
WARNING!!
MOHON MAAF UPDATE NYA SIANG-SIANG KARENA SEMALAM GAK UPDATE TAPI PLEASE...
JANGAN DIBACA SAAT PUASA.. KARENA TAKUTNYA MEMBUAT AMAL IBADAH PUASA KALIAN RUSAK KARENA MEMBACA NOVEL INI YANG TIDAK ADA MANFAATNYA SAMA SEKALI.
BACANYA MALAM AJA YA... PLEASE YA.. MALAM...AJA YA.. MALAM AJA......
🍁
Sore ini, Geva masih ber manja-manja dengan Bhumi Bramantya diatas ranjang hotel nan empuk dan luas. Namun ranjang luas itu pun tak ada gunanya karena mereka lebih suka berpeluk-pelukan dan kruntelan sambil menonton drama Korea hingga menyisakan space yang sangat luas dan mungkin cukup untuk 3 orang lagi disana.
Awalnya Geva memang gak suka Korea-korean, tapi beberapa pekan ini dari pada dia gabut dan terus kangen dengan Bhumi, dia lebih memilih menonton beberapa drama Korea dari pada belajar matematika.
Begitu pula Bhumi, awalnya dia sangat malas menemani Gevania nonton drama Korea namun setelah Bhumi pikir-pikir, dia bisa mendapatkan beberapa keuntungan dengan menonton drama Korea ini, yaitu ketika adegan romantis muncul yang pemainnya ciuman Bhumi pun langsung mencium bibir Geva dengan sensual. Bahkan saat pemain Drakor itu sudah selesai ciuman Bhumi masih belum melepaskan ciumannya. Hal itu tentu membuat Geva sangat-sangat jengkel karena kelewat beberapa detik.
Selain itu, Bhumi yang memang bercita-cita menjadi lelaki romantis nan peka pada sang istri itu juga banyak belajar dari ke uwuan sang pemeran lelaki Drakor. Gak ada salahnya kan nonton drama Korea?
Dan ini adalah hari ke- dua mereka mengurung diri di kamar hotel tanpa ada niatan keluar kamar untuk jalan-jalan atau sekedar makan di luar. Keduanya sama-sama mager untuk bertemu matahari maupun bintang di langit, padahal mereka sedang berada di Jepang. Harusnya kan jalan bareng dan hunting foto bersama, mencoba makanan-makanan yang hanya ada di negara ini dan menikmati indahnya negara matahari terbit.
"Dikamar lebih asyik! Makan tinggal telfon dan pesan aja, gak lama juga diantar ke kamar kan?" kata keduanya ketika Satria ataupun Ayumi mengajak keluar untuk makan malam.
Ajakan makan malam Satria sebenarnya adalah modus saja karena dia ingin mengajak Bhumi untuk membahas masalah proyek yang bekerja sama dengan perusahaan ayah Ayumi. Namun sayang, dua pasangan bucin itu tetap menolak ajakan Satria dan Ayumi. Pasti juga nanti ada Renata. Geva malas untuk bertemu wanita yang terlahir dari ibu yang dicap sebagai titisan iblis itu.
"Setelah proyek ini, kakak harus pecat kak Renata ya!" Geva mengingatkan sang suami dengan perjanjian nya beberapa waktu lalu.
"Nanti setelah pulang dari sini aku akan langsung memecatnya. Kelamaan kalau nunggu proyek ini selesai, bisa-bisa tahun depan bee." Kata Bhumi mengusap rambut lembut sang istri yang memiliki aroma memabukkan.
"Makasih kak!" Ucap Geva tersenyum bahagia memeluk erat tubuh sang suami yang bertelanjang dada.
"Heran, bapaknya sendiri punya perusahaan meskipun sudah tidak begitu besar, tapi malah kerja di perusahaan kamu dan membantu kamu memperbesar Bramantya Corp." Kata Geva.
"Maklum bee..suami kamu ini terlalu tampan sehingga banyak wanita yang merasa sayang untuk jauh-jauh dari suami tampan kamu ini." Ucap Bhumi dengan jumawa membuat Geva langsung memberikan Capitan kepiting mautnya pada perut sang suami.
"Aaaw!!!" Pekik Bhumi kesakitan sambil mengusap perutnya.
"Sakitt Be... sumpah pedas dan panas!" Keluh Bhumi menatap istrinya tidak percaya. Eh sang istri membalas tatapan sang suami dengan datar-datar aja.
"Awas aja kalau sampai mau di deketin dan di goda wanita lain!" Ucap Geva cemberut sambil memalingkan wajahnya dengan raut wajah yang mendadak berubah.
