
“Haruskah aku merasa bangga pada senyuman yang ku hasilkan dari usaha membodohi hatiku sendiri?”
♡♡♡♡♡♡♡
Ada seseorang yang pura pura semuanya baik-baik saja, meskipun pada kenyataanya tidaklah demikian, bahkan bisa jadi begitu menyakitkan baginya.
Dan orang itu adalah Eijaz.
Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, meski benaknya menyimpan banyak pertanyaan.
Tersenyum, meski di balik senyumannya itu, ada hati yang sedang merana.
Senyuman yang Ia tampilkan hanya sebagai penghias dan kepura-puraan semata, supaya tidak ada orang yang tahu bagaimana kondisi hatinya saat ini.
Pura pura bahagia itu butuh lebih dari tenaga, membutuhkan kekuatan dan ketegaran hati yang tak terhingga.
Mungkin itu juga yang menjadi penyebab seorang Eijaz akhirnya terbaring lemah di sebuah rumah sakit swasta terbesar di Ibu Kota.
“Bagaimana keadaan putra saya dokter?” tanya Bunda Nadine pada Dokter Shanaz.
“Sepertinya pasien kelelahan. Sudah seringkali saya ingatkan agar Beliau tidak beraktifitas terlalu berat, apalagi hingga membebani pikirannya.”
Bunda Nadine menatap iba pada putra semata wayangnya.
Putranya memang sedikit berubah menjadi lebih pendiam sejak 3 hari yang lalu.
“Pasti ada sesuatu yang terjadi.” Batinnya.
Romi yang baru tiba di rumah sakit segera dicecar pertanyaan oleh Bunda Nadine.
“Romi, apa terjadi sesuatu diperusahaan?” tanyanya.
Romi menggeleng.
“Lantas mengapa Eijaz 3 hari ini lebih banyak diam?”
“Aku yakin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.”
Romi memilih bungkam, haruskah ia memberitahu apa yang terjadi sebenarnya.
“Romi, kau tahu aku sangat percaya pada Ayahmu. Bahkan ketika dia menyarankan dirimu yang akan menjadi asisten Eijaz selama kami di Indonesia, tanpa ragu aku menyetujuinya.”
“Kupikir setelah kamu tahu apa yang diderita putraku, kau sudah bisa menentukan harus seperti apa untuk melindunginya. Aku berharap padamu untuk menjaganya saat aku tak ada.” Ujar Bunda Nadine dengan linangan air mata.
“Nyonya, tapi tuan muda bukan lagi anak kecil yang harus ku rawat seperti seorang pengasuh bayi. Tuan muda ingin kebebasannya, Nyonya.”
“Maaf jika lancang, tapi beberapa hari bersama Tuan Muda, kupikir Tuan Muda ingin setidaknya merasakan hidup yang benar-benar hidup. Meski hanya sebentar.”
“Terlebih masalah yang kini Ia hadapi menyangkut masalah hati yang obatnya hanya ada pada dirinya sendiri, Ia butuh menghibur dirinya yang kini tengah rapuh."
Setelah mengatakan semua yang ada dibenaknya, Romi pamit undur diri. Ia masih harus mengurus beberapa administrasi rumah sakit.
Bunda Nadine tak kuasa lagi menahan tangisannya.
Wanita paruh baya itu terus saja mengeluarkan air mata sambil melangkah kembali menuju ruang rawat putranya.
Namun naas, hampir saja Ia terjatuh jika tidak ada seorang wanita yang menolongnya.
“Nyonya, apa Anda baik-baik saja?” tanyanya Ramah.
Bunda Nadine mengusap sisa air mata yang masih berbekas di wajahnya.
“Terimakasih Nak, aku sudah baik-baik saja.”
Jelas bisa Ia lihat kekhawatiran pada manik mata wanita berkulit putih, surai panjang tergerai, juga tak lupa sepasang mata indah miliknya.
Sayang sekali wanita muda ini mengenakan masker untuk menutupi wajahnya sehingga Bunda Nadine tidak bisa melihat wajahnya.
“Apa Nyonya yakin? Kulihat Anda masih sangat lemah, haruskah aku mengantar Nyonya bertemu dokter? Atau mungkin akan kupanggilkan perawat saja Nyonya, sebab maaf aku sedang terburu-buru.” Usul wanita itu.
“Tak apa Nak, hanya berjalan sedikit lagi aku sudah sampai di ruang perawatan putraku. Tadi aku hanya sedikit merasa pusing saja.” Ucap Bunda Nadine meyakinkan wanita yang telah menolongnya.
Sebenarnya, hati kecilnya masih berat meninggalkan wanita paruh baya yang Ia tolong.
Wajahnya masih sangat pucat.
__ADS_1
Namun dari kejauhan ia melihat tunangannya baru saja tiba dan berjalan dengan terburu-buru.
“Baiklah Nyonya, maaf saya harus meninggalkan Anda di sini. Aku harus melihat keadaan adikku lagi. Dan kudoakan semoga putra Anda juga cepat sembuh."
"Istirahatlah Nyonya, untuk menjaga putramu, Anda juga harus lebih sehat.”
Setelah mengatakan itu semua, wanita yang menolongnya berjalan menjauh.
♡♡♡♡
“Ay,” Bunda Nadine masih bisa mendengar wanita tadi berteriak memanggil seorang pria.
Pria yang dipanggil menoleh ke sumber suara, lalu mempercepat langkahnya menghampiri sang wanita.
Membawa wanita itu kedalam dekapannya dan mendaratkan ciuman di puncak kepalanya bertubi-tubi.
Bunda Nadine memicingkan matanya, saat Ia merasa tak asing dengan wajah sang pria.
“Aydin?” ucapnya dalam hati.
Segera Bunda Nadine berbalik dan mempercepat langkahnya menjauhi sepasang kekasih yang kini tengah berbicara dengan seorang dokter pria.
Sebelum masuk ke ruang rawat putranya, Bunda Nadine sempat berbalik sekali lagi.
Bisa Ia lihat Aydin tak pernah melepas rangkulannya dari pundak atau pinggang wanitanya. Juga sesekali Aydin mengecup punggung tangan atau puncak kepala sang wanita tanpa canggung.
“Jika pria itu benar Aydin, maka wanita baik hati yang menolongku tadi adalah Brisa. Wanita yang menjadi korban keegoisanku.” Gumam Bunda Nadine.
Tanpa Bunda Nadine tahu, Romi mendengar semua ucapannya. Asisten putranya itu tadi hendak masuk ke ruangan bosnya, namun Ia tak mengetuk saat melihat pintu tidak tertutup rapat.
Romi mundur, menjauh dari ruang rawat bosnya.
“Mengapa Nyonya menyebut Brisa adalah korban keegoisannya?”
“Ada hubungan apa Nyonya dengan wanita yang bosnya cintai?"
“Aku harus cari tahu kebenarannya. Aku tak akan membiarkan Pak Eijaz kecewa jika suatu saat nanti Ia mengetahui hal ini dari orang lain.” Batin Romi bertekad.
♡♡♡♡♡♡♡♡
¤¤¤¤《FLASHBACK ON》¤¤¤¤
“Ay, ada apa? Kamu lebih banyak diam.” Tanya Risa.
Aydin menoleh sekilas memberi senyum terbaiknya.
Ia menggeleng, “Aku hanya kelelahan.”
Risa menggeser duduknya agar lebih dekat dengan prianya.
Ia memeluk salah satu lengan Aydin, lalu menyandarkan kepalanya.
“Ay, kamu percaya jika aku benar-benar bersyukur karena telah kamu izinkan masuk dalam kehidupanmu.” Ucap Risa.
Aydin mengangguk, tanpa menjawab Ia hanya memberikan satu kecupan di puncak kepala Risa sebagai jawaban.
“Aku tak akan pernah lupa saat pertama kali aku memaksamu berkenalan Ay, aku sungguh malu saat itu.” Ungkap Risa jujur.
“Ay, apa yang membuatmu tak bisa melupakanku?”
“Tatapan teduhmu.” Ucap Aydin tanpa Ia pikirkan lebih dulu.
“Hanya itu?”
“Heemmm, apa lagi yah?” Aydin terlihat berpikir.
“Itu artinya kamu telah berbohong,” Risa menegakkan duduknya, sedang Aydin mengernyit karena ucapan Risa.
“Bohong apa?”
“Katamu tak bisa melupakan rasa manis dari bibirku.” Ucap Risa dengan bibir yang mencebik membuat Aydin gemas.
Tak bisa menahan lebih lama lagi, segera pria itu mengecup bibir kekasihnya saat lampu lalu lintas berwarna merah, mengharuskan para pengendara berhenti sesaat.
