
“Your mind is your greatest power. Use it well.”
(Aneta Cruz)
Seperti ungkapan jika pikiran adalah kekuatan terbesarmu. Gunakan itu sebaik-baiknya.
Mungkin hal ini yang kini terjadi pada seorang Risa. Terlalu banyak peristiwa yang terjadi padanya akhir-akhir ini.
Pikirannya bekerja terlalu keras, pikirannya tak mampu lagi menangani semua kekhawatiran yan Ia rasakan.
Hingga akhirnya malam ini adalah puncaknya. Malam ini wanita itu harus terbaring lemah setelah puas menyalahkan dirinya sendiri.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Mama...Mama Risa,” pekik Dafha tepat di depan wajah Risa yang sedang mengerjapkan matanya.
“Apakah aku masih mimpi? Kenapa aku melihat ada Dafha.” Batinnya.
Risa mengikuti nalurinya, Ia mengulurkan tangannya membelai wajah Dafha.
“Dafha, Mama rindu.” Lirihnya.
“Dafha juga rindu, “ balas anak itu kemudian memeluk risa yang masih berbaring.
Dengan segala kekuatan yang tersisa, Ia membuka matanya.
Di hadapannya kini tengah banyak orang yang berkumpul, memperhatikan interaksinya dengan seorang anak kecil.
“Anak kecil?” batinnya.
Lalu Risa merasa ada sesuatu yang berat menindih tubuhnya kini.
“Dafha?” Pekiknya.
“Bagaimana kamu bisa di sini? Kamu gak mungkin datang sendiri kan Nak?” cecar Risa.
“Dafha datang bareng Daddy." Jawabnya.
"Seminggu ke depan aku libur sekolah, apa boleh menghabiskan waktu bersama Mama Risa?” pintanya.
Risa tersenyum, “Tentu saja. Kapanpun boleh, selama Daddy mengizinkan.” Jawab Risa dengan suara yang masih terdengar lemah.
“Silahkan jika ada yang ingin kalian berdua bicarakan,” ujar Martha lalu mengajak suaminya kembali ke kamar.
Amora juga mengajak Gio ke kamarnya.
Begitupun dengan Esme dan Echa yang memilih untuk pergi ke apartemen Echa.
Kini di kamar Risa hanya tersisa mereka bertiga. Dafha yang masih setia duduk di pangkuan Risa.
“Aku hanya ingin mengantar Dafha. Jika dia berulah hubungi aku , dan akan segera ku jemput.”
Risa hanya mengangguk.
“Jangan terlalu memanjakannya, jangan mengikuti semua keinginannya.” Peringat Aydin .
“Ya, aku tau kok gimana harus menjaga Dafha. “ Balas Risa.
“Sebaiknya kamu pergi sekarang. Aku tak ingin calon istrimu salah paham jika tau semalam ini calon suaminya berada di ....." Sindirnya.
Entah mengapa ucapannya barusan, seperti kembali menghantam dirinya dengan kenyataan jika kisah cintanya akan segera berkahir dengan tragis.
“Baiklah,aku pamit. Aku titip Dafha.” Ujar Aydin sebelum berlalu meninggalkan apartemen yang cukup memiliki banyak kenangan bersama Risa.
Setelah kepergian Aydin, Risa hendak mencecar Dafha dengan beragam pertanyaan namun terpaksa Ia urungkan karena Dafha yang sesekali menguap.
“Baiklah, sekarang lebih baik kita lanjutkan tidur. Besok Mama Risa akan bertanya beberapa hal pada Dafha.”
__ADS_1
Dafha mengangguk kemudian perlahan memejamkan matanya dan mulai berlayar ke alam mimpi.
Risa memandangi wajah polos Dafha yang tengah tertidur.
“Rani, beruntungnya dirimu telah melahirkan malaikat seperti Dafha.” Gumamnya.
“Apakah aku masih pantas mendapatkan cinta dan kasih dari Dafha, padahal aku tidak berhasil melakukan amanat mu, keinginan terakhirnmu?” lanjutnya.
Kepalanya yang masih terasa berat serta obat penurun demam yang tadi sempat Ia minum membuatnya kembali mengantuk.
Dengan berbaring ke arah Dafha, “Hemm, kenapa wajah mu mirip dengan Daddy mu,” keluhnya.
“Aku jadi semakin rindu padanya.” Gumamnya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hari terus berganti, ini adalah hari ke tiga Dafha tinggal bersama Risa.
Jika kemarin , Mereka berdua terus menghabiskan waktu dengan bersenang-senang.
Berbelanja makanan ringan dan mainan , bermain di play land hingga lupa waktu, dan nonton film kartun di bioskop .
Harusnya hari ini adalah jadwal bagi keduanya untuk berenang, tapi sayang harus batal karena Risa yang mendapat telepon dari Amora jika Ia harus datang ke perusahaan Ortiva Construction.
Rencananya Dafha akan tinggal bersama Martha dan suamihya, namun terpaksa Risa harus membawa Dafha ikut bersamanya ke perusahaan karena Ia memaksa ikut.
Kini keduanya berjalan menuju ruangan rapat diiringi tatapan mata dari para karyawannya .
Banyak pasang mata yang bertanya-tanya mengenai sosok anak kecil yang ada di sisi bos barunya yang terkenal masih single.
