menggema di dalam ruang perawatannya.
Bahkan wanita itu tak menghiraukan lagi jika kini, selang infusnya tak lagi mengalirkan cairan ke tubuhnya karena terhambat oleh darahnya yang naik ke selang infus akibat banyak bergerak.
Sementara Aydin, dengan langkah berat dan kepala yang terus menunduk berjalan ke arah parkiran mobilnya dan hendak pergi meninggalkan rumah sakit.
Tanpa Aydin atau Risa sadari, perdebatan keduanya ternyata didengar oleh Esme.
Yah, Esme sengaja kembali ke rumah sakit karena khawatir jika Aydin belum kembali dan Risa masih bersama Chandra.
Ia yakin adik angkatnya itu akan merasa canggung meminta tolong pada Chandra untuk beberapa hal, itulah sebabnya Ia kembali.
Namun suatu kejutan saat sampai, Esme malah mendapati Risa dan Aydin yang tengah berdebat.
Awalnya Ia pikir mereka berdebat mengenai Aydin yang sempat tidak bisa dihubungi, hingga Esme samar-samar mendengar ada nama Kirani disebut-sebut.
“Apa mereka bertengkar karena Aydin sudah mengetahui semuanya?” batin Esme.
Dan perdebatan mereka kala itu menjawab pertanyaan Esme.
⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘
Meski sempat ragu, akhirnya Esme memilih mengejar Aydin.
Walau tak yakin akan berhasil tetapi tak ada salahnya Ia mencoba.
Esme menatap ke kanan dan kiri bergantian, seraya netranya Ia pekerjakan ekstra untuk mencari di mana pria yang sedang Ia cari.
“Aydin,” teriak Esme.
Mendengar namanya dipanggil, Aydin lantas berbalik ke sumber suara.
Ada rasa lega dan khawatir secara bersamaan.
Lega karena Esme ada di sini, itu artinya Risa tak akan sendiri. Juga ada rasa khawatir jika ternyata Esme mengetahui pertengkarannya dan Risa.
“Esme, kau di sini.” Ucapan Aydin saat menyambut Esme yang kini sedang mengatur napasnya setelah berlari mengejarnya.
__ADS_1
“Yah, sebenarnya sudah sejak tadi. Namun sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat.” Balas Esme.
Ia sengaja memancing Aydin agar pria itu mau berterus terang padanya.
“Heeeemmm,” Aydin hanya berdeham.
Membuat Esme mengernyitkan alisnya.
“Baguslah jika kau sudah datang, artinya aku bisa tenang karena ada yang menemani dan menjaga Risa “ sambungnya.
“Mengapa bukan kau yang melakukannya? Menjaga Risa bukannya itu sudah jadi kewajibanmu sebagai calon suaminya?” Ujar Esme.
“Beberapa hari yang lalu, aku malah mengkhawatirkanmu. Ku pikir kau akan mati karena terlalu mencemaskan kondisi adikku.” Sambungnya.
Esme tak berniat menghakimi Aydin.
Sejak langkah pertama Ia mengejar Aydin, sudah Ia putuskan tak akan memojokkan pria itu.
Ia hanya ingin agar Aydin sadar jika keputusannya untuk pergi saat ini sangat tidak pas dengan kondisi Risa yang tentu sangat membutuhkan dirinya.
Aydin tersenyum, namun bukan senyum mempesona seperti biasanya.
Senyumannya kini adalah senyuman miris.
“Yah begitulah. Tapi ku rasa sebentar lagi aku benar-benar akan mati.” Balas Aydin.
Esme menatapnya seakan bertanya apa alasan Aydin berkata demikian.
“Jangan berpura-pura tak tahu. Ku yakin kau pasti mengetahui semuanya. Sebanyak apa perdebatan kami yang kau dengar?”
“Cukup untuk memberiku alasan bersusah payah mengejarmu” Jawab Esme jujur, merasa tak perlu berpura-pura lagi.
