
🍁
Waktu terus berjalan sangat cepat, tidak terasa ini adalah hari terakhir Geva menghadapi ujian nasional. Selama ujian nasional ini, Bhumi melarang sang istri melakukan apapun kecuali belajar supaya Geva mendapatkan nilai yang sesuai Geva harapkan.
Bahkan Bhumi juga tidak menggoda Geva dengan hal-hal mesum yang setiap hari mereka lakukan, cukup kecupan tanpa cium-ciuman panas yang mewarnai hari mereka. Itulah yang menjadi kesepakatan mereka di malam mereka makan rendang masakan Flower. Puasa dulu~
Kalau boleh jujur, Geva rasanya ingin menolak karena dia selalu mendamba setiap sentuhan sang suami. Namun jika suaminya sudah memberi titah, bisa apa lagi seorang Gevania?
Dan selama hampir sepekan ini pula, Bhumi juga bolak balik mengantar jemput sang istri ke sekolah yang berujung pada semakin padatnya jadwal meeting Keenan karena Bhumi kabur-kabur an. Bhumi pun selalu memasak sarapan untuk sang istri, dan setiap malam Bhumi menemani dan mengajari Geva untuk belajar. Urusan pekerjaan kantor? ada Satria yang bisa membantunya menghandle semuanya.
Jangan tanya, akibat kurang sentuhan dari seorang Bhumi, kadang saat Bhumi menjelaskan tentang pelajaran yang tidak Geva pahami, justru Geva berpikiran liar menatap bibir Bhumi yang sexy. Tentu Bhumi sadar akan hal itu, tapi sebisa mungkin dia menahan hasratnya. Demi masa depan Gevania~
Soal undangan pernikahan Geva dan Bhumi yang sudah tersebar di kalangan pebisnis dan kerabat itu merupakan desain pilihan Bianca.
Selera Bianca yang tidak jauh beda dengan Geva membuat Geva mempercayakan semuanya pada sang adik ipar rasa kakak.
Geva sudah menyelesaikan ujian terakhirnya, yaitu mata pelajaran Geografi, kini Geva nongkrong di cafe depan sekolahan bersama teman-temannya sambil menunggu Bhumi menjemput yang katanya telat 30 menit,
"Gep.. elu beneran akhir pekan mau nikah?" Tanya Dewa menerima undangan dari Geva, dewa adalah teman sekelas Geva dan Naomi juga Theo.
"HM.. elu datang ya." Kata Geva tersenyum. Dewa adalah salah seorang sahabat Theo, dan mereka berteman akrab.
"Gue gak ada temannya Gep. Masak gue kondangan sendirian." Gerutu Dewa.
"Kan ada Theo. cocok deh kalian sama-sama jomblo." Kata Geva melirik mantan pacarnya.
"Gue males datang!" jawab Theo asal. Mana mungkin Theo sanggup lama-lama melihat gadis yang ia cintai tersenyum bahagia dengan lelaki lain.
Cinta tidak harus memiliki? bulshitt! karena dada Theo selalu sakit melihat Geva bersama dengan Bhumi. Namum Theo masih waras, terlebih Bhumi sudah banyak membantu dirinya membuka usaha dan Geva juga terlihat bahagia bersama Bhumi.
"Kok gitu sih Yo.. elu tega gak datang.. elu udah gak anggap gue temen elu?." Rengek Geva. Ini nih yang paling Theo hindari, rengekan Gevania.
"Iya.. iya gue datang.. tapi gue mau ngajak cewe!" Kata Theo.
"Ck! emang dasar Playboy cap kadal! padahal elu cocok datang bareng dewa terus gandengan tangan." Kata Nadia menyambung pembicaraan teman-temannya.
"Elu pikir gue pisang makan pisang, ngajakin dan gandeng Theo buat kondangan?" Decak Dewa membuat teman-temannya terkekeh.
"Temenin gue nom.. gue jemput deh." Kata Dewa menatap Naomi penuh harap.
__ADS_1
"Boleh.." Jawab Naomi sambil tersenyum.
"Loh?" Geva nampak kaget ketika Naomi menerima tawaran Dewa. Bukankah Naomi sedang menjalin hubungan dengan kak Deon? Bahkan Naomi udah dibuatin baju yang senada dengan keluarganya loh... couple sama Deon.
"Kenapa Gep.. gue jomblo.. bebaslah.. iya kan wa." Kata Naomi menaik turunkan alisnya.
"Iya dong.."
