
"Aku masih mencintai kamu Flo, hatiku sakit Flo.. hatiku sangat hancur melihat kamu bersama Bhima." Ucap Bhumi lirih.
"Jangan seperti ini Bhum.. aku mohon.. hubungan kita tidak akan lebih dari kakak dan adik ipar. Ayo kita sama-sama saling melepaskan..
Jika terus seperti ini, maka kita tidak akan pernah merasa bahagia sampai kapan pun dan kita tidak akan pernah merasa bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Dan akhirnya hanya penyesalan yang datang Bhum." Ucap Flower. Bhumi terdiam menatap mata Flower dengan begitu dalam.
"Kalau kamu mencintaiku apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu tega menyakiti Bhima yang selama ini rela menyakiti hatinya sendiri demi kamu? Please sadar Bhum...ingat bagaimana Bhima membelamu, Bhima mensupport kamu dan Bhima selalu mendukungmu.. jangan biarkan dia mengalah lagi dan melepaskan aku Bhum karena kamu terus begini. Aku butuh Bhima.. anak aku juga butuh ayahnya. Lebih baik aku mati jika aku harus berpisah dengan mas Bhima." Kata Flower menitihkan air matanya. Flower sudah terbiasa dengan Bhima. Dia tidak bisa membayangkan jika Bhima memilih mengalah pada sang adik mengingat dulu Bhima mengalah pada Bhumi. Padahal untuk saat ini Bhima tidak akan mengalah pada Bhumi, demi cintanya dan demi calon anaknya.
Bhumi tidak mampu berucap sepatah katapun, namun matanya berkaca-kaca melukiskan betapa hatinya saat ini hancur namun Bhumi bingung harus bagaimana.
Helaan nafas yang teramat berat yang bisa Bhumi lakukan menetralkan segala kewarasannya yang hilang sejak menatap Flower.
Apa Flower yang salah? bukan. Tapi Bhumi yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
"Aku mohon Bhum jangan seperti ini terus, karena pasti aku lagi yang disalahkan. ayo kita saling melepaskan.. tidak mudah memang, tapi bukan berarti tidak bisa kan..
jangan sakiti Geva Bhum.. sudah cukup, dia gadis yang sangat baik.." Air mata Flower semakin deras juga.
Geva?
Gevania?
Jantung Bhumi berdegup kencang teringat janjinya pada Geva tadi pagi. Geva sudah memberikan semuanya untuk nya termasuk kehormatannya. Tapi tadi secara langsung Bhumi menyakiti Geva dengan selalu menyebut mantan..
oh astaga..
"Flo..." Ucap Bhumi dengan tubuh yang sudah bergetar menahan sesak di dadanya.
"Ini terlalu menyakitkan.. " Lirihnya lagi.
"Kalau ini menyakitkan untuk kamu.. bagaimana dengan Gevania Bhum.. dia tidak tahu apa-apa, tapi kamu menyeretnya kedalam hidup kamu dan kamu perlakukan dia seenak jidat kamu." Ucap Flower terbawa emosi membayangkan bagaimana berada diposisi Geva.
"Flo.. maafkan aku.. aku selalu lepas kendali jika berhadapan dengan kamu...aku gak bisa menahan perasaanku.. perpisahan kita delapan tahun lalu terlalu menyakitkan Flo.."
"Maafkan aku atas semua kesalahanku di masa lalu.. mari kita perbaiki semuanya dengan menjadi kakak dan adik ipar yang akur. Kamu akan menjadi Om dari anak-anakku dengan mas Bhima" Flower sedikit tersenyum karena Bhima sudah mulai bisa mengontrol perasannya.
__ADS_1
"Izinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya Flo.."
"Maaf Bhum aku gak bisa.." Kata Flower menolak, dia tidak mungkin berpelukan dengan lelaki lain padahal statusnya adalah seorang istri.
Bugh...
Bhumi langsung menarik Flower kedalam pelukannya tanpa aba-aba. Flower pikir Bhumi tidak akan maksa ketika dia menolak.
"Bhum lepaskan.." Ucap Flower mencoba menjauhkan tubuhnya.
"Sebentar saja Flo.. aku mohon.. terkahir kalinya." Suara Bhumi terisak. Flower tidak tega, dia merasakan hangatnya pelukan Bhumi.
"Tidak ada yang bisa mengalahkan kenyamanan dan ketenangan pelukan mas Bhimaku." Batin Flower meyakinkan hatinya saat ini.
"Duh enaknya ya pelukan sama mantan." Suara orang yang tidak asing itupun membuat Bhumi dan Flower terperanjat dan melepaskan pelukannya, Flower mundur ke belakang menjauhi Bhumi.
