
Setelah menempuh perjalanan lebih dari 30 menit, akhirnya Bhumi menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran bakso yang masih saja ramai.
Harapan Bhumi sia-sia, sebab sepanjang perjalanan tadi dia berdoa restoran tersebut sudah tutup mengingat hampir jam 12 malam dan ternyata pintu restoran tersebut masih terbuka sangat lebar.
Bhumi tadi juga sudah berusaha untuk membujuk Geva supaya memesan makanan online saja dengan berbagai alasan.
Namun, satu pertanyaan ampuh Geva yang membuat Bhumi tidak bisa berkutik lagi,
"Kamu gak sayang sama aku kak? gak cinta? sampai-sampai aku mau makan bakso itu aja kamu gak mau?"
Lalu bisa apa Bhumi jika tidak menuruti kemauan sang istri. Dari pada sang istri tambah ngambek kan?
"Sayang.. itu ramai banget." Ucap Bhumi mencoba mencari alasan untuk tidak masuk Restoran bakso gila.
"Kan emang kalau malam katanya bayar setengah harga doang. Makanya ramai." Ucap Geva cuek dengan wajah yang masih ditekuk dari tadi.
"Yaudah.. yaudah.. ayo kita turun." Ujar Bhumi membuka selfbelt.
"Kamu gak ikhlas?" Tanya Geva penuh selidik.
"Ikhlas sayang ikhlas.." Kata Bhumi menampilkan gigi putihnya yang berbaris rapi.
"Buseet belum hamil dan ngidam aja udah begini, gimana kalau ngidam coba?" Batin Bhumi mengingat curhatan Bhima tentang kemauan Flower yang selalu aneh-aneh.
Memasuki restoran tersebut, Geva langsung memesan bakso super gila satu porsi dan bakso biasa satu porsi. Bakso super gila adalah bakso dimana porsinya setara dengan 5 mangkuk bakso biasa. Bhumi menelan salivanya mendengar pesanan sang istri. Namun dalam hatinya tersenyum, ternyata istrinya pengertian sekali, karena dia sudah makan jadi sang istri memesankan bakso porsi biasa.
"Sayang.. apa itu tidak terlalu banyak porsinya buat kamu?" Tanya Bhumi.
"Kenapa?" Geva menatap tajam pada suaminya.
"Pasti nanti gak habis. Gak baik sayang makan terlalu kenyang." Kata Bhumi.
"Kakak yang makan itu.. aku makan porsi biasa." Kata Geva dengan tatapan tajam pada sang suami. Bhumi merasa ngeri dengan tatapan istri kecilnya itu. Belum juga Bhumi mengutarakan pendapatnya,
"Kalau sampai kakak gak habis, kakak harus menuruti apa yang aku mau!" Kata Geva tegas.
"Sayang.." Rengek Bhumi. Geva hanya diam, Geva sudah sangat kesal dengan suaminya.
"Tadi katanya makan di restoran western dengan porsi sangat dikit kan? yaudah sekarang porsinya 5 kali lipat!" Kata Geva.
"Sayang.."
"Permisi tuan... tadi anda yang berkunjung kesini sekitar jam 9 dengan seorang lelaki dan wanita kan? ini dompet teman anda sepertinya jatuh." Kata seorang pelayan menyerahkan dompet kulit berwarna coklat yang Bhumi tahu itu adalah dompet Satria.
Bhumi menelan saliva nya lalu melirik sang istri. Istrinya tetap memasang wajah datar.
"Ini tuan.." Kata pelayan itu lagi karena Bhumi belum juga menerima dompet tersebut.
__ADS_1
"Oh... sepertinya anda salah orang mba." Kata Bhumi mencoba tersenyum berharap kebohongannya dengan sang istri tidak terungkap.
"Nggak mungkin saya salah orang tuan.. anda kan tadi bertiga yang karaoke-karaoke duduk di ruang VIP sebelah sana." Jelas pelayan itu lagi semakin membuat semuanya terasa runyam.
Geva menghela nafasnya,
makan di restoran western?
meeting?
banyak pekerjaan?
lupa mengabari?
membiarkan Geva menunggu hingga kelaparan, eh dia malah karaokean sama Satria dan Ayumi?
Itukah yang dinamakan cinta?
Ingatan Geva Kembali pada foto di mana Bhumi membeli dan mengantarkan makanan ke rumah orang tuanya yang ditempati oleh Flower dan Bhima. Saat siang Bhima pasti kerja, dan Bianca adik iparnya tinggal di apartemen yang sama dengan apartemennya.
Nyesek banget..
Tanpa berkata apapun Geva langsung berdiri dari duduknya dan mengambil tasnya,
"Sayang.." Bhumi memegang pergelangan tangan Geva hingga Geva menghentikan langkahnya.