“Apa yang kau mau? Apa kau berharap aku memaafkan Risa? Tak perlu meminta jika itu, Aku sudah memaafkannya.” Ucap Aydin.
Keduanya kini sudah terlibat pembicaraan yang serius, hingga tak menyadari jika kini mereka sedang berada di parkiran mobil.
“Lantas apa alasanmu pergi? Harusnya kau bisa lihat di mana kalian berada saat ini, bagaimana kondisi Risa saat ini, apa pantas kau untuk meninggalkannya?” cecar Esme.
Niat untuk tak terpancing emosi sepertinya sangat sulit untuk Ia lakukan, jika hal itu sudah menyangkut perasaan Risa,adiknya.
Yah, pria itu akhirnya mengungkap apa yang Ia rasakan.
“Aku bisa melihat Aydin, bagaimana kecewanya dirimu karena merasa dibohongi. Aku juga bisa melihat bagaimana khawatirnya dirimu akan perasaan Risa padamu yang sebenarnya. “ Ujar Esme.
“Tapi tak bisakah kau percaya pada Risa? Jika tidak bisa percaya pada ucapannya, maka lapangkankah hatimu, rasakan ketulusannya, kasih sayangnya, selama ini padamu dan juga putramu.” Sambungnya.
“Haruskah kau selalu pergi setiap kali kalian menghadapi masalah? Begitukah caramu menjadi dewasa Aydin, dengan menghindari masalah?”
Kekesalan mulai merajalela di hati Esme.
Kesal karena pria yang sudah berstatus duda di hadapannya, kembali melakukan hal yang bodoh.
“Meski kau kakak angkatnya Risa, kau tidak berhak menilai caraku menyelesaikan masalah.” Balas Aydin tak terima dengan ucapan menohok Esme.
“Masalah ini adalah masalahku bersama Risa. Keputusan ini juga adalah keputusan kami berdua. Jadi kau tak perlu menceramahiku.” Tegas Aydin.
“Kau yakin ini keputusan kalian berdua? Dari apa yang ku dengar, sepertinya Risa tak ingin hal ini terjadi.” Balas Esme.
“Syukurlah jika kau tau posisiku. Aku adalah kakak angkatnya, yang bersama dengannya sejak awal Ia memulai ini semua. Dengarkan baik-baik Aydin, karena hal ini tak akan pernah ku ulangi lagi.”
“Aku adalah orang yang menjadi saksi bagaimana Risa awalnya sangat tersiksa dengan amanat dari mantan istrimu. Perasaan bersalah padamu, dan terutama pada putramu, sungguh menyiksanya.”
“Hingga suatu hari masih teringat jelas bagaimana adikku menangis saat pergi meninggalkan rumahmu setelah kalian bertengkar dan kau memintanya berhenti dengan alasan kau tak bisa melupakan mantan istrimu.”
“Dan kau datang kembali padanya, memohon untuk kembali memulai bersama dan Adikku kembali memberimu kesempatan itu.”
“Tapi yang terjadi, sekarang kau kembali meragukan ketulusan cintanya setelah apa yang dia lakukan untukmu?”
Emosi Esme memuncak. Selama ini dia tak pernah berkomentar tentang apapun keputusan Risa.
Esme tahu betapa sulitnya kehidupan wanita itu dulu.
Baik dirinya, Amora, juga kedua orang tuanya, ingin Risa merasakan haknya, bisa kembali memegang kendali atas hidupnya, sehingga apapun yang dilakukan adik angkatnya itu akan selalu mendapat dukungan dari keluarga angkatnya.
__ADS_1
“Sudahlah, tidak seharusnya kita berdebat karena masalah hubunganku dan Risa. Biarkan kami menyelesaikannya sendiri.” Putus Aydin, Ia tak ingin terus-menerus menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihat perdebatan keduanya.
“Benar, kita akhiri perdebatan ini. Karena bagi pria yang tak punya keberanian sepertimu, tak akan ada ucapanku yang bisa menghentikanmu untuk lari.” Ucap Esme.
Aydin sungguh tersinggung dengan ucapan wanita di hadapannya.
