
Gaes.. ini agak mengulang di novel sebelah ya.. karena biar menjadi satu kesatuan...
Tapi tetep akan author bedakan kok
Happy reading 🍁
🍁
Lepaskan Gevania!" Teriak Bhumi dengan sorot mata yang penuh amarah seperti api yang membara membuat Geva tersentak.
"Yo...lepas Yo.. jangan cari masalah dengannya Yo.. aku mohon." Kata Geva lirih.
"Dia yang sudah merebut kamu dari aku Ge." Ucap Theo kekeh mempererat pelukannya.
"Please lepasin.. aku gak suka dipeluk-peluk kek gini.. kalau kamu mau buat dia kesel, ayo buat dia kesel tapi jangan kontak fisik begini. Aku gak suka." bisik Geva yang hanya didengar oleh Theo.
Theo tersenyum melepas pelukannya pada Geva dan dibalas Geva dengan senyuman manis.
"Gevania... " Panggil Bhumi. Melihat Bhumi dengan sorot mata merah padan membuat Geva pengen ketawa. Emang enak?
"Kakak duluan aja.. aku mau ngobrol dulu sama Theo." Ucap Geva santai.
"Ge.. aku merindukan kamu... " Theo memegang tangan Geva dan menatap Geva penuh damba.
Dengan cepat Bhumi menghempaskan tangan Theo supaya tidak memegang tangan Geva.
"Ayo pergi!" Bhumi langsung menarik Geva begitu saja.
"Ge... " Panggil Theo.
"Jika om om itu menyakiti kamu.. maka aku siap menerima kamu kembali Ge!"
"Aku juga merindukan kamu Yo.. sampai jumpa di sekolah." Teriak Geva sambil melambaikan tangannya. Bhumi terus saja menarik Geva hingga Geva kesusahan mengikuti langkah suaminya.
Untung Geva pakai flatshoes, coba pakai high heels auto keseleo.
"Kak.. kita mau kemana?" Tanya Geva bingung karena tempatnya terasa sangat sepi apalagi malam-malam begini.
Geva semakin bergidik ngeri karena Bhumi tidak mau menjawab.
"Kak jangan bunuh aku kak.. " Cicit Geva.
Bhumi menghentikan langkahnya di lorong
dekat dari toilet rumah sakit, dia langsung mendorong Geva dengan pelan hingga Geva bersandar ke tembok dan dengan cepat Bhumi mengunci tubuh sang istri.
"Ka.. kakak mau apa?" Tanya Geva agak ngeri dengan tatapan tajam suaminya. Jantung Geva berdegup kencang saat tubuhnya menempel dengan tubuh Bhumi dan Bhumi mempertemukan hidungnya dengan hidung sang istri.
"Aku gak suka kamu berpelukan dengan lelaki lain!" Jawab Bhumi jujur dengan sangat pelan.
"Kenapa?" Tanya Geva menepis rasa gugupnya.
"Aku gak suka apa yang menjadi milikku disentuh lelaki lain." Bhumi menatap Geva dengan sendu dan Geva juga menyadari itu. Namun Geva tidak mau mudah goyah sebelum Bhumi benar-benar mengemis cintanya.
"Lalu apa kabar dengan kakak tadi yang memeluk kak Flo? Kalau aku milik kakak, berarti kakak juga milikku kan? kakak gak mikir gimana perasaanku! Jangan egois kak!" Tegas Geva.
"Aku akan melakukan apa yang kakak lakukan!" Ucap Geva lagi mendorong tubuh Bhumi agar menjauh.
"Oh jadi kamu berpelukan dengan Theo karena aku tadi memeluk Flower?"
"Bisa dikatakan begitu." Jawab Geva jujur supaya Bhumi kedepannya bisa memikirkan posisinya jika melakukan sesuatu.
"Jadi karena aku pernah making out dengan Flower kamu juga akan melakukannya? Dengan siapa Ge? Theo? Fabian?" Tanya Bhumi dengan tajam.
"Kalau untuk itu, aku tidak akan melakukannya karena aku bukan wanita murahan yang mau disentuh lelaki yang tidak terikat denganku! Kakak pikir aku wanita murahan sampai kakak berpikir aku akan making out sama Theo atau sama Fabian seperti yang kakak lakukan sama kak Flo saat SMA dulu." Geva menatap tajam suaminya. Dia harus membalikkan keadaan supaya Bhumi lah yang salah dan merasa bersalah.