CUP!
Bhumi mengecup pipi Geva dengan penuh cinta,
"Kenapa? cemburu?" Tanya Bhumi menarik Geva ke dalam pelukannya lagi.
"Nggak!"
"Terus?" Geva menarik nafasnya dengan berat lalu membuangnya dengan kasar.
"Hah!"
"Kenapa Bee?" Tanya Bhumi lagi.
__ADS_1
"Gak apa-apa." Jawab Geva.
"Aku bukan cenayang yang tahu apa yang ada di pikiran kamu tanpa kamu katakan Bee.. katakan apa yang kamu rasakan." Pinta Bhumi membuat Geva menatap sang suami.
"Aku merasa gak pantas disamping kamu kak. Banyak wanita di luar sana yang lebih cantik dan lebih pintar, cerdas juga berpendidikan dibanding aku." Kata Geva mendadak sendu. Inilah yang selalu Geva pikirkan. Dia hanya anak SMA, sedangkan Bhumi Bramantya? dunia tahu siapa Bhumi, calon Presdir Bramantya Corp.
"Kenapa seorang Gevania mendadak insecure begini?" Tanya Bhumi menangkup pipi sang istri.
"A.. aku.." Gevania menunduk, dia bingung harus menjawab apa.
"Kamu udah merebut semua pikiran juga hati aku sejak kamu masih ingusan Ge." Kata Bhumi menggenggam jemari lentik milik Gevania.
"Ingusan?" Geva menatap Bhumi.
"Iya.. bahkan mungkin sejak umur kamu kurang dari 5 tahun kamu sudah berhasil membolak-balikkan duniaku. Kamu sadar gak, dari dulu kamu itu sangat-sangat Menyebalkan!" Bhumi memandang ke sembarang arah saat dirinya berusaha mengingat masa lalu yang sempat ia lupakan karena trauma yang ia alami.
"Menyebalkan?" Tanya Geva lagi bingung.
"Iya.. dari kecil kamu itu selalu mengelap ingus kamu ke baju aku, dan kamu berhasil membuat aku marah-marah. Bukannya takut lalu lari atau bersembunyi melihat aku marah, tapi kamu malah nangis dan langsung peluk aku dengan sangat erat. Alhasil, baju aku tambah kotor karena ingus dan air mata kamu lagi. Sumpah kecil kamu benar-benar menyebalkan Ge." Ucap Bhumi terkekeh.
"Kak.. aku udah lupa ih.. kakak pasti bohong, gak mungkin aku se-jorok itu waktu kecil." Ucap Geva tidak terima.
"Dan kamu tahu, kalau kamu nangis maunya aku gendong. Kalau nggak ingus kamu terus kamu elap di rambut panjang kamu sendiri." Bhumi tertawa mengingat masa kecil Geva.
"Kakak ih! Nggak mungkin!"
"Serius Gevania Azkia.."
"Bohong!"
"Dan kamu tahu gak, setelah itu aku benar-benar menjauh dari kamu dan menghindari kamu kalau kamu main ke rumah. Eh kamu nya nyariin aku.. gak ketemu nangis kejer lagi. Jadinya aku gak tega dan mengajak kamu main, kamu maunya main menten-mantenan." Ucap Bhumi.
"Dan sekarang jadi manten beneran kan?" Kata Geva tersenyum. Bhumi mengangguk dan mengusap pipi Geva yang begitu halus.
"Jadi, jangan pernah merasa insecure lagi, kamu sekarang udah jadi wanita yang cantik dan baik juga dewasa, karena dulu pas kamu masih ingusan aja aku mau.. apalagi sekarang, udah bisa diajak main Kamehame!" Kata Bhumi menaikkan salah satu alisnya dengan tatapan nakal.
"Selalu deh nyampenya kesitu!" Kata Geva sambil mengerucutkan bibirnya.
"Karena itulah salah satu hal yang paling aku suka dari kamu.. jadi jangan pernah dengarkan orang berbicara apa, yang penting aku nyaman didekat kamu dan bahagia bersama kamu, meskipun Menyebalkan juga."
"Kakak.. kenapa si selalu menyebut ku MENYEBALKAN?"
"Karena kamu memang Menyebalkan, tapi aku cinta! Udah ya.. jangan kepikiran macam-macam lagi.. kamu baru 18 tahun, jalan kamu masih panjang, masih banyak waktu untuk mengejar impian kamu.. yang penting jangan pernah berpikir untuk jauh dari ku. karena aku gak bisa." kata Bhumi.
"Aku juga gak bisa jauh dari kakak." Ucap Geva memeluk Bhumi lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. Bhumi memejamkan matanya merasakan hembusan nafas sang istri menyeruak di kulitnya.
