
Dimana pun yang namanya kebohongan itu tidak baik. Apapun alasan yang digunakan seseorang untuk berbohong, tidak baik.
Termasuk kebohongan Geva pada Keenan yang mengatakan bahwa Bhumi sedang tidak enak badan sehingga tidak bisa berangkat ke kantor. Padahal, Geva dan Bhumi sedang siap-siap untuk liburan terselubung berdua dengan tiket dari Bianca.
Bagaimana tidak terselubung, jika liburan ala Geva dan Bhumi ini sudah di rancang sedemikian rupa dimana 80% ngadon bayi kembar sepasang sisanya baru jalan-jalan dan belanja. Anehnya, Geva juga menyetujui saja ide sang suami itu, padahal dimana-mana wanita lebih suka shopping kan.. apalagi di luar negeri.
Tapi...
Lagi-lagi manusia hanya bisa berencana...
Di dunia nyata, Tuhan lah yang menentukan sedangkan di dunia pernovelan, maka author yang menentukan. Makanya baik-baik noh si author~
Rencana liburan yang bahagia dan menyenangkan mendadak berubah menguji kesabaran. Mungkin karena efek bohong pada Keenan dan Keenan tidak ikhlas.
Bagaimana tidak menguji kesabaran, pesawat yang baru tinggal landas 2 jam lalu dari Bandara Internasional Soekarno Hatta membuat Geva ingin segera turun dari pesawat. Perutnya terasa sangat mual, wajahnya pucat dan badannya sedikit demam.
Padahal masih butuh 5 jam lagi perjalanan dari Jakarta menuju Seoul. Parahnya lagi, ternyata Bianca memberikan tiket pesawat ekonomi pada Bhumi dan Geva sehingga mereka tidak leluasa istirahat dengan nyaman.
Ekspektasi Geva liburan ala Sutan, bubar sudah. Tahu gitu Bhumi beli tiket pesawat sendiri sama Geva. Bhumi hanya bisa terus mengumpat adiknya yang pasti saat ini sedang menertawakannya.
"Kak, aku mual. Kapan sih ini pesawat turun.. aku udah gak tahan." bisik Geva memejamkan matanya, kepalanya bersandar di pundak sang suami. Bhumi mengusap rambut istrinya meskipun kepalanya berdenyut cukup pusing.
"Sabar ya sayang.. kamu bobo deh.." Kata Bhumi menghela nafasnya. Bhumi meraih jemari Geva lalu memberikannya minyak kayu putih, diusapnya punggung tangan sang istri dengan lembut untuk memberikan kenyamanan.
"Aku gak bisa bobok.. itu ibu-ibu parfumnya nyengat banget dan bau banget!" Rengek Geva dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Bhumi harus kuat, dia tidak boleh lemah.. meskipun dia rasanya pengen pingsan saat ini juga. Bahkan perutnya juga sudah seperti di aduk-aduk karena menghirup aroma parfum yang laknat tersebut.
"Iya mba.. sumpah itu bau banget." Kata ibu-ibu yang duduk disamping Geva. Posisi Geva ditengah-tengah antara Bhumi dan Ibu-ibu yang pergi ke Korea setelah mendapatkan reward dari bisnis MLM. Geva sempat tanya-tanya tadi.
"Ini.. coba hirup ini saja." Bhumi memberikan botol minyak kayu putih yang tutupnya terbuka di hidung Geva. Geva menghirup nya dalam-dalam.
"Begini banget ya naik pesawat ekonomi bareng orang tidak tahu diri yang pakai parfum bau alam kubur sebotol penuh, aku gak mau lagi.. aku kapok! " Gerutu Geva dengan air mata yang sudah menetes.
Sebenarnya tidak apa-apa naik kelas ekonomi, Bhumi juga sering naik pesawat ekonomi jika sedang ke Surabaya, Semarang atau Jogja untuk urusan bisnis. Tapi masalahnya ada ibu-ibu yang memakai parfum memabukkan setelah pesawat tinggal landas. Tadi sempat di protes banyak orang, tapi bagaimana lagi, sudah terlanjut disemprotkan kan?
__ADS_1
"Sabar.." Ucap Bhumi memejamkan matanya menetralkan dirinya.
"Kamu demam, pasti karena kurang istirahat. Makanya semalam aku udah nyuruh kamu tidur, kamunya masih pengen cerita terus, dan siang tadi kamu belum makan berat." Omel Bhumi mendadak menjadi seperti emak-emak yang mengomentari anaknya.
