
Bagi sebagian orang tua, nilai sekolah anaknya harus sempurna semuanya. Ya minimal di atas nilai minimum rata-rata kelas lah...
Karena memang kita hidup di negara yang menuntut anak untuk menguasai seluruh mata pelajaran yang diberikan. Padahal guru setiap mata pelajaran saja beda-beda.
Rasanya tidak adil bagi murid yang memiliki kapasitas pas-pasan seperti author. eh.
Tapi berbeda dengan pola pikir Mama Rachel yang memang dibesarkan di negara maju di belahan Bumi Eropa,
Mama Rachel hanya ingin fokus pada kelebihan anaknya. Jika anaknya tidak bisa matematika mau bagaimana lagi.
Mau dipaksa buat nilai matematikanya bagus justru nanti takutnya akan mengganggu konsentrasi nilai lainnya.
Namun jika nilai matematika tidak lebih dari 3 namanya juga keterlaluan sih..
eh 6 kek kan masih mending. Misal soal 10 cuma salah 4 nomor doang.
Mama Rachel bingung dan termenung menatap putrinya yang asik scroll-scroll ponsel tidak jelas menunggu kabar dari Bhumi.
Mama Rachel berpikir apa kelebihan anak bungsunya ini coba? apa-apa gak bisa, apa-apa gak sabaran?
Kalau Gedeon atau Deon kan jelas, dari kecil memang dia tidak pandai jika pelajaran bahasa Indonesia namun sejak SMP otaknya sudah memikirkan bisnis.
"Ge.."
"Iya mamaku yang cantik jelita tiada Tara di seluruh dunia yang tiada duanya." Jawab Geva tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kamu ngapain sih Ge dari tadi belajar nggak.. main ponsel juga nggak.. cuma scroll scroll gak jelas!" Ucap Mama Rachel.
"Siapa tahu ada pesan dari Jepang ma.. terus kecantol gitu ke tumpukan pesan yang lain. Makanya aku cek -cekin lagi.." Jawab Geva.
"Lah kan ponsel kamu udah bunyi terus dari tadi."
"Dari pak Fabian." Jawab Geva malas.
"Kamu udah cinta ya sama Bhumi?" Selidik Mama Rachel melirik anaknya.
"Ha? cinta?" Geva yang tadi rebahan di paha mamanya yang duduk di sofa menonton sinetron langsung bangun.
Dia cinta duluan sama Bhumi?
nggak! Geva nggak terima itu.
"Enak aja.. nggak lah.. aku baru buka hati aku kalau dia udah bilang cinta dan membuktikan cintanya ma." Jawab Geva meminum minuman mamanya yang ada di meja.
"Kalau kamu menjaga hati kamu terus seperti itu, jadinya nanti kamu yang malah cinta duluan loh." Ucap Mama Rachel.
Seperti dulu tuh..papa Arsa bilang gak suka mama Rachel karena naksir Mami Naya.. eh dideketin Mama Rachel terus taunya dia yang bucin duluan. Ti hati kalau ngomong. Nanti kena batunya loh...
"Nggak! aku gak mau! nanti dia masih cinta kak Flower aku patah hati. Aku gak mau patah hati ma." Kata Geva.
"Ge.. kalau kamu gak berani patah hati kamu gak akan merasakan namanya cinta."
"Aku gak peduli.. aku gak mau cinta duluan sama kak Bhumi.. aku gak mau ketemu kak Flo selama kak Bhumi belum melupakannya." Kata Geva tegas.
"Bhumi nggak ada hubungi kamu?" Tanya Mama Rachel mengalihkan pembicaraan, mama Rachel tidak mau putrinya terus kepikiran soal Flower dan nanti malah jadi benci sama Flower, padahal Flower juga sangat baik. Bahkan Flower berkali kali hubungi Mama Rachel untuk bertanya kesukaan-kesukaan Geva. Berarti kan Flower ingin dekat dengan Geva dan menjalin hubungan baik.
"Nggak ada ma.." Jawab Geva dengan raut wajah sedih.
Ck. bilang gak mau buka hati dulu?
__ADS_1
Hati kamu sudah terbuka lebar Gevania...
Sadar woii sadar...
