
Geva dan Bhumi menuruni tangga dengan tangan yang saling bertautan. Kedua orang tua yang tengah asik bermesraan itu pun tersenyum melihat anak menantu mereka yang akur dan wajah bahagia terpancar dari keduanya.
"Sore pa.. ma." Sapa Bhumi pada mertuanya.
"Sore.. udah siap kembali Bhum?" Tanya Mama Rachel. Bhumi mengangguk dan tersenyum lalu duduk di sofa yang berada tidak jauh dari kedua orang tuanya.
"Iya ma... sekalian aku mau nitip Geva lagi ya pa ma.. tolong jangan biarkan dia keluyuran malam hari lagi." Kata Bhumi dengan nada datar. berbeda saat hanya dengan Geva tadi di kamar yang bersikap hangat.
"Kakak ih."
" Aku gak mau kejadian kemarin terulang lagi Ge." Bhumi menatap Geva penuh dengan permohonan supaya Geva menuruti nya.
"Hmm.. baiklah." Ucap Geva.
" Dan satu lagi."
"Apa?" Tanya Geva.
"Ma.. aku minta tolong.. awasi jam pulang sekolah Geva dan saat dia les. aku gak mau dia pulang telat."
"Jangan bilang kamu cemburu sama guru matematika Geva Bhum?" Tanya Mama Rachel. Wajah Bhumi langsung memerah.
"Ng.. nggak kok ma.. nggak.. aku yakin Geva gak akan aneh-aneh kok." Ucap Bhumi. Meskipun memang beneran yakin tapi tidak bisa dibohongi juga jika dia sebenarnya gak suka Geva berdua dengan Fabian.
"Iya.. iya percaya." Kata Papa Arsa tersenyum. Geva hanya mencebikkan bibirnya mendengar kedustaan sang suami. Sekarang Geva paham, jika didepan orang lain memang begitulah seorang Bhumi.
"Yaudah aku pamit dulu ya pa ma.."
"Jangan lupa charger-nya Bhum." Kata Papa Arsa menahan senyumnya.
"U.. udah Kok pa."
"Iya udah tahu.. tuh leher kamu sampai merah semua Gara-gara kebanyakan di Charger." Ledek papa Arsa pada Bhumi. Geva yang mendengar ucapan sang papa langsung melihat leher Bhumi.
Astaga, Geva lupa tadi kan niatnya mau kasih foundation di leher Bhumi.. kenapa jadi lupa setelah tadi berdebat mengenai Renata.
Geva rasanya ingin menguburkan dirinya saat ini juga karena saking malunya pada orang tuanya.
"Wah ternyata anak mama benar-benar handal diatas ranjang ya." puji mama Rachel pada Geva.
"Mama ih.. malu." Rengek Geva padahal Bhumi juga datar-datar aja meskipun hatinya juga malu.
🍁
__ADS_1
Geva terdiam di depan pintu kediaman mewah orang tuanya sambil melihat mobil Mercedes keluaran terbaru itu hilang dari pandangannya.
Mobil mewah yang menunggu satu jam lebih di pekarangan rumah mewah milik orang tuanya itu akhirnya mengantarkan Bhumi menuju bandara untuk terbang ke negeri sakura demi sebuah tanggung jawab besar yang ada di pundaknya.
Ada sesak di dada Geva berpisah dengan Bhumi. Entahlah, Geva sendiri tidak paham dengan perasaannya yang ingin sekali kuliah di luar negeri namun jauh dari Bhumi selama kurang dari sebulan aja membuatnya kalut hingga sesak di dadanya menahan air mata yang hendak terjun bebas.
Geva termenung sejenak mendefinisikan perasaannya pada Bhumi, dia tapi masih menyangkal jika dia sudah jatuh hati pada Bhumi.
"Ge.. masuk.. kamu ngapain masih berdiri di situ? gak rela ya suami kamu pergi." Kata Mama Rachel dari dalam rumah.
"I.. iya ma.." Ucap Geva.
Geva sangat ingin mengantarkan Bhumi ke Bandara, namun Bhumi melarang sebab Bhumi tahu jika hanya berdua pasti sepanjang perjalanan menuju Bandara akan ada banyak drama-drama yang akan membuat perdebatan panjang setelah sebelumnya mereka membahas soal Renata.
Iya, Bhumi meminta pada Geva untuk mengizinkan Renata nyusul ke Jepang Minggu depan untuk membantu pekerjaannya, namun Geva menolak dengan tegas permintaan suaminya itu.
Bhumi terus membujuk Geva dengan berbagai cara, dimana Bhumi janji akan pulang tepat waktu mengingat cara kerja Renata yang memang tidak bisa dianggap remeh. Dan Bhumi juga berjanji untuk tidak membiarkan Renata mendekatinya.
Karena Bhumi tidak yakin bahwa pekerjaannya bisa selesai tepat waktu jika hanya di lakukan berdua yaitu dia dan Satria.
