
BRAMANTYA.CORP
Geva berjalan tergesa-gesa memasuki sebuah kantor yang mewah, megah dan menjulang tinggi. Dia masih menerka-nerka apa yang terjadi dengan lelaki yang teramat dia cintai tersebut.
Seseorang karyawan utusan papa Genta ternyata sudah menunggu Geva di lobby dan segera mengantarkan istri calon Presdir itu menuju ruang meeting dimana sang suami berada.
Cklek...
"Sayang..." Panggil Geva setelah membuka pintu dan matanya langsung menangkap sosok Bhumi yang memejamkan matanya sambil terus mensugestikan dirinya bahwa dia baik-baik saja dan akan baik-baik saja. Bhumi berusaha menghilangkan ingatannya tentang apa yang dia lihat dalam box beberapa menit lalu.
Wajah pucat Bhumi terukir jelas, keringat dingin pun keluar dari pelipisnya sama seperti semalam setelah lelaki yang Bhumi ceritakan sebagai keponakan penjahat bernama Rendi itu datang dan menyebutnya pembunuh.
Saking fokusnya Bhumi menenangkan dirinya sendiri, membuatnya tidak mendengar panggilan dari sang istri tercinta. Telinga Bhumi mendadak tuli.
Tanpa aba-aba, Geva langsung menubruk tubuh sang suami yang duduk di sofa, memeluknya dengan erat.
"Kamu kenapa? siapa yang berani buat kamu seperti ini lagi? lihat aja akan aku beri pelajaran nanti!" Kata Geva lirih.
Keenan dan Satria memutar bola matanya melihat pemandangan tersebut,
Sebucin itukah Geva dan Bhumi? Jika saja Bhumi sedang baik-baik saja, pasti saat ini Keenan sudah menertawakan Bhumi. Lelaki kaku dan dingin itu luluh dengan seorang gadis remaja. Hanya dengan pelukan Geva, segala kecemasannya bisa hilang.
Ah Keenan belum pernah saja merasakan Bucin.
"Sayang.." Lirih Bhumi sambil membuka matanya mengusap rambut Geva dengan lembut.
Bhumi menghirup aroma rambut yang sangat wangi itu, benar-benar menenangkan.
Geva mendongakkan wajahnya menatap wajah tampan seorang Bhumi Bramantya, Geva mengusap rahang tegas itu. Tanpa perlu bertanya Geva tahu apa yang terjadi dengan suaminya melalui sorot mata Bhumi yang tidak seperti biasa.
Apalagi kalau tidak ada hubungannya dengan tragedi beberapa tahun lalu yang membuat Bhumi trauma pada darah.
Semalam Bhumi sempat menceritakan bagaimana mentalnya diuji jika melihat darah dan mengingat kejadian menyeramkan tersebut. Bhumi pun menceritakan bagaimana kondisi sebenarnya tentang kesehatan jiwanya yang belum dikatakan sembuh sepenuhnya dan bisa sewaktu-waktu traumanya itu kambuh bahkan semakin parah. Ada rasa takut jika Geva lebih memilih meninggalkannya, oleh sebab itu Bhumi memberanikan diri untuk jujur.
Tanpa disangka, justru Geva siap menemani dan mendukung Bhumi hingga Bhumi benar-benar dinyatakan sembuh.
Geva harus memenangkan Bhumi dulu,
"Kamu gak apa-apa, kamu hebat.. kamu adalah pahlawan... dia jahat! dia pantas mati. Jika dia tidak mati dan kak Caca kenapa-kenapa, pasti kamu akan menjadi orang paling menyesal seumur hidup kamu karena tidak bisa melindungi adik kamu." Ucap Geva saat matanya bertemu dengan mata Bhumi.
"Ingat, kamu bukan pembunuh! bukan! kamu adalah kakak yang hebat, dan sekarang menjadi suami yang hebat untuk aku, kamu juga calon daddy yang hebat untuk anak kita nanti! kamu tidak bersalah.. dan jangan pernah merasa bersalah, kamu harus kuat untuk kita semua." Kata Geva lagi meyakinkan Bhumi.
Mata Bhumi menatap Geva dengan penuh keraguan.. Hati Geva rasanya sangat pedih melihat Bhumi seperti ini, terpuruk tapi masih berusaha tegar.
Geva tersenyum meskipun rasanya air matanya pengen sekali tumpah. Melihat Bhumi selemah ini ternyata menjadi kelemahannya.
CUP!
Geva mengecup bibir Bhumi sekilas sembari tersenyum.
"Tetaplah baik-baik saja sayang.. kamu harus kuat, kamu sehat fisik dan mental. Kalau kamu merasa bersalah terus sama kejadian yang sudah lama dan bahkan sudah selesai, nanti kamu gak sempet mikirin aku loh.. nanti malah cowok lain yang perhatiin aku." Ucap Geva lagi langsung membuat Bhumi melotot.
"Siapa cowok yang perhatiin kamu!" Tanya Bhumi dengan tajam. Geva langsung terkekeh. Suaminya sudah kembali seperti semula. Kan posesif..
" Dasar Bucin!" ledek Keenan dan Satria bersamaan.
"Sayang.. kita makan di luar yuk..." Ajak Geva menggelayut manja pada sang suami yang masih berusaha baik-baik saja.
"Tapi di kantor.."
__ADS_1
"Sudah kalian pergi makan aja diluar, sebentar lagi jam makan siang.. tapi ingat jangan lebih dari 2 jam." Kata Keenan.
"Tapi sayang.." Rasanya Bhumi malas keluar, moodnya sangat buruk dan tidak ingin bertemu banyak orang.
Geva menatap Bhumi berkaca-kaca, Bhumi menghela nafasnya, bisa apa dia jika dihadapkan dengan wajah Geva yang menggemaskan itu.
"Yaudah.. mau makan di mana?" Tanya Bhumi lembut hingga sebuah senyum mengembang di wajah cantik Gevania.
🍁🍁🍁
Salah satu Mall terbesar di ibu kota menjadi tujuan Gevania. Dengan menggandeng lengan kokoh Bhumi, Geva terus berjalan memasuki mall dengan senyum yang tidak pudar semenjak tadi.
Sesekali Geva melirik Bhumi yang mengenakan kemeja berwarna putih dengan lengan yang digulung hingga siku dan meninggalkan jas Bhumi di kantor. Ah rasanya Geva sedang berjalan dengan opa-opa Korea yang menggemaskan.
"Kenapa senyum-senyum terus dari tadi?" Tanya Bhumi. Sejenak Geva menengok pada pemilik wajah tampan di sampingnya,
"Kita belum pernah loh jalan di mall dengan seromantis ini kayak orang pacaran." Ucapnya.
"Itu kamu masih sakit?" Tanya Bhumi mendadak mengingat bagaimana tangguhnya si Gohan.
Plak!
"Ih ngeselin!"
"Lah?"
" Harusnya kita bahas yang romantis-romantisan bukan bahas itu itu itu.."
Decak Geva kesal.
"Lah tiada hal yang paling romantis selain itu itu itu dengan cinta loh." Jawab Bhumi santai.
"Iya.. iya..sayang mau makan apa?" Tanya Bhumi.
"Burger Queen!" Ucapnya dengan semangat.
"Sayang, gak bagus makan junk food terus... katanya pengen cepat hamil dan punya baby. Kita makan disini saja! " Bhumi menarik Geva masuk ke restoran makanan vegetarian. Geva hanya bisa pasrah.
"Oh ya.. mumpung aku ingat." Kata Geva saat duduk di sebuah kursi VIP restoran yang sangat sepi. Sebenarnya Geva ingin di ruang biasa tapi cukup ramai dan Bhumi tidak nyaman.
"Apa bee?" Tanya Bhumi.
"Kalau mau making love keluarin di luar ya?"
"Kenapa?"
"Aku mau buat dedek nya nanti pas kita lagi honeymoon... biar dedek hasil honeymoon." Ucap Geva.
"Emang bisa begitu?"
"Ya harus bisa! bagaimana pun caranya kamu harus buat aku hamil nanti saat honeymoon biar nanti baby ny jadi baby honey.."
Mulai kan absurd nya, mulai kan...
"Iya.. iya.." Ucap Bhumi malas berdebat.
"Kok kamu gak niat gitu sih bee?"
Eh?
__ADS_1
kok jadi sensitif gini?
"Sayang kita pesan makan dulu." Kata Bhumi.
"Ah udahlah.. aku gak mood lagi!" Kata Geva cemberut.
"Kamu gak sedang PMS kan bee?" Tanya Bhumi karena sudah sangat hafal jika istrinya mendadak sensitif begini.
Eh. Geva seperti sedang mengingat-ingat.
"Astaga... aku rencananya kan pengen ke toilet pas sampai kantor kamu buat ngecek lagi PMS apa nggak! aku ke toilet bentar ya! Pesankan makanan yang sama kayak kamu kak!" Kata Geva langsung berdiri tanpa menunggu jawaban dari suaminya.
"Kalau dia PMS beneran, bagus deh honeymoon nya di tunda. Gila aja honeymoon tanpa manjain Gohan." Gumam Bhumi geleng-geleng kepala.
Setelah memesan makanan, Geva tidak segera muncul dia pun cemas dan memilih menghubungi istri tercintanya itu. Namun tidak diangkat hingga makanan mereka datang.
Bhumi enggan menyentuh makanan tersebut sebelum istrinya datang.
"Bagaimana bisa seorang pembunuh bisa berkeliaran disini tanpa mendapatkan hukuman sedikitpun?" Tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri dihadapan Bhumi.
"Apa mau elu?"
"Mau gue?" Lelaki itu tersenyum licik.
"Mau gue, perusahaan Bramantya hancur!"
"Jangan mimpi!" Ucap Bhumi berusaha santai menghadapi lelaki yang tidak lain adalah Afka. Jujur, setiap melihat sorot mata Afka, Bhumi seperti melihat sosok Rendi didalam sana. Mereka memiliki sorot mata yang sama. Sama-sama licik. Dan sorot mata Afka itu membuat Bhumi mengingat bagaimana mata Rendi saat Bhumi tusuk-tusuk karena Rendi meninggal dengan mata yang melotot.
"Bagaimana bisa calon pemimpin Bramantya adalah seorang pembunuh dan takut pada darah?" Remeh Afka sekali lagi.
Bhumi memejamkan matanya, tiba-tiba suara itu datang lagi.. suara bullying belasan tahun lalu..
"Kamu pembunuh!"
"Kamu jahat!"
"Kamu pembunuh!"
"Dasar pembunuh!"
"Penjahat!"
"Kamu iblis! pembunuh!"
Afka tersenyum sinis melihat reaksi Bhumi.
BYUR!
"Breeengsek bajiiingan! beraninya ya kamu ganggu suami aku!" Umpat Geva menyiramkan sup yang masih panas ke wajah Afka.
Bhumi sontak membuka matanya kembali mendengar teriakan sang istri yang wajahnya sudah dipenuhi emosi.
BERSAMBUNG...
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
__ADS_1