
Apa kini aku harus kembali ke ‘rumah’?
Kembali padamu yang dahulu kuanggap sebagai rumah.
Dulu kupikir rumah yang kamu tawarkan memiliki pondasi yang kuat, hingga aku dengan berani masuk dan mengunci diriku di sana.
Bersembunyi, terus menikmati kebahagiaan semu yang ku jadikan seolah nyata.
Hingga saat aku benar-benar telah sukarela menetap di rumahmu, kamu memintaku pergi.
Menyedihkan, menyakitkan, kamu memintaku pergi tanpa memberi tahu ke mana aku harus pergi. Kamu memintaku pergi dari rumah yang bahkan jalan keluarnya tak kuketahui.
Haruskah kuakui jika hingga kini aku masih tersesat?
Masih tersesat di antara puing-puing bangunan rumah yang kukira kokoh namun nyatanya rapuh.
Aku masih terkunci di sini, kebingungan mencari di antara puing-puing. Semakin kumencari semakin aku lelah..
Lalu, di tengah lelahku ...
Kamu kembali datang, mencari kunci itu untukku.
Menunjukkan jalan untukku, jalan untuk kembali pulang.
Kamu kembali datang, memintaku untuk membantu membangun rumah ini kembali.
Kamu kembali datang dan memintaku menetap.
Tak salah jika kini aku ragu?
Aku hanya tak ingin terluka sendiri lagi.
Aku tak ingin bahagia yang terasa semu.
-Brisa Elzavira-
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Setelah bersusah payah meyakinkan kedua orang tuanya, jika yang tadi ia ucapkan tak memiliki maksud tertentu. Hanya sebuah kalimat spontan yang ia ucapkan.
Kini Aydin masih harus meyakinkan seseorang lagi. Brisa, wanita yang menjadi alasannya masih menetap di negara yang sangat jauh dari rumahnya.
“Brisa ... sayang ... kamu percaya padaku, kan?”
“Satu-satunya wanita yang kuinginkan hanya kamu. Satu-satunya wanita yang aku ingin menjadi ibu dari Dafha dan anak kita nanti,” bujuk Aydin meyakinkan Risa.
Namun Risa bertahan dalam diamnya. Peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, mengajarkan padanya agar tidak terlalu menggantungkan harapan pada orang lain.
“Risa, bukannya tak ada wanita yang mendekatiku saat kamu tak ada. Ada, tapi mereka tak berarti untukku.”
“Sayang, yang kuinginkan hanya kamu!” tekan Aydin.
Risa bisa melihat kesungguhan di kedua netra Aydin, tapi rasa takut akan kecewa membuat Risa tak kuasa mengambil keputusan.
Memintanya pergi, meski di lubuk hati terdalamnya terasa perih.
Memintanya tinggal, mamun ketakutan akan kebahagiaan semu terus membayangi setiap detiknya.
“Aku akan percaya, sebab aku tak menaruh harapan apa pun padamu,” ucap Risa.
Aydin menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
Ia tarik napas dalam-dalam, saat ini ia butuh pasokan oksigen yang banyak.
Dadanya sangat sesak, bagaimana lagi caranya untuk meyakinkan Risa.
Tanpa berucap apa-apa, Aydin pergi begitu saja.
Air mata kembali menggenangi kedua mata Risa.
__ADS_1
Siapa pun pendonor itu, maafkan jika aku belum bisa memenuhi impianmu untuk melihat hal yang indah. Mata ini terlalu sering menangis akhir-akhir ini, ingin ku akhiri namun rasanya belum cukup keberanianku, batin Risa.
Lama Risa tak bergeming, hingga tangan kecil yang hangat milik Dafha menyentuh pipinya, mengusap bekas linangan air mata di sana.
“Mama Risa menangis lagi? Apa Mama tak suka kalau Daddy ada di sini?”tanyanya.
Risa hanya tersenyum, ingin menjawab tapi Risa enggan berbohong lagi. Risa sudah terlalu banyak berbohong, apa lagi pada hatinya.
Risa menggenggam tangan Dafha.“Dafha ... apa yang kamu lakukan setelah terjatuh?”tanya Risa.
“Dafha berdiri lagi Ma,” jawabnya polos.
“Kalau kakimu terluka?”
“Dafha tetap berdiri Ma, kalau aku gak berdiri gimana Oma, Daddy, atau Mama tahu dan obatin lukaku.”
“Kenapa harus mencari Oma, Daddy, dan Mama untuk obatin luka Dafha? Bukannya Dafha sudah bisa pakai plester luka sendiri?”
Dafha tertawa sambil menggeleng, “Lukanya lebih cepat sembuh. Kalau Dafha sendiri, nanti nempelin plester lukanya asal Ma,”akunya.
Risa tersenyum, membelai lembut puncak kepala Dafha dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Anak itu naik ke pangkuan Risa yang duduk di atas kursi roda lalu Ia sandarkan kepalanya di dada wanita yang ia panggil Mama.
“Aku mengantuk Ma,” ucapnya.
“Tidurlah.”
“Aku takut jika aku tidur, Mama dan Daddy ninggalin aku lagi,” jawabnya jujur.
Risa menepuk-nepuk pelan lengan Dafha yang berada dalam pelukannya.
“Tidak, tidak akan Dafha, Mama akan terus berada di dekat Dafha.”
“Janji?”
“Ya ... janji.”
Risa mengecup kening Dafha.
Kirani, maafkan aku yang sempat lupa seberapa berharganya anak ini untukmu, juga untukku.
