
Di ruang keluarga ada Bhima, Keenan juga Papi Gema tengah ngobrol. Sedangkan dari arah taman belakang Flower berjalan beriringan dengan Geva dan didepannya Bhumi berjalan bersama Mami Naya.
"Hallo Pi.. Hallo kak Bhima yang ganteng dan kak Keen yang macho.." Sapa Geva menyalami satu persatu lelaki yang duduk di sofa mewah di ruang keluarga tersebut.
"Hallo menantu kecil papi.."
"Heii Gev.." Sapa Bhima kembali lalu mata Bhima tertuju pada Flower dan memberi isyarat supaya Flower duduk disampingnya.
"Kenapa jalannya miring-miring gitu Gev?" Tanya Keenan curiga.
"Gak kenapa-napa." Jawab seseorang yang pasti bukan Geva. Siapa lagi kalau bukan si besi berkarat.
Bhumi langsung menarik Geva untuk duduk disampingnya sedangkan Mami Naya duduk disamping papi Gema.
"Kenapa Gev?" Tanya Keenan lagi yang masih penasaran. Keenan hanya ingin memastikan apakah yang ada pikirannya benar atau hanya dugaannya saja.
"Ngg.. nggak kenapa-kenapa kak." Jawab Geva dengan wajah merona. Padahal Geva sudah berusaha dengan maksimal untuk berjalan biasa saja.
"Kak Keen jangan di tanyain terus Gevanya.. itu malu loh dia habis tembak dalam tadi pagi." Kata Flower sambil terkekeh.
Lagi-lagi Bhumi menatap Flower dengan sangat tajam. Flower langsung menunduk, dan menggenggam erat tangan sang suami karena tubuhnya bergetar dengan tatapan tajam Bhumi.
Tawa Keenan dan Bhima memenuhi ruang keluarga itu.. mereka sangat merasa bahagia mendengar berita Bhumi sudah bisa menembak di dalam gak diluar terus apalagi pakai sabun mandi. Sedangkan yang menjadi bahan tertawaan yang satu sudah menunduk malu, dan yang satunya lagi tetap datar.
"Jadi gimana Bhum soal Kamehame?" Tanya Papi Gema tersenyum bangga menatap anaknya yang hidupnya penuh drama akibat trauma yang cukup membuatnya terpuruk hingga bertahun-tahun.
"Bisa bahas yang lain gak!" Ucap Bhumi sangat datar dan menunjukkan gelagat tidak suka dengan arah pembicaraan sang papi.
Semua orang sudah paham betul, jika Bhumi sudah seperti itu dengan mood yang tidak baik lebih baik ganti topik dari pada Bhumi langsung pamit pergi dari kediaman Bramantya.
"Bhum.. apa kamu tahu alasan Renata semalam menginap di apartemen kamu?" Tanya Keenan mengganti topik pembicaraan.
Bhumi tertegun sejenak. Pembahasan itu harusnya sudah selesai tadi pagi juga mengenai Geva dan Theo yang semalam boncengan motor. Duh kamehame ternyata membuat amnesia.
Ingin rasanya hati Bhumi bertanya, tapi dia gengsi jika terlihat ogeb di depan keluarga nya.
"Gak pengen tau." Jawab Bhumi.
"Papi akan kasih tahu... tapi sebelumnya kenapa kamu mabok?" Tanya Papi Gema menatap sang putra.
__ADS_1
"Gak kenapa-kenapa.. lagi Penasaran aja. Kan belum pernah." Jawab Bhumi tidak mau terbuka.
"Ngapain nanya.. pasti juga udah tahu alasannya." Batin Bhumi.
"Cih.. 'penasaran aja'." Geva meniru ucapannya Bhumi dengan bibir yang di mencos-mencosin.
"Ngaku aja kenapa sih kak.. orang semalam mabuk juga nyebut-nyebut nama aku dan bilang.. Maafkan aku Ge.. jangan pergi. jangan tinggal kan aku.. maafkan aku.. aku salah." Lagi-lagi Geva meniru ucapannya Bhumi dengan tangan yang seperti mencari-mencari keberadaan seseorang persis seperti yang Bhumi lakukan semalam saat mabok.
"Gevania!" Bhumi hendak membekap mulut istrinya namun Bhumi kalah cepat karena Geva sudah berlari berlindung pada sang mertua kesayangannya.
"Sini kamu!"
"Nggak!"
"Mami tolongin aku.." Rengek Geva.
"Emang bener Bhumi begitu Gev?" Tanya Flower semangat dan terlihat bahagia mendengar Bhumi mengigau dengan menyebut nama istrinya berarti Bhumi sudah mulai move on.
"Iya kak.. terus dia bilang gini lagi, "Jangan tinggalkan aku Ge.. aku janji akan melupakannya untuk kamu Ge." Ucap Geva lagi.
"Nggak ada aku bilang seperti itu!" Bantah Bhumi.
"Ngapain aku melarang-larang kamu pergi. Emang kamu mau pergi kemana? mau pergi ya pergi aja." Ucap Bhumi datar.
"Oke.. aku pegang ya omongan kakak.. Aku akan lanjutin kuliah di..."
"Sudah-sudah kenapa kalian bertengkar!" Ucap Papi Gema menghentikan perdebatan antara anak dan menantunya yang super absurd itu.
"Maaf Pi.." Cicit Geva yang tersadar jika disana ada mertua dan saudara-saudara suaminya.
"Bhumi... Renata dan Reno berusaha menjebak kamu supaya kamu tidur dengan Renata. Dengan begitu Renata bisa meminta pertanggung jawaban dari kamu."
"Jangan bercanda deh Pi." Ucap Bhumi tidak percaya Renata senekat itu.
"Beruntung disana ada Alex, dan Alex menggunakan ponselmu untuk menghubungi istrimu sehingga tengah malam istrimu kabur dari rumah untuk menyelamatkan kamu dengan bantuan temannya bernama Theo naik motor.. jika tidak mungkin sore ini kamu harus menikahi anak dari wanita iblis itu."
"Impossible Pi.."
"Waoww keren papi bisa tahu semuanya tanpa aku cerita loh.. plok.. plok.. plok.." Geva bertepuk tangan kagum dengan mertuanya dan dalam sekejap Gevania langsung menjadi pusat perhatian termasuk Bhumi.
__ADS_1
"Jangan norak deh! Papa kamu juga bisa melakukan hal yang sama, dengan uang dan kekuasan semuanya mudah. Jadi jangan norak!" Ucap Bhumi.
"Ye.. mana aku tahu.. orang aku gak pernah ngurusin papa aku juga." Jawab Geva yang memang masa bodoh dengan hal yang tidak ada hubungannya dengan dirinya. Maklum Abege labil jadi diotaknya isinya hanya main.
"Sudah.. sudah.. kapan sih kalian akurnya."Kesal Papi Gema.
"Kalau lagi making...emmmpp." Jawab Geva langsung dibekap oleh Bhumi. Benar-benar ini anak tidak ada privasinya sama sekali. Mulutnya asal ngocor aja tidak bisa jaga rahasia. Padahal di otak Geva ini kan di depan keluarganya toh gak ada orang lain atau orang luar, katanya untuk menjalin hubungan keluarga yang baik kan harus ada keterbukaan.
"Diem kamu!" Ucap Bhumi.
"Kalau ember dan gak bisa diam juga menceritakan tentang yang berhubungan seks, maka nanti malam aku tidak akan membiarkan kamu tidur." Ancam Bhumi membuat Geva langsung kicep.
Papi Gema lalu menceritakan mengenai siapa itu Sisil dan status Reno dan Renata. Hal itu membuat otak licik Bhumi mulai on.
"Sepertinya menarik jika aku membuat Renata benar-benar hancur dengan perasaannya sendiri sebab ternyata mamanya lah selalu membuat masalah dengan keluarga Bramantya." Batin Bhumi.
Papi Gema juga meminta Geva untuk bercerita kronologi kejadiannya saat Alex menghubunginya hingga dia meminta tolong pada Theo. Bhumi lagi-lagi hanya bisa termenung dan diam karena terlalu gengsi mengungkapkan perasaannya yang bersalah karena dialah penyebab Geva tadi pagi sedikit demam karena angin malam.
Namun Bhumi belajar mengambil hikmahnya, runtutan kejadian itulah yang membuat dia berani dan dengan sadar menyentuh gadis yang memang sudah menjadi haknya.
"Syukurlah sayang kamu udah sehat." Ucap Mami Naya pada menantunya setelah mendengar jika menantunya tadi pagi sedikit demam.
"Iya mi.. belum juga enakan udah diajak indehoyy di sofa." Ucap Geva polos tanpa mikir membuat Bhumi melotot.
Geva memang benar-benar menyebalkan!
"Sofa?" Semua orang serempak menyebut benda yang begitu nyaman di ruang TV tersebut.
"Duh.. sofa baru yang mami pilih langsung kotor dong baru digunain sekali.. Padahal itu sofa harganya setara dengan mobil loh.. mami import dari Eropa." Ucap Mami Naya mode dramaqueen on yang pura-pura sedih.
Bhumi hanya memejamkan matanya.
"What? semahal itu mi?" Ucap Geva. Geva memang anak orang kaya, tapi dia begitu sayang dengan uang jika belanja mahal untuk hal sepele seperti sofa begitu. Geva lebih suka menghabiskan uangnya hingga ratusan juta untuk belanja lalu membagi-bagikan hasil belanjanya tersebut.
"Mami santai aja mi.. aku akan cari jasa laundry sofa untuk bersihinnya.. pantesan Sofanya nyaman banget.. harga emang gak menipu ya mi.."
Sumpah demi apapun Bhumi ingin melakban mulut sang istri.
"Permisi Nyonya tuan.. makan malamnya sudah siap." Kata Si Mbok dengan sopan.
__ADS_1
BERSAMBUNG...