Menikahi Gadis Menyebalkan!

Menikahi Gadis Menyebalkan!
Selesai Resepsi~


__ADS_3

Satu persatu tamu undangan turun dari pelaminan setelah memberikan ucapan selamat pada sepasang pengantin lawas rasa baru. Mode Bhumi masih sangat dingin dan enggan tersenyum kecuali pada rekan bisnisnya, itupun terpaksa.


Geva berkali kali mengajak Bhumi berbicara tapi sepertinya Bhumi kembali menjadi batu berkarat yang menjengkelkan setelah adegan mantan yang memeluk mempelai wanita.


"Kak... kakak mau kasih kejutan apa buat aku?" Tanya Geva setelah lama berpikir untuk membuka pembicaraan apalagi dengan sang suami supaya suaminya itu mau membuka suara lagi.


Bhumi diam.


Geva menghela nafasnya kasar, ternyata percuma membujuk suaminya saat ini. Sudah biarkan dulu, jangan salahkan Geva jika nanti di atas ranjang Bhumi akan Geva buat bertekuk lutut dengannya, itulah pikir Geva yang tidak mau membuang-buang tenaga untuk membujuk suaminya sekarang. Mending tenaganya dia simpan untuk nanti bertemu Gohan.


"Hallo Bhumi Bramantya... lama tidak berjumpa denganmu!" sapa seorang lelaki yang Geva lihat usianya tidak jauh beda dari Bhumi. Orang itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Bhumi.


Bhumi diam tidak menanggapi ataupun membalas uluran tangan lelaki tersebut. namun sorot matanya tajam dengan nafas naik turun. Geva mengernyit bingung, dia tidak pernah melihat lelaki itu sebelumnya.


"Akhirnya ada yang mau juga nikah dengan sang mantan pembunuh.. " Ucap lelaki itu dengan nada mengejek Bhumi. Bhumi mengepalkan tangannya, keringat dinginnya tiba-tiba keluar.


"Siapa yang mengizinkanmu datang kesini? Ha?" Bentak Bhumi.


"Kak.." Geva tahu suaminya sedang tidak baik-baik saja. Geva langsung menggenggam tangan Geva.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat padamu dan istrimu yang cantik ini Bhum.." Kata lelaki itu hendak menoel dagu Geva namun Geva menghindar.


"Jangan kurang ajar!" Bentak Bhumi dan Geva bersamaan.


"Ck, jangan emosian Bhum.. nanti kalau emosi, ujung-ujungnya kamu bunuh orang lagi, kan serem.. aku doakan ya semoga istrimu segera sadar, jika dia telah dinikahi seorang pembunuh dan dia segera meninggalkan kamu.. aku kangen saat-saat kamu gila seperti dulu ditinggalkan Flower." Kata lelaki itu langsung turun ke pelaminan. Untung sebagai besar tamu sudah pulang.


Geva tidak mau bertanya apapun pada Bhumi, dia hanya menuntun Bhumi untuk duduk dan memberi kode pada seorang pelayan untuk membawakan air mineral untuk Bhumi karena keringat Bhumi mengucur deras dan nafasnya naik turun.


"Kak kakak tenang ya.." Kata Geva mengusap lembut pundak Bhumi.


"Kakak minum dulu." Geva menyodorkan air mineral itu untuk sang suami tercinta. Bhumi pun meminumnya dengan kasar. Tangan Bhumi yang memegang botol kemasan air mineral itu saja bergetar, Geva sampai tidak tega melihat suaminya seperti ini.


Geva tahu Bhumi pernah membunuh seseorang demi menyelamatkan adiknya, Bianca. Jadi Geva tidak akan terpengaruh dengan masa lalu Bhumi.


Bhima yang tidak sengaja melihat lelaki yang dia kenal keluar dari Hall hotel pun segera berlari menemui saudara kembarnya, dia yakin Bhumi pasti sedang tidak baik-baik saja mengingat lelaki itu selalu melemparkan kata-kata yang terus membuat mental Bhumi semakin terpuruk karena kejadian belasan tahun silam.


"Bhum." Panggil Bhima.


"Dia datang lagi Bhim." Kata Bhumi lirih sambil berdiri dan bertatapan dengan Bhima. Bhumi terlihat sangat frustasi dari raut wajahnya. Bhima memeluk saudara kembarnya memberikan kekuatan.


"Elu mending balik dulu sama Geva.. gue akan urus semuanya. Jangan pikir macam-macam, elu bukan pembunuh. BUKAN! elu menyelamatkan nyawa Bianca dan nyawa elu sendiri.. jika elu tidak melakukan itu maka Bianca dan elu tinggal nama, ingat elu bukan pembunuh!" Kata Bhima. Bhumi mengangguk dan Bhima segera menghubungi seseorang.


"Supir sudah datang.." Kata Bhima setelah beberapa menit berlalu, Bhumi yang duduk di pelaminan hanya memejamkan matanya sedangkan Geva tidak berani bertanya sedikitpun.


"Kok supir? bukannya kita mau menginap disini?" Tanya Geva yang sudah mempersiapkan kamar spesial untuk Bhumi. Kamar yang sudah Geva hias dengan begitu indahnya.

__ADS_1


"Lebih baik pulang Ge.. tolong tenangkan Bhumi, dia pasti akan cerita sendiri jika sudah tenang." Kata Bhima yang paham akan wajah kebingungan bercampur penasarannya Gevania. Bhima mengatakan itu supaya Geva juga tidak banyak tanya pada Bhumi.


"Baiklah kak."


"Oh ya kak, Mami Papi dan Mama Papa aku dimana..?" Tanya Geva celingukan.


"Kondisi Mami Naya sedikit drop Ge.. mungkin Karena kecapean.. jadi Mama kamu menemani Mami, kalau papa sama om Arsa lagi ngobrol sama rekan bisnisnya." Ucap Bhima.


"Sampaikan ke yang lain ya.. aku sama kak Bhumi balik dulu."


"Hati-hati." Kata Bhima.


Dengan menggandeng Bhumi, Geva berjalan keluar hall, sesekali dia menampilkan senyum dan berpamitan pada tamu yang masih ada disana. Bhumi memasang wajah datarnya seperti biasa, dia menyembunyikan gemuruh hatinya dengan sangat sempurna.


Dalam hati Geva mendesah kesal, harusnya malam ini adalah malam romantis nya dengan Bhumi dikamar hotel, apalagi Geva sudah membeli lilin istimewa dari luar negeri, lilin aromaterapi yang aromanya mampu merangsang dua manusia yang berada di ruangan itu, ah pergulatan panas sepertinya harus ditunda dahulu, gak apa-apa lah.


Di dalam mobil, Geva menggenggam tangan Bhumi dengan erat dan satu tangannya mengusap punggung tangan Bhumi.


Bhumi menghela nafasnya dengan kasar setelah 10 menit mobil berjalan, Bhumi merasa lebih tenang saat Geva terus mengusap punggung tangannya.


"Sayang, tolong peluk aku." Kata Bhumi lirih. Tanpa menjawab, Geva langsung memeluk sang suami dan mengusap punggung Bhumi dengan penuh cinta.


Benar, ada hal lain yang mengalir dihati Bhumi kala wanita itu memeluknya, sebuah ketenangan.


"Aku sudah tahu ceritanya, dan Kaka bukan pembunuh, kakak hebat.. kakak pahlawan." Kata Geva yang tidak ingin trauma akibat rasa bersalah sang suami kembali muncul setelah belasan tahun. Geva tahu itu semua dari Mami Naya langsung.


"Tapi.."


"Sttt... jangan bicara macam-macam, aku gak peduli lelaki tadi siapa dan berkata apa, aku udah bucin sama kakak. Dan hari ini adalah hari spesial kita setelah puasa berminggu-minggu.. aku ingin kita menikmatinya berdua.. hanya berdua, tanpa memikirkan hal lain dan orang lain.." Kata Geva memberikan ketenangan pada Bhumi.


"Dia adalah keponakan Rendi, orang yang aku bunuh.. dia.."


Cup!


Geva mengecup bibir Bhumi hingga Bhumi menghentikan kalimatnya.


"Aku gak peduli itu siapa, aku hanya mau malam ini kita hanya berdua! hanya berdua baik dipikiran dan dihati."


"Tapi.."


"Nggak ada tapi-tapian.. atau aku ngambek dan kabur untuk kuliah di luar negeri loh?" Ancam Geva hingga senyum terbit dibibir Bhumi.


"Aku mencintaimu Gevania..."


"Aku mencintaimu suamiku." Jawab Geva.

__ADS_1


" Eh.. kita ini berhenti dimana?" Tanya Geva saat mobil memasuki kediaman mewah yang berada di satu kompleks dengan kediaman Bramantya. Tadinya Geva pikir mereka akan pulang ke kediaman Bramantya.


"Kita turun di rumah baru kita." Kata Bhumi


eh?


"Kakak beli rumah untuk kita?" Tanya Geva tidak percaya dengan kejutan istimewa dari sang suami, rumah sesuai dengan apa yang Geva inginkan.


"Iya.. aku pikir jika di apartemen lingkungan nya tidak bagus untuk anak-anak kita kelak.. jadi aku membeli rumah... kita mulai semua dari awal ya.. membangun rumah tangga yang harmonis meskipun pernikahan kita awalnya sedikit nyeleneh." Kata Bhumi lembut dan manis, entah dari mana Bhumi belajar kata-kata semanis itu,


yang jelas Geva meleleh ditandai dengan air mata bahagia yang sudah menetes.


Geva menghambur memeluk Bhumi.


Nyaman.


Satu kata yang Bhumi rasakan, bahkan ketakutan Bhumi setelah bertemu lelaki tadi mendadak lenyap karena pelukan Geva.


Kenapa tidak dari tadi meminta Geva memeluknya ya?


Padahal dulu, mental Bhumi langsung down dan enggan buka suara pada siapapun setelah dikatain sebagai pembunuh. Bahkan Bhumi bisa mendadak demam tinggi.


Cinta adalah obat segala penyakit.


🍁🍁🍁


Lain Geva dan Bhumi yang tetap bahagia dan romantis meskipun ada orang yang mencoba mengusik mereka,


Bianca, masuk kamarnya yang ada di apartemen Keenan langsung nangis kejer dengan mulutnya yang ia bekap sendiri dengan bantal.


Tadinya Bianca hendak keluar sama Reno, meskipun Bianca tahu Reno dituduh sebagai pelaku video panas dengan Alona, Bianca tidak percaya karena kata-kata manis mulut Reno. Karena Bianca berharap Reno mampu menghapuskan nama Keenan dihatinya.


Ah Keenan, lelaki yang berstatus sebagai kakak sepupu Bianca itu begitu Menyebalkan.


Keenan meminta izin pada Papi Gema mengajak Bianca pulang ke apartemen. Padahal sudah dapat jatah kamar hotel. Keenan bilang, takutnya nanti malam Bianca kabur pergi sama Reno kalau tidak ada yang jaga. Sebab papi Gema akan menjaga mami Naya yang drop.


Kalau pulang hanya berdua dengan Keenan mungkin Bianca tidak masalah, pasalnya Keenan juga mengajak Alona, dan dari kamar Bianca, Bianca mendengar sendiri suara desahan Alona dari ruang tengah.


"Tuhan tolong hapus nama dia dari hati aku.. aku mohon.. ini terlalu menyakitkan.. aku gak tahan.." Bianca memukul-mukul dadanya sendiri dengan harapan bisa mengurangi sesak didalamnya. Namun tidak berpengaruh.


BERSAMBUNG..


PENGEN NAOMI DAN DEON.. EH TAPI UDAH 1500 KATA AJA .


NEXT EPISODE YA... BANYAKIN KOMENTAR PLEASE..

__ADS_1


__ADS_2