Maafkan aku yang sempat meninggalkannya, dan membuatnya bersedih.
Maafkan aku jika tak sekuat dirimu, tapi .... mengenai amanat itu, apakah aku masih boleh kembali? Apa kamu masih bisa mempercayaiku sekali lagi?
🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Setelah berbicara dengan Dafha, meski hanya pembicaraan sederhana tapi mampu menjadi penerang bagi Risa dalam menemukan jalan yang selama ini ia cari.
Jalan untuk keluar dari rumah yang menyisakan puing-puing saja.
Risa membenarkan ucapan Dafha, jika dia mengobati lukanya sendiri maka akan memakan waktu lebih lama dan bisa saja ia salah karena hanya melihatnya dari satu sisi.
Tapi jika dia meminta bantuan pada orang-orang yang bisa ia percayai, maka akan ada yang membantunya melihat sisi mana saja yang masih menyisakan luka lalu mencarikan obatnya.
Risa menghampiri Mama Indira yang tengah memandangi taman bunga di halaman belakang rumahnya.
Kini dia menggunakan tongkat, berjalan tertatih-tatih menghampiri Mama Indira.
“Ma ...” serunya.
Segera Mama Indira membantu Risa, keduanya berjalan menuju kursi taman.
“Ma ... menurut Mama, apa aku harus kembali?”tanya Risa.
Mama Indira mengernyitkan keningnya.
“Apa hal itu menyakitimu?”Mama Indira kembali bertanya.
__ADS_1
Risa menggeleng. “Entahlah Ma, belum ku coba dan aku takut mencobanya,” akunya.
“Takut? Maksudmu kamu ragu?”
Mama Indira menggenggam kedua tangan Risa.
“Jangan kembali Nak. Tapi mulailah yang baru,” ucap Mama Indira.
“Mulai semuanya dari awal Nak, tidak harus bersama Aydin. Jika memang bukan dia yang membuatmu bahagia, jangan biarkan dia lagi-lagi mengacaukan hidupmu,” lanjutnya.
Risa tersenyum, “Ma ... tapi Aydin itu putra Mama. Pasti dia sangat kesal jika mendengar ucapan Mama barusan.”
“Mama kemari karena benar-benar mencemaskan dan merindukanmu,” ungkapnya.
“Tak ada hubungannya dengan Aydin. Jika kamu memutuskan memulai semuanya bersama Aydin lagi, tentunya mama akan senang, sebab dua orang kesayangan mama akan mendapatkan kebahagiaan mereka bersama.”
“Tapi jika kamu ingin memulai hidup yang baru tanpa Aydin, mama tetap turut bahagia. Mama menyayangimu tulus Risa, seperti mama menyayangi Aydin dan Ayana.”
Sejauh ini Risa sudah meminta Dafha dan Mama Indira untuk membantunya dalam membuat keputusan.
Ternyata benar kata Dafha, semuanya jadi lebih mudah.
Namun hingga jam makan siang usai, Aydin belum juga kembali.
Apa dia benar-benar marah? Tanya Risa dalam hatinya.
Apa aku harus menemuinya?
Risa lalu menyadari bagaimana kondisinya saat ini. Masih bergantung pada kursi roda, bagaimana bisa dia mencari Aydin.
Akhirnya Risa memutuskan untuk menghubungi Eomma Martha.
Ia menyampaikan apa yang diinginkan hatinya, bertanya apakah Eomma Martha setuju dengan keputusan yang akan ia ambil.
“Jika itu yang diinginkan oleh hatimu, jika itu yang membuatmu bahagia, kenapa tidak. Eomma selalu mendukungmu. Terlepas salah atau benar pilihanmu, Eomma akan selalu ada untukmu Nak,” jawab Eomma Martha.
“Terima kasih Eomma, aku menyayangimu. Aku meminta restumu, jika Eomma sudah memberi restu maka aku yakin semua jalan akan dimudahkan,” harapnya.
Dari seberang telepon, Risa mendengar isakan tangis Eomma Martha.
“Eomma, kenapa menangis?”tanya Risa panik.
“Ini tangisan bahagia Nak. Kamu meminta restuku, kamu membuatku merasa dihargai, disayangi, sebagai seorang ibu,” akunya.
Setelah memutus sambungan telepon, Risa segera menghubungi Anggun. Ia ingin meminta bantuan Anggun mencari tahu keberadaan Aydin saat ini.
Risa makin cemas, saat warna langit mulai berubah dan Aydin belum kembali dan belum ada kabar dari Anggun.
Jemarinya saling bertaut-tautan karena cemas.
Sesekali ia memeriksa ponselnya, dengan netra yang terus mengawasi Rian dan Dafha yang asik bermain di taman belakang.
“Risa ...” seru Papa Dimas.
“Iya Pa ...”
“Papa tahu keberadaan Aydin, kamu mau Papa mengantarmu ke sana?”tawarnya.
“Bolehkah?” Risa ragu, tak ingin meninggalkan Dafha dan Rian.
“Pergilah Kak, biarkan Yana yang mengawasi anak-anak,” sahut Ayana.
“Baiklah, terima kasih Yana."
“Pa bisa antar aku menemui Aydin?” Pinta Risa.
Papa Dimas dengan sigap mendorong kursi roda Risa.
Sungguh Risa semakin yakin dengan keputusannya.
__ADS_1
Aku harus yakin! Sebab semua keluarga, semua orang yang kusayang mendukungku. Batin Risa.
🌼🌸🌼🌸 To be continued 🌸🌼🌸🌼