
Matahari sudah menampakkan sinarnya di muka bumi ini, dan Bhumi sudah terjaga dari tadi menikmati salah satu ciptaan terindah Tuhan berupa wajah cantik yang hanya berjarak beberapa inchi dengannya. Bahkan Bhumi dapat merasakan setiap hembusan nafas si pemilik wajah cantik tersebut.
Bhumi benar-benar tidak mau kehilangan moment langka seperti ini dimana Geva bisa diam dan anteng tanpa banyak bicara dengan nada super pedas. Dinikmatinya pagi ini karena nanti malam dia harus terbang ke Jepang dalam waktu yang tidak bisa ditentukan seberapa lamanya dia disana.
Harapan Bhumi, sebulan dia sudah bisa kembali ke tanah air dan memperjuangkan cintanya dengan waktu sisa yang sudah Geva berikan. Dia akan bekerja keras di Jepang dan menyelesaikan segala masalahnya dengan secepat mungkin. Bhumi sudah sadar, hatinya tidak mau kehilangan Geva meskipun dia sendiri belum berani menyebut itu sebuah cinta untuk gadis menyebalkan itu.
Membayangkan perpisahan dengan gadis itu saja, membuat hati Bhumi bergemuruh. Toh menyelesaikan masalah dengan perusahaan yang ada di Jepang akan membuatnya diangkat jadi Presdir dan dia akan menjadi lebih kaya lagi. Bukankah itu juga permintaan Geva?
Seandainya bisa memilih, Bhumi akan memilih tetap disini menatap wajah cantik ini dan menaklukkan si pemilik wajah cantik ini. Namun tanggung jawab yang dia pikul bukanlah sepele. Kesejahteraan ribuan orang ada ditangannya.
Bhima tidak mau dijadikan sebagai pemimpin perusahaannya karena dia ingin membangun perusahaan fashion sendiri. Begitu pula Keenan, kakak sepupunya itu sungguh susah ditebak apa maunya. Jadi mau tidak mau, ya harus Bhumi. Lagi pula kapasitas dan kualitas kinerja Bhumi tidak perlu di ragukan lagi. Bahkan para jajaran direksi mempercayakan semuanya pada Bhumi Bramantya ketimbang Bhima yang latar belakangnya sebagai artis.
Bhumi mengecup lembut kening Geva, berharap Geva akan selalu mengingatnya jika nanti jarak memisahkan mereka. Disingkirkannya anak-anak rambut yang mengganggu penglihatannya menikmati ciptaan Tuhan tersebut hingga membuat sang empu menggeliat karena terganggu oleh gerakan Bhumi. Namun itu tidak membuat sang empu bangun. Sang empu justru semakin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bhumi yang tanpa mengenakan kaos.
Senyum terukir di wajah Bhumi. Gadis Menyebalkan ini kalau tidur emang bener-bener ngebo.. Bhumi memejamkan matanya merasakan hembusan nafas Geva yang menyusup pada pori-pori kulit dadanya hingga membangkitkan sesuatu yang ada didalam sana.
Astaga Geva, kamu mau mengerjai Bhumi apa ya?
Emang namanya aja sudah gadis menyebalkan dari kecil, makanya kini tangan Geva nakal mengusap-usap punggung Bhumi yang dia peluk dengan lembut. Bhumi hanya menikmati sentuhan Geva tanpa berani melakukan serangan balasan.
Hingga di menit berikutnya, Geva menggeliat..
sepertinya Geva hendak membuka matanya sehingga Bhumi pura-pura menajamkan matanya.
"Astaga.. aku memeluknya. ah tubuh pelukable favoritku!" Gumam Geva yang terdengar jelas oleh Bhumi. Namun bukan menyingkirkan tangannya dan menjauhi Bhumi, Geva justru semakin mengeratkan pelukannya dan mencium dalam-dalam aroma tubuh maskulin lelakinya itu.
"Aku pasti akan merindukan kamu kak." Gumam Geva lirih.
Bhumi mematung mendengar ungkapan hati Geva, ada banyak kupu-kupu terbang di hatinya. Ternyata Geva sudah sedikit membuka hatinya untuk Bhumi. Dan Bhumi tidak menyangka akan hal ini mengingat dari kemarin Geva selalu ketus dengannya.
"Apakah aku boleh egois kak kalau aku melarang kamu pergi dengan Renata? aku takut kak.. aku takut dia melakukan hal yang sama seperti beberapa hari lalu dimana dia hendak menjebak kamu. Aku gak rela kamu menyentuh wanita lain kak." Kata Geva lirih dengan wajah yang terus bersembunyi di dada bidang Bhumi.
Lagi-lagi Bhumi tidak menyangka kalimat yang menentramkan hatinya itu keluar dari bibir Geva yang tipis dan bawel itu. Dan sepersekian detik berikutnya Bhumi merasakan dadanya basah, ternyata Geva sesegukan.
Dia menangis, iya Geva menangis dalam diam. Tidak ada yang bisa Bhumi lakukan saat ini selain membalas pelukan Geva dan sontak membuat Geva terperanjat.
Astaga... cepat-cepat Geva menghapus air mata nya. Jangan sampai Bhumi melihatnya galau.
"percayalah padaku Ge." Lirih Bhumi. Geva spontan langsung mendongak ke atas.
Deg,
Ternyata Bhumi sudah membuka matanya.
__ADS_1
Mata mereka bertemu, wajah tampan Bhumi langsung menghipnotis Geva hingga Geva betah memandang Bhumi berlama-lama.
"Bangun tidur aja se-cakep ini kamu kak.. pantas saja banyak yang menginginkan kamu.. aku gak boleh lengah.. aku gak mau membiarkan pelakor mendekatimu sedikit saja." Gumam Geva dalam hati.
"Kamu cantik Ge." Ucap Bhumi membuyarkan lamunan Geva.
"Bodoh.. kenapa gue gak ngecek dulu kalau dia udah bangun tadi astaga.. benar-benar memalukan kalau dia denger apa yang gue katakan tadi." Batin Geva meruntuki dirinya sendiri.
Malu dah malu..
Namun bukan Geva namanya yang tidak bisa membalikkan keadaan dengan cepat. Hanya dengan hitungan jari saja, Geva sudah mulai tenang,
"Kakak jangan GR ya.. aku peluk kakak supaya nanti kakak gak kangen sama aku!" Ucap Geva yang masih menikmati dada bidang Bhumi.
Bhumi hanya tersenyum. Mantan gadis dalam pelukannya ini memang ajaib banget. Tingkahnya absurd dan sulit ditebak. Ada-ada saja tingkahnya.
"Aku pasti merindukan kamu Ge." Kata Bhumi yang tidak mau membuat Geva malu. Padahal tadi Bhumi dengar sendiri kalau Geva bakalan kangen sama dia.
Nyali Bhumi tidak begitu besar jika harus menertawakan Geva pagi ini dan membuat Geva ngamuk lagi.
Bhumi tidak mau merusak moment indah pagi ini, moment yang akan dia rindukan hingga berminggu-minggu berikutnya.
"Aku akan mempertimbangkannya lagi untuk mengajak Renata atau tidak." Kata Bhumi.
Udah kepalang basah, nyebur nyebur sekalian dah...
"Nanti coba aku bicara sama Satria. Jika Satria bisa menghandle semuanya tanpa Renata, aku tidak akan pergi bersama Renata. Aku hanya akan pergi bersama Satria." Jelas Bhumi lagi mempertimbangkan dengan cepat keputusannya.
Niatnya untuk mengerjai Renata ia urungkan karena perasaan nyaman Geva lebih penting saat ini, dari pada dia pulang-pulang digugat cerai Geva kan?
"Makasih kak.." Kata Geva tersenyum bahagia. Hilang sudah gengsi Geva.
"Ge.. boleh gak kamu hari ini bolos sekolah lagi." Pinta Bhumi.
"Why?" Tanya Geva.
"Aku ingin begini seharian Ge.. " Ucap Bhumi manja. Geva juga mau Bhumi.. Geva juga mau kamu peluk terus begini.. Geva suka sikap manis kamu ini Bhumi, asal jangan menyinggung soal mantan partner making out lagi ya.
"Baiklah kak.. aku akan bolos lagi demi kakak. Tapi kakak jangan GR, aku melakukannya bukan karena aku cinta sama kakak, tapi aku mau menjadi istri yang baik." Jelas Geva entah mengapa hatinya terasa cukup berat melepas Bhumi pergi bukankah dari kemarin dia menganggap Bhumi sebagai penghalang impian-impiannya.
"Terserah kamu... yang penting kamu masih disini." Ucap Bhumi mengecup kening Geva dengan lembut.
"Kak aku belum mandi loh?"
__ADS_1
"Kamu gak sedang kasih kode aku buat mandiin kamu kan?" Tanya Bhumi.
"Kakak..." Pekik Geva mencubit perut suaminya yang selalu menggoda imannya. Bhumi terkekeh.
"Makasih ya Ge, maafkan semua kesalahan aku.. kita mulai semua dari awal ya." Cicit Bhumi.
"Semoga saja kak.. kita kan gak tahu pada akhirnya kita akan berujung atau hanya akan mundur salah satu." Ucap Geva yang tidak mah terlalu pusing mikirin jauh ke depan.
"Aku akan membuat kita selalu berujung Ge." Ucap Bhumi yakin.
"Dan aku belum yakin kak.. sama perasaan ku sendiri aku tidak yakin."
"Aku akan membuat kamu yakin Ge." Kata Bhumi.
"Semoga saja."
Dengan masih berpelukan diatas ranjang dan dibalik selimut tebal, Bhumi meminta Geva untuk tinggal di rumah kedua orang tuanya. Bhumi juga mengatakan pada Geva bahwa dia tidak ingin Geva dekat dengan Theo maupun Fabian.
"Kenapa kakak larang-larang aku buat dekat dengan mereka? Theo kan teman aku, dan kak Fabian guru aku." Ucap Geva polos.
"Sejak kapan murid memanggil gurunya dengan sebutan kakak Gevania?"
"Sejak kemarin.." Jawab Geva santai.
"Kalau begitu, aku gak mau kamu panggil kakak lagi. Aku gak mau disama-samain dengan dia. Ck. suka bini orang..." Ucap Bhumi.
"Ha? Lalu aku panggil apa dong?" Tanya Geva.
"Terserah. Pikirkan mulai sekarang, Pokoknya aku gak akan melepaskanmu dari ranjang ini jika kamu belum menemukan panggilan yang cocok untukku." Gertak Bhumi.
"Kak.. tapi aku mau turun..aku mau pipis kak"
"Berhenti memanggilku kakak!"
"Abang...please.. aku kebelet pipis.. aku juga laper." Ucap Geva asal.
BERSAMBUNG..
Kenapa telat update..
karena like nya baru menyentuh angka seribu sore ini hehehe..
makasih yang udah kasih like ya 🥰
__ADS_1