
Jika kita sendiri tidak memahami perasaaan kita.. lalu bagaimana kita bisa yakin jika hati kita itu sudah mengikhlaskan atau mencintai seseorang?
Begitulah yang dilakukan papa Arsa, dia harus menuntun dan memberikan sudut pandang pada menantunya yang super tidak peka itu karena papa Arsa sudah tahu jika di hati Bhumi kini terisi nama Gevania Azkia Bramantya.
Papa Arsa sangat paham bagaimana perasaan Bhumi terlebih perasaan yang terdapat luka yang menganga bertahun-tahun hingga menimbulkan trauma juga keterpurukan dalam waktu yang cukup lama.
Bhumi kini sadar akan perasannya, ingatan-ingatan masa lalunya tentang Geva kecil benar-benar telah kembali satu persatu.
Banyak orang dengan mudah berkata, "Move on dong.. move on! ikhlasin dong ikhlasin.." Tapi jika dia ada di posisi Bhumi belum tentu hatinya akan se lapang Bhumi melihat wanita yang pernah dicintai nya dengan urusan hati yang belum beres eh mendadak menjadi Kakak iparnya bahkan mengumbar kemesraan didepan nya.
Suara Geva menutup pintu gerbang membuat Bhumi kini semakin tersadar dalam lamunannya tentang seberapa pentingnya Geva dalam hidupnya. Bhumi yang masih setia mengepalkan tangannya juga rahang yang mengeras itu pun bergumam..
"Sampai kapan aku dan Geva terus seperti ini? bukankah sekarang aku yang pegang kendali atas rumah tanggaku?" Bhumi menghela nafasnya dengan kasar dan membuang jauh emosinya yang cemburu melihat Geva bertemu dengan Theo.
Bhumi tidak suka melihat Geva tertawa lepas dengan lelaki lain. Bhumi tidak rela Geva memberikan senyuman pada sang mantan. Hati Bhumi rasanya begitu nyeri.
Setelah dirasa emosinya reda, Bhumi memilih turun untuk menemui Geva.
beberapa jam lagi dia harus kembali terbang ke Jepang.
Di dalam kamar,
Geva tengah berdiri memandang jendela luar sambil asik ngobrol dengan telfon genggamnya. Saking asiknya ngobrol dengan seseorang di seberang sana, Geva tidak menyadari kehadiran Bhumi di kamarnya.
"Iya Del.. makasih banyak ya Del udah minjemin buku catatan sama gue, Theo baru aja balik." Kata Geva.
"Sama-sama Gep.. makanya jangan bolos terus.. Tadi gue yang mau kesana antar catatan tapi mendadak Beni ngajakin jalan bareng. Yaudah akhirnya Beni minta tolong Theo buat nganterin buku ke rumah elu." Kata Adel teman sekelas Geva dan Naomi.
"Elu emang salah satu teman gue yang baik banget deh Del." Kata Geva.
"Kita gak se-akrab itu ya Gep.. elu mainnya sama Naomi doang.. tapi gak masalah sih. Yang penting besok elu beliin gue ketoprak di kantin." Mata Adel sambil terkekeh.
__ADS_1
Belum juga Geva menimpali ucapan temennya tiba-tiba sebuah lengan kokoh melingkar di perutnya membuat Geva tersentak.
"Kakak.." Lirih Geva dibalas Bhumi dengan mencium pipi Geva lalu berlanjut menyembunyikan wajahnya di cengkuk leher jenjang Geva, tentu saja Geva kegelian mendapat perlakuan seperti itu.
"Elu ngomong apa siapa Gep. kak Deon ya? salamin kak Deon dong.. aku mau kok jadi pacarnya." Kata Adel sambil terus terkekeh.
"Ngaco..udah punya Beni masih kurang syukur. Udah ah.. Sono lanjutin pacarannya gue mau belajar." Kata Geva.
"Belajar buat dedek." Bisik Bhumi tepat di telinga Geva membuat Geva langsung menjauhkan ponselnya berharap Adel tidak mendengar.
"Oke.. rajin rajin ya mblo jomblo!" Kata Adel meledek Geva karena semua sudah tahu jika hubungan Geva dan Theo sudah berhasil sehingga mereka mengira Geva jomblo.
Ah syukurlah Adel tidak mendengarnya.
"Suee lu!" Kata Geva memutus sambungan teleponnya.
Geva menghela nafas karena Bhumi masih setia memeluknya dari belakang. Dan Geva pun tidak berniat menolak pelukan Bhumi, karena Geva merasakan kenyamanan juga kehangatan dalam pelukan itu. Meskipun sih.. meskipun hatinya masih cukup jengkel dengan Bhumi perkataan Bhumi satu jam lalu mengenai tanggung jawab, belum cinta.
"Maaf." Lirih Bhumi.
"Aku mau menjilat ludahku sendiri.."
"Ha?" Geva mendadak membayangkan sesuatu yang menjijikkan.
" Semua bukan cuma tanggung jawab Ge, karena dada aku sakit melihat kamu tertawa dengan mantan kamu." Katanya lirih sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Geva yang membuat hati Bhumi seketika tenang setelah bergemuruh hebat. Emosinya reda hanya dengan memeluk alien dari Pluto nya itu.
"Kak, jangan buat aku GR. Aku tahu.. kakak merasa sakit karena status aku yang istrinya kakak.. bukan karena perasan. Jangan membuat aku berharap lebih kak. " Jawab Geva dengan tatapan lurus ke depan.
"Kamu berhak berharap lebih karena kamu istri aku Gevania... Aku gak tahu apa namanya perasaanku, aku khawatir sama kamu, aku mencemaskan kamu dan aku merindukan kamu. Aku cemburu melihatmu dengan lelaki lain. Dan baru kali ini aku melakukan hal konyol dengan menyewa jet pribadi hanya untuk menemui kamu karena kamu memblokir nomor aku padahal kita baru 24 jam -an gak ketemu." Kata Bhumi mengeratkan pelukannya. Geva tersenyum mendengar ucapan suaminya. Akhirnya ngaku juga kan~
"Itu hanya rasa tanggung jawab.." Kilah Geva sengaja memancing Bhumi.
__ADS_1
"Bukan Ge.. itu lebih dari tanggung jawab..tapi aku malu mengakuinya pada semua orang. Bahkan aku malu sama diri aku sendiri tentang hal konyol yang aku lakukan semalam." Kata Bhumi lagi menyembunyikan wajahnya di pundak sang istri yang terekspose karena hanya memakai tangtop setelah melepas sweeternya yang ia gunakan tadi untuk menemui Theo.
"Jadi apa?" Tanya Geva.
" cinta." Ucap Bhumi membuat Geva terkekeh.
"Kenapa kamu menertawakan aku Ge?" Tanya Bhumi.
"Kakak udah dewasa tapi mengapa mendefinisikan hati kakak saja Kakak gak bisa, mendadak bilang cinta. Ck. ." Ujar Geva.
"Nggak Ge.. aku udah sadar sekarang." Kata Bhumi.
"Sadar apa?"
"Cinta pertama ku bukan lah Flower.. tapi kamu."
"Ha?" Geva mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Iya.. gadis bawel yang selalu merengek meminta main nikah-nikahan gadis cengeng yang maunya selalu aku peluk dan gadis kecil berisik yang selalu mengganggu ketenangan hati dan pikiranku. Maafkan aku yang sempat melupakan kenangan masa kecil kita." Kata Bhumi membuat tubuh Geva mendadak kaku.
Apakah dia salah dengar?
Apakah dia hanya mimpi di siang menuju Sore?
"Kak.." Geva mencoba melepaskan tangan Bhumi yang melingkar di perut ratanya lalu berbalik menghadap Bhumi.
Geva menatap sorot mata tajam Bhumi dengan seksama,
" Semenjak Mami menceritakan tentang gadis kecil yang menyebalkan tanpa menyebut namanya.. aku selalu kepikiran itu.. bahkan gadis kecil itu sering datang di mimpiku hingga Deon memberikan foto-foto saat kamu kecil dan ternyata gadis kecil yang di mimpi aku itik sama dengan wajah kamu saat kecil.. Dan potongan potongan puzzle masa laluku bersama kamu mulai kembali. Aku udah yakin Ge kalau aku memang sudah jatuh hati dengan mu sejak lama, bahkan jauh sebelum aku mengenal Flower." Kata Bhumi menatap mata Geva yang menunjukkan ketidakpercayaan.
"Bagaimana kakak bisa se-yakin itu?" Selidik Geva.
__ADS_1
"Karena aku begitu sedih bahkan berlarut-latut dan enggan bersosialisasi dengan anak perempuan setelah kamu pergi ke Jerman dengan Papa dan Mama.." Kata Bhumi.
"Aku mencintaimu Ge.." Lirih Bhumi menangkup wajah cantik Geva lalu memberikan kecupan singkat di bibir manis itu.."