
WARNING!!
JANGAN DIBACA SAAT PUASA.. KARENA TAKUTNYA MEMBUAT AMAL IBADAH PUASA KALIAN RUSAK KARENA MEMBACA NOVEL INI YANG TIDAK ADA MANFAATNYA SAMA SEKALI.
BACANYA MALAM AJA YA... HEHEHE...
"Yuk." Ajak Geva.
"Kemana?" Tanya Bhumi mengernyit.
"Main Kamehame." Ucap Geva sambil mengusap dada bidang sang suami. Lah bukannya tadi wajah Geva sudah memberikan kode tidak ingin main panas-panas an? kok malah yang ngajak? Bhumi gak mau kehilangan kesempatan emas dong.
Bhumi langsung mencium bibir sang istri dengan lembut, namun lama-lama ciuman itu semakin menuntut hingga membuat Geva kuwalahan mengimbangi nya.
Geva mengulurkan kedua tangannya ke leher kokoh sang suami lalu semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh sang suami. Ya, secara alami Geva memberikan signal pada Bhumi bahwa tubuhnya menginginkan lebih dari ini.
Hanya dengan mengandalkan naluri, Bhumi mendorong pelan-pelan tubuh sang istri masuk ke dalam kamar tanpa melepas tautan bibirnya. Lagi-lagi hanya menggunakan kakinya Bhumi menggeser pintu kaca menuju balkon sehingga tertutup rapat.
Geva pun berjalan mundur mengikuti sang suami yang telah menguasai akal sehatnya.
Gevania Azkia Bramantya, gadis SMA yang sudah tidak gadis lagi itu selalu saja kehilangan kewarasannya saat Bhumi sudah mulai mencium bibirnya.
Ciuman Bhumi benar-benar memabukkan untuknya. Dan Geva selalu ingin lag-lagi dan lagi untuk berciuman dengan Bhumi Bramantya.
Terkadang di sela-sela ciuman, Geva sempat membayangkan ciuman Bhumi pada Flower apakah se-memabuk-kan ini? Ah Geva tidak rela.. boleh gak masa lalu itu di hapus? namun sayangnya tidak bisa.
Mengingat nama Flower saja membuat hati Geva bergemuruh cemburu karena setiap nama Flower terdengar di telinganya, Geva selalu berimajinasi membayangkan adegan making out antara Bhumi dan Flower melayang-layang di kepala Gevania.
Namun Geva memendam itu semua, ia sadar itu hanya masa lalu Bhumi, ketika dia sudah menerima Bhumi itu artinya sudah sepaket dengan segala kekurangan juga lebihnya plus bonus masa lalunya.
"Biar aku yang mimpin kak.." Pinta Geva saat tautan bibir mereka terlepas untuk mengambil nafas.
"Apa kamu yakin?" Tanya Bhumi mengusap pipi Geva yang halus dan bersih tanpa ada jerawat satu pun.
Geva mengangguk dan tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya membuat Bhumi geregetan. Namun Bhumi langsung menjatuhkan tubuhnya dengan berbaring disamping Geva.
"Are you ready baby?" Tanya Geva melirik wajah tampan yang ada disampingnya dengan jarak yang sangat dekat. Bhumi mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Gadis bar-bar nan menyebalkan bernama Gevania itu pun langsung beralih duduk di perut sang suami. Geva menatap Bhumi dengan tatapan yang sangat menggoda.
Dari mana Geva belajar seperti ini? pikiran Bhumi mulai terbang kemana-mana pasalnya Geva yang dulu sangat-sangat polos.
Dengan santainya Geva melucuti pakaiannya satu persatu dan kini hanya menyisakan bra berwarna merah juga pelapis terakhir yang menutup area intimnya yang berwarna senada.
Bhumi menelan salivanya berkali-kali melihat pemandangan indah yang tidak pernah membosankan untuknya ini. Geva diam diatas Bhumi sejenak seperti berpikir.
"Bee.. mikir apa sih.. ayo dong mulai!" Kata Bhumi tidak sabaran memberikan cairan Kamehame pada Gevania.
"Sebentar." Kata Geva yang justru berdiri dan turun dan ranjang.
"Mau kemana Ge?" Tanya Bhumi. Namun Geva tidak menggubris. Geva justru menuju almari kamar hotel lalu membukanya.