Kedua tangannya mengepal, andai saja Ia bukan wanita sudah sejak tadi Aydin melayangkan pukulan ke wajahnya.
Sementara Esme, sebagai mantan anggota pasukan khusus saat di Korea, jika hanya menghadapi seorang Aydin tak akan membuatnya gentar.
“Dan sekarang aku memperingatimu sebagai kakak dari wanita yang baru saja kau tinggalkan. Ku pastikan akan membuka mata adikku, menyadarkannya jika wanita seberharga dirinya, tidak pantas berkorban untuk pria yang selalu menghindari masalah.”
“Asal kau tau, jika bukan karena cinta bodohnya padamu, adikku tak akan mungkin bertahan hingga sejauh ini. Jika bukan karena betapa Ia menyayangi mantan istrimu, tak akan pernah Ia tinggalkan kehidupannya yang sempurna di Korea.”
“Ingat Aydin, suatu saat ketika Risa mengatakan Ia menyerah padamu. Maka aku adalah orang pertama yang akan kau hadapi jika kau menyesal dan ingin kembali padanya.” Peringatnya.
Setelah mengatakan hal itu, Esme berbalik dan bergegas kembali masuk ke Rumah sakit.
Ia mempercepat langkahnya berharap bisa segera sampai di ruang perawatan Risa dan memeriksa kondisi adiknya.
Kecemasan menghampirinya, jika Aydin saja terlihat begitu kacau lalu bagaimana dengan Risa? Adik angkatnya itu memiliki hati yang sangat rapuh sebab sudah berkali-kali dihancurkan oleh orang-orang yang Ia sayangi.
“Sedikit lagi, sedikit lagi, aku sampai.” Gumam Esme menyemangati dirinya untuk semakin mempercepat langkahnya, saat pintu ruangan yang Ia tuju sudah terlihat.
Ceklek!
Pintu terbuka, dan hening.
Tak ada suara isakan atau tangisan yang Esme dengar, berbeda dengan sebelum Ia mengejar Aydin.
Raungan Risa saat menahan rasa sakit di hatinya terdengar jelas saat itu.
Esme makin panik, tujuan utamanya adalah brankar. Ia mengutuk ruangan VVIP yang berukuran luas hingga Ia tidak bisa langsung melihat Risa ketika membuka pintu.
Dan,
“Risa!” Pekiknya.
“Kim Risa, sadarlah!” pekiknya sekali lagi.
Satu tangannya berusaha menekan tombol bantuan di tepi brankar.
Sementara yang satunya lagi Ia gunakan untuk memeriksa suhu tubuh Risa.
“Astaga... Risa...” Esme sungguh cemas.
Dalam hatinya Ia bersumpah jika Ia sendiri yang akan menghajar Aydin dengan tangannya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Risa.
Semakin campur aduk perasaannya, emosi, cemas, menyesal, ketika melihat ada darah diselang infus Risa dan ada ruam kemerahan di lengan adiknya.
Dokter dan beberapa perawat masuk tanpa permisi, segera mengambil alih tempat Esme berdiri di sisi brankar untuk memudahkan mereka melakukan tindakan medis yang akan menolong Risa.
“Menyesal. Aku menyesal. Harusnya aku memeriksa keadaan Risa lebih dulu, bukannya berdebat dengan pria si*lan itu.” Batin Esme.
“Harusnya aku sudah tau jika dengan kerapuhan batin dan fisiknya, Risa akan sehancur ini.” Sesal Esme.
⚘⚘⚘⚘⚘ To Be Continue ⚘⚘⚘⚘⚘
Kamu,
Seseorang yang pernah memintaku untuk menemanimu.
Kamu,
Seseorang yang pernah memintaku untuk menjadi tempat ternyaman untuk kamu kembali.
Kamu,
Seseorang yang pernah memintaku untuk bertahan meski keadaan menjadi sulit.
Dan saat ini,
Kamu,
__ADS_1
Seseorang yang melupakan semua pintamu.