
Hallo...
Mohon maaf semuanya ya udah nunggu..
ada yang kangen Bhumi dan Geva kah?
insyaallah nanti jadwal update normalnya bulan Maret ya gaes.. karena urusan di dunia nyata masih menumpuk... Happy Reading..
🍂
"Jangan tinggalkan aku Ge.. aku janji akan melupakannya untuk kamu Ge." Ucap Bhumi lagi.
"Aku disini kak.. aku gak akan pergi." Ucap Geva mengeratkan pelukannya pada Bhumi. Dan Bhumi secara tidak sadar pun memeluk Geva dengan erat sambil terus menyebut nama Geva.
Melihat semua itu secara langsung dan dengan jarak yang cukup dekat, air mata Renata pun menetes begitu saja....
Berbeda dengan Geva yang dalam hati kecilnya merasa ada yang menggelitik hingga sebuah senyum terbit dari wajah cantiknya.
Geva tersenyum bukan hanya karena dia bisa membuat Renata kebakaran jenggot. Tapi dia tidak menyangka jika dalam keadaan tidak sadar saja Bhumi sudah menyebut namanya. Otomatis Bhumi sudah sedikit melihat ke arahnya, bukan fokus pada mantannya lagi. Ya meskipun mulut Bhumi tidak mengakuinya.
"Sekarang aku harus gimana kak.. disaat aku ingin menyerah dan memutuskan mengejar impianku di luar negeri... tapi kamu meminta ku untuk bertahan. Aku gak mau kak kejadian seperti ini terulang lagi.. hampir saja kan kamu tidur dengan wanita lain selagi status kamu adalah suami aku." Gumam Geva dalam hati mengusap lembut wajah suaminya dan mengecupnya dengan lembut.
ah urusan masa depan besok aja dipikirkan lagi,
Geva kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Untuk kali pertama Geva bisa benar-benar menikmati tubuh pelukable yang selalu dia bayangkan dengan tingkat kemesuman yang diatas rata-rata.
Ah ternyata memiliki suami tidak seburuk yang Geva bayangkan... Tiap malam ada yang di peluk senyaman ini hingga membuat Geva terlelap tanpa mempedulikan lagi sosok yang menangis dalam diamnya.
Entah mimpi apa Renata kemarin sehingga dia terjebak sendiri dalam situasi seperti ini. Mungkin inilah sebutan senjata makan tuan karena niat hati menjebak Bhumi agar berpisah dengan Geva tapi....
Ah.. hati Renata benar-benar hancur menyaksikan seorang Bhumi berpelukan dengan posesif pada gadis yang menurutnya bau kencur.
Dan malam terasa sangat panjang bagi Renata, doanya untuk segera pagi dan keluar dari situasi ini sepertinya sia-sia karena jam berjalan terasa sangat lambat.
"Kenapa takdir tidak pernah berpihak kepadaku? kenapa bahagia tidak pernah aku rasakan?" Gumam Renata menatap punggung Bhumi dengan sendu karena posisi sofa yang Renata tempati berada di sisi Bhumi.
Jika memiliki pilihan tentu Renata akan memilih keluar dan tidak ingin melihat semua itu. Entah sudah berapa jam seorang Renata menangis dalam diam.. hingga dia kelelahan dan akhirnya dia terlelap juga.
🍂
Pagi menjelang...
Bhumi merasakan kepalanya terasa sangat berat. Baru pertama kali Bhumi merasakan seperti ini karena baru pertama kali juga dia menenggak alkohol dengan kadar yang cukup tinggi.
Bhumi mencoba mengerjap-ngerjapkan matanya kala dadanya merasa hangat dan hembusan nafas yang menelusup ke pori-pori kulitnya.
__ADS_1
"Emmh..." Lenguh Bhumi memijat keningnya dengan mata yang masih terpejam. Matanya seolah enggan untuk terbuka dan ingin melanjutkan lelapnya lagi. Namun rasa penasaran dengan sesuatu yang menempel di tubuhnya itu membuatnya berusaha untuk membuka matanya.
"Bangssadt;" Umpatnya dalam hati karena kepala yang nyut-nyutan.
Deg!
Bhumi tersadar dan merasa ada yang mengeratkan pelukan di tubuhnya, dan tangan Bhumi mulai meraba. Dirasanya sebuah kulit halus yang dia yakini adalah kulit dari seorang wanita.
Jantung Bhumi berdegup kencang saat ingatannya semalam mulai kembali dimana dia mabuk.
dan..
"Apa gue tidur sama jalaang? tapi semalam ada Alex, Reno dan Renata.. Mana mungkin Alex membiarkan gue sama jalaang?" Batin Bhumi mengumpulkan keberaniannya untuk membuka mata. Jika dia tidur sama jaalang maka tamat sudah riwayatnya di keluarga Bramantya.