"Ge.."
"Geva.."
"Lanjutin aja.. maaf mengganggu.. aku hanya mau lewat buat keluar. Laper soalnya hehe..." Ucap Geva tersenyum dan biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Geva berjalan melewati dua manusia yang berstatus mantan kekasih.
Geva berusaha membuka pintu tapi gagal karena pintunya masih di kunci oleh Bhumi dan kuncinya masuk ke saku celana pendek Bhumi. Geva mendesah kesal namun dia tidak mau terlihat lemah atau sedih.
"Gev.. aku bisa jelaskan." Kata Flower meraih pergelangan tangan Geva dengan penuh harap.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan kak. semua sudah jelas . tolong buka pintunya dong hehe.." Ucap Geva santai tapi tidak mau menatap Bhumi.
Meskipun belum ada cinta dihati Geva untuk Bhumi, tapi Geva adalah wanita yang sudah menyerahkan segalanya untuk Bhumi dan rasanya cukup menyakitkan.
"Ge.. kita harus ngobrol berdua." Kali ini Bhumi yang berucap.
"Aku laper kak.. belum makan dari tadi, nanti aja ya ngobrolnya." Jawab Geva dengan polosnya. Bhumi tidak mau memaksa saat ini, karena pasti Geva sangat kecewa padanya.
"Ge.."
__ADS_1
"Kak tolong bukain." Ucap Geva memberanikan diri menatap Bhumi dengan mata yang berkaca-kaca. Bhumi, lelaki yang tadi pagi menggagahinya kini didepan matanya sendiri dan mendengar dari telinganya sendiri bahwa dia masih sangat mencintai mantan kekasihnya.
Padahal tadi pagi saja berjanji akan berusaha melupakan sang mantan, tapi sikap Bhumi barusan tidak menunjukkan sedikitpun usaha melupakan sang mantan. Berbeda dengan Flower yang justru berusaha mati-matian untuk melepaskan Bhumi.
Memang Geva adalah anak ABG yang masih sangat labil, namun dia tahu dimana posisi Flower dan dimana posisi Bhumi. Sehingga Geva tidak mau menyalahkan Flower, satu-satunya yang patut disalahkan adalah Bhumi.
Ceklek Ceklek..
Bhumi membuka pintu ruang bioskop tersebut, Geva langsung berlari untuk keluar ruangan itu namun tubuhnya menabrak tubuh seseorang yang berdiri didepan pintu ruang Bioskop dan hendak membuka handle pintu, namun sudah keburu terbuka dari dalam.
"Gev..";
"Ma.. maaf kak Bhima.. aku gak sengaja." Kata Geva mengusap air matanya yang menetes juga.
Mata Bhima tertuju pada Flower dan Bhumi yang berdiri mematung didepan pintu Bioskop.
"Flo.. kembali ke kamar sekarang!" Ucap Bhima untuk pertama kalinya dengan aura yang sangat mengerikan.
"Baik mas." Kata Flower patuh. Flower akan menjelaskan semuanya pada sang suami di kamar sedangkan Bhumi masuk ke kamarnya menyusul Geva yang tadi membanting pintu kamarnya.
Bhumi memasuki kamarnya dan sepi.. suara gemericik air terdengar dari kamar mandi di kamarnya. Oh Geva sedang di kamar mandi.
Didalam kamar mandi Geva duduk berlutut dengan air dingin dari shower yang membahasi seluruh tubuhnya.
Geva kecewa dengan semua orang yang seakan membodohinya karena tidak memberi tahu siapa mantan Bhumi.
Geva sudah tidak bisa percaya sama siapapun saat ini, termasuk pada kakaknya dan kedua orang tuanya. Gak mungkin mereka gak tahu.
Ditambah lagi terang-terangan Bhumi mengatakan cinta pada sang mantan. Padahal tadi pagi Bhumi berjanji padanya untuk melupakan sang mantan.
"Aku benci kamu Bhumi.. aku benci!" Teriak Geva sambil mengusap seluruh tubuhnya yang tadi pagi bekas ciuman Bhumi.
"Semua impianku sudah hancur.. hiks.. hiks.. hikss." Tangis Geva.
15 menit berlalu, tidak ada tanda-tanda Geva keluar dari kamar mandi dan gemercik air masih terdengar dari tadi. Fix perasaan Bhumi tidak enak..
__ADS_1
"Ge.. buka pintunya Ge... Gevania.. aku mohon buka pintunya." Teriak Bhumi dengan menggedor-gedor pintu kamar mandi. Untung kamar Bhumi kedap suara.
BERSAMBUNG...