
Meski berat pada awalnya ketika harus terpisah jarak dan dunia denganmu.
Tapi tak apa, janganlah risau. Aku akan membiasakan diri dengan semua ini.
Bagaimana denganmu? Nyamankah tempatmu kini?
Semoga, sebab aku selalu menyebut namamu dalam doaku.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Aku tidak datang untuk bertanya Ayah, aku datang untuk meminta penjelasan dari Ayah. Karena ku yakin jika Ayah memiliki apa yang ku cari.” Ucapannya Ia jeda sesaat untuk menarik napas panjang.
“Kebenaran.” Ujar Aydin.
Ayah Wisnu bungkam cukup lama.
“Akhirnya hari ini tiba. Hari dimana pria yang telah melengkapi ibadah putrinya melalui sebuah pernikahan, datang padanya.”
"Sudah lama Ia menantikan saat ini, berharap Ia diberi kesehatan, diberi umur panjang agar bisa menyampaikan amanat yang diberi padanya."
“Inilah saat yang tepat baginya untuk menjalankan amanat putrinya yang terakhir.”
Ayah Wisnu mengehela napasnya berkali-kali. Entah dari mana Ia harus memulainya.
Ia sungguh khawatir jika Aydin akan kecewa padanya.
Atau yang terburuk, Aydin juga akan kecewa pada Brisa.
Lalu bagaimana dengan Kirani? Bagaimana dengan keinginan putrinya yang terakhir.
“Katakanlah aku egois, karena hanya memikirkan putriku. Tapi sebagai ayah, tak ada kata cukup, berhenti, atau putus untuk kasih sayang dan cinta kepada buah hati. Meski dunia yang menjadi jarak pemisahnya.” Batin Ayah Wisnu.
“Aydin, sebenarnya sudah sejak lama aku menantimu untuk datang menemuiku.” Ucap Ayah Wisnu.
“Ternyata hari ini. Cukup miris sebenarnya, karena fakta ini terungkap disaat kau dan Brisa sedang terkena musibah.” Sambungnya.
Tak ada satupun kata yang Aydin ucapkan. Ia menggantikan Ayah Wisnu untuk bungkam.
Kini saatnya Ayah Wisnu yang harus menjelaskan semua kebenaran yang disembunyikan darinya.
Aydin bisa melihat raut wajah sedih pada Ayah Wisnu saat harus mengingat putrinya.
“Ayah, tak perlu terburu-buru. Aku akan menunggu Ayah hingga siap.” Ucap Aydin menenangkan.
Ayah Wisnu menggeleng.
__ADS_1
“Tak apa Nak. Sebenarnya Ayah juga tak yakin jika bisa menyimpan amanat Kirani sampai kapan”
“Aydin, meski usia kita berbeda jauh, namun kita berdua sama-sama pria. Pria yang pernah kehilangan wanita yang kita cintai.”
“Namun kau beruntung karena masih memiliki Dafha, juga sebentar lagi kau akan mempersunting Brisa.“
"Jangan menyesali atau mungkin menyalahkan apa yang telah terjadi.”
“Kamu harus percaya jika berjodoh, maka tetap akan bersatu. Meski dengan cara yang tak akan pernah bisa kita tebak.” Sambung Ayah Wisnu.
Aydin mengangguk.
“Sebenarnya apa hubungan Risa dan Kirani? Dari yang ku baca, sepertinya keduanya sangat dekat.” Tanya Aydin.
Kini gantian Ayah Wisnu yang mengangguk dan membenarkan ucapan Aydin.
“Yah, kau benar. Brisa dan Rani adalah sahabat. Sahabat yang sangat dekat, layaknya saudara.”
“Aku adalah saksi, bagaimana mereka saling menjaga dan melengkapi satu sama lain." Ucap Ayah Wisnu.
Ia kembali terbayang masa-masa remaja putrinya.
"Rani, sejak kecil Ia selalu kesepian. Rani adalah anak tunggal, dan harus kehilangan sosok Ibu sejak kecil.”
“Satu yang kulupakan Nak, yaitu perasaan Rani. Aku terlalu sibuk menjaga perasaanku sendiri. Hingga tak memikirkan perasaan putriku.”
“Dia kesepian. Saat bahagia dia akan melaluinya sendiri, saat sedih juga harus Rani lalui seorang diri."
"Dan aku, apa yang kulakukan saat itu hanyalah berusaha menjaga rasa cintaku agar tetap utuh, tak berubah pada Almarhumah Ibunya.”