Mama Rachel mengambil ponselnya yang ada di meja. Sedangkan Geva menyandarkan kepalanya di sofa dan menatap TV yang menampilkan sinteron tidak jelas dimana pemain utamanya selalu menderita dan terlalu baik, terlalu sabar dan terlalu percaya sama orang yang sudah berbuat jahat padanya.
"Ck. sinetron gak mutu! di jahatin itu lawan! lah malah diem-diem aja sambil nangis, berharap ada Ultraman gitu yang nolongin elu dari para emak emak lampir itu.!" Omel Geva.
Mama Rachel masih sibuk dengan ponselnya,
"Hallo." Ucap Mama Rachel, Geva tidak peduli dengan siapa yang di telefon mamanya. Paling juga papa Arsa terus mama Rachel mau pamer kemesraan dengan papa Arsa, ah udah basi.
"Oh iya.. dimana yang punya ponsel ini?" Tanya Mama Rachel lembut sambil melirik Geva, sepertinya putrinya itu tidak.terusik sama sekali.
"....."
"Baik-baik.. aku tunggu ya.. nanti aku video call" Kata Mama Rachel lagi lalu menutup ponselnya.
"Ma.. kenapa sinetron begini mama tonton sih.. aku udah tahu ini endingnya.. kenapa masih juga mama tonton... masak iya orang terlalu bodoh kek gitu.. Udah gak baik lagi ini mah.. bodoh!" Komentar Gevania sambil memakan cemilannya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kaca.
Katanya Sinetron gak mutu, katanya udah tahu endingnya, masih aja di tonton Gev, ah manusia. Suka gitu deh.. gak sinkron hati dan pikirannya.
"Hallo.." Kata Mama Rachel tersenyum menatap ponselnya yang dipenuhi wajah tampan seseorang.
Mama Rachel memberi isyarat pada orang berwajah tampan tersebut untuk diam, lalu mama Rachel mengalihkan kameranya ke kamera belakang dan menampakkan Gevania yang hanya memakai tangtop juga hots pans. Ditambah bekas Kissmark Bhumi kemarin di lehernya masih terlihat juga.
Lelaki tampan itu tersenyum menatap Gevania,
Gevania gadis cantik yang memporak porandakan hari-harinya bahkan sampai jepanh sekali pun masih kepikiran Geva.
"Ge.." Panggil Mama Rachel.
"Iya ma." Jawabnya.
"Nggak! itu manusia ngeselin banget! sumpah!" Jawab Geva.
"Kenapa ngeselin Ge?" Tanya Mama Rachel.
"Aku nyesel ma.. dari semalam aku susah tidur memikirkannya.. pagi gak dapat kata-kata romantis gitu.. apalagi ditelpon. Eh sekalinya telpon matiin sepihak tanpa pamit. Terus di kirim pesan juga ada yang cuma di baca tanpa balas. Banyak yang belum di baca juga." Jawab Geva.
Bhumi yang di seberang sana tidak mampu menahan tawanya lagi mendengar curahan hati istri yang ditinggal pergi ke luar negeri suaminya baru 24 jam berpisah itu.
"Bwahahahaha." Tawa Bhumi menggelegar di ponsel Mama Rachel.
Mendengar tawa yang tidak asing itu membuat Geva langsung tersedak dan melotot ke arah mamanya. Benar saja, Mamanya mengarahkan ponselnya ke dirinya.
"Uhuk.. uhuk.." Geva benar-benar tersedak.
"Pelan-pelan sayang." Kata Mama Rachel menepuk-nepuk Penggung sang anak.
"Minum dulu Ge.. minum." Kata Bhumi di negara seberang. Geva semakin mendelik. jadi mama Rachel telfon Bhumi dari tadi?
Geva langsung meminum minuman mamanya yang ada di meja hingga tandas. Nafasnya naik turun, sedetik kemudian dia teringat jika sambungan video call Bhumi belum terputus.
Wajah Geva langsung memerah dan Geva spontan menyembunyikan wajahnya di bantal Sofa. Geva tidak mau melihat dan dilihat Bhumi.
"Ge.. ini loh suami kamu.. tadi kamu kan nunggu pesan darinya." Ucap Mama Rachel
"Mama apa-apaan sih! gak lucu tau ma."
__ADS_1
"Ge.. Geva.." Panggil Bhumi.