"Howwweekkk!"
Bukan menjawab, Geva justru memuntahkan isi perutnya di baju sang suami.
Menghirup aroma muntahan membuat Bhumi makin pusing.
"Kita ke toilet di depan." Kata Bhumi dengan wajah sangat dingin.
"Sayang.. maaf ya baju kamu kotor." Kata Geva merasa bersalah. matanya sudah berkaca-kaca dan hampir menangis.
"Gak apa-apa, ayo kita ke toilet, baju kamu juga kena muntahan kamu." Kata Bhumi lembut dan tersenyum manis, meskipun dia sendiri rasanya pengen muntah, tapi dia tahan.
"Duh mas nya dari tadi mukanya datar dan dingin banget ternyata sayang istri ya.. lagi anget-angetnya sih.. aku doain ya.. jika nanti udah jalan diatas 5 tahun, tetap seperti ini.. jangan kayak suami ibu, malah nyari wanita lain..." Kata ibu itu terdengar seperti curhat colongan.
Bhumi tidak menimpali, Sedangkan Geva hanya tersenyum dengan wajah pucat nya.
Bhumi tidak lupa membawa rangselnya masuk ke toilet dan meminta istrinya duduk diatas closet.
"Sekarang ganti baju ya." Kata Bhumi.
"Kakak kok bisa nyiapin baju di rangsel?" Tanya Geva.
"Memang harus begini sayang, kalau kita perjalanan jauh harus menyiapkan baju ganti minimal satu stel, untuk jaga-jaga jika ada hal yang semacam ini, kan koper kita ada di bawah." Geva mengangguk dan tersenyum karena Bhumi ternyata juga menyiapkan baju ganti untuknya. Sungguh suamiable banget kan si Bhumi.
"Udah yuk kita keluar." Ajak Bhumi setelah membersihkan bajunya dan baju Geva yang kotor kena muntahan, sedangkan Geva masih duduk di closet dengan kepala bersandar di dinding dan mata terpejam.
"Sayang ayo keluar."
"Nggak mau! aku mau bobo di toilet aja, disini udaranya lebih segar dari pada di luar." Kata Geva.
"Apa-apaan 5 jam diam di toilet, astaga Geva... coba aja first class gak penuh udah gue pake dari tadi." Batin Bhumi perihatin dengan dan istri.
__ADS_1
"Kayaknya kita kualat deh sama kak Keen karena bohongin orang tua." gumam Geva.
"Liburan macam apa ini . awas kamu Bianca.." Gerutu Bhumi.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
MAAF BARU UPDATE YA ..
DAPAT SURAT CINTA TADI DARI NT..
JADI ADA SESUATU YANG KUDU DI URUS DAJ KEHIDUPAN DI DUNIA NYATA JUGA CUKUP MENYITA WAKTU. DOAIN MOGA BESOK PAGI BISA UPDATE LAGI YA..
MOHON DUKUNGAN LIKENYA YA... Like komentar Vote dan hadiah. seikhlasnya saja..
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah mobil berhenti sempurna di kediaman Bramantya, Bianca langsung keluar dari mobil dan berlari.
Bantingan pintu mobil oleh Bianca membuat Keenan terperanjat. Sejak kapan adiknya yang selalu manis itu menjadi galak seperti itu.
"Ca.. kakak mau ngomong!" Kata Keenan mengejar Bianca.
"Tidak perlu ada yang diomongin! cukup! jangan ganggu aku lagi! kakak bukan kakak aku!" Teriak Bianca langsung menutup pintu lift.
Keenan yang telat karena lift sudah naik ke atas menuju lantai tiga, tanpa pikir panjang dua menaiki tangga dengan cepat menyusul Bianca.
Namum lagi-lagi dewa Fortuna tidak berpihak pada Keenan, saat Keenan tiba dilantai tiga dengan nafas tersengal dan keringat bercucuran pintu kamar Bianca sudah terkunci.
"Ca... buka pintunya." Pinta Keenan.
"Pergi stop! jangan recokin hidup aku! kamu bukan kakak aku, kakak aku hanya Bhumi dan Bhima!" Teriak Bianca yang dapat Keenan dengar dengan jelas.
Dia tidak dianggap kakak?
hati Keenan mendadak sangat nyeri~
__ADS_1
BERSAMBUNG...