"Satu hal yang perlu kakak ingat hingga kakak mati kelak, Aku Gevania Azkia Wijaya sebelumnya tidak pernah disentuh oleh lelaki manapun. Dan sampai detik ini, lelaki yang menyentuhku hanya satu.. yaitu Bhumi Bramantya.. lelaki tidak berperasaan dan egois yang hanya mengumbar janji palsu!" Tegas Geva.
"Mulai saat ini, apapun yang kakak lakukan. Aku juga bisa melakukan!"
"Ge..." Bhumi mencegah lengan Geva saat Geva hendak meninggalkan Bhumi.
"Maafkan aku.." Bhumi menarik Geva dalam pelukannya.
"Beda emang tubuh pelukable dan gak pelukable. Astaga kenapa selalu saja, otak gue mesum jika dekat dengannya.. apalagi kemesuman gue menggeser rasa kesel dan Gedeg gue sama dia! " Batin Geva yang begitu nyaman dalam pelukan tubuh kokoh Bhumi.
Tanpa mereka sadari, seorang lelaki yang baru keluar dari toilet mendengar semua pembicaraan mereka.
Lelaki paruh baya itu mengeraskan rahangnya, rasanya begitu sangat kecewa mendengar putranya saat SMA sudah mengenal making out. Ya.. lelaki itu adalah Papi Gema.
__ADS_1
Kini Papi Gema sudah bisa menarik benang merah satu persatu akan permasalahan anak-anaknya. Dia akan membahas ini berdua dengan Bhumi, Bhumi tetap akan mendapatkan hukuman akan kenakalannya di masa remaja.
Dan Bagaimana jika Bhima mengetahui semua itu? Papi Gema harus segera menyelesaikan masalah ini. Dia tidak ingin anaknya terpecah belah karena cinta akibat kebencian Sisil.
"kak lepas!" Ucap Geva tersadar dari lamunan mesumnya.
"Maafin aku Ge.." Bhumi menatap Geva penuh harap.
"karena hati aku sangat baik dan sehalus sutra, maka aku maafin kakak. Tapi keputusan aku sudah bulat. Aku gak mau kakak ikut campur segala urusanku dan aku gak akan ikut campur urusan Kakak! Dan aku gak mau kakak sentuh lagi sebelum kakak membuktikan kesungguhan kakak!" Jelas Geva langsung pergi meninggalkan Bhumi tanpa memberi kesempatan Bhumi untuk menolak dan menyanggahnya.
🍂
"Papi.. Kak Keen . kak Ganteng..." Sapa Geva yang datang bersama Bhumi dibelakangnya dengan wajah ditekuk. Apa-apaan gak mau disentuh padahal Bhumi sudah membayangkan malam panas dengan istri kecilnya yang memliki lekuk tubuh bak model.
"Kakak Ganteng?" Tanya Keenan dan Bhumi bersamaan. Bhumi semakin melotot melihat tingkah sang istri yang sangat menyebalkan baginya..
"Itu kak siapa sih aku lupa.. temennya kak Deon juga kan." Kata Geva.
"Alex.." Alex mengulurkan tangannya tapi belum sempat Geva membalas uluran tangan Alex, Bhumi sudah lebih dulu menjabat tangan Alex.
"Bhumi.."
"Bangkee~" Umpat Alex.
"Apaan sih kak.." Decak Geva, Bhumi hanya memasang wajah datar.
"Geva.." Ucap Papi Gema namun matanya langsung menatap tajam pada Bhumi, begitu pula Keenan dan Alex.
"Yes papi.." Jawab Geva. Papi Gema dapat melihat mata sembab menantunya ini. Pasti Bhumi membuat Geva menangis, namu Geva tetap saja terlihat ceria.
"Keen.. minta orang buat mempersiapkan ruangan untuk memberikan pelajaran pada dua lelaki bodoh itu!" Kata Papi Gema menatap Bhumi kemudian menatap Bhima dari kejauhan.
"Papi.." Gumam Bhumi.
"Baik Pi.." Ucap Keenan.
🍁
Kini diruang yang bercat putih dan tidak terlalu lebar, Papi Gema menatap tajam dua terdakwa yang ada didepannya dan ingin menghajar kedua putranya itu.
Sebelumnya Geva tidak ingin mengikuti persidangan dengan para lelaki, namun perintah Papi Gema tidak bisa di tolak. Al hasil Geva duduk diantara Bhumi dan Bhima dengan perasaan tidak karuan.
"Kalau menerkamnya kelewat, pasti gue yang kena." Batin Geva.
