Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 137. Aydin pergi?


__ADS_3

Hai pria egois pemilik hatiku,


Bagaimana kabarmu di tempat persembunyianmu?


Apakah datang dan pergi sesuka hati, masih menjadi hobimu?


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


...¤¤¤¤《Flashback》¤¤¤¤...


...¤¤¤¤《Hari pertama Aydin pergi》¤¤¤¤...


Mata indah milik Risa sudah beberapa jam tertutup rapat.


Risa pingsan. Menurut dokter, Ia pingsan karena meningkatnya suhu tubuh Risa akibat reaksi infeksi atau biasa juga disebut peradangan pembuluh darah.


Aliran infusnya terhambat oleh gumpalan darah yang naik ke selang infus. Entah apa yang telah Ia lakukan sebelumnya, karena hal itu biasanya terjadi karena gerakan tangan yang berlebihan pada lokasi dipasangnya infus.


Hingga, Dafha yang pertama kali menyadari jika jemari Risa bergerak sangat pelan, setelah pingsan sekitar 7 jam.


“Ma... Mama.... Mama sudah bangun?” Seru bocah itu kegirangan.


Ucapan Dafha menarik perhatian semua orang yang sejak tadi cemas menunggu Risa sadar.


Amora yang berada paling dekat dengan brankar Risa, segera mendekati adik angkatnya yang sedang berusaha membuka matanya.


“Risa.... Hei Kim Risa... Apa kau bisa mendengarku?” tanya Amora.


Sementara di alam bawah sadarnya, suara seorang wanita yang tak asing terus terngiang di telinganya.


“Amora, itu suara Amora.” Batin Risa.


Ia masih berusaha untuk membawa dirinya kembali dalam kesadaran.


Sekuat tenaga Ia melawan sesuatu di dalam dirinya. Entah apa itu, yang pasti apapun itu terus menariknya ke dalam sebuah gua yang gelap, sangat gelap, dan seperti tak berujung.


“Tidak, aku tidak mau kembali ke tempat gelap itu. Aku merasa sesak di sana. Aku, aku, aku harus kembali, aku harus membuka mataku, ada sesuatu yang ingin ku pastikan.” Jauh di dalam lubuk hati Risa, kini sedang terjadi pergumulan hebat.


Sementara, Amora, Esme, dan Mama Indira, semakin panik saat gerakan jemari Risa semakin kuat. Terbersit pengharapan dan juga rasa syukur karena mungkin saja sebentar lagi Risa sadar.


Namun keadaan menjadi panik saat kepala Risa mulai ikut bergerak perlahan tapi tak beraturan.


Mereka bisa melihat kening Risa mengernyit.


Amora tak kuasa menahan air matanya, sedang Mama Indira dengan mata yang berkaca-kaca berusaha menahan air matanya itu agar tak keluar dari tempatnya.


Tak lama Gio kembali bersama dokter dan beberapa perawat.


Sontak semuanya berhambur menjauhi brankar, memberi akses agar dokter lebih leluasa.


“Nona... Nona...” Panggil dokter sambil menepuk kedua bahu Risa.


Sementara perawat terlihat sedang menyuntikkan sesuatu melalui selang infus Risa.


Dafha yang mengira jika Risa akan disuntik sontak saja menangis.


Anak itu memekik,”Jangan suntik Mama Risa, dia akan kesakitan.” Ucapnya di sela-sela tangisannya.


Dan secara tiba-tiba, mata Risa perlahan membuka.


Bahkan kepalanya tak lagi bergerak tak beraturan.


Hanya satu kata yang terucap dari bibirnya saat mata indah itu kembali bisa melihat cahaya.


“Da..fha,” lirih suara Risa nyaris tak terdengar.

__ADS_1


Dokter yang berada paling dekat dengannya, mengulang kembali apa yang baru saja diucapakan pasiennya.


“Dafha? Apa di sini ada yang bernama Dafha?” tanya dokter ramah.


“Sa...ya dokter,” takut-takut anak itu menjawab.


“Ayo sini, sebaiknya kamu sapa Mama kamu yang baru saja bangun.” Ucap dokter dengan lembut agar Dafha tidak takut padanya.


Dafha segera mendekat ke arah brankar, sementara yang lainnya kini sedang menahan suara isakan agar Risa tidak mendengarnya.


Dokter membantu Dafha duduk di tepi brankar.


“Mama, sudah bangun? Hari ini Mama yang kena hukuman bernyanyi karena sudah bangun kesiangan.” Oceh Dafha tanpa jeda, tanpa tahu alasan mengapa wanita yang Ia panggil Mama baru bisa membuka matanya saat ini.


Dokter dan perawat menahan tawa mendengar celotehan anak laki-laki yang sangat menggemaskan.


Yah, itulah kebiasaan Risa, Aydin, dan Dafha beberapa bulan terakhir. Sejak Dafha lebih sering tinggal bersama Risa, keduanya membuat beberapa aturan salah satunya seperti yang tadi. Harus bernyanyi jika bangun kesiangan.


Tangan Risa terulur mengelus lembut pipi Dafha. Tanpa sadar air matanya berlinang lewat sudut-sudut matanya.


Tak ingin mencampuri privasi pasien lebih jauh, dokter dan perawat segera undur diri.


“Risa, apa ada yang sakit?” tanya Amora dengan suara bergetar.


Risa hanya menggeleng. Bibirnya masih keluh, rasanya sulit untuk mengucapkan meski hanya sebuah kata.


Senyumannya yang dipaksakan, sudah menjelaskan bagaimana kondisi Risa saat ini.


Jika dokter berkata Risa baik-baik saja dan memang hal itu benar. Risa baik-baik saja dari segi fisiknya, tapi tidak dengan batinnya.


Netranya menatap ke seluruh sudut ruangan, “Memangnya apa yang ku harapkan?” batinnya.


“Ma.... Ma.....” Panggil Dafha yang masih bertahan duduk di tepi tempat tidur.


“Ya, ada apa?” tanyanya pada Dafha.


Bagai sebuah tamparan, sakit rasanya saat menyadari jika Aydin benar tak ada di sini.


Mendengar pertanyaan Dafha dan bungkamnya Risa, air mata Mama Indira kembali luruh.


Malu.


Yah, wanita paruh baya itu malu dengan sikap putrannya. Menghilang tanpa menyelesaikan masalah, sama artinya dia menghindar. Dan menghindari masalah itu adalah tindakan seorang pengecut.


“Daddy, sedang ada pekerjaan penting.”


Begitulah jawaban Risa, wanita yang hatinya lagi-lagi sakit saat harus berbohong pada Dafha.


Detik demi detik berlalu, tak ada hal penting yang terjadi. Meski tak ada yang bertanya, tapi Risa tahu jika semua orang yang kini berusaha bertingkah seperti biasa demi dirinus. Sudah mencurigai ketidakhadiran Aydin saat ini. Atau mungkin saja mereka sudah mengetahuinya.


Hingga langit yang tadinya biru, kini berubah menjadi hitam, menandakan malampun telah tiba.


Risa sejak 5 menit yang lalu hanya berdiri menatap ke arah luar jendela.


Sweter turtleneck hitam yang Ia kenakan sama dengan warna langit yang kini Ia pandangi.


Bedanya, langit diatas sana meski gelap tapi tetap terlihat sangat indah oleh cahaya bulan dan kerlap kerlip bintang.


Sedang Risa, mata sembab dengan wajah lesu tak bertenaga, baginya kini bukan saat yang tepat memikirkan penampilan.



Sudah Ia putuskan untuk jujur pada semuanya. Tak ada yang akan Ia tutupi lagi, Risa tak ingin ada harapan yang nantinya akan patah oleh realita.


Risa tak ingin mengulang lagi kesalahannya, memulai dengan kebohongan, lalu pura-pura lupa agar bahagia yang semu tampak nyata.

