Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 95. Restu


__ADS_3

Teruntuk kamu yang kurindukan,


Dalam setiap waktu yang ku lalui tanpamu,


Ada pengharapan dan doa agar kau tahu jika hati ini selalu bersamamu.


Tunggu Aku, sesegera mungkin aku akan menemuimu.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


¤¤¤¤¤ 《Flashback ON》 ¤¤¤¤¤


Aydin menggebrak meja di hadapannya dengan keras membuat Risa terperanjat.


Batin Risa terus mengutuk Ayana dengan rencana receh kekanakannya.


“Risa!” bentak Aydin.


“Kamu kalau kemari hanya untuk mengajak bertengkar sebaiknya kamu pergi.” Usirnya.


Tanpa Aydin duga Risa menanggapi dengan serius ucapannya. Risa beranjak pergi dari ruangan kerja Aydin.


Sebelum menutup laptop yang menjadi salah satu alasan mengapa dengan mudahnya Aydin terpancing emosi.


Aydin menyadari ada yang berbeda dengan sikap Risa hari ini, dan Ia sunggguh menyesal saat mengetahui jika wanita yang Ia cintai melakukan itu semua karena ingin memberinya kejutan ulang tahun.


Aydin berdecak, “Tidak seharusnya aku menjadi sekasar tadi hanya karena sebuah email.”


Yah, hanya karena sebuah email yang mungkin saja nanti akan mengubah kehidupannya.


Email yang kini membuatnya egois berharap jika apa isi email itu tidak benar.


----------------------------


TO : Aydin Dzauky


From : Eijaz Humesh


Subject : I found her.


Dear Aydin,


Hai Aydin bagaimana kabarmu?


Apa kau masih mengingatku?


Aku Eijaz, sahabatmu.


Pantaskah ku sebut diriku sahabatmu jika di saat kau terpuruk aku bahkan tak ada di sana untuk menguatkanmu?


Maaf Aydin.


Entah masih bolehkah aku berbagi ini denganmu?


Tapi aku sangat bahagia Aydin.


Akhirnya aku menemukannya, aku menemukan wanitaku.


Seminggu lagi aku akan kembali ke Indonesia.


Ku harap bisa bertemu denganmu kembali.


Sahabatmu, Eijaz.


------------------------------


¤¤¤¤¤ 《Flashback Off》 ¤¤¤¤¤


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


“Ay,” panggilnya lembut.

__ADS_1


Risa yang baru saja selesai membersihkan dirinya kembali mendapati sang kekasih pagi ini melamun di teras kamar.


Aydin melihat Risa yang masih dengan bathrobe, serta rambut yang diikat dengan berantakan.


Ia menarik Risa dan mendudukkannya diatas pangkuannya.


Memeluk Risa, memeluk wanitanya, yah wanitanya hanya miliknya.


Berkali-kali, berulang-ulang, terus Aydin ucapkan jika Risa hanya miliknya.


Risa merasa Aydin menyembunyikan sesuatu, “Ay, apa ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan padaku?”


“Maksudmu Yang?” tanya Aydin.


“Bukankah kita sudah berjanji untuk saling jujur? Jangan ada rahasia Ay, jika kamu punya masalah berbagilah padaku.” Ucap Risa.


Aydin menghela napasnya, Ia makin membenamkan wajahnya pada punggung Risa yang masih Ia peluk.


“Kamu memang paling mengerti diriku Yang,” ucap Aydin.


“Bisakah aku bertemu Ayahmu?” pinta Aydin.


Ia berusaha mengalihkan perhatian Risa.


Raut wajah Risa berubah masam ketika membahas ayahnya, namun hanya beberapa detik wajahnya kembali ceria.


“Kamu sudah bertemu dengannya sayang.” Balasnya.


“Yang ku maksud adalah ayah kandungmu sayang.”


Risa membalik posisi duduknya, yang semula membelakangi Aydin kini Ia duduk di pangkuan Aydin dengan wajah keduanya saling berhadapan.


“Aku masih belum siap bertemu dengannya. Aku merasa bersalah, aku merasa pantas jika dia membenciku, anak kandung tapi saat persidangan aku berdiri di sisi yang melawannya.” Ungkapnya.


“Kamu tidak berdiri di sisi yang melawannya sayang, tapi kau berdiri di sisi yang benar. Bukan hanya orang tua yang berhak mengingatkan jika anaknya salah, tapi anak juga punya kewajiban untuk membawa kembali Orang tuanya jika mereka berada di jalan yang salah. Dan menurutku kamu sudah melakukannya dengan baik.” Jelas Aydin.


Risa mengangguk, entah karena setuju dengan ucapan Aydin atau karena kedua tangan Aydin yang dengan nakalnya mulai mengelus paha Risa di balik bathrobenya.


Risa menyeringai, “Apakah sekarang kau akan memintaku menjadi milikmu lagi?”


Aydin menggeram tertahan. Ia sangat paham maksud ucapan kekasihnya.


Apalagi kini Risa makin mendekatkan wajahnya, mengikis jarak diantara keduanya.


Pertemuan kedua bibir tidak dapat terelakkan lagi.


Tangan Aydin kini sudah berpindah, Ia kini bermain dengan dua bongkahan di bagian belakang tubuh Risa yang selalu nampak indah.


Lenguhan lolos dari bibir wanitanya, memanggil hasrat yang Aydin pendam sejak semalam.


Aydin menarik napas panjang, setelah berhasil memberikan masing masing satu jejak pada leher dan dada kekasihnya.


“Bersiaplah sayang. Aku akan mandi dulu lalu kita akan menemui Ayahmu.” Ucap Aydin menghentikan kegiatan mereka pagi itu.


“Aku belum mengizinkanmu bertemu dengannya.” Balas Risa dengan wajah ditekuk.


Sama seperti semalam, Aydin selalu saja menaikkan hasrat Risa lalu menghentikannya begitu saja.


“Aku tidak meminta izinmu sayang tapi Aku akan meminta izin dari ayah kandungmu.” Ujarnya.


Risa mengedikkan bahunya. Entah mengapa Ia berpikir jika Aydin masih belum sepenuhnya move on.


Sejak kemarin Aydin selalu membicarakan soal memiliki Risa seutuhnya, tapi ketika Risa sudah siap, Ia sudah memantapkan hatinya untuk memberi Aydin harta yang Ia jaga selama ini, malah pria itu yang seakan menghindar.


Membuat Risa curiga jika Aydin masih belum bisa melupakan Kirani, lebih parah jika Ia masih belum bisa menyentuh wanita lain selain mantan istrinya.


Risa menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran buruk yang seketika melintas di benaknya.


Masih dengan wajah yang ditekuk Risa berlalu melewati Aydin untuk masuk kedalam kamar dan duduk di depan meja rias.


Aydin bediri di belakang Risa, menatap wajah cemberut Risa dari cermin.

__ADS_1


“Sabarlah sayang, tunggu waktu yang tepat. “ Ucap Aydin lalu mendaratkan ciuman di puncak kepala Risa.


Senyum dengan rona merah di pipi Risa terbit tatkala Aydin sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.


“Waktu yang tepat?” gumamnya lirih.


“Apa Ia berniat menikahiku? Apakah secepat ini?” lanjutnya masih bergumam.


“Ahh, harusnya kau senang Risa kenapa malah kecewa. Aydin menginginkan dirimu saat kau sudah sah menjadi miliknya, bersyukurlah dan jangan berpikiran macam-macam padanya.”


Risa merutuki kebodohan dirinya sendiri dalam hati.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Dua jam lebih Aydin mengemudikan mobilnya untuk kembali ke apartemen Risa.


Alasannya bukan karena ingin mengantar Risa pulang, tapi mengantar putranya yang ingin bertemu dengan aunty cantik pujaan hatinya.


“Boy kamu yakin mau nunggu daddy di rumah Mama Risa? Gak mau di rumah Oma saja?” Aydin masih berusaha membujuk putranya, Ia tak ingin Dafha merepotkan orang lain.


“No Daddy.” Jawabnya.


“Dafha sudah janjian kok dengan aunty Moya.” Lanjutnya.


Aydin hanya menggeleng kepalanya tak menyangka jika putranya sudah memiliki bakat menjadi seorang playboy sejak kecil.


“Yang, bilangin tuh ke Dafha. Kok malah dibiarin sih,” gerutu Aydin melihat Risa yang sejak tadi hanya tertawa melihat tingkah lucu putranya.


“Mau dibilangin apa, emang tuh anak sama bapaknya gak bakal beda jauh.” Canda Risa.


“Eiittssss... Jangan asal nuduh yah sayang. Aku itu setia sama satu aja, hanya kamu.” Ucap Aydin membela diri.


“Lah Dafha yah, kemarin waktu ke kantor Daddy katanya nitip salam sama aunty cantik yang bareng Uncle Daffin.” Ucap Aydin menggoda putranya.


“Aunty cantik yang bareng Daffin? Pacar Daffin?” tanya Risa.


Karena dugaannya jika Daffin memiliki perasaan pada Ayana.


“Bukan Yang, sekertaris baru aku. Kerjaan Daffin makin banyak soalnya, jadi nanti akan ada sekertaris baru yang bantuin. Fresh graduate, rajin, sopan, ramah juga.” Jelas Aydin.


“Dan pastinya cantik banget loh Ma.” Dafha ikut menimpali ucapan Daddynya.


Risa melihat Aydin yang mengangguk menyetujui ucapan Dafha.


“Beneran Ay, cantik banget?” tanya Risa ulang memancing respon kekasihnya.


“Iya cantik, sepertinya bisa tuh Yang kamu rekrut jadi model. Lebih cocok jadi model kayaknya anak itu.” Ucap Aydin.


Aydin akhirnya menyadari kesalahan apa yang baru saja Ia dan putranya lakukan.


Aydin menelan salivanya, “tapi masih lebih cantikan kamulah sayang.”


Aydin hendak meraih tangan Risa untuk Ia genggam agar kekesalan kekasihnya berkurang, tapi Risa segera menepisnya.


“Huhh..... Gara-gara kamu nih Boy, Mama Risa jadi marahkan.” Ucap Aydin melimpahkan kesalahan pada putranya yang malah membuatnya mendapat tatapan tajam dari Risa.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


“Mau apa kau menemuiku anak durhaka?” ucap pria berbaju jingga yang khas.


“Bukan Risa yang ingin menemui Anda, tapi saya.” Balas Aydin.


♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡


Kapanpun hari itu tiba, tak akan lelah aku menunggunya.


Meskipun aku harus menunggu selamanya, akan tetap kulakukan.


Kuyakin akan tiba saat itu, tepat pada waktunya.


Saat dimana kamu menjadi milikku.

__ADS_1


__ADS_2