"Ceritakan apa yang kamu lakukan pada istri kamu Bhima Bramantya!" Perintah Papi Gema. Bhima nampak gugup dan tegang.
"A.. aku menampar dan memaki Flo Pi." Jawab Bhima dengan menunduk membuat Geva dan Bhumi langsung melotot.
Bhumi tidak menyangka Bhima sekasar itu, apalagi sama perempuan. Geva menutup mulutnya, karena berdasarkan cerita Flower sosok Bhima itu sangat lembut dan perhatian juga romantis.
Geva yang kadar otaknya hanya setengah itu langsung saja nyeplos...
"Kak Bhim.. astaga tega banget kak Bhima sama kak Flower. Tangan kak Bhima itu gede dan kuat.. gak kebayang gimana sakitnya." Geva mengusap-usap pipinya yang tidak kenapa-kenapa.
"Ge.." Panggil Bhumi dengan sangat pelan melihat tatapan sang Papi yang dijuluki sebagai Singa Jantan itu sangat tajam.
"kalau aku jadi kak Flower langsung saat itu juga aku ceraikan kak Bhima karena bertindak kerasan dalam rumah tangga lalu aku laporin kakak ke polisi!" Lanjut Geva spontan tanpa menghiraukan Bhumi semakin membuat Bhima kalut dan pucat.
Bagaimana jika Flower berpikiran yang sama dengan Geva dan melakukan hal yang sama pula? Rasanya dada Bhima sangat sesak dan air matanya pun hampir jatuh.
"Mengapa kamu menampar istri kamu.. bahkan memaki istri kamu?" Tanya papi Gema lagi. Papi Gema sangat kecewa dengan kekasaran sang putra karena dari dulu papi Gema sudah memberikan contoh bagaimana bersikap pada istrinya.
"Bhumi.." Ucap Bhima lirih. Ya semua karena Bhumi dan keegoisan Bhumi.
Bhumi memejamkan matanya, bahkan saat ini mata Bhumi juga sudah berkaca-kaca.
"Karena keegoisan gue, Bhima hingga menampar Flower.. Maafin gue Bhim.. maafin gue.. dan sepertinya memang benar, perasaan Flower sudah tertuju sama elu.. gue sadar sekarang." Batin Bhumi.
"Bhimm.. aku..." Bhumi memberanikan diri berucap,
"Siapa yang menyuruh kamu bicara Bhumi Bramantya!" Bentak Papi Gema membuat semuanya terperanjat dan menelan salivanya. Untuk pertama kalinya Papi Gema terlihat sangat menakutkan didepan anak-anaknya.
Menurut Papi Gema ini sudah bukan masalah sepele lagi, selain menyangkut nyawa calon cucu dalam kandungan Flower, Papi Gema juga tidak mau jika rencana Sisil untuk memecah belah keluarganya itu berhasil.
"Kenapa dengan Bhumi?" Tanya Papi Gema lagi, padahal Papi sudah tahu alasannya apa.
"Bhumi membawa Flower ke ruang bioskop di lantai dua dan dari rekaman CCTV mereka berpelukan." Ucap Bhima.
"Bukan berpelukan kak.. tapi kak Bhumi yang memeluk!" Sela Geva tidak terima.
__ADS_1
"Maksudnya?" Kini papi Gema menatap menantunya yang sudah menjadi mantan gadis tersebut.
"Se.. sebenarnya aku juga ada disana.. dan aku melihat semua dan mendengar semua yang mereka omongin tanpa sengaja." Ucap Geva menunduk menahan gemuruh hatinya.
"Giliran Geva yang ngomong aja gak dibentak." Gumam Bhumi yang hanya didengar oleh Geva. Geva langsung menendang kaki sang suami.
"Ceritakan semuanya!" Ucap Papi Gema menatap satu-satunya wanita dalam ruangan itu.
Geva menarik nafasnya, dan Bhumi terlihat sangat tegang..
"Habis riwayat gue kalau Geva berkata dengan jujur apalagi soal making out bersama Flower saat SMA." Batin Bhumi.
Geva mulai menceritakan awal mengapa dia ada di ruang bioskop itu hingga terbangun karena suara keributan yang ditimbulkan Bhumi dan Flower.
Geva terus bercerita apa yang dia dengar baik dari mulut Bhumi ataupun mulut Flower, namun diluar dugaan Bhumi...
Geva tidak menceritakan hal-hal yang berefek buruk pada hubungan keluarganya. Terlebih soal Making Out.