__ADS_1


Tidak. Sangat sakit rasanya, dan Risa tak ingin orang-orang yang seharian ini terus berada di sisinya, akan kecewa jika nanti apa yang mereka harspkan tak terjadi.


“Aydin, entah di manapun kamu kini, aku yakin kamu juga masih menatap langit yang sama denganku.”


“Andai bisa kamu mendengar ucapanku, bisakah kamu kembali? Mari kita akhiri jika memang harus berakhir, dan mari kita perbaiki jika memang masih bisa dipertahankan.” Batin Risa.


⚘⚘⚘⚘⚘


Ketika batinnya telah puas bercengkrama dengan langit, Risa memeriksa keadaan Dafha yang tertidur di atas brankarnya, membetulkan letak selimut yang menutupi tubuh putranya.


“Ahh.... Masih bolehkah aku berharap agar lelaki kecil pencuri hatinya ini kelak akan menjadi putranya?” Batinnya.


Lalu dengan perlahan, Ia turut bergabung bersama yang lainnya meja makan berbentuk lingkaran yang memang hanya disediakan untuk ruang VVIP rumah sakit ini.


Risa berdeham.


“Ekheemm....”


Makna terisirat dari dehaman seorang Risa, mampu membuat Mama Indira, Papa Dimas, Ayana, Echa, Esme, Amora dan Gio, kini mengalihkan perhatiannya pada wanita menyedihkan itu.u


,#!:♡n!


“Mama, Papa, Eonni, Echa, Gio, Ayana,” ucapnya satu per satu.


“Bolehkah aku meminta waktu untuk berbicara sebentar? Ada yang ingin ku sampaikan.” Ucapnya.


Keheningan yang terjadi setelah itu, adalah jawaban dari pertanyaannya.


“Maaf jika akan mengecewakan kalian. Aydin telah menghubungi WO jika perlvi 86nikah! kessnan yang direncanakan tidak akan bisa berjalan sesuai tanggal yang telah ditentukan.” Ucapnya. Aydin menundanya dengan pertimbangan kondisi kesehatanku setelah kecelakaan.”


Risa memberi jeda sejenak. Tak ada yg hendak menyelanya.


“Dan pagi ini kami kembali bertengkar, mungkin karena itu Aydin tak bisa dihubungi.”


Sementara yang menjadi pendengar masih setia untuk bungkam.


Hening.


Tanpa diduga, Mama Indira menghampiri Risa dan memeluknya.


Tangisan yang sejak tadi Ia tahan akhirnya tumpah.


“Sudahlah Nak, tidak perlu kamu ceritakan jika itu membuatmu bersedih.” Ucap Mama Indira lembut.


Belaian lembut dari Mama Indira di punggungnya bagai sebuah dukungan untuk Risa, “tidak apa-apa selama kamu tulus dan melakukannya dengan niat yang baik.”


Begitulah kira-kira yang ingin disampaikan Mama Indira.


“Apapun alasannya, bagi Mama dan Papa itu sudah menjadi jalan yang ditakdirkan untuk kalian.”


“Aydin juga pasti berpikir hal yang sama, maafkan dia. Dia hanya begitu takut jika suatu saat akan kehilanganmu. Cintanya sangat besar padamu.” Ucap Mama Indira, kedua tangannya menggenggam tangan Ris


Risa semakin terisak. Takut dianggap tak bersyukur oleh Yang Maha Kuasa, namun terkadang Ia. merutuki air mata yang tak pernah ada habisnya.


“Entah bagaimana mereka bisa mengetahui semuanya, tapi Aku lega mereka bisa mengerti.” Batin Risa.


“Ampuni Aku Tuhan yang terus mengeluh, sungguh aku lelah.”


⚘⚘⚘To Be Continue ⚘⚘⚘


Meski berkali-kali kau hancurkan, dan kau sendiri yang menyatukannya lagi walau tahu jika yang hancur tak akan pernah kembali utuh.


Tapi seperti dirimu, hatiku juga selalu kembali memilihmu.


⚘⚘⚘⚘⚘

__ADS_1


bonus nih, yang lagi galau



__ADS_2