Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Telfon dari Fabian~


__ADS_3

WARNING!!


JANGAN DIBACA SAAT PUASA.. KARENA TAKUTNYA MEMBUAT AMAL IBADAH PUASA KALIAN RUSAK KARENA MEMBACA NOVEL INI YANG TIDAK ADA MANFAATNYA SAMA SEKALI.


BACANYA MALAM AJA YA... HEHEHE...


"Aku maafin kakak, tapi maaf aku belum bisa melupakannya. Aku memang cinta sama kakak, tapi maaf entah mengapa aku belum bisa percaya sama kakak sepenuhnya. Hati aku masih ragu. Ini semua rasanya terlalu cepat setelah banyak kejadian gak enak yang kita lewati bersama." Kata Geva jujur.


"Tidak masalah... aku akan membuat kamu percaya Bee." Ucap Bhumi mengecup kening sang istri.


"Nah salah satu cara kakak membuat aku percaya kalau kakak sayang sama aku adalah pesankan aku burger sekarang juga yang double beef dan no cheese!" Kata Geva.


"Selalu saja makanan!" Decak Bhumi hendak mengambil ponselnya di nakas, namun keburu ponsel Geva yang berada disamping ponselnya berbunyi dan tertera nama Fabian disana.


"Tolong ambilkan ponsel aku kak." Kata Geva.


"Biar aku yang angkat!" Ucap Bhumi dengan nada tidak ingin dibantah.


"Lah? telfon dari siapa?" Tanya Geva.


"Fabian!" Mata Geva langsung terbelalak. Bhumi memberikan kode pada Geva agar diam tanpa suara.


"Mamvus!" Batin Geva saat melihat suaminya sudah menggeser icon berwarna hijau di layar ponselnya.


📲 "Akhirnya kamu angkat Vania... kenapa kamu gak membalas pesan-pesan ku Vania? Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Fabian di seberang sana terdengar jelas di telinga Geva karena Bhumi mengaktifkan mode loud speaker.


"Perasaan itu ponsel selalu aku silent deh selama di Jepang, kenapa mendadak berdering sih!" Batin Geva.


📱" Ada apa telfon Gevania?" Tanya Bhumi dengan nada tegas, dingin juga menyeramkan. Geva yang ada didepan Bhumi hanya mampu menelan salivanya tanpa berani berkata apapun. Dengan mulut komat Kamit, Geva berdoa supaya Fabian segera menutup ponselnya dan tidak banyak tanya apalagi sampai memancing emosi seorang Bhumi Bramantya.


📲 "Bukankah ini ponsel Geva?" tanya Fabian dengan sangat santai. Fabian sepertinya sudah tahu itu suara siapa.


📱" Saya peringatkan pada anda, jangan pernah menghubungi Gevania lagi jika tidak ada hubungannya dengan pelajaran!" Tegas Bhumi. Jantung Geva berdegup kencang.


📲 "Kenapa ? memang masalah buat anda tuan Bhumi Bramantya? selama bendera kuning belum berkibar kan semua masih bisa diperjuangkan!" Fabian menanggapi ucapan Bhumi dengan sangat santai dan seolah mengejek.


"What? bendera kuning? aku mati dong!" Pekik Geva yang langsung membungkam mulutnya sendiri karena mendapat tatapan tajam dari Bhumi.


📲 "Vania... kamu ternyata ada disana juga... Vania kamu gak apa-apa kan? kamu baik-baik saja kan? kamu dimana? nanti sore aku ke rumah kamu ya!" Ucap Fabian dengan tidak tahu malunya.


Geva semakin melotot sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap Bhumi, Geva seolah memberikan penjelasan pada Bhumi bahwa dia tidak memiliki hubungan apa-apa sama Fabian.


Parahnya lagi Fabian memanggilnya dengan Vania karena Geva tidak mau memanggilnya dengan sebutan mas, Geva masih kekeh memanggil Fabian dengan sebutan Pak baik di jam sekolah maupun di luar jam sekolah.


📲 "Hallo.. Vania.." Panggil Fabian.


Bhumi sudah malas, mendengar suara Fabian.. Bhumi ingin tahu bagaimana Gevania menanggapi situasi seperti ini. Bhumi serahkan ponsel Geva pada sang empu.


Geva semakin bingung harus berkata apa, situasi saat ini benar-benar membuat jantungnya berdegup kencang.


Sedangkan Fabian terus memanggil-manggil namanya.


📱" Ha.. halo pak.. a.. ada apa pak?" Tanya Geva sambil menatap Bhumi yang duduk sambil melipat tangannya di dada dengan pandangan yang tajam mengarah pada Gevania.


