
Sekelam apapun masa lalunya, tak peduli dosa apa yang mereka lakukan.
Bencilah dengan perbuatan dosanya, bukan dengan orangnya.
Berdoalah untuk mereka.
Selagi matahari masih terbit, maka kesempatan untuk memohon ampun tetap ada.
♡♡♡♡♡♡♡♡
Risa memandangi foto hitam putih yang jika dilihat sekilas hanya berupa bayangan yang bentuknya juga tak begitu jelas.
Siapa saja yang melihat pancaran kebahagiaan dari manik mata indahnya pasti mengira jika foto hasil pemeriksaan USG itu adalah miliknya, kenyataannya hasil USG itu adalah milik adik tirinya.
“Kamu udah gak sabar yah?” pertanyaan tak jelas datang dari seorang pria yang tanpa ragu memeluk Risa meski mereka kini berada di tempat umum.
Keduanya kini sedang menunggu Anggun yang tengah menyelesaikan misi penting di toilet rumah sakit.
“Ay, jangan gini. Aku bahkan masih malu saat mengingat jika Anggun mendengar semuanya malam itu.” Keluh Risa.
Aydin terkekeh, “Kenapa harus malu, lagian Anggun juga udah pernah ngerasain. Tuh buktinya,” ucap Aydin sambil menunjuk ke arah foto USG di tangan Risa.
Risa segera melayangkan cubitan di perut Aydin yang membuatnya meringis, “Kalau ngomong di saring dulu Ay. Bagaimana kalau Anggun mendengar ucapanmu?”
“Maaf sayang, aku mengaku salah.” Sesal Aydin.
“Tapi kamu beneran udah gak sabarkan?” tanya Aydin.
“Sabar apaan?”
“Punya bayi.” Jawab Aydin singkat, tangannya bahkan mengelus perut Risa.
Seorang wanita paruh baya yang berdiri tak jauh dari mereka, sampai tersipu karena keromantisan keduanya.
“Yang benar itu, aku tak sabar menikah denganmu. Menjadi kekasih yang halal bagimu.” Ucap Risa sengaja menggoda Aydin.
“Sayang, ucapanmu barusan benar-benar menamparku. Bagaimana kalau kita ke KUA sekarang juga?” balas Aydin menggoda Risa.
“Ngaco!” Risa menggeleng.
“Serius Yang, soalnya aku juga udah gak sabar pengen punya foto seperti itu dengan namamu tertera di sana.”
Blush.
Risa merona, untung saja wajahnya tertutup masker, jika tidak Aydin sudah pasti akan puas menertawainya.
♡♡♡♡♡
Setelah 3 hari Risa bersembunyi dari kejaran para pemburu berita di rumah sakit sembari menjaga Anggun, ini adalah kali pertama wanita itu kembali bisa bebas berjalan tanpa hambatan.
Ya, Aydin dan tim kuasa hukumnya telah berhasil membungkam media dan mengendalikan pemberitaan mengenai rencana pernikahan keduanya.
“Kak Risa,” panggil Anggun yang duduk dikursi belakang.
“Ya,”
“Bolehkah aku bertemu dengan Mama?” pinta Anggun ragu.
Permintaan Anggun barusan membuat Risa yang duduk di kursi depan menegakkan duduknya, dan berbalik menatap pada Anggun.
Ia ingin melihat keseriusan Anggun atas ucapannya.
“Kamu yakin?” tanya Risa ulang.
Anggun mengangguk, “Ya, aku yakin bertemu dengan Mama. Tapi tidak dengan Papa.”
Risa berusaha meraih tangan Anggun, dengan lembut Ia genggam tangan adik tirinya itu, “Tak apa, jika itu maumu aku akan mengantarmu agar bisa bertemu Mamamu.”
Setelah itu Risa menghubungi Echa agar bisa mengatur pertemuan Ibu dan Anak itu.
Sungguh Tuhan maha baik, Ia melancarkan semua prosesnya sehingga saat itu juga Indri bisa ditemui.
♡♡♡♡♡♡
Tak butuh waktu lama, ketiganya sudah tiba di rutan khusus wanita tempat Indri menjalani masa hukumannya.
Disana Echa sudah lebih dulu menunggu, “Hai Anggun, bagaimana kabarmu?” sapanya.
“Baik Kak, terimakasih.” Balas Anggun.
Setelah membantu Anggun mengisi buku tamu, dan formulir pengajuan kunjungan, Anggun masuk dengan ditemani Echa sementara Risa dan Aydin menunggu di ruang tunggu.
Tak lama Echa muncul seorang diri.
“Di mana Anggun?” tanya Risa.
“Di dalam,” Echa menjawab singkat sambil menunjuk ruangan yang Ia masuki sebelumnya.
“Aku juga tau kalau Anggun di dalam ruangan itu, karena tadi aku juga lihat sendiri kalian masuk kesana.” Ketus Risa.
__ADS_1
“Yang ku maksud, kenapa kamu keluarnya sendiri? Apa kamu meninggalkan Anggun sendirian?” tanya Risa.
Echa menggeleng, “Aku keluar karena tugasku sudah selesai.”
“Dan Anggun tidak sendiri Nona Risa yang cantik, dia kini sedang melepas rindu bersama Ibunya.” Jelas Echa.
Akhirnya Risa kembali duduk. Jawaban seperti itu yang Ia harapkan.
Sementara di dalam ruangan khusus yang disiapkan untuk para tahanan yang mendapat kunjungan, sepasang Ibu dan Anak kini saling melepas rasa rindu.
Pelukan penuh air mata menjadi pembuka pertemuan seorang Ibu dengan putrinya.
Mereka adalah Indri dan Anggun.
Tak henti-henti kata maaf saling terucap dari bibir mereka masing-masing.
Keduanya merasa memikul kesalahan yang teramat besar satu sama lainnya.
Sang Ibu merasa segala yang menimpa putrinya adalah kesalahannya. Karena Ia yang terlalu sibuk untuk membalas perbuatan suaminya dengan ikut melakukan dosa, hingga tugasnya sebagai seorang Ibu terlupakan.
Seorang Ibu yang harusnya memberi contoh baik pada anaknya, yang harusnya menjaga anaknya, namun Ia lalai dalam semua yang harusnya Ia lakukan sebagai seorang Ibu.
Sementara di sisi lain, Anggun, merasa telah gagal menjadi putri yang berguna. Ia telah menghancurkan harapan kedua orang tuanya. Ia telah gagal menjadi putri yang bisa orang tuanya banggakan. Dan yang paling membuatnya sedih, Ia bahkan belum sempat membahagiakan orang tuanya.
“Anggun, Mama mohon jagalah bayi dalam kandunganmu Nak. Anak itu tidak memiliki kesalahan, jadilah Ibu yang baik untuknya kelak, jangan sepertiku.” Ucap Indri.
“Jika Tuhan menghendaki kita untuk bisa berkumpul bersama lagi, semoga saat itu tiba mama bisa menebus semua momen yang terlewatkan dan menjadi Ibu yang baik untukmu.” Sambungnya.
Anggun mengangguk, “Makanya mama harus menjaga kesehatan yah, tak perlu memikirkan banyak hal. Ada Kak Risa yang akan menjagaku, aku akan menuruti semua ucapannya agar aku bisa menjadi pribadi yang baik sepertinya.”
Keduanya kembali berpelukan lama, rasanya berat jika harus melepas pelukan yang baru bisa keduanya lakukan setelah berbulan-bulan tak bertemu.
Hampir 30 menit Risa, Aydin dan Echa menunggu Anggun, hingga wanita dengan perut yang membuncit muncul dari balik pintu.
Risa segera menghampiri adik tirinya dan menyambutnya dengan sebuah pelukan.
Tangis Anggun kembali pecah. Hatinya seakan hancur berkeping-keping, terbayang jelas wajah wanita yang membawanya kedunia ini kini nampak sangat memprihatinkan.
Tubuh kurus, wajahnya nampak banyak kerutan, dengan kulit yang kusam. Sangat jauh berbeda dengan tampilan Mamanya yang dulu.
“Tak apa, menangislah.” Ucap Risa.
“Bersyukurlah, beliau masih diberi kesempatan untuk menebus kesalahan yang Ia buat. Beliau masih diberi kesempatan untuk bertaubat atas dosa yang Ia lakukan.” Lanjutnya.
Anggun hanya mengangguk, dalam hatinya Ia membenarkan ucapan Risa dan terus merapalkan doa yang terbaik untuk sang Ibu.
“Nona Brisa, Ibu Indri ingin bertemu dengan Anda.” Ucap salah seorang petugas menginterupsi suasana penuh haru.
Tatapannya tertuju pada Aydin, seolah meminta pendapat pria itu.
Aydin mengangguk, “Pergilah, tak perlu khawatir aku ada di sini menunggumu. Tak apa.”
Dengan ragu Risa melangkah menemui Indri.
“Nyonya,” sapanya saat netra mereka bertemu.
Sapaan yang sama, seperti saat Brisa remaja masih tinggal bersama mereka.
“Jangan memanggilku begitu, panggil Indri saja. Atau jika kamu sudih, kamu bisa memanggilku Mama.”
“Bolehkah aku memanggil Nyonya, Bibi?”pinta Risa.
Untuk pertama kalinya Indri tersenyum pada Risa.
“Tentu saja boleh.”
“Baiklah Bibi, apa ada yang bisa ku bantu?” tanya Risa dengan sopan.
Jujur saja, Ia masih risih jika harus berlama-lama dengan Indri, wanita yang telah merenggut nyawa Ibu kandungnya.
“Meski ku tau permintaan maafku ini tak patut untuk kamu terima, dan permintaan maaf dari pendosa sepertiku tidak akan bisa mengembalikan Ibumu, tapi sungguh aku mengatakannya dari lubuk hatiku yang terdalam jika aku menyesal Brisa. Aku sungguh memohon maaf padamu atas perbuatanku pada Laksmi, Ibumu.” Ucap Indri dengan terisak.
Bekas air mata di pipinya yang kini dihiasi kerutan kini kembali lagi di aliri air mata.
“Bibi, semuanya sudah berlalu. Aku percaya, meski bukan wanita suci, Tapi Ibuku adalah wanita yang baik. Aku yakin Tuhan lebih menyayanginya, Ia akan memberikan tempat yang terbaik bagi Ibuku di alam sana.” Ucap Risa.
“Mengenai maaf, jika memang Bibi sungguh-sungguh sebaiknya Bibi memohon pada Tuhan, jangan padaku karena aku juga hanyalah manusia biasa, tempat salah dan dosa.”
“Memohonlah pada Tuhan yang Maha Pengampun, Maha Pemberi Maaf. Memohonlah pengampunan padanya, bertaubatlah padanya.”
Tangisan Indri semakin pecah.
“Brisa, berkali-kali ku pikirkan, ku pikir kamu harus mengetahui hal ini.”
“Tak ada tujuanku yang lain menceritakan ini semua. Aku hanya ingin kamu lebih berhati-hati.” Ucap Indri.
“Maksud Bibi?”
“Entahlah apa dulu kau pernah mendengar banyak cerita tentangku. Cerita tentang bagaimana aku bisa berakhir menjadi orang ketiga di rumah tangga Ayah dan Ibumu.”
__ADS_1
“Semuanya berawal ketika aku, wanita kotor, wanita yang berasal dari tempat penuh dosa, mendapat tawaran yang sangat menggiurkan.” Ucap Indri mengawali kisah masa lalunya.
Kisah yang menjadi awal kehancuran rumah tangga Ferdinand dan Laksmi.
“Sebelum mengenal Ferdinand, aku adalah seorang wanita penghibur yang bekerja di sebuah club di Palembang.”
“Setiap malam aku akan menjadi pemuas na**u para pria hidung belang. Tak terhitung berapa banyak lelaki yang telah menjamah tubuhku, salah satunya adalah Ferdinand.”
Risa tak menyangka jika Indri, wanita yang dulu terlihat sangat berkelas, ternyata pernah menjalani hidup yang begitu menyeramkan.
“Suatu hari ada seorang pria mendatangiku, ia menawarkan pekerjaan dengan bayaran yang lumayan besar. Pekerjaannya cukup mudah, aku hanya perlu menggoda seorang pria, membawanya ke ranjangku, dan mengambil foto sebagai barang bukti.”
Indri menjeda ceritanya, sangat berat harus mengingat masa-masa kelam hidupnya.
“Biar ku tebak, pria itu adalah Ayahku.” Ucap Risa.
Indri mengangguk.
“Benar, targetnya adalah Ayahmu. Ferdinand kala itu baru saja menggantikan kakekmu sebagai CEO di perusahaan.”
“Aku berhasil dengan mudah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh pria misterius yang tak ku ketahui namanya.”
“Berbulan-bulan setelah itu aku tak pernah lagi bertemu dengan Ferdinand, hingga pria misterius itu datang lagi padaku. Ia kembali menawarkan pekerjaan yang sama, targetnya masih sama, tapi kali ini dia menginginkan hal lebih. Dia ingin aku ke Jakarta, dan memastikan sendiri jika rumah tangga pria itu telah hancur.”