"Makan dulu sayang.. aku janji aku akan habiskan bakso super gilanya sayang.. tapi kamu makan dulu, kamu belum makan." Kata Bhumi memohon. Geva memejamkan matanya,
" Aku tunggu di luar!" Kata Geva lirih menghentakkan tangannya yang dipegang Bhumi hingga pegangan itu terlepas. Bhumi segera membayar bakso yang Geva pesan. Untung bakso itu udah jadi, Bhumi lalu meminta untuk take away saja.
🍁
Geva diam seribu bahasa, Bhumi bingung mau berbicara apa lagi selain kata maaf. Kalau dihitung-hitung, Bhumi sudah lebih dari 100 kali mengucapkan maaf pada Geva sepanjang perjalanan pulang.
"Sayang tunggu!" Kata Bhumi. Geva tidak peduli, dia terus saja berjalan kembali ke apartemennya.
Ceklek.
BRAK!
Geva membanting pintu, Bhumi hanya mengikuti kebelakang.
"Sayang.. maafkan aku." Kata Bhumi lirih.
"Terus saja berbohong! aku memang bodoh! aku emang anak kecil yang gak pernah kakak hargai. Bahkan aku dari kemarin menunggu kejujuran kakak yang sering mengirim makanan buat MANTAN kakak saja kakak gak pernah ngomong!"
Deg!
__ADS_1
Jantung Bhumi rasanya mau copot.
"Kakak pikir aku gak tahu tadi kakak makan di restoran bakso gila? aku tahu dari postingan Kak Ayumi, makanya aku ngajak kesana, tapi diluar dugaan, suami yang aku tunggu sampai ketiduran dan kelaparan justru bersenang-senang!"
"Sayang.. a.. aku gak bersenang-senang, tadi itu Ayumi yang ngajakin makan.. lalu.. Ehmm lalu untuk merayakan tender kita di Malaysia yang sukses, Ayumi ngajak karaoke.. dan yang karaoke itu Satria dan Ayumi. aku cuma diam." Kata Bhumi jujur.
"Kenapa gak mengabari aku? jujur!" Tanya Geva tajam.
"Ta.. tadi gak boleh pegang ponsel.. ponsel aku sama Satria disita sama Ayumi." Jawab Bhumi.
Geva tidak percaya, seorang Bhumi Bramantya lelaki dingin dan sulit diajak sosialisasi kini begitu menurut dengan rekan kerjanya bernama Ayumi.
Dan Geva belakangan ini juga melihat sikap Bhumi yang aneh, dia menjadi sosok yang hangat dan ramah senyum juga banyak bicara. Dan entah mengapa mendadak perasaan Geva tidak enak, kenapa Ayumi selalu rajin membuat story saat bersama Bhumi?
Geva harus mencari tahu dan memikirkan ini baik-baik. Dia tidak boleh gegabah.
"Aku mau istirahat dulu." Ucap Geva.
"Sayang kamu makan dulu." Kata Bhumi lirih memeluk Geva.
"Maafkan aku.. aku salah.. aku gak bermaksud membohongi kamu sayang.. gak tahu kenapa aku belakangan ini gak bisa menolak apapun tawaran dari orang.. aku gak bisa menolak." Bhumi mendadak menangis.
"Kok kak Bhumi malah jadi absurd sih?" Batin Geva.
"Kak.." Geva jadi mengernyit mencoba melepaskan pelukan sang suami.
"Hati aku mendadak pengen nangis jika ada orang menampilkan wajah sedih dihadapan aku.. dan kalau kamu marah begini, rasanya sakit sekali hati aku.. " Kata Bhumi sudah banjir air mata.
"Aku gak mau tiap hari makan bakso, aku gak suka bakso tapi, entah kenapa kalau gak makan bakso mood aku jadi berantakan."
Geva semakin dibuat bingung oleh sikap suaminya yang makin hari makin aneh...
"Apa kak Ayumi tiap hari ke kantor kakak?" Tanya Geva.
"Iya, dia bertemu dengan Satria." Jawab Bhumi.
"Tapi tiap hari juga Ayumi selalu curhat perihal Deon.. aku gak tega.. terus Bhima juga.. selalu minta aku beliin makanan untuk Flower. Aku gak bisa nolak."
"Aneh?" Gumam Geva.
"Sayang.. aku menginginkanmu.." Bisik Bhumi tiba-tiba.
"Bulan ini kamu belum halangan kan?" Tanya Bhumi lagi dengan berbisik. Tubuh Geva mendadak menegang kala Bhumi sudah mereemass dadanya dengan lembut.
"Kak.. aku lagi marah sama kamu!"
"Marahnya di pause dulu sayang." Bisik Bhumi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...