Oh ternyata sudah ada baju Geva dan Bhumi lengkap. Namun Bhumi mengernyit, bagaimana bisa Bhumi disiapkan baju Formal sementara dirinya hanya disiapkan lingerie -lingerie kurang bahan. Geva mengambil dasi Bhumi, lalu kembali ke ranjang.
"Buat Apa Bee?" Tanya Bhumi mengernyit bingung.
Geva tersenyum licik.
"Kenapa diikat?" Bhumi terlihat tidak terima.
"kata kak Ayumi, sensasi nya akan berbeda, ayo kita buktikan, jadi kakak gak boleh menyentuh tubuh aku." Kata Geva.
"gak bisa gitu dong Ge!" protes Bhumi yang sedari tadi selalu ingin memegang pepaya Montong yang kenyal seperti squishy.
"Diam atau tidur?" Kata Geva
"Baiklah!" Sahut Bhumi malas,
Geva langsung melancarkan aksinya dengan melepas satu persatu baju sang suami hingga kini sang suami tidak memakai apapun dan berlahan Geva memasukan senjata tumpul Bhumi ke dalam tempat yang seharusnya. Hingga senjata tumpul itu merasakan nikmat yang tidak bisa di tulis dengan kata-katanya. Hanya bisa dirasakan.
Bhumi merancau kala Gevania memompa tubuhnya dengan tempo yang teratur dan berlahan. Bhumi semakin merancau kala tangannya sudah gatal memegang pepaya kualitas super itu yang naik turun tanpa dilapisi apapun. Namun tangan Bhumi diikat.
Bisa sih, Bhumi melepaskan ikatan Geva dengan mudah. tapi Bhumi tidak mau. Jika itu Bhumi lakukan yang ada Bhumi menghancurkan mood Gevania dan bisa-bisa nya belum sampai Ka...Me.. Ha.. Me.. Geva udah gak mau melanjutkan nya kan.
"Oh.. ini Gila bee.." Rancau Bhumi karas saat senjata tumbul nya merasa di apit dengan sangat kuat.
__ADS_1
"Faster baby!" Rancau Bhumi lagi.
Hingga setelah beberapa menit kemudian Geva tumbang di dada bidang sang suami.
"Terima kasih Bee." Kata Bhumi mengecup kening Geva.
"Terima kasih juga suami." Jawab Geva lirih lalu terpejam karena kelelahan. Bhumi tersenyum memandang wajah sang istri yang polos seperti bagi baru lahir tanpa mengenakan apapun.
Dengan telaten Bhumi memperbaiki posisi tidur Geva supaya nanti kalau bangun Geva tidak sakit badannya. Geva benar-benar sangat kelelahan.
Drt.. Drt.. Drt...
Ponsel Geva berdering, Bhumi mengernyitkan keningnya. Waktu sudah pukul 3 dini hari. Di Indonesia tentunya sudah jam 1 dini hari lalu siapa yang menghubungi Gevania.
Meskipun terlihat kurang sopan karena membuka ponsel Geva tanpa seizin, tapi Bhumi merasa berhak atas apapun tentang Geva.
Mata Bhumi terbelalak
📨 FROM : Pak Fabian
"Selamat malam Vania.. kamu sebenarnya kemana sih kenapa tiba-tiba gak ada kabar dan gak ikut camping. Padahal aku sudah menunggu kamu dari pagi supaya bisa mengajari kamu matematika disela-sela acara camping.
Kamu gak sakit kan Vania? Vania.. aku padahal juga sudah membawakan kamu brosur brosur universitas terbaik di luar negeri dengan jurusan kedokterannya. Aku yakin kamu pasti akan menjadi dokter yang hebat 💞
Bhumi mengepalkan tangannya membaca pesan dari Fabian, hingga saking keponya Bhumi scroll ke atas chating antara Fabian dan Geva.
Ternyata pesan yang berisi perhatian Fabian sangat-sangat lah banyak namun Bhumi lega karena Geva hanya membalas seperlunya yang berkaitan dengan sekolah. Tidak salah Bhumi percaya pada Geva. Toh ternyata Geva tidak pernah mengangkat telfon Fabian, terbukti dari isi chat Fabian yang memohon-mohon.Geba supaya mau mengangkat telfon dan ngobrol.
"kamu mencoba bermain-main denganku Fabian?". Gumam Bhumi tersenyum sinis.
BERSAMBUNG...
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR
__ADS_1