"Nggak mau ! bodoh ah bodoh!" Kata Geva.
"Geva kamu ngapain sih menyembunyikan wajah kamu begitu?" Tanya Bhumi yang melihat Geva dari layar ponselnya.
"Bodoh! ngeselin! Mama sama kak Bhumi sama-sama ngeselin!" Kata Geva langsung meraih ponselnya dan berlari ke kamarnya yang ada dilantai duam
"Ge.. Geva.." Panggil Bhumi ketika mama Rachel mengarahkan kamera ponselnya ke Geva yang berlari menaiki tangga.
"Dia sedang PMS Bhum.. jadi moodnya kayaknya gak bagus." Kata Mama Rachel.
"Iya ma aku tahu.. bagaimana kabar Geva hari ini ma?" Tanya Bhumi khawatir dengan istri bar-barnya itu.
"Dari tadi dia scroll scroll hape mulu nunggu balasan kamu sampai gak konsen belajar. Sesibuk itukah kamu Bhum?" Tanya Mama Rachel.
"Ehmm."
"Bhum.. mama minta maaf ya jika mama sedikit ikut campur urusan kalian. Mama hanya ingin kalian sama-sama baik dan saling cinta..
Tolong Bhum.. kasih perhatian Geva sedikit saja. Luangkan waktu kamu untuk Geva."
"Ma.. mama tahu aku kan, aku dari dulu jika sudah berurusan dengan pekerjaan maka aku udah susah buat fokus ke yang lainnya. Makanya tadi ponsel aja di pegang Satria."
"Iya itu kamu dulu Bhum.. kamu yang belum memiliki tanggung jawab lebih sebagai seorang suami. Harusnya kamu bisa membagi sedikit waktu kamu untuk Geva jika memang hati kamu masih milik Flower.. dia butuh kamu Bhum, minimal raga kamu ada untuknya." Kata Mama Rachel.
"Ma.. Geva hanya kasih aku Waktu sebulan untuk di jepang, dan dengan waktu se singkat itu di banding dengan pekerjaan sebanyak ini, rasanya mustahil jika aku tidak benar-benar fokus. Apalagi Geva juga gak suka aku ajak Renata ke Jepang untuk membantu mengurus administrasi dan surat-surat." Jelas Bhumi.
Mama Rachel menghela nafasnya..
"Mama hanya mengingatkan Bhum.. jangan sampai orang lain lebih perhatian sama Geva dan hal itu membuat Geva nyaman sama dia." Kata Mama Rachel.
Deg.
Deg.
Deg.
Orang lain lebih perhatian? seperti tadi, Fabian yang perhatian sama Geva dengan membelikan makan siang untuk Geva karena Geva tidak ke kantin.
"Apa maksud mama?" Tanya Bhumi tegas.
"Besok Geva mulai les privat dengan Fabian, guru matematikanya. Karena nilai Geva yang jauh dari standar." Mama Rachel terpaksa yang bilang ini ke Bhumi dan menjelaskannya. Jika Geva yang menjelaskan, yang ada Bhumi cemburu gak mau dengar penjelasan Geva dan Geva makin gabut dan kalut gak jelas.
"Kenapa harus Fabian ma?" Tanya Bhumi terdengar begitu tegas dan serius.
"Pihak sekolah yang meminta karena Fabian guru pengampu mata pelajaran tersebut. Memang dari kecil Geva paling tidak suka sama matematika Bhum.. jadinya lihat rumus aja dia udah malas. Dan dia diminta les supaya minimal nilainya bisa standar dan dia bisa lulus."
"Aku akan bayar guru matematika terbaik untuk Geva ma." Kata Bhumi.
"memang kenapa jika Geva belajar sama Fabian Bhum?" Tanya Mama Rachel dengan senyum penuh arti.
"A.. aku .. aku gak suka istri aku berdekatan dengan lelaki lain." Ucap Bhumi.
"Baiklah.. Mama minta, kamu percaya ya sama Geva dan cepat hubungi dia.. anak SE usianya memang paling suka diperhatikan."
"Baik ma.. terima kasih ma.." Jawab Bhumi.
BERSAMBUNG
__ADS_1
BIAR BANYAK YANG LIKE,
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE