
# Risa POV #
Belanda, tidak hanya soal Amsterdam. Tapi di tempat ku kini tinggal yaitu Volendam, kota yang terkenal dengan sebutan desa nelayan. Letaknya pun tak begitu jauh dari Amsterdam, juga memiliki banyak hal menarik yang bisa dilakukan oleh para wisatawan di sini.
Hari ini, hari pertama di bulan Juni menjadi awal dari musim panas di Volendam. Waktu terbaik bagi para wisatawan untuk mengunjungi kota ini, dan menikmati cuaca hangat dan kelembaban yang menyenangkan.
Namun tetap saja tempat ini begitu jauh. Jauh dari tanah kelahiranku, jadi dari tempat peristirahatan terakhir ibu, dan jauh dari sosok ayah tak pernah menerima kehadiranku.
Pikiranku jauh menerawang beberapa hari yang lalu.
Pagi itu aku terus berusaha menahan tawaku. Bahkan perutku sampai keram rasanya, melihat raut wajah Anggun yang kelabakan.
Beberapa hari sebelumnya, saat itu aku baru saja menyelesaikan sesi terapiku. Tanpa sengaja, kudati Anggun yang yang sepertinya sangat asik bertelepon di teras rumah.
Dengan siapa dia bertelepon? Apa dia menyembunyikan sesuatu? batinku saat itu.
Bukannya aku curiga pada Anggun, aku hanya tak ingin Anggun kembali menutupi sesuatu dariku.
"Iya bang Aydin, aku paham … dua hari lagi akan kupastikan Kak Risa akan pergi dari rumah," ucap Anggun yang sebenarnya masih samar-samar kudengar.
Setelah mendengar pembicaraan Anggun dengan seseorang yang kuduga adalah Aydin.
"Bang Ay ... apa mungkin yang dimaksud adalah Aydin?" Gumamku sepanjang malam itu. Aku ingat jika malam itu aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan lingkaran hitam di bawah mataku tercetak sangat jelas.
Hingga Tuhan menunjukkan semuanya padaku keesokan harinya.
Aku kembali mendengar pembicaraan Anggun dan seorang pria yang kuyakini adalah Aydin. Tentu saja aku hapal bagaimana suara dan cara pria itu berbicara.
Kedua sudut bibirku tertarik kesamping membentuk garis melengkung. "Mereka sepertinya belum ahli untuk memberi kejutan." Batinku.
Dua hari berlalu begitu cepat, sejak pagi Anggun terus mengajakku untuk keluar rumah.
Setiap gerak gerik Anggun mengundang kecurigaan ku.
Adikku ini sepertinya berusaha keras melakukan tugasnya. Batinku.
Aku sedang bersiap-siap untuk memenuhi ajakan dari Anggun. Kasihan sekali adikku itu, pagi tadi dia sudah pusing memikirkan rencana lain.
Setelah kami bersiap-siap, dan hendak pergi, aku mendapatkan panggilan telepon dari tempatku terapi.
"Anggun maaf, tapi aku baru saja mendapatkan kabar jika jadwal terapiku dimajukan menjadi hari ini," ucapku penuh sesal.
Anggun tampak kecewa namun ada kelegaan dari helaan napas yang tanpa sadar ia lakukan.
Seperti pada hari-hari sebelumnya, Anggun hanya akan mengantarkanku ke tempat terapi dan menjemputku saat w hpaktunya tiba.
Setelah mobil Anggun pergi akhirnya aku pun turut menghela napas lega.
"Semoga kejutan yang kupersiapkan juga akan berhasil," batinku.
💕💕💕
Sebenarnya hari ini bukanlah jadwal terapiku.
Tidak juga besok, dan seterusnya sebab kini aku telah sembuh.
Ya, aku kini sudah bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Aku kini sudah mampu lagi berjalan dengan kedua kakiku.
Sesuatu yang dulunya kurasa tak mungkin dan sangat sulit, nyatanya jika aku memiliki tekad yang kuat akhirnya aku berhasil.
"Kini saatnya memberi kejutan pada semuanya," monologku.
Namun sebelum aku kembali ke rumah, aku memutuskan untuk mampir ke toko keju yang sejak dulu ingin kudatangi.
Toko keju itu bukanlah toko besar dan terkenal, hanya toko keju sederhana dan cenderung terkesan tradisional.
Itulah mengapa aku jarang berkunjung kesana, aku yang saat itu menggunakan kursi roda rasanya tak mungkin untuk bisa menjelajahi toko keju itu.
__ADS_1
💕💕💕
Beberapa kali sudah aku menghela napas panjang.
Entah mengapa kini aku ragu untuk melangkah masuk ke dalam rumah.
"Apa nanti mereka akan kecewa karena aku menggagalkan rencana kejutan mereka?" Gumamku.
Aroma keju yang menguar dari sekotak kue keju yang masih hangat juga pasta keju rasanya sangat sayang jika aku terus menunda untuk mencicipinya.
Akhirnya ku kumpulkan keberanianku, semakin dekat dengan pintu suara riuh dari banyak orang di dalam sana membuat kedua sudut bibirku tertarik.
Beberapa kali suara tawa dari pria yang kucintai bisa kudengar, membuatku semakin tak sabar ingin mengejutkannya.
Ting tong
Baru pertama kalinya aku menekan bel rumahku sendiri, namun entah mengapa aku merasa sangat gugup.
Klik
Terdengar suara kunci yang diputar, lalu pintu perlahan terbuka.
Anak laki-laki tampan yang kini mematung menatapku.
"Dafha sayang, kamu tak mau menyambut mama Risa?" Tanyaku lembut.
"Ma-ma Ri-sa," ucapnya terbata.
"Dafha … siapa yang datang Nak?"
Dan kini sepasang ayah dan anak itu mematung.
"Sa-yang …. Ka-mu," jelas sekali jika pria itu kini tampak sangat bingung.
"Iya Ay," balasku.
Kubiarkan Aydin yang masih mematung di depan pintu. Aku berjalan masuk ke rumah dan ternyata semua sama, mereka mematung sesaat sebelum akhirnya tawa yang sebelumnya riuh terdengar kini berganti dengan suasana haru penuh syukur atas kesembuhan ku.
💕💕
"Apa yang kamu pikirkan sayang?" Suara bariton yang tak asing di pendengaranku.
"Ay … tak ada apa-apa," jawabku singkat.
Kedua tangan Aydin yang kini telah melingkar dengan posesif di pinggangku, pelukan yang sangat menenangkan bagiku.
"Tak apa jika belum ingin membicarakannya sekarang, tapi setelah janji suci itu terucap kuharap kamu akan membagi semuanya denganku," ujar Aydin.
"Meski itu hanya sedetik atau hanya setitik, sekecil apa pun itu sayang aku ingin kamu membaginya denganku. Aku ingwin kamu menjadi bagian dari diriku dan aku menjadi bagian dari dirimu," lanjutnya.
Memang bukan sekali ini Aydin mengucapkan kata-kata romantis seperti itu untukku, tapi entah mengapa kali ini aku merasa ini yang adalah kata yang paling tulus darinya.
Kupejamkan kedua manik mataku, saat ku rasa embusan napas Aydin semakin mendekat.
"Eitss … apa yang kalian lakukan?" Celetuk Amora tepat sesaat sebelum kedua bibir kami saling menyapa.
Kakak angkat yang juga adalah kekasih Gio itu kini tampak sangat cantik dalam balutan gaun satin bertali spaghetti berwarna hijau mint.
Benar kata orang jika ibu hamil memiliki aura kecantikan yang semakin terpancar. Dan kini itu yang terjadi padanya.
Ya, Amora kini telah mengandung anak dari Gio. Sejak memutuskan untuk kembali ke Korea, Gio yang tak bisa jauh dari Amora memutuskan untuk tinggal bersama wanita pujaannya di Korea. Keduanya memutuskan untuk menikah 2 bulan lagi, setelah kandungan Amora lebih kuat untuk perjalanan ke Indonesia.
"Tak bisakah kalian menahannya?" Tanya Amora sambil bergantian menatap padaku dan Aydin.
"Tuan Aydin Dzauky, kau bisa saja merusak hiasan sang mempelai wanita," lanjutnya dengan tatapan mengancam pada Aydin.
Mempelai wanita. Ya hari ini, tepatnya beberapa jam lagi aku adalah mempelai wanita dari seorang Aydin Dzauky hari ini. Batinku.
__ADS_1
"Kim Risa …" seru Amora.
"Aku benci karena kau selalu tampak cantik. Bahkan setelah banyak menangis, kau malah semakin cantik," lanjutnya.
Air mata Amora sudah tak terbendung lagi.
"Aku tak menyangka jika kalian benar-benar akan menikah. Kupikir kau akan berakhir dengan seorang aktor atau mungkin seorang idol," ujar ibu hamil tanpa peduli jika calon mempelai priaku Kini menatapnya tajam.
Amora memelukku erat, aku selalu bersyukur jika mengingat malam itu. Bagaimana Tuhan menuntunku bertemu dengan Amora.
"Mama … Daddy …." Kini suara riang seorang anak laki-laki yang memecah suasana haru.
"Mama, menangis lagi? Siapa yang membuat mama Risa menangjs?" Cecar Dafha lalu diakhiri dengan menatap tajam pada pria yang ia panggil Daddy.
Sementara yang ditatap tajam oleh Dafha hanya mengangkat kedua tangan ke udara tanda menyerah.
"Astaga, mengapa kalian semua masih di sini?" Eomma Martha yang sudah cantik dengan gaun yang warnanya sama dengan milik Amora, anggun, serta Esme menyusul kami semua yang masih betah berdiam diri di kamar.
"Amora berangkatlah lebih awal, pastikan semuanya siap," perintah Eomma Martha.
"Dan kalian semua … berhenti mengobrol dan ayo bersiap, semua sudah menunggu."
💕💕💕
Pernikahan di awal bulan Juni, awal musim panas di Volendam, Belanda.
Cuaca hangat menyentuh kulitku yang tak tertutupi oleh gaun putih, saat pertama kali aku dan rombongan menuju ke De Dijk, suatu kawasan di sekitar pelabuhan utama.
Meski area pelabuhan, namun jangan mengira jika hanya akan menemukan kapal nelayan yang berlabuh.
Tapi di sekitar jalan ini akan ada banyak sekali toko-toko dan rumah-rumah tradisional khas Eropa yang terbuat dari kayu.
Perjalanan dari rumahku menuju pelabuhan utama hanya sekitar 5 menit dengan menggunakan mobil.
Aydin yang kini mengulurkan tangannya untuk membantuku turun dari mobik dan segera aku meraih tangan Aydin yang tampak semakin mempesona dalam balutan jas berwarna abu.
"What?"
Apa ini nyata?
Sebuah Classic boat Cruise yang bertuliskan 'gifeliciteerd getrouwd en gilukkig' yang berarti 'selamat menikah dan semoga selamanya' terpampang sangat besar di sisi boat Cruise.
Di atasnya sudah hadir beberapa tamu undangan.
Rasanya aku tak bisa berkata-kata saat melihat semua ini.
"Ay, kamu benar-benar mewujudkan impianku?" Gumamku lirih dengan pandangan yang tak lekang dari Boat Cruise itu.
"Ye tentunya semua harus sesuai dengan impianmu sayang, aku akan menjadikan pernikahan kita adalah mimpi indahmu yang jadi nyata," Bisik Aydin.
"Terima kasih Ay," ucapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Jangan menangis sayang, ini hari bahagia kita, aku ingin hanya tawa yang terukir di bibir indahmu."
Aku mengangguk setuju.
Benar apa katamu Ay, aku harus bahagia. Ini hari bahagia kita.
ok
Dan Kuharap dari atas sana, Bunda dan Rani pun diizinkan Tuhan untuk sebentar saja melihat betapa bahagianya kami.
Bunda … Kuharap Bunda akan bahagia di mana pun Bunda kini.
Rani … Kuharap aku tak mengecewakanmu sebab terlalu lama mewujudkan amanah mu. Namun, kuharap kau bisa melihat jika kini hampir semua orang bahagia, maka berbahagialah di sana.
💕💕💕
__ADS_1