"Nom.. gue mau ngomong sama elu bentar!" Geva menarik Naomi menjauh dari dewa dan Theo juga temannya yang lain. Mereka sedang dilantai Tiga cafe dan kini dua gadis cantik itu menuruni tangga dan berdiri di tangga yang sepi.
"Elu gak lagi ada masalah kan sama kak Deon?" Tanya Geva penasaran. Naomi menghela nafasnya,
"Gue capek Gep.. gak sengaja dua hari lalu gue lihat kak Deon jalan sama Renata. Dan semenjak dua hari lalu itu, kak Deon gak hubungi gue sama sekali. Mungkin dia sadar, kalau dia gagal move on dan gak mau kasih harapan gue lagi." Kata Naomi.
"Elu gak tanya sama kak Deon langsung?" Tanya Geva penasaran. Geva pikir hubungan Deon dan Naomi sudah sangat serius.
"Gue capek!" Jawab Noami lagi. Belum juga Geva menyelesaikan kekepoannya, tiba-tiba ponselnya berdering,
Geva segera mengangkat setelah meminta izin pada Naomi,
"Hallo kak.."
"Loh bukannya tadi bilang telat 30 menit?" Tanya Geva.
"Cepat kesini.. jika lebih dari satu menit maka aku tinggal dan suruh minta anterin pulang sama MANTAN kamu saja!" Kata Bhumi menekan kata mantan lalu memutuskan panggilan telfonnya.
Bhumi paham, tadi Geva mengirim pesan pada Bhumi untuk nongkrong di Cafe dengan teman-temannya dan Geva menyebut nama Theo. Bhumi cemburu meskipun hubungannya dengan Theo terlihat baik-baik saja, tetap saja cemburu.
Kalau Bhumi cemburu pasti akan bener-bener meninggalkan dirinya, ah suami super tega.
"Nom.. gue cabut dulu ya.. nanti telfon gue! Pamitin sama anak-anak yang lain, kak Bhumi udah didepan." Kata Geva buru-buru berlari.
"Belum juga gue selesai curhat, kabur aja.. enak aja sih yang udah nikah." Gumam Naomi dengan wajah cemberut.
🍁
BRAK!
Geva menutup mobil Bhumi dengan kasar. Ia duduk di samping kemudi mobil yang sangat dia kenal dengan nafas ngos-ngosan.
__ADS_1
"Kenapa lari sih?" Tanya Lelaki yang duduk dibelakang kemudi sambil mengusap rambut Geva dengan lembut.
Geva menengok sambil mengerucutkan bibirnya,
"Aku tadi dari lantai 2 cafe. terus lari kesini.. ngapain sih kakak pake acara ngancam-ngancam segera bilang kalau lebih dari semenit ninggalin aku? Cemburu sama Theo?" Tanya Geva kesal.
"Aku kangen.." Bisik Bhumi langsung mengecup pipi sang istri.
"Gitu doang? Nggak jelas!" Kesal Geva.
"Aku emang kangen kamu.. pengen cium kamu!"
"Tapi gak gitu juga kak.. nyuruh aku semenit udah sampai bawah, kirain kakak lagi cemburu sama Theo terus marah."
" Sebenarnya.."
"udah deh cepet jalanin mobilnya. aku ngantuk mau tidur.. aku udah bener-bener bebas.. semua ujian udah selesai.. tinggal ujian hidup!" Kata Geva.
"Kita ke butik dulu sayang.. tadi mama Bela telfon kamu harus fitting baju pengantin." Ucap Bhumi mendekat ke arah Geva.. jarak mereka sangat dekat bahkan Geva merasakan deru nafas Bhumi.
Geva memejamkan matanya, jantungnya berdegup kencang, berhari-hari berdekatan sama Bhumi tapi Bhumi tidak pernah mengajaknya berciuman.. Bahkan bibir yang saling menempel pun nggak. Geva rindu ciuman Bhumi, dan dia sudah siap mendapat serangan Bhumi meskipun masih di parkiran cafe.
Ceklek.....
Bhumi langsung menyalakan mesin mobilnya dan Geva membuka matanya lebar-lebar terus melotot ke Bhumi,
demi apapun Bhumi ingin tertawa melihat tingkah absurd Geva yang ingin ia cium, tapi Bhumi harus sabar dulu, sebenar lagi...
"Kita berangkat sekarang ya.." Kata Bhumi mencoba memasang wajah datar seolah tidak tahu keinginan istrinya.
"Serah deh!" Kata Geva memejamkan matanya pura-pura tidur.
BERSAMBUNG...
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
__ADS_1