Semua larut dalam cerita Geva dimana Flower berusaha menyadarkan Bhumi bahwa perasaan Bhumi salah, dan sikap Bhumi juga salah. Hingga sampai di titik Bhumi menyadari kesalahannya.
Bhumi memang lelaki egois, terbentuknya keegoisan Bhumi itu juga dari segala kenangan buruk yang dia alami. Dan Geva sudah paham itu karena sudah dijelaskan dari awal oleh Mama Rachel juga Mami Naya.
"Tapi mereka sudah berpelukan." Ucap Bhima masih tidak terima istrinya dipeluk adiknya.
"Bukannya kak Bhima kalau shooting juga sering berpelukan dengan lawan main, kak Bhima gak mikir perasaan kak Flo? Ck. Lelaki maunya meluk wanita lain tapi marah kalau istrinya dipeluk lelaki lain." Geva melirik Bhumi dengan sinis.
"Kak Bhumi udah berjanji akan melupakan perasaannya pada kak Flo, jadi Pelukan kak Bhumi dan Kak Flo itu.. adalah pelukan perpisahan mereka yang tertunda.. lalu masalahnya dimana?" Tanya Geva yang hanya ingin keluarganya tentram damai dan bahagia.
Bhumi menatap Geva masih tidak percaya dengan mata berkaca-kaca, gadis menyebalkan yang sudah dia sakiti dan sia-siakan justru membantunya keluar dari masalah yang pelik ini.
Papi Gema tersenyum dalam hati menatap menantunya yang menyaring apa yang dia katakan demi keutuhan dan kebaikan keluarga Bramantya.
"Aku akan buktikan Ge.. aku akan buktikan kalau aku menjadi suami terbaik untukmu.. maafkan aku Ge.." Batin Bhumi menahan sesak dadanya.
Apalagi yang mau Bhumi lakukan,
Memiliki istri yang sesempurna Geva meskipun agak geser otaknya... masih mau disia-siakan? apalagi kedewasaan Geva di usianya yang masih sangat remaja.
Sedangkan Flower, Bhumi tidak mau lagi menyakiti Bhima.. sudah cukup.. cukup sudah..
Sakit hati Bhima sudah melampaui batas sehingga tega melakukan kekerasan fisik.
"Kak Bhim.. kakak salah besar pada kak Flo!" Ucap Geva menyalahkan Bhima.
"Bhim.. maafin gue.." Bhumi berdiri dan menubruk tubuh Bhima.
"Maafin gue juga Bhum.. Gue udah berpikir macam-macam soal elu dan Flower.. Tolong, biarkan Gue bahagiakan Flower." Kata Bhima.
"Aku berjanji, aku berjanji tidak akan mengusik hubungan elu sama Flower. Gue sama Flo adalah masa lalu. Dan masa depan Flo bersama elu Bhim..
Bahagiakan dia.. dia sudah cukup menderita selama ini. Dan masa depan Gue bersama Gevania." Kata Bhumi sungguh-sungguh.
Moga aja Bhumi gak oleng lagi ya~
Geva menghapus air matanya penuh haru..
Coba aja Geva bilang jika Bhumi mengancam Flower untuk mengatakan soal making out supaya hubungan Bhima dan Flower hancur mungkin gak akan ada momen seperti ini.
Memang tidak semuanya harus dibuka untuk menjaga sebuah keutuhan.. yang terpenting saat ini, semua nya sudah baik..
dan tinggal bagaimana kondisi Flower dan Janinnya.
"Makasih Ge.." Kata Bhumi hendak memeluk Geva. Namun dengan cepat Geva menghindar.
"Aku gak mau kontak fisik dengan kakak lagi.. sebelum kakak benar-benar bisa membuktikan ucapan kakak. Aku tidak butuh janji." Tegas Geva.
"Selain itu aku gak mau berpikiran mesum lagi setiap dekat kakak dan dipeluk kakak.. duh tongkat baseball." Batin Geva.
BERSAMBUNG...
TERIMA KASIH VOTENYA YANG MAU MERELAKAN SATU-SATUNYA VOTE UNTUK KARYA GAK JELAS INI.
TERIMA KASIH HADIAHNYA BAIK KOPI, BUNGA. DAN LAEN LAEN...
TERIMA KASIH YANG UDAH BERBAIK HATI MAU PENCET ICON JEMPOL DI BAWAH INI ATAU LIKE..
MAKASIH JUGA KOMENTAR KALIAN..
TANPA KALIAN AKU TIDAK BERARTI APA-APA...
__ADS_1