"Geva..." Gumam Bhumi dengan senyum yang terbit di bibirnya melihat wajah cantik yang memeluknya dengan erat.
Namun Bhumi mencoba memakai logikanya. kemarin Geva sudah menolaknya jadi tidak mungkin Geva sedang memeluknya dan dimana dia saat ini. Ruangan yang terlihat sangat asing di ingatan Bhumi.
"Efek alkoholnya sepertinya masih memenuhi otak gue... kenapa gue merindukan gadis menyebalkan itu." Gumamnya lagi yang tidak percaya sama apa yang dia lihat pagi ini.
"emmm.." Kali ini Geva yang melenguh karena Bhumi mengusap lembut pipi Geva yang mencari kebenaran apakah nyata atau hanya ilusi.
"Kak..." Gumam Geva yang melihat Bhumi memandangnya.
"Alkohol benar-benar membuatku Gila.. kenapa pagiku dipenuhi wajah gadis menyebalkan bernama Gevania?" Tanya Bhumi.
"Emang kamu udah gila dan beneran gila kak.. hingga gak tahu mana nyata mana enggak!" Jawab Geva kembali merengkuh tubuh suaminya.
"Heii siapa kamu.. bangun.." Perintah Bhumi mencoba memberikan jarak antara tubuhnya dan Geva. Namun Geva justru semakin merengkuh tubuh Bhumi dan usaha Bhumi gagal.
"Bangun!!" Ucap Bhumi.
CUP!
"Selamat pagi suami aku..." Kata Geva tersenyum. Bhumi auto bengong sambil mengerjapkan matanya lagi.
"Ge.. Geva.." Tanyanya.
"Emang siapa lagi yang boleh tidur sama kamu? Hmm?" Tanya Geva.
"Ge.. kamu demam ya?" Tanya Bhumi yang teringat tadi dadanya terasa hangat karena wajah Geva yang menempel djsana.
"Kenapa kamu demam? Gimana ceritanya kita ada disini.. kita dimana?" Tanya Bhumi memeriksa wajah istrinya.
"Udahlah kak.. aku ngantuk.. kepala aku pusing. Tidur dulu yuk.." Geva hendak mengeratkan kembali pelukannya. Dan...
__ADS_1
CUP!
Bhumi mengecup bibir Geva dengan lembut. UPS.. ternyata bukan hanya sekedar kecupan melainkan perlahan Bhumi ******* bibir istrinya.
Geva masih sangat kaku dengan apa yang Bhumi lakukan. Jantungnya seakan ingin loncat pagi ini. Kegugupan melanda pagi Geva hingga Geva mencekram lengan kokoh suaminya padahal dia yang memulai lebih dulu mengecup bibir suaminya.
Hingga akhirnya Bhumi melepas tautan bibirnya di bibir ranum sang istri lalu tersenyum,
"Jangan gugup.. nikmati aja." Bisik Bhumi sambil menggigit cuping telinga Geva.
Bhumi kembali menyerang bibir Geva dengan sensual dan akhirnya Bhumi sudah mengungkung tubuh Geva. Entah apa yang mendasari Bhumi ingin memiliki Geva seutuhnya setelah semalam Geva menolaknya.
Ya.. hati kecil Bhumi tidak ingin berpisah dengan Geva. Seperti halnya Geva yang tidak ingin berpisah sama Bhumi meskipun keduanya mengaku belum saling cinta.
Geva mulai belajar melakukan hal yang sama dengan apa yang Bhumi lakukan pada dirinya. Lumaatan kecil nyatanya mampu membuat si Gohan bangun dan ingin belajar jurus Kamehame.
"Gev... bolehkah aku melakukannya?" Tanya Bhumi lembut dengan mata yang sudah diliputi oleh gairah.
Ciuman Geva benar-benar memabukkan untuk Bhumi.
"A.. aku..." Geva semakin gugup dan bimbang. Dia juga ingin menjadi istri Bhumi sesungguhnya tapi bagaimana jika akhirnya Bhumi tidak bisa move on dari sang mantan dan rumah tangganya akan kandas di tengah jalan yang baru beberapa langkah ini.
"Bhum..." Sebuah suara asing yang terdengar jelas di telinga kedua manusia yang saat ini berpose sangat intim diatas ranjang.
Bhumi menengok ke arah sumber suara dan..
"Renata?" Kata Bhumi mematung.
Sedangkan Geva sendiri terbelalak, dia lupa jika semalam ada Renata disana.
Bhumi mencoba tetap stay cool.
"Kak.. minggir.. ada kak Renata." Cicit Geva masih terdengar di telinga Renata.
"Ta.. elu keluar dari disini." Usir Bhumi datar.
"Kalian benar-benar keterlaluan!" Teriak Renata yang sudah menangis di pagi ini.
BERSAMBUNG...
ketemu lagi di bulan Maret ya...
Selalu jaga kesehatan dan semangat ya gaes...
Miss you! 💋
__ADS_1