
Bhumi menuruti apa maunya Geva, tidak mengeluarkan Gohan dari kandangnya Meskipun sangat ingin dan ingin sekali. Lagi pula Bhumi juga tidak tega menyerang Geva lagi karena sarang Gohan sedikit membengkak bahkan Geva meringis kesakitan kalau melangkah terlalu lebar. Benar-benar bukti tanda keperkasaan Gohan.
Geva hari ini benar-benar manja, memasang wajah judes seolah-olah marah sama Bhumi karena telah menyerangnya tanpa ampun, namun tetap minta Bhumi suapin. Bahkan dia minta sama Bhumi memakaikan pakaiannya. Jangan tanya seberapa besar kesabaran Bhumi untuk menahan godaan didepan mata.
Geva tidak marah sama sekali dengan Bhumi, justru hatinya sangat bahagia bisa melayani dan memberikan kepuasan pada suaminya, supaya suaminya tidak akan ada kepikiran perempuan lain. Hanya saja, Geva ingin Bhumi memanjakannya, makanya pura-pura ngambek biar Bhumi menuruti semua keinginannya.
Anggap saja bayar hutang karena kemarin-kemarin terlalu sibuk dengan pekerjaan. Toh Geva juga berpikir ingin memperbanyak momen berdua sebelum hadirnya buah hati diantara mereka. Karena setelah ini Geva ingin progam hamil Meskipun sambil kuliah.
Kehilangan janin yang bahkan belum ia ketahui keberadaannya tetap saja menyisakan luka tersendiri untuk Geva. Geva pikir, Tuhan mengambil calon anaknya karena memang dari awal Geva sering berkata belum ingin memiliki anak, takut tidak bisa menikmati masa muda. Tapi pola pikirnya sudah berubah, masa mudanya di gunakan untuk menjadi istri dan ibu yang bahagia dan kekinian. Nikah muda itu asik karena selain bisa uwuu uwuuu juga bisa melakukan apapun berdua sama yang sudah halal. Iya asik kalau sama orang yang tepat dan se-frekuensi.
"Bee.. emang mau ngajak aku kemana sih?" Tanya Geva yang juga memanggil 'bee' pada Bhumi setelah tadi dimanja kan oleh Bhumi di dalam kamar mandi.
"Ke suatu tempat, kamu duduk dan istirahat aja ya bee.. biar aku aja yang berkemas." Kata Bhumi terdengar begitu tulus dan tersenyum pada Geva.
"Berapa lama kita pergi? biar aku saja yang berkemas Bee.. kamu pasti udah capek, masakin aku.. mandiin aku, pakein baju aku sampai suapin aku." Ucap Geva menatap suaminya yang sedang mengeluarkan koper dari almari.
Bhumi tersenyum dan berjalan mendekati Geva lalu duduk disamping Geva.
" Capenya aku gak seberapa dibanding capek kamu semalaman bee." oh manis sekali kalimat yang keluar dari mulut si besi berkarat.
"Gak apa-apa yang penting kamu seneng." Kata Geva.
Bhumi memangkas jarak antara dia dan Geva lalu memiringkan kepalanya hingga bibir mereka saling bertemu dan beradu menyalurkan seluruh cinta yang ada.
Suara ponsel Geva mengganggu momen romantis mereka yang berciuman tanpa melibatkan nafsu, jantung keduanya masih saja berdebar cukup keras kalau dalam posisi seperti ini.
"Ganggu aja! Biarin aja!" umpat Bhumi kesal.
"Bentar bee.. siapa tahu penting." Kata Geva.
"Paling juga si Nom Nom.."
"Bee.. tolong ambilkan ponsel aku dong." Pinta Geva. Dengan mendengus kesal Bhumi berdiri dan mengambil ponsel Geva yang berada di nakas yang berjalan sekitar 5 langkah dari sofa yang mereka duduki.
"Bang Kee?" Kata Bhumi membaca nama yang tertera di layar ponsel Geva.
"Ngapain Bang Kee telfon, coba angkat deh Bee.. pasti penting." Bhumi tidak menjawab ucapan istrinya, dia langsung menggeser icon hijau dalam layar tersebut.
"Ge.. dimana Bhumi? gue telfon gak aktif." Kata Keenan.
__ADS_1
"Ada apa kak?" Tanya Bhumi mengernyit karena suara Keenan terdengar ngos-ngos an.
"Ke kantor sekarang, perusahaan sedang bahaya!" Perintah Keenan.
"Gue cuti sepekan Bambang! mau honeymoon!" Kata Bhumi.
"Perusahaan kebocoran dana hingga Triliunan karena ditipu oleh Perusahaan HiTech. Kita Meeting sekarang buat menyelamatkan perusahaan " Kata Keenan.
"APA?" Pekik Bhumi.
"Cepat kesini!" Kata Keenan memutus sambungan telfonnya. Bhumi terlihat sangat shock.
"Ada apa Bee?" Tanya Geva mengernyit menatap heran sang suami.
"Sayang.. aku harus ke kantor sekarang... acara honeymoon terpaksa kita tunda, perusahaan sedang ada masalah besar " Ucap Bhumi masuk walk in closet untuk berganti pakaian.
"Nggak apa-apa, masih banyak waktu." Jawab Geva tersenyum dan mengikuti sang suami. Dengan letaten, kini Geva membantu sang suami mengancingkan kemeja dan memakai kan dasi sang suami meski pangkal pahanya masih terasa sedikit nyeri.
"Kamu gak apa-apa dirumah sendirian?" Tanya Bhumi memandang sang istri. Geva tersenyum lalu menggeleng.
"Kalau aku ke rumah utama boleh gak? aku mau belajar masak sama kak Flo?" Tanya Bhumi.
"Pergilah, tapi jangan memaksakan dirimu untuk belajar masak. nanti aku akan telfon supir untuk menjemputmu, nanti pulangnya nunggu aku.. aku akan menjemput kamu." Kata Bhumi.
"Sayangku.. cintaku... itu kamu masih sakit.. nurut ya sama suami." Kata Bhumi dengan nada yang sangat manis melebihi pabrik gula.
"Baiklah suamiku... kamu hati-hati ya. semoga masalahnya segera selesai."
"Aku berangkat dulu ya istri. kamu gak usah mengantarkan aku kebawah ya." Kata Bhumi mengecup bibir Geva sekilas. Geva tersenyum.
🍁🍁🍁
di sebuh kamar dalam hotel mewah milik keluarga Bramantya,
Noami mulai menggeliat merasakan sinar matahari yang silau, ada sesuatu yang berat menimpa perutnya. Naomi mencoba membuka matanya,
Sebuah tangan melingkar semu di perutnya, kilatan peristiwa semalam diputar kembali layaknya film. Air mata Naomi menetes begitu saja tanpa permisi.
Ini sangat sakit dan menyakitkan, dia telah melakukan dosa besar semalam. Meskipun dia sempat menolak, Naomi akui semalam dia juga sangat menginginkan lebih. Entah apa yang terjadi, Naomi begitu ingin Deon terus menghujam miliknya meskipun hatinya menangis.
__ADS_1
Naomi pelan-pelan menyingkirkan tangan lelaki yang masih terlelap disampingnya itu, dia mencoba berdiri dan menarik selimut tebal hotel. Dia ingin membersihkan dirinya.
Tidak sengaja mata Naomi melihat noda darah di selimut tersebut.
Hati Naomi rasanya sakit, dia sudah kehilangan satu-satunya hal yang berharga dalam hidupnya. Namun nasi sudah menjadi bubur, Naomi juga mengaku salah, dirinya salah. Jika dia lebih awal mencegah Deon maka semuanya tidak akan terjadi.
Lagi pula Naomi yakin, kalimat tulus Deon yang akan segera mengajaknya menikah Minggu depan. Ah semoga saja.
Dengan jalan sedikit tertatih dan meringis karena pangkal pahanya sangat nyeri, Naomi masuk kamar mandi demi membersihkan dirinya.
Tangis Naomi pecah menatap tubuhnya dari pantulan cermin, sekitar dadanya saja dipenuhi oleh Kissmark yang Deon berikan. Naomi berendam sejenak di bathtub, untung semalam Deon melakukannya hanya satu ronde.
Sedangkan di atas ranjang, Deon membuka matanya setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup. Mata Deon berkaca-kaca mengingat kejadian semalam dimana dia tidak bisa menjaga Naomi, yang ada dia justru merusak Naomi. Deon merutuki tindakannya semalam. Entah mengapa dia benar-benar nafsu semalam bahkan tidak peduli dengan tangis Naomi.
Deon yakin, Naomi akan marah padanya. Deon sudah siap jika Naomi akan memukulnya bahkan membencinya, namun Deon akan tetap bertanggung jawab.
"Sudah selesai mandi?" Tanya Deon basa-basi tidak mutu setelah melihat Naomi keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobes. Tanpa bertanya pun juga harusnya tahu kalau Naomi sudah selesai mandi. Kalau belum selesai ngapain keluar?
Ah orang Indonesia sukanya basa basi,
Naomi hanya mengangguk tanpa mau melihat Deon,
"Nom, kita harus bicara," Kata Deon. Naomi hanya diam tidak menanggapi tetapi duduk di tepi ranjang.
"Minggu depan aku akan menikahi kamu setelah Bhumi dan Geva pulang honeymoon, Aku ingin menikahi kamu hari ini juga, tapi pasti sahabat kamu itu akan menghajarku jika dia tidak menyaksikan pernikahan kamu "
"Terserah kakak saja." Jawab Naomi lirih bahkan hampir tidak terdengar, jemari-jemari tangannya saling bertautan mengurangi kegugupan.
"Aku minta maaf atas kejadian.."
"Jangan diingat lagi kak.. anggap saja tidak pernah terjadi. " Potong Naomi menunduk menahan sesak. Bahkan air matanya sudah siap terjun bebas lagi.
"Nom.. Minggu depan kita nikahnya yang penting sah dulu ya Dimata agama dan Negera. Aku belum bisa mengadakan pesta untuk kamu nanti, karena proyek besar sedang aku urus dan harus membuatku bolak-balik ke Kalimantan." Kata Deon memberanikan diri menggenggam tangan Noami.
"Makasih.. kakak udah benar-benar mau tanggung jawab." Ucap Naomi terisak. Deon langsung menarik Naomi dalam pelukannya.
BERSAMBUNG...
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
__ADS_1
KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR KOMENTAR
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE