
Logikaku terus memaksa dan memintaku menjauh darimu, menghapus semua kenangan akan dirimu yang berakar di benakku.
Namun entah mengapa, aku bahkan tak bisa menghitungnya, berapa kali pun kau terus menyakiti dan menghancurkan kepercayaanku, selalu saja kau tetap memiliki tempatmu sendiri dalam hatiku.
Mengapa saat hidupku mulai berjalan di porosnya kembali,
Mengapa saat aku telah memaafkan dan mengikhlaskan semua tentangmu yang pergi,
Mengapa kau kembali? Dan memintaku berjuang kembali?
Meski yang terucap adalah sebuah doa agar Tuhan memberikan sepotong hati yang baru untuk menggantikan hati yang telah tersakiti karenamu.
Namun jauh di lubuk hati terdalamku, aku masih berharap jika hatimu lah yang tetap akan menjadi pengobat hatiku yang patah.
Bodoh memang .....
Lemah ... sudah pasti.
Namun masalah hati, siapa yang bisa mengendalikannya?
Jika ada ... tolong siapa saja itu, ajarkan aku bagaimana caranya mengeluarkan segala tentang dirinya dari benakku.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Aydin nyatanya tak main-main dengan ucapannya.
Terhitung sudah 3 hari sejak Risa dibolehkan untuk kembali ke rumah, duda tampan itu masih bertahan di sisi Risa meski sang wanita terus memasang sikap acuh padanya.
Sebenarnya Aydin pun mulai merasa tak nyaman sebab sikap Risa bersikap sangat acuh padanya.
Kadang jika lelahnya tiba, ia merasa tengah berjuang sendiri lalu sangsi mengenai hasil dari perjuanganku nanti.
Apakah setidaknya masih ada sedikit rasa cinta untukku di hati Risa? Batin Aydin.
Setiap pagi Aydin akan memandangi wajah wanitanya saat pertama kali ia bangun tidur, dan hal itu adalah pemandangan yang paling indah baginya.
Meski saat di rumah sakit Aydin terus berusaha meyakinkan Risa untuk ikut dengannya pulang ke Indonesia, namun wanitanya itu tetap bersikeras tetap tinggal di Volendam, Belanda.
Dan di sinilah Aydin sekarang, setelah memaksa untuk tetap mengikuti kemana pun Risa pergi.
Belaian lembut ia berikan di salah satu pipi Risa.
“Sayang, bangunlah ... ayo kita sarapan,”ajak Aydin.
Meski awalnya terasa canggung, namun mendapati sikap manis Aydin setiap pagi untuknya, membuat Risa lebih bersemangat menjalani hari.
Namun itu semua tetap ia rahasiakan. Risa berusaha bertahan untuk tidak lagi menerima Aydin kembali di sisinya dengan mudah.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat di keningnya, hingga Risa yang awalnya enggan membuka mata akhirnya dengan berat hati membiarkan kedua netranya terjaga.
Dengan mempertahankan raut wajah datarnya, Risa bangun dari tidurnya lalu duduk bersandar pada kepala ranjang.
“Kapan kau akan pulang Ay?” tanyanya.
Aydin menghela napasnya panjang.
Pertanyaan menyebalkan ini lagi! batin Aydin.
“Sayang, berapa kali lagi harus kukatakan. Aku akan pulang ke Indonesia hanya jika kamu juga ikut pulang bersamaku,” ucap Aydin.
Risa mendengar jawaban yang sama untuk kesekian kalinya, hanya bisa memberenggut sebal.
__ADS_1
“Ayo bangun sayang, aku akan membantumu ke kamar mandi,” ucap Aydin mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Risa berjalan ke kamar mandi.
Risa yang masih dalam tahap pemulihan, hanya bisa pasrah dan menerima tawaran Aydin.
Dengan sabar dan tertatih Risa berjalan menuju kamar mandi dibantu oleh Aydin.
Dengan sabar dan penuh kelembutan, Aydin membantu Risa membasuh wajahnya. Saat Risa akan mandi, barulah Aydin keluar dan mulai menyiapkan pakaian wanitanya.
Aneh memang, sebab biasanya wanitalah yang menyiapkan pakaian prianya. Namun dengan kondisi Risa yang masih sulit berjalan, Aydin paham dan berinisiatif untuk sebisa mungkin mengurangi pekerjaan yang harus dilakukan Risa.
“Ay, kamu tak perlu menyiapkan pakaianku seperti ini. Aku bisa melakukannya sendiri,” ucap Risa yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati jika pakaiannya sudah tertata rapi di atas tempat tidur.
Aydin yang sedang sibuk dengan ponselnya segera mengalihkan perhatiannya pada Risa.
Risa yang kala itu hanya mengenakan bathrobe dengan rambut basahnya yang tergerai, membuat Aydin harus menelan salivanya berkali-kali.
Baru hitungan hari dan aku sudah sangat tersiksa, tiap kali melihat penampilan Risa yang selalu menggoda imanku yang dangkal ini, batin Aydin.
Segera Aydin beranjak dari duduknya dan memeluk Risa dari belakang. Sementara Risa yang kini berdiri di depan cermin meja riasnya, bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan Aydin.
Keduanya saling bertukar pandangan melalui cermin.
“Ayo kita pulang sayang dan melanjutkan rencana pernikahan kita,” pinta Aydin dengan wajah yang memelas.
Risa yang sempat merasakan hembusan napas Aydin pada tengkuknya, sontak memejamkan matanya.
“Pulanglah sendiri,” balas Risa.
“Dan soal menikah denganmu, keinginan itu sudah kukubur bersama dengan potongan hatiku yang patah,” sambungnya.
“Maafkan aku sayang, sungguh maafkan kesalahanku dulu yang membuat rencana pernikahan kita batal,” ujar Aydin.
“Bukankah kamu sudah tahu alasannya, semua bukan karena keinginanku,” lanjut Aydin.
“Begitu pun denganku. Kamu juga tak menginginkan aku sebesar itu, hingga tak ada alasan bagimu untuk mempertahankanku, mempertahankan hubungan kita," balas Risa.
Aydin hanya bisa menghela napasnya. Hasrat yang sebelumnya menggebu-gebu, tiba-tiba saja menghilang hanya karena perdebatan yang selalu saja tak menemukan titik temu.
“Jangan memintaku pulang atau pergi darimu. Kumohon beri tahu saja, aku harus melakukan apa agar kamu bisa membuka hatimu lagi untukku sayang,” pinta Aydin dengan wajah memelas.
Risa hanya mengedikkan bahunya. Aydin yang masih setia memeluk Risa dari belakang mendapatkan kesempatan emas, saat Risa mendengar ponselnya berdering dan tanpa sadar membalik tubuhnya hingga kini keduanya saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
Aydin yang tak ingin melewatkan kesempatan tersebut semakin mengeratkan pelukannya.
Kedua netra mereka saling menatap, masing-masing bisa merasakan hangat napas yang perlahan mulai memburu.
Perlahan Aydin mulai memajukan wajahnya, tujuannya yaitu bibir merah muda Risa yang tiap malam selalu terbayang dalam tidurnya.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat di bibir Risa.
Tak ada penolakan dari Risa, sebab perasaan tak bisa berbohong. Risa juga sangat merindukan semua ini. Merindukan sentuhan dari satu-satunya pria yang mengisi relung hatinya.
Bagai mendapat lampu hijau, Aydin makin melancarkan aksinya. Hasrat yang sempat padam kini terbakar kembali.
Kedua benda kenyal itu mulai beradu. Keduanya kembali merasakan getaran yang sama seperti dulu ketika mereka bersama.
Logika Risa terus berbisik menyalahkan apa yang dilakukan wanita itu. Namun perasaannya justru menolak untuk berhenti.
Sadarlah Risa, berkali-kali pria ini mencampakkanmu dan berkali-kali pula kau menerimanya kembali. Lalu lihatlah yang terjadi pada dirimu kini, semua itu berawal dari dirinya. Logika Risa terus berbisik menolak apa yang terjadi saat ini.
Sementara di sisi lain, perasaan Risa membenarkan setiap detik peristiwa yang terjadi saat ini.
__ADS_1
Ini yang kamu Rindukan Risa, ini yang kamu butuhkan. Setiap kehangatan yang diberikan Aydin adalah obat dari semua kesakitanmu selama ini. Batin Risa.
Yah, kini terjadi peperangan dalam batinnya. Namun setiap sentuhan-sentuhan Aydin di tubuhnya membuat wanita itu bersedia disebut sebagai wanita gila.
Apalagi sejak, entah kapan tali bathrobe yang ia kenakan dilepas oleh Aydin.
Risa yang hanya mengenakan 2 potong kain yang menutupi bagian terpenting sekaligus terindah dari tubuhnya. Dan pemandangan itu makin membuat hasrat Aydin kian bergelora.
Elusan lembut Aydin di punggungnya yang tanpa penghalang apa pun, membuat Risa memejamkan matanya.
Disusul tangan Aydin yang mulai berani meraba dua bongkahan di bagian belakang tubuh Risa, makin membuat tubuh Risa memanas.
Risa meminta maaf pada logikanya, sebab semua yang dilakukan Aydin benar-benar membuatnya gila.
Sebenarnya sejak mereka kembali ke rumah Risa, Aydin tentu saja semakin tak ingin jauh dari wanitanya. Ia sengaja tak ingin mengubah apa pun kebiasaan mereka dulu.
Termasuk untuk tidur sekamar dengan Risa. Meski wanita itu menolak, tapi Aydin selalu punya 1.000 alasan agar Risa bersedia berbagi tempat tidur dengannya seperti dulu.
Namun sayang selama ini, Risa terus saja menghindar jika Aydin mulai melancarkan aksinya.
Jadi bisa dikatakan jika pagi ini, pria itu mendapatkan sebuah keberuntungan.
Aydin menghela napasnya panjang ketika mengingat jika saat ini ada yang lebih penting dari hasratnya yang meronta untuk dilepaskan.
“Sayang, jujur aku kini sangat ingin membawamu ke atas tempat tidur. Masa bodoh jika ini masih pagi, tak akan kusia-siakan lagi kesempatan ini,” ucap Aydin.
Risa menundukkan wajahnya sebab malu dengan dirinya yang mudah sekali tergoda hanya dengan sentuhan Aydin.
“Tapi ... ada hal lain yang lebih penting dari hal itu sayang. Kita akan melanjutkannya nanti, sekarang berpakaianlah.” Ujar Aydin.
“Lalu aku akan mengajakmu ke tempat di mana hadiah yang sudah kusiapkan untukmu berada,” sambungnya.
Risa tak menjawab ataupun menatap Aydin yang berlalu pergi meninggalkan dirinya, ia hanya terus menunduk.
Bagaimana aku bersikap pada Aydin nanti? Aku mati-matian menolak untuk menjalin hubungan kembali, namun sangat menikmati setiap jengkal sentuhannya. Batinnya Risa merutuki dirinya sendiri.
“Aku malu .... bisakah kejadian tadi dihapus dari ingatan Aydin?” monolog Risa menatap jejak kemerahan di ceruk lehernya.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Entah apa hadiah yang dimaksud boleh Aydin. Yang pasti kini pria itu mengajak Risa untuk duduk di salah satu kafe yang ada di sekitar area pelabuhan Volendam.
“Ay, sampai kapan kita harus menunggu?” tanya Risa yang mulai bosan.
Bagaimana wanita itu tak bosan jika sudah hampir 1 jam mereka menunggu, dan hadiah yang dimaksud Aydin tak kunjung tiba.
Berbeda saat dulu Risa tak bisa melihat, ia bisa berlama-lama duduk di tempatnya sekarang berada.
Dahulu Risa selalu bersemangat ketika harus mengamati keadaan disekitarnya melalui suara yang ia dengar.
Dan ternyata semua yang ia bayangkan kini benar-benar bisa ia lihat.
“Maaf sayang, sebentar lagi yah ... kita menunggu sebentar lagi.” Ucap Aydin yang mendaratkan sebuah kecupan di kening Risa.
“Mama ....”
“Daddy ....”
Suara anak kecil yang sangat dikenali oleh keduanya sontak menghentikan adegan romantis ala drama Korea yang diperankan Risa dan Aydin.
“Sayang ...” ucap Risa dengan linangan air mata yang mulai membasahi pipinya.
🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌸🌼 🌸🌼
__ADS_1