Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Sarapan~


__ADS_3

"Maaf jika aku merepotkan kamu!" Kata Keenan langsung mengambil nasi sendiri.


"Bagus deh kalau nyadar!" Jawab Bianca.


"Caca..." Tegur mami Naya.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Mama Bela lembut. Semua terlalu menyayangi dan memanjakan Bianca karena dia hanya satu-satunya anak gadis di keluarga Bramantya.


"Maaf." lirih Bianca merasa bersalah yang tidak bisa mengontrol emosinya.


"Elu Kesambet apa Ca?" Tanya Kaisar, adik tiri Keenan.


"Kesambet jin mesum yang semalam ada dikamar ku hingga membuat kasurku goyang seperti ada Gempa Bumi!" Jawab Bianca melirik Bhumi dan Geva dengan polosnya membuat Bhumi dan Geva langsung saling pandang.


"Kasur goyang?" Flower seperti berpikir.


"Oh jangan-jangan yang semalam ada pasangan mesum keluar lift ya?" Ceplos Bhima membuat Geva dan Bhumi langsung tersedak.


"Pelan-pelan Bhum.. Gev.." Kata Mami Naya lembut. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itupun menampilkan senyumnya, karena semalam dia yang hendak keluar kamar pun melihat anak menantunya tengah dimabuk gairah.


"Maksudnya?" Tanya Oma Intan dan Oma Rani bersamaan menatap cucunya dengan penuh tanya.


"Udah-udah.. kita lanjutkan makannya." Kata Mami Naya berusaha menyelamatkan menantunya yang cantik karena wajah Geva sudah memerah karena malu.


"Apa sih? Oma kok penasaran." Kata Oma Intan menatap Bhima penuh tanya.


"Ya itu oma, ada..."


"Awww.... kamvret!" Umpat Bhima kesakitan karena pahanya dicubit oleh Bhumi dengan kekuatan penuh, duduk Bhima dan Bhumi saling bersebelahan.


Bhumi memberikan lirikan tajam pada Bhima supaya tidak buka suara.


"Ada apa Bhim? Pasangan mesum? siapa?" Tanya Keenan penasaran. belum juga Bhima menjawab pertanyaan sang kakak sepupunya yang tampan,


"Kak Bhima lihat juga kak Bhumi sama Geva lagi ciuman panas?" Tanya Bianca dengan polosnya langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang kakak yang namanya telah disebut didepan semua anggota keluarga.


"Bhumi sama Geva mesum?" Tanya hampir semua orang secara serempak menatap pada pasangan yang menjadi tersangka utama.


Demi apapun jika di sana ada lubang semut dan Geva bisa memasukinya, Geva akan memilih sembunyi di lubang semut itu dari pada malu karena tatapan semua orang. Sedangkan Bhumi, dia dengan santainya memasang wajah datar tanpa ekspresi dan tanpa rasa bersalah.


"Semua Gara-gara kakak!" Gumam Geva yang merasa kesal dengan Bhumi.


"Bukankah kamu juga menikmatinya dan menginginkan lebih?" Tanya Bhumi membuat Geva mendengus.

__ADS_1


"Bodoh! aku gak mau kakak cium cium disembarang tempat!"


"Kita buktikan saja, kamu bisa nolak nggak?" Bhumi tersenyum simpul pada sang istri.


"Ciuman dimana mereka?" Tanya Mama Bela menatap istri keponakan nya dengan tatapan berbeda, seperti ingin tertawa tapi ditahan. Geva hanya menunduk tanpa ada niat untuk menyanggah ataupun menimpali pembahasan mereka


"Di kamar ku Ma Bel.,, terus keluar, kamar juga masih ciuman." Jawab Bianca.


"Berarti mereka terus turun pake lift dan masuk kamar tanpa melepaskan ciumannya." Sambung Bhima.


"Mas ih.. udah diem aja Napa!" Ucap Flower menyenggol sang suami agar diam saja, pasalnya Bhima juga sama saja dengan Bhumi, Hanya saja Bhima belum pernah ketahuan saat sedang berciuman mesra dengan Flower. Maklum, jika Mami dan Papi tidak ada di rumah, Bhima menyuruh para ART untuk tidak memasuki area Kediaman utama jika tidak dipanggil.


"Kalian seperti gak pernah muda aja!" Sambung Bhumi dengan mode datar.


"Tapi kamu membuat mata dan telinga aku yang suci ini jadi ternoda kak.." Kata Bianca dengan bibir mengerucut.


"Dan dari semalam aku sampai susah tidur membayangkan gimana rasanya ciuman dan.. astaga tangan kak Bhumi mereemas dada Geva.. membayangkannya aja merinding banget. Emang harus begitu ya?" Batin Bianca.


"Nanti kamu juga akan merasakannya ca, kalau kamu sudah menemukan lelaki yang tulus mencintai kamu. Sudahlah jangan bahas lagi.. kasihan menantuku yang sudah seperti udang rebus karena malu." Sahut Papi Gema dengan santainya.


Semua nya pun tertawa sambil menatap Geva yang wajahnya sudah sangat memerah seperti udang rebus.


"Papi..


"Bapak sama anak sama. Sama-sama gak punya malu!" Kata Papa Genta dengan santainya memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya sambil melirik adik nya yang juga selalu berbuat sama saja.


"Wah iya.. papa sama Mama nikah katanya Gara-gara Tante Rachel ngidam. gimana sih ceritanya?" Tanya Kaisar antusias.


"Sudah ayo makan.. pembahasannya semakin melenceng saja!" Kata Oma Intan.


"Ceritain dulu.." Kata Kaisar.


"Iya ceritain dulu.. Caca pengen denger.. siapa tahu nanti Caca nikah karena kak Flow ngidam kan terus jodohin aku sama yang gak apa-apa ganteng yang penting bertanggung jawab dan baik." Ucap Caca.


"Nggak usah mikir kejauhan ca! kamu masih kecil!" Kata Keenan.


"Siapa sih? ngatur-ngatur Mulu!" Decak Bianca.


"Sudah-sudah.. dari pada kamu mengurusi Bianca yang udah besar, mending kamu urusin wanita yang tidak jelas itu!" Kata Papa Genta menyinggung soal Alona.


"Nah.. aku setuju noh sama papa Gen.. aku usah gede jadi kak Keenan jangan ikut campur urusan aku!"


"Karena aku takut terus-terusan baper dan berharap kak.. please jangan terlalu overprotektif dan perhatian sama aku.." Lanjut Bianca dalam hati.

__ADS_1


"Dia Alona, bukan wanita tidak jelas pa!" Kata Keenan.


" Bukan salah papa menyebutnya wanita tidak jelas karena dialah yang membuatmu jadi lelaki brengssek!"


"Sudah-sudah sarapan!" Kata Oma Rani tegas.


"Wah bentar lagi cucuku bakal di proses lagi dong.. benar-benar gak sabar menantikan Bhumi dan Geva junior launching." Kata Mami Naya tersenyum mengalihkan pembicaraan.


"Mami pikir produk baru pakai acara launching segala?" Ucap Bhumi.


"Iyalah.. Calon anggota baru keluarga Bramantya harus ada launching besar-besaran."


"Bhum.. segeralah untuk launching... setelah Geva ujian nasional nanti papi dan papa Arsa akan menyiapkan resepsi mewah untuk kalian, setelah itu papi akan berikan jabatan presdir untuk kamu." Kata Papi Gema.


"Pi.. nggak sebaiknya setelah kelulusan Geva saja kita mengadakan resepsi?"


"Nggak.. kelamaan... " Jawab Papi Gema.


"Baiklah."


Sarapan itu pun berjalan dengan lancar, dan rencananya setelah Papi Gema dan Mami Naya kembali ke negara Macanpura, Bhumi dan Geva pun pamit pulang, bukan ke kediaman keluarga Wijaya lagi, tapi ke apartemen karena Bhumi ingin menghabiskan waktu hanya berdua setelah kemarin bersitegang de gan Geva dengan pikiran masing-masing.


Di dalam kamar Bhumi yang berada di kediaman Bramantya,


"Semua ini Gara-gara kakak!" Decak Geva kesal mengingat bagaimana tadi malunya dia di depan keluarga Bramantya.


"Kita berdua sayang.. bukan aku doang.. kan kamu menikmati." Kilah Bhumi duduk disamping istrinya.


"Habisnya enak sih!"


"Yang mana yang enak?" Goda Bhumi.


"Tau ah.. gelap.. tau ah... aku mau nemenin mami.." Geva beranjak dari duduknya.


"Sekalian minta ajarin masak sama mami sayang.. biar kamu bisa masakin suami kamu." Kata Bhumi.


Geva menghentikan langkahnya,


"Aku bukan kak Flow yang pintar masakin suaminya!" Ucap Geva membuat Bhumi melongo.


BERSAMBUNG..


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE

__ADS_1


KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


__ADS_2