
Geva menatap sorot mata tajam Bhumi dengan seksama,
" Semenjak Mami menceritakan tentang gadis kecil yang menyebalkan tanpa menyebut namanya.. aku selalu kepikiran itu.. bahkan gadis kecil itu sering datang di mimpiku hingga Deon memberikan foto-foto saat kamu kecil dan ternyata gadis kecil yang di mimpi aku itu sama dengan wajah kamu saat kecil.. Dan potongan potongan puzzle masa laluku bersama kamu mulai kembali. Aku udah yakin Ge kalau aku memang sudah jatuh hati dengan mu sejak lama, bahkan jauh sebelum aku mengenal Flower." Kata Bhumi menatap mata Geva yang menunjukkan ketidakpercayaan.
"Bagaimana kakak bisa se-yakin itu?" Selidik Geva.
"Karena aku begitu sedih bahkan berlarut-larut dan enggan bersosialisasi dengan anak perempuan setelah kamu pergi ke Jerman dengan Papa dan Mama.." Kata Bhumi.
"Aku mencintaimu Ge.." Lirih Bhumi menangkup wajah cantik Geva lalu memberikan kecupan singkat di bibir manis itu.."
"Aku gak percaya sama kakak." Kata Geva memalingkan wajahnya dan mencoba menetralkan degup jantungnya.
"Bagaimana aku bisa membuat kamu percaya Ge?" Tanya Bhumi menangkup lagi wajah Geva lalu membaut Geva berhadapan lagi dengannya dan kedua mata itu saling bertemu.
"Kakak..." Rengek Geva tiba-tiba.
"Kenapa?" Tanya Bhumi bingung.
Geva bukan menjawab, justru Geva menarik tangan sebelah kanan Bhumi lalu ia taruh tepat di dadanya.
Bhumi mengernyit merasakan sebuah bongkahan besar yang menjadi tempat favoritnya. Apa Geva ingin dia sentuh, tapi kan Geva masih menstruasi?
"Astaga.. ujian apa lagi ini." Gumam Bhumi dalam hati merasakan betapa kenyalnya benda dibalik tangtop itu. Rasanya Bhumi langsung ingin melucuti tangtop itu sekarang juga.
"Kakak merasakan kan?" Tanya Geva dengan polos.
"I.. iya Ge.." Jawab Bhumi mendadak gugup padahal dia udah beberapa kali kan menikmati bongkahan itu, tapi kenapa kini rasanya berbeda? Kenapa memegang dari luar aja membuatnya nervous?
"Gimana?" Tanya Geva masih menatap wajah Bhumi dengan intens.
"Emm.. emmm... emmpuk." Jawab Bhumi.
"Empuk? Maksudnya.?." Geva mengernyit.
"Maksudnya dada kamu empuk Ge.. aku suka." Jawab Bhumi dengan polosnya. Geva sontak menyingkirkan tangan Bhumi dari dadanya dengan kasar.
"Kakak! kenapa kakak selalu Mesum, selalu ngeselin selalu nyebelin dan selalu ngangenin!" Pekik Geva sambil melotot. Eh ngangenin.
"Lah, salahnya dimana Ge? Kan kamu mau aku menyentuh dada kamu?" Tanya Bhumi yang masih tidak paham namun membuat Geva mendadak gugup sendiri.
__ADS_1
Geva menghela nafasnya.
"A.. aku tadi.. emm.. mak.. maksud aku tadi mau kasih tahu kakak kalau jantung aku berdegup kencang saat kakak bilang cinta, bukan.. em.. Bu.. bukan meminta kakak untuk menyentuh da.. dada aku." Cicit Geva menunduk dengan muka merah merona. Geva merutuki dirinya sendiri yang refleks menarik tangan Bhumi. Dia lupa Bhumi adalah suami mesumnya.
Bhumi tersenyum menatap Geva yang terlihat sangat menggemaskan saat gugup seperti ini.
Menepis segala perasaan malunya, karena tidak mendapatkan respon dari Bhumi, Geva memberanikan diri mendongak dan menatap wajah tampan Bhumi.
Belum juga Geva berkata sepatah kata pun, namun Bhumi melakukan hal yang sama, dia menarik tangan Geva dan menaruhnya tepat di dada bidangnya.
"Rasakan Ge.. jantung ku berdegup sangat kencang saat dekat dengan kamu.. saat melihat sorot mata kamu saat melihat wajah mu.. saat melihat senyuman kamu. Aku mencintaimu Gevania Azkia Bramantya... " Kata Bhumi terdengar lembut hingga menari-nari masuk ke gendang telinga Geva.
"Ck. gombal." Ucap Geva meledek Bhumi karena mendadak mengingat kejadian di ruang bioskop dimana Bhumi menyatakan cinta pada Flower.