“Hingga Ia bertemu Brisa. Gadis cantik yang nyaris sempurna jika dilihat dari luarnya saja. Kesempurnaan dalam bentuk wajah dan tubuh, keluarga yang lengkap, bahkan dia memiliki saudara untuk berbagi tawa dan tangis.”
“Rani sempat iri, Ia cemburu pada Brisa. Menyalahkan Tuhan atas segala yang tidak Ia miliki."
"Sampai pada Tuhan menunjukkan padanya. Ia melihat sendiri kenyataan, bagaimana kehidupan sempurna Brisa dibalik gerbang, yang semuanya ternyata berbanding terbalik dengan yang orang pikirkan.”
“Kehidupan gadis itu bahkan lebih menyedihkan darinya. Entah bagaimana awalnya, sejak saat mereka saling mengenal, sejak saat itulah mereka saling melengkapi."
"Keduanya saling membutuhkan, Brisa yang membutuhkan seseorang yang tulus padanya, dan Rani yang membutuhkan seseorang untuk mengusir kesepian yang terus menyiksanya.”
♡♡♡♡♡♡♡♡
Aydin benar-benar melakukan ucapannya.
Pria itu bungkam, dan hanya bertindak sebagai pendengar.
__ADS_1
Mendengarkan kisah Risa dan Rani.
Kisah yang semestinya Ia dengar langsung dari Rani, namun sepertinya Ia belum cukup dipercaya oleh mantan istrinya itu untuk menyimpan kisah sang istri.
Dari kisah yang Ayah Wisnu bagi padanya, entah mengapa Ia merasa jika Ayah Wisnu sedang menasihatinya.
Ada persamaan antara dirinya dan Ayah Wisnu yang Aydin sadari.
“Kami sama-sama sulit untuk keluar dari masa lalu. Dengan alasan yang sama, Aku juga pernah seperti Ayah Wisnu.” Batin Aydin.
“Ya, aku pernah. Dan berakhir ketika Risa datang ke kehidupanku. Menarikku keluar dari jeratan masa lalu yang ku buat sendiri, seorang diri.”
“Apakah Dafha bisa saja seperti Kirani kecil? Atau mungkinkah Dafha telah merasa kesepian seperti Kirani kecil?”
“Mungkin. Ya, mungkin putraku itu sudah pernah merasakan kesepian itu.”
Aydin kembali mengingat saat Dafha sempat kehilangan keceriaan dan tawanya. Dan Aydin terus menjadikan alasan rindu pada sosok Kirani yang menyebkan hilangnya senyum di wajah putranya.
Namun semua berubah sejak Risa hadir. Sejak Risa menjadi malaikat yang dikirim spesial untuknya, jika mengikuti sebutan Dafha pada Risa.
“Ya, bahkan Dafha kembali menemukan senyumnya setelah Risa hadir sebagai malaikatnya.” Gumam Aydin.
“Rani, apa ini semua adalah alasan kamu melakukan ini? Apa menurutmu hanya Risa yang bisa memberi kebahagiaan untukku dan untuk putramu?” Batin Aydin bertanya dengan menatap foto Rani yang terpajang di dinding.
“Maaf, Ayah membuatmu menunggu.”
Kesadaran Aydin kembali saat Ayah Wisnu yang tadi sempat izin mengambil sesuatu, akhirnya kembali.
“Tak apa Ayah.”
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Ayah Wisnu.
“Entahlah, aku masih mencoba mencerna semuanya. Rasanya semua yang terjadi di hidupku sudah diputuskan, tanpa melibatkan aku. Seperti aku tak punya pilihan lain, selain menjalani semuanya.” Ujar Aydin.
“Benar. Semuanya benar. Kehidupan kita memang sudah direncanalan oleh-Nya. Dan semua rencana-Nya akan selalu berakhir indah. Percayalah. Kau hanya perlu bersabar, bersyukur, dan menjalani sebaik-baiknya.” Ucap Ayah Wisnu.
“Dan ini,” Ayah Wisnu memberi sebuah amplop usang, yang dari warnanya saja sangat jelas jika amplop itu sudah lama disimpan.
“Ini adalah amanat terakhir Kirani, hari ini telah ku serahkan padamu. Tugasku sudah selesai menjalankan semua amanat putriku.” Ucap Ayah Wisnu dengan mata yang merah dan berkaca-kaca.
“Aku akhirnya tenang Aydin. Ku harap Rani juga akan tenang di sana.”
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
"Rindu bilang, ia adalah kesabaran. Untuk memenangkannya, kita hanya butuh berteman dengan waktu, tunggu, dan mampu."
__ADS_1