“Ay, lagi di jalan loh.” Protes Risa.
__ADS_1
“Memangnya kenapa? Di novel-novel banyak kok aktifitas yang bisa dilakukan selama di jalan selain mengemudi.” Ucap Aydin.
“Itu di novel Ay, saat nyawa para tokohnya berada ditangan sang penulis.” Ketus Risa.
Tak terasa suasana yang awalnya canggung karena sikap dingin Aydin, kini mulai kembali menghangat.
Sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta itu, bahkan tak menyadari jika tujuannya sudah semakin dekat.
Mobil Aydin berhenti di depan lobby apartemen Risa.
Rasanya Risa berat untuk berpisah dengan Aydin.
“Ay, antarkan aku ke atas.” Pinta Risa.
Aydin menurut, Ia parkirkan mobilnya lalu ikut turun bersama Risa.
“Ay, tidak bisakah kamu tinggal malam ini? Aku masih ingin bersamamu.” Ucap Risa ketika mereka masih di dalam lift.
Aydin tersenyum, ini pertama kalinya Risa memintanya untuk bermalam bersama.
Biasanya Aydin yang memaksa untuk tinggal atau memaksa Risa bermalam di rumahnya dengan alasan Dafha.
“Bisa saja, asal kamu mau menyatakan perasaanmu padaku sejujur-jujurnya."
Tanpa ragu Risa mengucapkan apa yang benar-benar kini Ia rasakan di hatinya.
"Aku mencintaimu Ay,” ucapnya.
“Aku mencintaimu Daddy,” sekali lagi Ia mengucapkan 3 kata yang menenangkan hati Aydin.
“Tak apa, apapun boleh saja terjadi selama aku mencintaimu dan kamu mencintaku.” Batin Aydin.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Masih harus bersabar sekitar 22 hari lagi, dan wanita yang tengah terlelap disisinya akan Ia miliki seutuhnya.
“Kau memandangiku seperti itu lagi Ay,” Ucap Risa yang baru saja terbangun dan mendapati pandangan memuja dari prianya yang selalu sukses membuat wajahnya merona di pagi hari.
“Kamu harus terbiasa sayang, karena selama sisa hidupmu kelak tatapan ini yang akan menyambutmu setiap terjaga di pagi hari.”
Wajah Risa semakin merona mendengar ucapan Aydin.
Pria itu bangun dan beranjak dari ranjang.
Membasuh wajahnya, dan mengenakan kembali kaos yang selalu Ia tanggalkan saat tidur.
“Bangun dan bersiaplah dengan cepat, aku memiliki jadwal meeting pagi ini.” Pinta Aydin.
“Selagi kamu mandi, aku akan membuat sarapan.”
Kecupan di kening Risa tak lupa Ia sematkan sebelum berlalu menuju dapur.
Risa benar-benar bersiap dengan cepat sesuai permintaan Aydin, lalu menghabiskan sarapannya selagi Aydin bersiap.
“Yang, aku tak menemukan dasiku.” Keluh Aydin.
“Oh yah? Mungkin kamu sudah memakai semuanya. Nanti akan kusiapkan lagi.” Balas Risa.
“Apa perlu aku pinjamkan pada Echa?” usulnya.
“Boleh, jika itu tidak merepotkanmu. Waktunya tak akan cukup jika aku kembali ke rumah atau membeli dasi lebih dulu.”
Risa mengangguk mengerti dan segera berlari ke unit apartemen Echa.
Aydin kembali mencari-cari di walkin-closet Risa, berharap ada 1 saja dasinya yang terselip diantara banyaknya tumpukan pakaian milik tunangannya.
Namun bukannya dasi, melainkan sebuah foto yang Ia temukan.
Foto dua gadis dengan seragam putih abu-abu yang nampak familiar baginya.
“Bukankah ini potret Kirani saat remaja?”
“Lalu remaja yang disisinya, apakah dia Risa? Apa mereka berdua juga sudah saling mengenal?” batin Aydin bertanya-tanya.
Segera Aydin mengembalikan foto itu ke tempatnya saat Ia mendengar suara Risa yang mencarinya.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
Mau dibungkam dengan cara apa pun, mau disudutkan dengan isu apa pun, kebenaran tetaplah kebenaran. Ia akan hadir dengan caranya sendiri.