Bukan benci, tapi memang sudah muak dengan segala tingkah Renata yang katanya sangat mencintai Bhumi tapi mendekati Deon terus, bahkan dari semalam Deon tidak pulang ke rumah. Entah apa yang mereka lakukan.
Sementara Bhumi yang sudah menjauh dari kediaman mertuanya tanpa mampir ke kediaman orang tuanya itu langsung disibukkan dengan pekerjaannya di laptop yang kini ada di pangkuannya.
Buat apa mampir ke rumah orang tuanya jika tadi papi Gema langsung ke kantor sedangkan mami Naya sudah kembali ke Negera tetangga Macanpura ditemani Oma Rani. Mau ketemu Flower? Bhumi sudah tidak berminat.
🍁
Malam pun tiba, Geva sedang berusaha untuk konsentrasi belajar, menunggu kabar dari Bhumi pun percuma kan Bhumi masih di perlajalanan. Bhumi masih diatas jet pribadi yang disewanya. Perjalanan Jakarta-Tokyo memerlukan waktu kurang lebih 8 jam. Ini baru berjalan 3 jam. Masih lama~
Namun sayang, alih-alih belajar... otak Geva sudah tercemar dengan adegan panasnya bersama Bhumi di kamar mandi beberapa jam lalu. Geva hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar sambil membolak-balikkan buku pelajaran nya.
Bhumi memang sedikit keterlaluan, mengajari anak SMA hal-hal yang tidak senonoh bagi anak SMA lainnya yang belum menikah.
"Ge.." Sapa Deon yang tiba-tiba masuk kamar sang adik dan duduk disamping adik cantiknya itu.
Geva yang tahu kehadiran sang kakak itupun acuh pura-pura tidak tahu dan tidak peduli. Anggap aja patung.
"Kakak minta maaf soal kejadian semalam." Ucap Deon. Geva hanya diam menatap buku matematika yang dimata Geva terlukis wajah tampan dan tubuh kekar Bhumi semua.
"Maafin kakak Gevania." Kata Deon memegang tangan adiknya. Geva langsung menutup buku pelajarannya dengan kasar. Lalu matanya menatap wajah tampan sang kakak dengan tajam.
"Keluar dari sini!" Perintah Geva lembut namun terdengar tegas.
__ADS_1
"Ge.. kakak minta maaf, jika semalam kamu tidak datang dan memaki Renata kakak tidak akan bersikap kasar sama kamu."
Ck. udah minta maaf masih aja nyalahin adiknya dan membela Renata.
Renata lagi Renata lagi...
"Kalau semalam aku gak melihat kakak ciuman sama Renata, aku juga tidak akan menyiram dan memaki dia." Timpal Geva.
"Gak seharusnya kamu bersikap seperti itu Geva."
"Bersikap seperti apa? wajar kan aku gak suka sama wanita yang berusaha merebut suami aku!"
"Kamu salah Ge, asal kamu tahu.. dari kemarin Bhumi justru banyak mengirim pesan pada Renata.. dia perhatian dan peduli sama Renata." Kata Deon.
"Jangan harap aku percaya sama akal bulus wanita ular itu!" Geva tersenyum.
"Jangan bodoh kamu Ge!" Bentak Deon.
"BODOH? YANG BODOH ITU AKU APA KAMU! INGAT BAIK-BAIK YA.. AKU GAK PUNYA KAKAK YANG BODOH SEPERTI KAMU YANG MAU MAUNYA DI MANFAATIN WANITA ULAR ITU! KAKAK AKU BUKAN KAKAK YANG TEGA BERKATA DAN BERSIKAP KASAR PADA ADIKNYA HANYA DEMI WANITA MURAHAN BERNAMA RENATA ITU! " Teriak Geva.
"CUKUP GEVA! KAKAK GAK SUKA KAMU MENGHINA ORANG LAIN!" Deon pun membentak sang adik.
"Ck. gak suka aku bilang dia wanita murahan?" Tanya Geva tersenyum kecut. Geva memandang kakaknya dengan penuh kekecewaan dan gelengan kepala.
"Ge.. kakak.."
"Cukup! aku muak lihat wajah kakak!"
"Ada apa ini?" Papa Arsa dan Mama Rachel tiba-tiba muncul karena mendengar pertengkaran kedua anaknya.
"Pa.. Ma..." Kata Deon menatap kedua orang tuanya.
"Tahu jalan pulang juga kamu." Kata Papa Arsa menatap dingin pada putranya.
"Pa..."
"Deon, Mama gak Sudi kamu dekat-dekat dengan Renata ya.. kalau kamu masih dekat dengan Renata, jangan harap mama akan menganggap kamu anak!" Ucap Mama Rachel.
BERSAMBUNG
PAGI SEMUA...
SEMOGA SELALU SEHAT SEMUA YA
__ADS_1
SEMOGA SELALU BAHAGIA SEMUA YA
TERIMA KASIH YA ATAS SEGALA LIKE KOMENTAR DAN DUKUNGANNYA ❤️