
“Cinta butuh perjuangan?”
“Ku yakin ini akan sangat melelahkan, tapi tak akan ku ucapkan keluhku itu karena aku masih berharap jika kau memang cinta sejati yang patut menerima perjuanganku.”
-Brisa
"Mengasihimu adalah kelemahan terbesar dan kekuatan terbesarku."
-Aydin
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Tanpa membuang waktu lagi Aydin segera menghampiri wanita yang tengah berdiri membelakanginya.
Wanita itu bahkan mengenakan tea- length dress kemeja tanpa lengan berwarna maroon yang Ia pakai saat mereka pertama kali saling berpapasan di sebuah restauran.
Sengaja Aydin melangkahkan kakinya selebar yang Ia bisa agar bisa lebih cepat menggapai wanitanya, Ia lingkarkan kedua tangan kekarnya ke perut rata sang model kelas dunia, mendekapnya erat, agar wanita dalam dekapannya tak bisa lagi memberi jarak diantara mereka.
“Ku mohon jangan pergi,lagi.” Kata itu akhirnya terucap dari bibirnya.
Sembari kepalanya bertumpu pada bahu wanitanya.
“Beri aku satu alasan agar aku tetap tinggal.” Suara wanita itu akhirnya menggema, memberi ketenangan di hati Aydin bahwa yang terjadi saat ini bukanlah mimpi.
“Aku mencintaimu Risa. Hanya kau, Brisa Elzavira atau Kim Risa, yang kini ada di hatiku.”
“Jangan hanya minta satu alasan sayang, karena aku punya beribu alasan untuk tetap jatuh cinta padamu meski dengan bodohnya selalu kupungkiri, membuatmu harus menunggu selama ini.” Ucap Aydin dengan penuh keyakinan.
Risa lalu membalik tubuhnya kini dua pasang netra anak manusia yang saling mencintai itu bertemu.
Saling memandang, saling mencari kesungguhan disana.
"Berapa lama waktu yang kau pinta untuk memberitahuku semua alasan itu ?" tanya Risa.
"Selamanya. Aku akan selalu punya alasan mengapa aku begitu mencintaimu, disetiap kali mataku terjaga hingga akan kembali terpejam."
“Lantas apa yang kau inginkan sekarang?” tanya Risa.
“Aku ingin kau ikut denganku sekarang, naik dimobilku dan akan kutunjukkan rumahku yang dulu padamu.” Ucap Aydin membuat Risa terkekeh.
Ucapan Aydin sekarang mengingatkannya pada moment saat pertama kali Aydin mengantarnya pulang saat mereka bertemu di pusat kebugaran.
“Yakin sekali kau jika aku mau ikut. Kau bahkan tak meminta.” Balas Risa dengan mencebikkan bibirnya membuat Aydin gemas.
Segera Ia dekatkan wajahnya mengikis jarak yang hanya sedikit hingga jarakpun tak ada lagi ketika kedua bibir mereka saling menyapa.
Cup.
Risa tak menolak ciuman Aydin, karena hal itu juga telah Ia nantikan sejak lama.
“Manis. Aku selalu merindukan rasa manis bibirmu sayang,” bisik Aydin.
Hembusan napasnya yang begitu terasa di ceruk leher Risa yang selanjutnya menjadi target Aydin.
“Apa aku masih perlu meminta? Aku bahkan akan berlutut jika memang kau menginginkannya sayang."
Risa menggeleng, “Tidak perlu. Aku akan tetap disini, bersamamu, hingga kau sendiri yang menyuruhku pergi barulah aku akan pergi.”
“Maka bersiaplah untuk di sisiku selamanya hingga maut yang memisahkan kita karena kini kau tak akan ku lepaskan lagi.” Ucapnya.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
¤¤¤¤¤《Flash Back》 ¤¤¤¤¤
Malam semakin larut, sekitar pukul 23.30 disaat sebagian besar orang sudah mulai beristirahat dan berkelana di alam mimpinya, namun hal itu tentu tidak berlaku bagi Aydin.
Perusahaan yang dibangunnya sejak masih di bangku kuliah, hanya berawal dengan satu komputer hadiah dari ayahnya di sebuah kamar yang tak begitu luas.
Berkat kegigihannya Aydin berhasil membuat Ohana Tech, perusahaan yang dinamainya berdasarkan nama seorang gadis yang pernah Ia temui menjadi perusahaan IT yang terbesar di Indonesia.
Namun kini perusahaan itu dalam kondisi yang kurang stabil dan semua karena kelalaiannya. Karena dirinya yang teralihkan untuk memulihkan hatinya yang sedang terluka.
Sudah hampir seminggu Aydin bolos dari profesinya sebagai penguntit.
“Ahhhh.... Aku sungguh merindukannya.” Gumam Aydin sebelum membelokkan mobilnya memasuki halaman rumah orang tuanya.
Kening Aydin mengernyit saat melihat lampu di ruang tengah masih menyala.
Samar-samar Ia dengar pembicaraan kedua orang tuanya dan adiknya.
Sungguh suatu berita mengejutkan yang sukses menyesakkan dadanya. Sangat jelas Aydin mendengar jika Ayahnya mengatakan jika dirinya kini menggantikan Risa sebagai pemimpin yayasan karena wanita itu akan pergi jauh.
Aydin memutuskan untuk berlalu langsung ke kamarnya tanpa harus mencari tahu hal yang sangat mengganggu pikirannya.
Tanpa pria itu sadari, tiga orang yang pembicaraannya berhasil mengganggu batin Aydin kini tengah tersenyum puas karena rencana mereka berhasil.
♡♡♡♡
Belum juga Ia berhasil mencari tahu kebenaran di balik ucapan Ayahnya semalam, hari ini Ia di kejutkan dengan kedatangan Risa di perusahaannya.
“Apa aku mengganggumu? Maaf jika aku datang tanpa pemberitahuan lebih dulu.” Ucap Risa.
Salahkah Aydin jika dia sangat ingin berhambur memeluk wanita yang sangat Ia rindukan ini.
“Aku ingin meminta izinmu untuk mengajak Dafha bertemu.” Pinta Risa.
“Kapan?”
“Jika bisa hari ini, tapi kalau tak bisa mungkin besok.” Jawabnya.
“Apa tidak bisakah di akhir minggu saja?Dafha masih harus sekolah.”
“Aku tak punya waktu, aku tak bisa menunggu selama itu. “ Ucap Risa.
“Baiklah, besok akan kuantarkan Dafha ke apartemenmu.” Ucap Aydin.
“Terimakasih Aydin.” Ucap Risa sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan Aydin.
Sepeninggal Risa, Aydin makin dibuat bingung. Pertama, Ayahnya yang tiba-tiba menjadi pemimpin Yayasan menggantikan Risa, kedua Risa yang ingin bertemu Dafha secara tiba-tiba.
♡♡♡♡
Untuk membantu memulihkan kondisi perusahaannya, Gio menawarkan pada Aydin untuk kembali bekerjasama pada proyek pembangunan apartemen yang bekerja sama dengan Risa.
Aydin sangat bersemangat, Ia pikir jika hari ini Ia beruntung karena bisa melihat Risa tanpa harus mengikutinya.
Namun sayang itu semua hanya bisa menjadi harapan Aydin karena kini yang Ia temui adalah Amora. Amora kini menggantikan posisi Risa.
Aydin merasa semuanya makin aneh. Mengapa seolah Risa menarik diri.
__ADS_1
Entah mengapa perasaan Aydin tak tenang.
Lalu tiba-tiba Ia teringat Echa, hanya pria itu yang bisa Ia mintai informasi.
Segera Ia menghubungi Echa, dan jawaban pria itu rasanya bisa meruntuhkan dunia Aydin seketika.
“Risa? Apa dia tidak bilang padamu jika 2 hari lagi dia akan pergi ke Belanda mengikuti Eomma dan Appanya.”
DEG !
Perasaan apa ini? Rasanya ada yang tiba-tiba hilang dari hati aydin, sesuatu yang selama ini membuatnya bertahan, sesuatu yang selama ini Ia jadikan alasannya untuk memejamkan mata saat malam dan terjaga saat fajar.
Sesuatu yang sering disebut sebagai harapan.
♡♡♡♡
Pukul 03.00 dini hari Aydin baru terlelap. Memikirkan jika beberapa jam lagi Risa akan pindah ke belahan dunia lainnya.
Samar-samar dalam mimpinya, ia melihat seorang wanita dengan gaun putih, seberkas cahaya nampak memancar darinya.
“ Saatnya kamu bahagia Aydin, kejar dia. Hatimu akan menuntun ke wanita yang hatimu pilih sejak dulu.”
Aydin hanya terpaku di tempatnya “Kirani? Kaukah itu?” tanyanya.
Lalu netra Aydin mengikuti arah yang ditunjuk wanita itu, di sana ada sosok wanita lainnya.
Wanita itu melambai padanya. Jelas sekali ada air mata yang berlinang di wajah cantiknya.
Langkahnya sangat berat, Ia bahkan harus berjalan mundur, dengan tatapan terus pada Aydin. Namun semakin Aydin dekati, wanita itu mundur menjauh.
“Ay.”
Satu kata yang meyakinkan Aydin jika wanita itu adalah Risa.
“Risa.... Risa.... “
Rasa sesak di dadanya saat bermimpi Risa pergi membuatnya terjaga dari.
♡♡♡♡
Tak ada hal lain di benaknya kini. Yang Aydin inginkan hanya segera bertemu Risa. Menyatakan perasaannya. Memiliki Risa, menjaga wanitanya tetap disisinya.
Berbekal alamat yang diberikan Echa, Aydin melajukan mobilnya. Aplikasi penunjuk arah mengarahkannya ke tempat yang tak asing baginya.
Tempat pertama kali Ia bertemu dengan wanita pertama yang ingin Ia lindungi.
Wanita yang menghilang 11 tahun lalu.
Dia, yang Aydin sebut dengan “si titipan paket”.
“Apakah dia adalah Brisa Elzavira?” batin Aydin.
“Lalu bagaimana dengan Eijaz?”, lanjutnya membatin
“Maaf. Aku akan egois. Saatnya kini aku yang bahagia.” Gumamnya.
¤¤¤¤¤《 FLASHBACK OFF 》 ¤¤¤¤¤
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
__ADS_1
“Tuhan, ampuni Aku. Aku kembali egois. Tapi aku dan putraku juga ingin bahagia, dan kebahagiaan kami ada bersama wanita ini.” Batin Aydin.
“Eijaz, dimanapun kau kini tolong maafkan aku. Ku harap suatu saat jika kita bertemu kau mengerti jika kami berdua telah ditakdirkan bersama, dan kau adalah salah satu bagian dari bagaimana cara kerja takdir mempertemukan kami 11 tahun lalu.