"Kok gombal?" Tanya Bhumi.
"Iya gombal... beberapa waktu lalu aja bilang cinta sama kak Flo "
"Ge.. maafkan aku yang kemarin- kemarin masih labil dan tidak mengerti dengan perasaan aku sendiri.
"Aku terima ungkapan cinta kakak.. tapi.. aku juga butuh bukti, bukan hanya sekedar ucapan karena sudah beberapa kali kakak berjanji ujung-ujungnya kakak mengingkari nya sendiri." Kata Geva menatap tajam mata Bhumi.
"Tapi apa kak.." Geva mendadak terkejut mendengar kata tapi dari Bhumi. Apakah Bhumi tidak serius? apakah Bhumi labil lagi.
"Aku mohon pengertian dari kamu untuk sabar dulu selama aku di Jepang. Aku akan berusaha untuk segera menyelesaikan semua pekerjaanku dan kembali kesini. Kita memulai hubungan kita dari awal lagi Ge." Bhumi nampak serius dan dengan tatapan memohon pada Flower.
"Pengertian dalam hal?"
"Tentang komunikasi kita. Aku gak bisa Ge jika harus terus kasih kabar ke kamu.. aku.."
Geva langsung memutus ucapan Bhumi, "Aku gak minta kakak terus kasih kabar. Tapi setiap harinya kakak kasih kabar ke aku.. yaitu di pagi hari saat kakak bangun, saat jam makan siang dan saat kakak sebelum tidur. Minimal 3 kali sehari kak."
"Kayak minum obat aja Ge." Canda Bhumi.
"Kakak.. aku serius!" Kata Geva melotot tak terima. Bhumi terkekeh.
"Ge.. begini.. kerjaan aku sangatlah banyak dan aku bukan tipe orang yang selalu pegang ponsel. Apalagi saat fokus dengan kerjaan, aku bisa melupakan sekeliling ku. Aku pengen pekerjaan aku segera selesai dan segera kembali ke sini biar gak jauh-jauh dari kamu."
"Ya kakak harus berubah, kakak belajar perhatian sama istri kakak. Aku kan cuma minta perhatian gak minta perhiasan." Kata Geva.
__ADS_1
"Mending minta perhiasan berkilo-kilo Ge." Batin Bhumi.
Bhumi menghela nafasnya, bagaimana pun Geva adalah anak belasan tahun yang memang membutuhkan perhatian lebih, kedewasaan Geva hanya di momen momen tertentu apalagi Geva yang memang dari kecil selalu dimanja orang tuanya juga Deon.
"Baiklah.. akan aku usahakan. Tapi aku minta kelonggaran waktu sama kamu.. jangan hanya 30 hari.. tapi tambah 10 hari lagi ya waktu yang kamu berikan." Pinta Bhumi.
"No! 30 hari terhitung dari kemarin." Kata Geva. Bukan jengkel justru Bhumi malah tersenyum dengan sikap Geva saat ini. Entah mengapa segala tingkah Geva terdengar sangat menggemaskan.
"Sebegitu gak tahan kah kamu rindu padaku sayang?" Tanya Bhumi dengan cara berbisik di telinga Geva membuat bulu kuduk Geva berdiri.
"Astaga...." Gumam Geva tiba-tiba membayangkan bibir Bhumi menyusuri leher jenjangnya.
"Kakak ih.. jangan dekat-dekat !" Pekik Geva.
"Kenapa sayang?" Tanya Bhumi.
"Gelay.." Kata Geva.
"Ge.." Panggil Bhumi.
"I.. iya?"
Tanpa menunggu lagi, Bhumi langsung menarik Tengkuk Geva dan mengecup bibir Geva berkali-kali.
Geva terbengong,
"Aku mencintaimu Gevania.. aku akan membuktikan setiap perkataan ku." Kata Bhumi langsung melumaat bibir tipis yang kalau berucap tidka pernah mikir.
Geva pun langsung membalas perlakuan sang suami dengan sangat bahagia. Geva mengalungkan tangannya ke leher jenjang suaminya. Mendapat lampu hijau, Bhumi pun menggiring Geva menuju ranjang empuknya,
"Kita belum pernah melakukannya di kamar kamu kan Ge?" Tanya Bhumi saat melepas tautan bibirnya saat posisinya sudah menindih tubuh Geva.
"Ta.. tapi kak.. aku masih haid." Bhumi sedikit mendesah mengapa dia melupakan hal itu,
"Gak apa-apa kita lakukan dengan cara yang berbeda yang belum sempat kita praktekkan kemarin. Mau?" Geva pun mengangguk malu-malu.
BERSAMBUNG...
APA YANG DILAKUKAN BHUMI DAN GEVA?
__ADS_1
SKIP AJA YA.. ðŸ¤