“Tergiur dengan besarnya imbalan yang ditawarkan padaku, juga aku memikirkan nasib janin tak bersalah yang ada di rahimku, aku akhirnya menerima pekerjaan itu.”
“Di Jakarta aku kembali menggoda Ferdinand, hingga dia jatuh cinta padaku dan menjadikanku istri siri.”
“Aku ikut membantu Ferdinand mendapatkan proyek-proyek besar di Jakarta dengan menjajalkan tubuhku. Tubuh wanita yang Ia nikahi secara siri.”
“Perusahaan Ferdinand semakin sukses, kehidupan kami mulai bergelimang dengan harta yang membutakan mata hati kami. Serta darah dagingku dengan entah pria yang mana, Ferdinand percayai sebagai putri kandungnya.”
Risa terkejut dengan fakta yang baru saja Ia dengar.
“Jadi Anggun bukanlah anak kandung Ayahku?” tanya Risa dan dijawab anggukan oleh Indri.
Risa memijat kepalanya yang mulai berdenyut. Fakta ini terlalu mengejutkannya.
“Hingga bertahun-tahun berlalu, Ibumu dan juga kamu akhirnya mengetahui fakta yang sebenarnya.”
“Disaat keluarga Ferdinand mulai hancur, pria misterius yang tak pernah kutemui selama bertahun-tahun datang kembali menemuiku. Dia membawa sejumlah uang yang dulu Ia janjikan. Dan dia jugalah yang mengatur semua rencana untuk merebut semua harta milik Ibumu.”
“Pria itu tak pernah menyebutkan namanya siapa, dan apa tujuannya. Tentunya aku curiga, karena jika Ferdinand adalah targetnya mengapa dia malah membantunya menjadi sukses dan berhasil.”
“Suatu hari kecurigaanku akhirnya terbukti, ketika pria misterius itu membawaku bertemu seseorang wanita.”
“Aku tak bisa melihat jelas wajahnya karena Ia menutupi wajahnya dengan masker dan topi.”
“Aku diberikan tugas terakhir olehnya, yaitu menghabisi nyawa Laksmi, Ibumu.”
“Saat itu aku baru sadar, jika yang selama ini menjadi target adalah Laksmi, wanita itu ingin melihat kehancuran Laksmi lewat hancurnya rumah tangganya.”
“Namun entah apa yang terjadi, hari itu perintahnya adalah mengabisi nyawa Ibumu. Yang kuingat, wanita itu berkata jika nyawa harus dibayar juga dengan nyawa.”
Kali ini Risa tak bisa menahan agar tak menangis setelah mendengar semua cerita Indri.
Batinnya terus bertanya-tanya siapakah gerangan yang menyimpan dendam teramat besar pada Ibunya hingga harus menghilangkan nyawanya.
“Apa salah Ibuku, Bibi?”
Indri menggeleng.
“Apa Bibi tau siapa orang itu?”
Indri menggeleng lagi.
“Maaf Brisa, sungguh hanya itu yang aku tau dan bisa ku ceritakan padamu.”
“Aku membuka semua kebenarannya tak lain agar kamu bisa lebih berhati-hati. Tak ada yang bisa menjamin jika orang itu sudah berhenti, jangan sampai Ia masih demdam dan kamu menjadi target selanjutnya.”
Risa mengangguk, walau Ia masih tak percaya jika Ibunya, wanita yang sangat sopan dan ramah pada siapa saja, ternyata memiliki musuh yang sangat berbahaya.
Setelah perbincangan panjang itu, akhirnya Risa pamit pada Indri.
Aydin yang sejak tadi gelisah, hampir gila karena Risa tak kunjung kembali.
Melihat sosok Risa muncul dari balik pintu setelah lebih dari 30 menit Ia di dalam sana, Aydin segera membawa wanitanya kedalam pelukan.
“Kamu membuatmu khawatir,” ucapnya.
“Ada apa? Apa yang terjadi di dalam sana? Mengapa sangat lama? Aku hampir gila menunggumu di sini.” Cecar Aydin.
Sementara Risa hanya bungkam.
Fakta-fakta yang baru Ia ketahui sungguh tak pernah Ia duga sebelumnya.
“Semoga saja, dendam masa lalu itu tak akan membawa hal buruk untuk kehidupanku kelak.” batinnya.
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
__ADS_1
Berhati-hatilah terhadap orang-orang yang pura-pura baik, merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.