“Aunty Moya...., “ pekik Dafha kegirangan saat melihat Amora duduk di salah satu kursi di ruangan yang Ia masuki.
Yah, sesenang itu Dafha jika bertemu dengan Amora. Wanita yang menjadi idolanya sejak 3 hari yang lalu.
“Aunty Moya cantiknya mirip artis di film yang oma nonton.” Begitulah alasan hingga Amora menjadi idolanya.
“Hah? Putra?” Batin Risa kembali menepis hal itu.
Semakin lama bersama Dafha, semakin Ia merasa jika anak itu adalah putranya.
“Selamat pagi semuanya,” sapa Risa.
“Maaf jika sejak menempati kursi CEO saya baru hadir ditengah tengah kalian,” lanjutnya.
“Sekarang mari kita mulai rapatnya.”
Tuturnya memulai rapat yang tertunda karena harus menunggu kehadirannya.
Beberapa jam kemudian rapatpun usai.
Risa memasuki ruang CEO yang dulunya di tempati oleh Ayahnya, Ferdinand.
Tempat pertama yang Ia tuju adalah ruang pribadi tempat Amora menidurkan Dafha.
Ia belai puncak kepala Dafha, anak itu terlihat begitu murni, begitu polos.
“Semudah itu memang jatuh cinta pada anak ini.” Ucap Amora.
“Kini aku paham mengapa Rani membuat amanat yang awalnya ku pikir konyol.” Lanjutnya.
“Ia hanya ingin memastikan jika Dafha berada di tangan yang tepat, agar anak ini tidak akan kehilangan pesonanya saat Ia di asuh oleh orang yang salah.” Ujarnya.
Tak ada sahutan apapun dari Risa.
Wanita itu bungkam.
“Meski begitu, takdir tetap tak bisa dikalahkan Eonni.” Jawabnya.
__ADS_1
Amora tidak bisa berucap apapun jika Risa sudah membahas soal Takdir dan Ketentuan sang pencipta.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Risa kembali ke meja kerjanya. Meja kerja yang dulu ditempati oleh ayahnya.
Ia mulai membaca beberapa berkas, penurunan harga saham, serta kerugian karena ulah Ferdinand benar-benar menjadi tantangan bagi Risa kini.
Untung saja masih ada beberapa perusahaan perkebunan yang ditinggalkan kakeknya.
Seperti rencana awalnya, Risa akhirnya memutuskan untuk melakukan penggabungan semua perusahaan (merger) yang berada dibawah kepemilikannya, baik perusahaan perkebunan, konstruksi, hingga perusahaan kecantikan miliknya.
Ditambah dengan investasi yang akan diberikan oleh Ayah angkatnya juga Gio, Risa yakin jika rencananya yang bertujuan tak lain untuk menyelamatkan Ortiva Construction akan berhasil.
Risa menyadari tatapan Amora yang kini duduk dihadapannya.
“Kenapa Eonni menatapku seperti itu?” tanya Risa.
“Tak ku sangka jika kau juga punya bakat dalam mengelola bisnis.” Ucap Amora.
“Biasa melihatmu berlenggak-lenggok di atas catwalk, atau melihatmu berpose di depan kamera, sungguh telah membuatku kagum.”
“Tapi melihatmu duduk di sana dengan kening mengernyit saat membaca berkas-berkas itu membuatku yakin mengapa kau menjadi luar biasa.“
“Inilah yang membuatmu luar bisa Brisa, kau selalu mencurahkan semua kemampuanmu pada setiap apa yang kau kerjakan. Aku bangga padamu.” Ujar Amora.
“Eonni, geumanhae (sudahlah).” Pekik Risa.
“Johneun gamdongjogiyeyo (Aku tersanjung),” lanjutnya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Satu bulan kemudian,
Kini Risa mengerti, mengapa Esme akan berusaha untuk selalu bangun pagi lebih awal.
Setelah beberapa hari mengikuti kebiasaan Esme, kini Risa mulai menikmatinya.
“Akan ku beritahu mengapa kini bukan hanya senja yang ku puja. Kini aku juga memuja pagi hari.” Ucapnya pada Esme saat keduanya tengah berjalan santai di taman.
“Apa alasannya?”
“Karena kini aku paham, jika pagi selalu datang untuk menyadarkan manusia bahwa mereka berhak memiliki kesempatan baru.” Jawab Risa.
“Pikirkanlah Eonni, betapa berharganya kesempatan itu, kita bisa kembali hidup, bernapas, berpikir, menikmati, mencintai."
“Hemm, tapi untukku mencintai sepertinya akan ku coret dulu.” Ujarnya lalu terkekeh dengan sendirinya.
Esme tahu, tawa Risa kini hanyalah cara Ia menyembunyikan rasa sedih dan kecewanya pada cinta.
Hingga suara lembut seorang wanita yang menyebut nama Risa berhasil menghentikan tawanya.
“Risa,” panggilnya.
Risa dan Esme menoleh ke arah sumber suara.
“Bolehkah aku bicara berdua denganmu?" pintanya.
Beberapa detik Risa bungkam, hingga akhirnya Ia menjawab.
“Tentu saja boleh Franda.” Jawabnya disertai senyuman.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Tanpa kau sadari, kau membuka dua hadiah ketika bangun di pagi hari.
Yaitu, matamu.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