📲 "Kamu sedang apa Van ? nanti malam jalan yuk?" Ajak Fabian. Geva ingat ini adalah malam Minggu jadi Fabian mau mengajaknya kencan gitu? iya?


📱 " Maaf pak.. saya tidak bisa." Jawab Geva dengan sangat yakin tanpa keraguan membuat hati Bhumi tersenyum meskipun wajahnya masih datar.


📲 " Kenapa? Apa karena tuan muda dari keluarga Bramantya?" Tanya Fabian. Geva hanya diam tidak menimpali, karena memang benar seperti itu, hati Geva sudah untuk Bhumi dan Geva sangat menghargai ikatan suci mereka, terlebih sekarang Bhumi selalu mengatakan cinta padanya dan bersikap baik padanya.

__ADS_1


"Van, buat apa kamu bertahan dengan lelaki yang akan menghalangi impian-impian kamu! aku sangat tulus mencintai kamu Vania, aku akan mendukung impian kamu untuk kuliah di luar negeri dan menjadi dokter yang hebat!" Kata Fabian dengan gamblangnya dan penuh keyakinan.


Bhumi yang mendengar itu otomatis langsung tersulut emosinya dan hendak merebut ponsel Geva, tapi Geva mencegah tangan Bhumi dan menggelengkan kepalanya. Melalui tatapan mata yang sendu, Geva meyakinkan Bhumi untuk tenang dan dia bisa mengatasi ini semua.


Jantung Bhumi tidak kalah kencang detakan-nya, sebab Bhumi sangat tahu hati Geva yang masih sangat meragukannya dan masih banyak kemungkinan Geva memilih pergi mengejar impiannya ke luar negeri.


Geva seolah tahu tatapan sang suami yang menyiratkan isi hatinya, Geva genggam tangan kokoh itu lalu tersenyum,


📱" Dari kecil memang saya bermimpi menjadi dokter terbaik untuk membantu anak-anak yang menderita alergi akut seperti saya, saya juga bermimpi untuk menempuh pendidikan di luar negeri jauh dari orang tua. Selain untuk universitas yang terbaik, saya ingin bebas. saya tidak ingin terus dikekang oleh Papa, Mama juga Kak Deon." Kata Gevania jujur. Bhumi memejamkan matanya menunggu apa yang akan Geva ucapkan berikutnya.


📱" Tapi sekarang impian saya sudah berubah." Kata Geva dengan nada yang Bhumi rasa masih cukup berat.


📲 "Maksudnya?" Tanya Fabian penasaran.


Geva menggenggam tangan Bhumi dengan lebih erat lagi, lalu sambil memejamkan matanya, dengan penuh keyakinan Geva berkata,


📱" Impian saya sekarang adalah hidup bersama dan menua bersama dengan kak Bhumi Bramantya." Jawab Geva.


Fabian diam, dia seperti nya mencoba mencerna ucapan Geva. Rasanya perih sekali, hati Fabian hancur.


📲"Vania.." Lirih Fabian.


Bhumi masih mematung menatap Geva,


📱" Maafkan saya pak... saya tidak bisa membalas perasaan bapak. Bapak ada orang yang baik, dan saya yakin bapak akan mendapatkan wanita yang baik pula. Sekali lagi maafkan saya pak, karena saya sudah sangat bahagia bersama orang yang saya cintai juga mencintai saya."


📲"Vania.. aku tau kamu berbohong kan Vania.. aku tahu, seorang Bhumi Bramantya sangat mencintai wanita yang bernama Flower, yang sekarang jadi kakak iparnya. Dan kamu hanya dijadikan dia sebagai alat untuk menutupi hubungan Flower dan Bhima Bramantya yang sesungguhnya dimana Bhima telah memperkosa Flower hingga hamil. Aku tahu keluarga Bramantya hanya keluarga yang penuh settingan... please Vania... berikan Aku kesempatan." Ucap Fabian memohon.


Bhumi sudah tidak bisa menekan emosinya, dia langsung merebut ponsel Geva,


"Kak.." Geva terkejut dengan tindakan Bhumi.


"Kak.. jangan sekarang.." Lirih Geva memegang tangan Bhumi.


📲 " A.. apa maksud kamu?" Tanya Fabian terkejut mendengar pernyataan dari rivalnya.


📱" BERHANTI MENGGANGGU ISTRI SAYA YANG BERNAMA GEVANIA AZKIA BRAMANTYA! KARENA KAMI SAAT INI SEDANG HONEYMOON DI JEPANG!" Ucap Bhumi langsung memutuskan sambungan telefon nya secara sepihak.


Panik, nggak?


Panik, Nggak?


Panik lah masa' nggak!


"Kak.. gak gini caranya!" Kata Geva setengah membentak sang suami karena ini diluar perjanjian, status mereka akan diumumkan setelah Gevania selesai ujian dan tinggal menunggu kelulusan. Kenapa sekarang?


Dan Fabian ada guru Gevania juga orang yang selalu berusaha mendapatkan Gevania. Bagaimana jika Fabian melakukan hal-hal yang tidak Gevania inginkan terjadi di sekolahan?


Lalu mengapa Bhumi berkata seperti itu tanpa berpikir panjang sih?


"Aku gak suka dengan cara kakak!" Kata Gevania lagi.


"Apalagi Ge? apalagi? kamu suka terus di perhatikan lelaki itu dengan puluhan pesan tiap harinya, dengan puluhan panggilan tiap harinya?" Tanya Bhumi yang sudah dari kemarin mengganjal soal ini.


"Da...dari mana kakak tahu?" Tanya Geva yang memang menyembunyikan ini karena tidak mau Bhumi terlibat masalah dengan Fabian yang Geva anggap tidak penting di hidupnya.


"Maafkan aku yang tidak sengaja membaca pesan dari Fabian dan akhirnya aku membaca semua pesan dari Fabian." Jawab Bhumi jujur dengan menunduk dan merasa bersalah karena sudah melanggar privasi Geva meskipun Geva adalah istrinya.


"Lalu kakak dapat apa?" Tanya Geva menatap Bhumi dengan tajam. Bhumi menggeleng.

__ADS_1


"maafkan aku Bee." Kata Bhumi.


"Maaf gak bisa mengontrol emosi dan gak berpikir panjang." Kata Bhumi lagi Geva menghela nafas.


"Kenapa kakak jadi ke kanak-kanakan seperti ini?"


"Aku takut kehilangan kamu." Bhumi berkata jujur meski dengan nada yang sangat berat.


"Aku gak mau kamu termakan ucapan Fabian dan memutus kan untuk mengambil pendidikan di luar negeri."


"Kak.. kakak gak percaya sama aku?" Tanya Geva menggenggam tangan Bhumi dan selanjutnya mata mereka saling bertemu,


"Aku tadi sudah menjelaskan pada Pak Fabian, jika impian aku sudah berubah.. impian aku adalah hidup bersama kakak karena aku mencintai kakak dari dulu hingga saat ini dan mungkin nanti jika kakak tidak mengecewakan aku.."


"Lalu Theo?" Tanya Bhumi. Geva tersenyum.


"Theo adalah cowok tertampan dan baik di sekolah. Aku pikir dengan berpacaran sama dia, aku bisa melupakan pangeran masa kecilku." Jawab Geva terkekeh.


Nah kan, suasana berubah secara mendadak lagi...


"Terus kamu beneran bisa melupakan pangeran masa kecil kamu?" Tanya Bhumi dengan tajam.


"Kenapa cemburu?" tantang Geva pada Bhumi.


"Nggak!" Bhumi memalingkan wajahnya.


"Ciie cemburu.. ciiee... aduh hati adek jadi meleleh bang.." Ucap Geva langsung loncat ke pangkuan Bhumi.


"Bee.." Kata Bhumi.


"Apa?" Geva menatap Bhumi dengan menantang.


"Aku gak suka kamu panggil Abang! aku bukan tukang ketoprak keliling yang didekat komplek rumah papa kamu yang selalu kamu panggil Abang!" Geva pun tertawa mendengar pernyataan sang suami.


"Duh suamiku.. lucu banget sih kalau cemberut." Ucap Geva mencubit kedua pipi Bhumi.


"Bee.. udah dong jangan gerak-gerak!"


"Kenapa?" Pertanyaan bodoh Geva terlontar.


"Tongkat baseball nya bentar lagi berdiri.." Ucap Bhumi.


"Biarin.. aku pengen main baseball!" Ucap Geva.


"Ka.. kamu gak capek?" Tanya Bhumi dengan mata berbinar. Geva menggeleng cepat.


"Tapi belikan burger dulu!"


"Siap baby!" Kata Bhumi semangat.


"Aku ingin terus seperti ini kak.. tanpa ada nama kak Flower lagi ditengah-tengah kita.. dan meskipun aku juga pusing harus bagaimana besok Senin menghadapi pak Fabian!" Batin Gevania.


GEVA BUTUH KOMENTAR KALIAN UNTUK MENJADI ABSURD NIH.. NYAMPE 50 GAK YA KOMEN NYA?


BERSAMBUNG...


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE

__ADS_1


KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR


__ADS_2