"Bee."
"Hmm.." jawab Geva.
"Aku penasaran, kenapa kamu gak pernah ke rumah ku sekalipun setelah kamu balik dari Jerman? Apa kamu benar-benar melupakan aku waktu itu?" Tanya Bhumi.
"Aku takut." Jawab Geva dibarengi dengan helaan nafas yang cukup berat.
__ADS_1
"Takut kenapa?" Tanya Bhumi lagi.
"Takut ketemu pangeran di masa kecilku yang bernama Bhumi Bramantya." Jawab Geva.
"Why?" Bhumi nampak bingung.
"Entahlah.. aku juga sudah agak-agak lupa. Yang jelas dulu kayaknya aku pas umur 7 tahunan, selalu ingin telfon kakak tapi tidak pernah diizinkan oleh Mama katanya kakak sakit.. dan kakak juga gak pernah menghubungi aku lagi." Kata Geva dengan nada sedih. Bhumi tiba-tiba terdiam mencoba menghitung tahun kejadian itu.
Bhumi ingat saat itu, dia mulai mengalami trauma hebat setelah membunuh musuh Papi Gema yang merupakan penjahat yang menculik dan hendak melecehkan Bianca. Setelah itu, jalan satu-satunya, Bhumi harus diterapi dan menghapus beberapa memori di ingatannya. Dan Bhumi melupakan sosok gadis menyebalkan.
"Dan gak ada 2 tahun kemudian setelah pangeran masa kecil ku gak ada kabar, kata Kak Deon dia sudah mempunyai pacar, dan aku hanyalah anak kecil. Sejak saat itu aku berhenti berharap sama pangeran masa kecilku. Aku gak pernah mau datang ke rumah penuh kenangan saat aku kecil karena aku takut bertemu dia yang sudah punya pacar." Geva melepas pelukannya dan memilih bersandar pada headboard ranjang.
"Bee..."
"Ternyata pacar kakak waktu itu kak Flower.." Ucap Geva tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi kalau kamu datang ke rumah, bisa juga kamu membuatku lebih cepat mengingat semuanya kan Bee.. mengingat kamu juga." Ucap Bhumi.
Geva menggeleng,
"Kak Deon melarang aku, karena kak Deon tidak mau aku patah hati karena juga kak Deon tahu pangeran masa kecilku sangat mencintai kekasihnya. Dan aku sangat percaya sama kak Deon." Kata Geva.
"Ternyata takdir juga membuat aku merasakan sakit saat pangeran masa kecilku bilang cinta pada mantan terindahnya bahkan disaat status nya sudah menjadi suamiku." Kata Geva.
"Maafkan aku Ge... waktu itu aku belum mengingat kamu dengan sempurna dan aku belum menyadari bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Maaf." Kata Bhumi mengecup tangan sang istri dengan tatapan sendu penuh penyesalan.
Geva tersenyum manis,
"Sudahlah.. semua sudah berlalu.. dan kita bisa belajar banyak dari kesalahan-kesalahan itu.. yang penting sekarang aku mau makan burger!" Kata Geva tersenyum.
Bhumi melongo.. ya begitulah Geva.. saat suasana lagi serius ada ada saja tingkahnya yang membuat suasana menjadi gak jelas.
"Kamu udah maafin aku kan?" Tanya Bhumi masih mencoba fokus pada pembahasan yang sebelumnya.
"Aku maafin kakak, tapi maaf aku belum bisa melupakannya. Aku memang cinta sama kakak, tapi maaf entah mengapa aku belum bisa percaya sama kakak sepenuhnya. Hati aku masih ragu. Ini semua rasanya terlalu cepat setelah banyak kejadian gak enak yang kita lewati bersama." Kata Geva jujur.
"Tidak masalah... aku akan membuat kamu percaya Bee." Ucap Bhumi mengecup kening sang istri.
"Nah salah satu cara kakak membuat aku percaya kalau kakak sayang sama aku adalah pesankan aku burger sekarang juga yang double beef dan no cheese!" Kata Geva.
"Selalu saja makanan!" Decak Bhumi hendak mengambil ponselnya di nakas, namun keburu ponsel Geva yang berada disamping ponselnya berbunyi dan tertera nama Fabian disana.
"Tolong ambilkan ponsel aku kak." Kata Geva.
"Biar aku yang angkat!" Ucap Bhumi dengan nada tidak ingin dibantah.
"Lah? telfon dari siapa?" Tanya Geva.
"Fabian!" Mata Geva langsung terbelalak.
BERSAMBUNG...
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR